Maksud Baik Membias Buruk

Penilaian Pengunjung: / 0
TerjelekTerbaik 
Masih ingat peristiwa Jakarta dilanda banjir bandang, awal tahun 2002? Wah, seru nian ceritanya! Seluruh daerah di Indonesia menikmati tontonan musibah yang melanda Ibukota negara kita itu melalui TV. Luar biasa dampak yang ditimbulkannya. Namun di balik musibah tentu banyak hikmah. Salah satu hikmah yang dipetik-konon katanya-adalah timbulnya rasa sependeritaan/rasa sepenanggungan antara masyarakat kelas "bawah" dan masyarakat kelas "atas" yang perumahannya juga dihantam banjir itu. Sama-sama mengungsi, sama-sama menikmati makanan dari dapur umum, sama-sama memberi pertolongan tanpa lihat-lihat lagi status dan latar belakangnya. Yang muncul adalah solidaritas kemanusiaan semata.

Jangan dilupakan peranan radio siaran dalam musibah itu! Ada orang yang rumahnya tidak kebanjiran, karena demikianlah jawaban telepon dari keluarganya di rumah, namun ternyata dia tertahan kemacetan total di jalan raya Jakarta yang terjebak banjir. Dan tidak tanggung-tanggung, menurut cerita keponakan saya yang juga mengalami hal itu ada temannya yang terjebak macet total dari sore pulang kantor sampai dini hari. Terjebak dan terdiam saja di dalam mobilnya karena di luar hujan deras. Sembari asyik memutar beberapa gelombang radio yang tengah menyajikan informasi banjir di berbagai sudut Ibukota. 

Nah ... siapakah yang tidak ketar-ketir mendengar laporan para reporter radio itu? Jangan-jangan rumah kerabat keluarganya telah dihantam air ganas tersebut. Jangan-jangan nanti tempat kemacetan ini akan berobah jadi kolam dadakan karena tanggul yang bobol. Maka dari itu informasi dari para reporter radio tersebut sangat menolong di samping juga membuat hati dag-dig-dug.

Seberjalannya waktu, tidak sedikit stasion radio yang segera membuka ruang untuk mengumpulkan sumbangan berupa uang maupun material untuk membantu masyarakat yang terkena musibah banjir itu. Dan hebatnya, dari pengamatan yang ada, solidaritas para pendengar-paling tidak para pendengar fanatik masing-masing stasion radio itu-sungguh luar biasa. Sumbangan pun mengalir dan segera disalurkan kepada yang membutuhkan. Kecepatan informasi yang disampaikan ditambah pula imbauan melalui suara penyiar yang menggugah hati, telah membuktikan bahwa radio siaran tidaklah kecil peranannya di masa-masa krisis.

Masih ingat peristiwa kerusuhan di Jakarta bulan Mei 1998 dan juga sambungannya di bulan-bulan berikutnya? Ini pun tidak kalah seru peristiwanya. Saat itu saya tengah berada di kantor, dan dari lantai 6 gedung, saya lihat ke segala penjuru arah Jakarta, terlihat asap hitam mengepul di mana-mana. Bahkan tepat di jalan raya di depan kantor saya tersaksikan mobil yang dibakar massa, termasuk juga tragedi "Cawang" yang menghebohkan itu. Saat itu sangat mencekam. Massa tiba-tiba saja bisa muncul dengan melempar dan berteriak-teriak untuk menghancurkan apa saja yang dilewatinya. Akibatnya masyarakat di sekitarnya berlarian menyelamatkan diri. Dan pada masa krisis seperti itu, saya dan rekan-rekan tidak sungkan-sungkan memutar gelombang radio tertentu untuk mencari informasi, padahal kami adalah orang radio juga, yang bekerja di stasion radio, namun pada saat itu tidak menerjukan reporter lapangan, karena keterbatasan SDM.

Pada waktu sebuah stasion radio menginformasikan bahwa di wilayah tertentu ada pergerakan massa yang menghancurkan dan membakar apa saja yang dilaluinya, maksudnya memang baik untuk mengingatkan penduduk setempat untuk waspada dan mengantisipasi. Apa lagi waktu itu penjarahan pun tengah memuncak akibat krisis ekonomi. Maka informasi yang dilaporkan oleh reporter radio itu sungguh berguna juga untuk meminta aparat keamanan datang ke tempat kejadian memberikan pengamanan. 

