Membayangkannya Saja Pun Jangan!

Penilaian Pengunjung: / 0
TerjelekTerbaik 
Saat itu saya tengah berada di luar kota. Dan di malam hari itu saya sempatkan mendengar siaran acara rohani dari sebuah stasion radio setempat. Acara yang disajikan adalah untuk anak muda, dibawakan dua orang penyiar yang berduet dengan lincah, saling ping-pong dan penuh canda. 

Wah ... saat mendengarnya terasa betapa kedua penyiar itu begitu kompak, maklum masih muda dan terkesan bahwa kesehariannya mereka berdua akrab. Topik yang dibahas menuntut mereka untuk memberikan ilustrasi maupun kesaksian hidup masing-masing. Penyiar yang satu dengan latar belakang sekuler tentu saja memberikan kesaksian hidup apa adanya yang dialami selama ini. Sedangkan penyiar yang satu lagi dengan latar belakang pendidikan teologia,dan sudah sering memberi kotbah di atas mimbar,mengungkapkan kesaksiannya dengan lancar. Dia bercerita bagaimana perjuangannya untuk menjaga kekudusan hidup selama ini, di tengah pelayanannya yang bersifat konseling dan "kebetulan" banyak menyangkut kehidupan kaum wanita. Dengan terus terang dia bersaksi di udara bahwa pernah suatu ketika dia melayani (baca: memberi nasehat) kepada seorang ibu yang adalah istri seorang pengusaha, yang tengah mengalami masalah rumah tangga. Sang penyiar ini, yang masih bujangan ini, lama kelamaan jadi akrab dengan wanita tadi.

"Kami jadi sering bertemu dan berbincang-bincang secara berduaan. Dan terasa bahwa ada suasana keakraban yang semakin dalam. Apalagi sang suaminya sibuk dan jarang di rumah. Maka jadilah kami semakin dekat, dan saya dengan tulus berusaha menolong dia dan berempati padanya. Sampai pada suatu ketika, di dalam sebuah kamar ... kami berduaan di situ. Tak terasa karena hanyut di dalam rasa saling berbagi, tahu-tahunya kami sudah tidak memakai busana sama sekali, saya dan wanita itu sudah semakin larut ... dan saya ... saya tiba-tiba sadar bahwa saya ini adalah hamba Tuhan, koq akan melakukan hal ini?! 

Lalu dengan susah payah saya mengajak wanita tadi untuk tidak meneruskan adegan tersebut. Kami berdua pun sadar atas jebakan dosa itu. Lalu kami pun bersimpuh berdoa di lantai dan menangis memohon pengampunan dosa pada Tuhan. 

Nah ... begitulah, betapa tidak mudahnya menjaga kekudusan hidup!", kira-kira seperti itulah garis besar kesaksian sang penyiar yang sudah lumayan banyak berpengalaman di atas mimbar itu. Hal yang diungkapkannya di udara pada waktu itu tentu saja lebih panjang lagi plus intonasi dan bunyi suara yang menghanyutkan pendengar tergiring imajinasinya kepada adegan saat dia dan istri sang pengusaha berduaan di dalam kamar. Jujur saya katakan, imajinasi saya pun terbawa oleh arus cerita dari si penyiar muda tersebut. Dan inilah yang membuat saya kaget luar biasa pada malam itu!

Di setiap kesempatan saya memberikan pelatihan kepenyiaran, salah satu hal yang saya tekankan pada peserta adalah dampak dari apa yang kita ceritakan, kita informasikan pada pendengar. Memang sangat baik bila yang kita ceritakan dan informasikan itu maknanya persis ditangkap oleh si pendengar seperti apa yang kita maksudkan. Namun perlu disadari bahwa ada hal-hal tertentu yang bila kita ungkapkan di udara maka imajinasi pendengar tergiring ke hal-hal yang negatif. 

