Masalahnya Apa?

Penilaian Pengunjung: / 1
TerjelekTerbaik 
Dari mata terpancar isi hati, itu kata pepatah. Bagaimana dengan suara? Dari suara pun terpancar dan terwakili isi hati. Itulah sebabnya hal ini sangat sensitif bagai seorang penyiar dan tentu juga bagi pendengar. Sejuta makna yang terungkap dan bebas kita maknai bila mendengar suara yang berkumandang melalui mikrofon dari dalam studio. Tapi tentu saja tidak dengan begitu mudah pendengar dapat menebak isi hati penyiar yang sedang siaran. 

Diperlukan kepekaan khusus, serta pengenalan yang relatif cukup lama. Dan bahkan mungkin perlu dibantu dengan pertemuan fisik dengan sang penyiar supaya lebih mendekatkan pada fakta yang sesungguhnya. Tapi berapa banyakkah kesempatan yang dimiliki para pendengar setia sebuah stasion radio untuk dapat berjumpa dengan penyiar favoritnya? Tidaklah banyak kesempatan itu. Sehingga tetap saja ada sekian banyak pendengar yang hidup dengan bayangannya sendiri terhadap figur dan profil penyiar pujaannya. 

Bukankah tidak sedikit para pendengar yang kecele manakala mendapat kesempatan "copy darat" dengan penyiar kesukaannya itu. Dari suara sang penyiar yang didengar selama ini, suaranya berwibawa, ramah, juga penuh humor ... nah pastilah sang penyiar ini ganteng, tinggi besar, dan berwajah simpatik. Dan ... ketika akhirnya berkesempatan berkenalan dengan penyiar itu oalahhhhhh ... .koq orangnya kecil imut-imut, sedikit kurus, dan berwajah serius, terkesan pendiam, lho…lho…koq tidak seperti yang dibayangkan sebelumnya? 

Dan sebaliknya pun bisa terjadi. Ada suara penyiar yang sedikit "cempreng" dan terkesan kekanak-kanakan sehingga ada keengganan untuk melihatnya secara fisik, karena sudah terbayanglah ah…pastilah sang penyiar itu masih ABG atau paling tidak masih mahasiswi semester pertama. Dan kemungkinan besar orangnya tidak kece. Nah…ketika iseng-iseng berkunjung ke studio, lalu akhirnya berkenalan wow….tak disangka sang penyiar itu cantik, manis dan tinggi badannya proporsional. Murah senyum dan bersahabat serta telah tamat kuliah pula. 

Ya! Lagi-lagi kecele karena suara! (Berapa banyak pengalaman Anda, para pembaca, perihal ini?)

Oleh sebab itu sebagai seorang penyiar yang juga adalah "public figure" sangat dituntut ke-profesional-annya dalam bersiaran. Terutama dalam bersuara! Dalam berkomunikasi satu arah maupun dua arah (interaktif). Karena salah-salah bersuara, salah-salah menggunakan intonasi maka berapa banyak telinga yang akan berwarna merah di luar studio sana, karena salah menafsirkan ucapan penyiar? Dan berapa banyak juga hati para pendengar, di luar studio sana, yang mendapatkan kesejukan batiniah manakala mendengar suara seorang penyiar yang ramah, sopan, tidak memaksa, lemah lembut, akrab dan tidak terkesan arogan? 

Ya! Jam terbang yang banyak serta senantiasa mengevaluasi diri akan membentuk seorang penyiar yang mampu mempertahankan suasana siaran yang menyenangkan melalui suaranya, sekalipun mungkin saja baru 5 menit yang lalu ia bertengkar dengan suami/istri/pacar/teman di telepon. Atau mungkin dia tengah banyak problema selama sebulan terakhir, namun tidak setetes pun noktah problema itu tersirat dalam suaranya.

Semua hal di atas juga tidak lepas dari bagaimana sang penyiar mahir memilih kata-kata untuk diucapkan. Kata atau kalimat yang dipilih dan disuarakan melalui mikrofon di studio tentu saja memiliki dampak tertentu. Benar memilih kata, tapi salah meng-intonasikan-nya, akan berakibat fatal. Tepat melafalkannya, tapi salah memilih kata, juga akan berakibat fatal. 

Cobalah simak contoh dialog interaktif (melalui telepon di udara) di bawah ini, yang saya rekam dari sebuah program acara radio yang mengangkat persoalan hidup sehari-hari untuk dicarikan solusinya. Acara tersebut berlangsung malam hari.

Penyiar : Jadi masalahnya apa, Bu? (dengan datar sang penyiar langsung mengucapkan kalimat ini di udara).

Ibu : Iya ... saya minta didoakan, dan apa yang harus saya lakukan, karena suami saya selama 2 tahun terakhir ini memiliki WIL dengan sembunyi-sembunyi .... (maka berceritalah si Ibu dengan panjang dan terbata-bata diselingi tangis).

Penyiar : Jadi, begini ya, Bu ..... (sang penyiar mulai membahas dan memberi solusi).