Nah ... karena keterbatasan aparat keamanan pada waktu itu maka saat menuju ke tempat yang rusuh tersebut, ternyata di tempat lain jadi kosong sehingga membuka kesempatan bagi massa yang lain untuk membuat onar dan menjarah. Akibatnya, para pendengar radio yang kritis pun jadi dag-dig-dug mendengar informasi itu. Jangan-jangan nanti tempat merekalah yang dijarah, karena telah ditinggal pergi aparat keamanan menuju lokasi rusuh lainnya. Dilematis memang!

Tapi yang sungguh nyata-nyata saya rasakan sendiri pada waktu itu adalah bagaimana peranan radio siaran membantu gereja-gereja untuk menyampaikan pengumuman kepada anggota jemaatnya. Akibat jalanan diblokir, dan ketakutan serta keragu-raguan masyarakat untuk keluar rumah, maka mengalirlah pengumuman via fax ke studio kami. Pihak pengurus gereja minta tolong diumumkan tentang pembatalan kebaktian di berbagai tempat sampai waktu yang dirasa aman lagi untuk melakukan aktifitas. Luar biasa! Di saat-saat jaringan telepon putus, jalanan diblokir, ancaman massa yang merusak dan menjarah masih potensial, rupanya para pengurus gereja itu tidak kehilangan akal, mereka memanfaatkan jasa radio siaran untuk berkomunikasi dengan anggota jemaatnya. Secara tidak langsung ini telah menanamkan pesan bahwa radio siaran adalah sarana komunikasi yang sangat efektif dan efisien untuk berbagai misi gereja!

Saya ingin mengungkapkan bahwa radio siaran itu pada saat tertentu begitu condong pada kepentingan publik. Karena situasi dan kondisi sangat mendukung untuk itu. Para pendengar yang sangat membutuhkan informasi penting, begitu berharap hal tersebut tergulir dari sebuah stasion radio. Sekalipun dalam kesehariannya dia bukanlah pendengar setia dari program-program acara stasion radio itu. Tapi, tak apalah, yang penting apa yang dicari didapat, dan apa yang jadi pertanyaan terjawab. Sekalipun yang dicari dan yang didapat itu bisa saja memberikan bias-bias buruk, dalam arti situasi rusuh, situasi bencana yang dilaporkan melalui udara dapat saja bukan membikin hati tenang tetapi malah membuat hati semakin bimbang. Itulah realitanya!

Kita memang hidup di tengah-tengah masyarakat. Radio siaran pun berkiprah di tengah-tengah masyarakat pendengarnya. Dikatakan "hidup di tengah-tengah" berarti kita ada di situ dan bisa saja kita pun terjepit di situ. Namun, persoalannya adalah, apakah di tengah keterjepitan itu kita lalu mengikuti arus yang semakin menjepit ataukah justru kita rentangkan tangan untuk berenang memberikan pertolongan. 

Firman Tuhan di Galatia 6:2 Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus. Ya! Kita diminta untuk saling memberikan pertolongan kepada sesama manusia. Pertolongan yang bagaimana? Tentu saja pertolongan yang menyenangkan hati Tuhan. Bentuknya dapat berupa uang, tenaga, barang-barang, pemikiran dan bahkan informasi. Saat-saat seseorang maupun banyak orang membutuhkan informasi penting, dan hal itu ada di tangan kita, mengapa kita tidak memberikan pertolongan? Tolonglah mereka. Dengan demikian kita telah memenuhi hukum Kristus. Tentu saja manakala kita memberikan pertolongan dalam bentuk memberikan informasi yang dibutuhkan, maka bias-bias buruknya ditiadakan. Kita bertimbang dan berhikmat agar informasi itu bukan mendatangkan kehancuran dan ketakutan namun memberi kenyamanan dan bersifat membangun.Sehingga kesaksian hidup kita sebagai pengikut Kristus menjadi nyata.

Jakarta, 20 September 2002
Tema Adiputra
Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."