Siapakah yang dapat membatasi imajinasi para pendengar yang jumlahnya ribuan di sana, di luar studio? Maka oleh sebab itu sangat diperlukan koridor di sini. Apa saja yang hendak kita siarkan, kita ucapkan di muka mikrofon sebelumnya sudah ditimbang masak-masak apakah ini nanti akan menggiring imajinasi pendengar ke arah yang negatif. Bayangkanlah bagaimana seorang penyiar yang ditunjang dengan desahan nafas, intonasi yang semakin ke arah puncak, dan blak-blakan menceritakan situasi tanpa busana. Apakah imajinasi orang yang mendengarnya hanya sebatas itu saja? Bukankah bisa saja para pendengar itu akan melanjutkan "adegan yang terputus tersebut" dengan imajinasinya sendiri sekalipun si penyiar telah berhenti memberikan kesaksian hidupnya? Dalam hal ini si pendengar telah ter-stimulan oleh suara sang penyiar! Tanggungjawab siapa ini?

Sekali lagi, suara itu punya kekuatan! Dia mampu menggiring imajinasi orang yang mendengar suara tersebut. Apa yang disampaikan dengan suara tentu sangat perlu ditimbang-timbang dengan bijaksana penuh hikmat. Bahan-bahan yang akan disiarkan diseleksi dengan teliti, dan dipikirkan dampaknya terhadap imajinasi pendengar. Mengapa? Ya itu tadi, seorang penyiar berencana menyampaikan informasi, cerita, kesaksian hidup, dengan maksud ditujukan ke kalangan pendengar dewasa. Tapi apa mau dikata, karena begitu antusiasnya, begitu polosnya, sehingga yang tersaji adalah hal-hal yang "vulgar". Dan siapa berani menjamin bahwa materi yang disiarkan, yang diudarakan itu tidak akan didengar oleh para ABG dan anak-anak remaja lainnya, yang tengah mengalami masa-masa pubertas gawat?

Di dalam Alkitab (BIS) tertulis: "Kalian tahu bahwa ada ajaran seperti ini: Jangan berzina. Tetapi sekarang Aku berkata kepadamu: barangsiapa memandang seorang wanita dengan nafsu berahi, orang itu sudah berzina dengan wanita itu di dalam hatinya."(Matius 5:27-28).Ya! Ada proses dari pesan keras Firman Tuhan di atas. Memandang itu sah-sah saja. Pandanglah pemandangan alam nan indah itu dengan sesuka hati. Nikmatilah dan renungkan betapa Maha Pencipta itu luar biasa. Dan pandanglah orang-orang yang berlalu-lalang di sekitar kita, ternyata ada nuansa tersendiri yang kita rasakan. Namun bila timbul nafsu berahi di situ, apakah ada yang tahu? Bukakankah hal tersebut tersimpan jauh di lubuk hati, dan merupakan imajinasi yang berkembang, serta merupakan bayangan yang ditumbuhkan? Kita telah membayangkan sesuatu tanpa perlu diketahui oleh orang lain. Padahal pesan/peringatan kerasnya adalah: membayangkannya saja pun jangan!

Demikianlah adanya. Dari suara yang dikumandangkan, berisi pesan-pesan berupa kotbah, ilustrasi, kesaksian hidup, informasi, dan sebagainya, semuanya itu sarat dengan benang-benang imajinasi positif maupun negatif. Entah itu disampaikan di atas mimbar dalam ruang terbatas maupun di muka mikrofon dari sebuah studio radio untuk dipancarkan ke telinga pendengarnya. Sangatlah bijaksana bila kita ingat selalu bahwa ada benang imajinasi yang terbentang dari telinga menuju otak dan hati.Tersembunyi dan penuh rahasia di dalam diri seseorang! Oleh sebab itu, kerinduan untuk menjadikan pesan bersuara tersebut sebagai persembahan dupa yang harum bagi kemuliaan-Nya, kita jadikan sebagai motivasi utama dalam menyebarkan Kabar Baik !

Jakarta, 23 Agustus 02
Tema
Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."