Rasanya tidak ada yang aneh dalam dialog awal antara penyiar tersebut dan si Ibu yang menelepon dari rumahnya. Tapi saya mau memperjelas bahwa saat sang penyiar itu memutar lagu, rupanya operator telah menerima telepon si Ibu di studio. Lalu telepon tadi "dinaikkan" di udara, lagu yang tengah diputar pun langsung "diturunkan" dan sang penyiar langsung menyapa si Ibu dengan pertanyaan di atas. Jadi masalahnya apa, Bu?

Tanpa proses perkenalan lebih dulu dengan si Ibu tersebut, siapa namanya, di mana alamatnya, sang penyiar langsung bersuara seperti itu di udara. Saya terkejut sekali. Mengapa? Karena pengucapan kata "masalahnya apa" dengan intonasi datar benar-benar menohok perasaan saya pada malam itu yang tengah memposisikan diri sebagai pendengar. Saat seseorang berkata "masalahnya apa?" Maka dia telah memposisikan diri sebagai orang yang telah siap memberikan jalan keluar. Sebab segudang solusi telah ada dalam genggaman tangannya. Ditambah lagi dengan suara datar, maka muncul kesan di hati saya bahwa sang penyiar itu telah memposisikan dirinya beberapa tingkat di atas si Ibu yang bertanya tersebut. Nah…apakah ini bukan sesuatu yang menjauh dari lingkaran kerendah-hatian? 

Bukankah akan sangat jauh berbeda kesan yang ditimbulkan bila yang terucap oleh sang penyiar itu adalah: Selamat malam Ibu, apa yang bisa saya bantu……..? (dengan intonasi ramah dan merendah). 

Ketika seseorang membuka dirinya untuk siap membantu orang lain, maka dia telah memposisikan dirinya untuk besimpati dan berempati pada orang tersebut. Dia telah mensejajarkan dirinya dengan orang yang meminta bantuan itu! Itu berarti, selain dia memang sudah siap membantu mencari jalan keluar, dia pun juga siap bila ternyata jalan keluar yang muncul nanti justru datang dari orang yang bermasalah itu sendiri. Akibat perbincangan yang menuntun orang yang bermasalah itu melihat problemanya dengan jernih dan akhirnya menemukan sendiri solusinya. Ouw…alangkah indahnya bila situasi ini tercipta di udara. Penyiar adalah sahabat pendengar, dan pendengar adalah juga sahabat penyiar. 

Tuhan Yesus memberi teladan pada kita di dalam Matius 9:18-19. Sementara Yesus berbicara demikian kepada mereka, datanglah seorang kepala rumah ibadat, lalu menyembah Dia dan berkata: "Anakku perempuan baru saja meninggal, tetapi datanglah dan letakkanlah tangan-Mu atasnya, maka ia akan hidup." Lalu Yesuspun bangunlah dan mengikuti orang itu bersama-sama dengan murid-murid-Nya. Ada kesediaan Yesus untuk seiring sejalan dengan kepala rumah ibadat itu. DIA turunkan posisinya untuk akhirnya bersimpati dan berempati dengan orang yang sangat membutuhkan pertolongan-Nya. Padahal apa susahnya bagi Yesus untuk berkata, Apa masalahnya, Pak? Ya, sudah ini solusinya, dan jalanilah! Tapi DIA tidak melakukan itu. Dia memilih mengikuti permintaan itu, padahal yang meminta pertolongan tersebut baru saja menyembah Yesus! Hm…sungguh sebuah kerendah-hatian, dari Seorang yang punya Kuasa atas dunia dan Sorga, atas kehidupan dan kematian!

Maka sebenarnyalah tidak mudah untuk berkata-kata dengan baik dan benar. Utamanya bagi seorang penyiar dari dalam studio yang memercikkan suaranya itu kepada ribuan bahkan jutaan telinga pendengar dari berbagai latar belakang. Terlebih bila sang penyiar itu adalah hamba Tuhan (seperti evangelis, pendeta, dsb). Sangat diperlukan hikmat dalam bersiaran sekalipun itu waktunya hanya 30 menit misalnya. Karena dalam waktu yang relatif pendek seperti itu, kesan dan catatan khusus telah tertanam di dalam loh hati para pendengar. Bahwa sang penyiar ini tinggi hati, bahwa sang penyiar ini sok tahu, bahwa sang penyiar ini terlalu memaksakan konsepnya dan doktrinnya, bahwa sang penyiar ini ketus, dan segudang lagi nilai-nilai minus darinya. 

Oleh sebab itu persiapan hati, persiapan materi kata, persiapan penyampaian suara adalah sesuatu yang mutlak untuk dilakukan untuk bersiaran. Dan dengan menyadari bahwa kita adalah hamba-Nya untuk menyampaikan Kabar Baik, tentu keteladanan-Nya sangat perlu diikuti bukan hanya para penyiar di dalam studio tapi juga oleh para "penyiar-penyiar" lain yang tengah bertugas di KKR, di Gereja, di Sekolah Minggu, dan di mana saja, kapan saja, dalam menghadapi siapa saja!

Tema Adiputra
Jakarta, 6 September 2002
Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."