• PDF

Maintenance

Penilaian Pengunjung: / 0
TerjelekTerbaik 
  • Senin, 01 Juni 2009 16:44
  • Ditulis oleh Tema Adiputra
  • Sudah dibaca: 1907 kali
Saya sangat mengingat kata "maintenance" yang bermakna pemeliharaan, perawatan ini karena dipicu oleh satu peristiwa. Teringat saya pada beberapa tahun lalu saat berkunjung ke sebuah lembaga pendidikan di Lippo Karawaci untuk melamar pekerjaan. Dengan semangat juang'45 dan bermodalkan kemampuan bahasa Inggris yang dapat mengundang orang lain tersenyum ---karena belepotan--- maka saya pun datang ke tempat itu. Nah, sebagai langkah awal kami (para pelamar) dikumpulkan di sebuah ruangan lalu kami pun mengisi formulir aplikasi yang berbahasa Inggris. Di sebelah saya ada seorang bapak muda berbadan tegap dan potongan rambut cepak. Dia pun ikut mengisi formulir tadi dengan penuh percaya diri. Ketika saya tanya apa pekerjaannya sekarang dia mengatakan, Satpam sekaligus Maintinance! Dan dia mau melamar ke lembaga pendidikan ini juga dengan tugas yang sama. Ya! Saya tidak tahu sejauh mana dia menguasai bahasa Inggris dan apakah dia lulus seleksi, namun yang pasti rasa percaya dirinya memasuki arena penuh berbahasa Inggris itu membuat saya mengenangnya terutama saat dia mengucapkan kata "maintenance" tersebut.

Membicarakan saat-saat penerimaan karyawan baru memang akan ada beragam tolak ukur dan pengalaman. Namun yang pasti kriteria yang disodorkan untuk calon karyawan bertujuan untuk memenuhi kebutuhan perusahaan atau lembaga yang membuka lowongan kerja itu. Seperti halnya pengalaman saya di atas. Jelas ada sedikit kegentaran pada waktu itu, karena menurut saya kriteria dan persyaratan yang diminta relatif berat dari pengalaman saya mencari pekerjaan di tempat lain sebelumnya. Tapi saya menyadari betul bahwa seleksi yang dilakukan lembaga pendidikan tersebut tentu saja bertujuan untuk menerima calon tim kerja yang handal dan dapat bernilai guna.

Kini saya tidak heran lagi bila mengetahui sahabat-sahabat saya ada yang mampu setia dan bertahan bekerja di satu tempat sampai puluhan tahun. Sekalipun-lagi-lagi relatif---gaji mereka dapat dikatakan pas-pasan! Apa rahasianya gerangan? Ya! Kalau saya mau jujur dengan diri saya sendiri maka tentu saja salah satu dari rahasia untuk bertahan itu adalah menikmati dan menyukai pekerjaan kita. Saya teringat, sewaktu SMP dan SMA dulu, di dalam kamar saya bermain gitar lalu saya nyalakan tape recorder dan saya masukkan keset kosong, kemudian saya berlagak seperti seorang penyiar yang seterusnya mempersembahkan sebuah lagu ke para pendengarnya. Dan sajian itu saya rekam! Saya menyukai kebiasaan itu! Itu menjadi hobi, yakni hobi bersiaran dan bermain gitar sembari bernyanyi. Nah…siapa sangka puluhan tahun kemudian hal itu menjadi pekerjaan saya sekaligus menjadi profesi saya sampai sekarang. Hobi telah menjadi profesi!

Seorang yang saya kenal sebagai orang nomor satu di sebuah perusahaan, belakangan saya ketahui bahwa hampir tiap tahun ada saja karyawannya yang mengundurkan diri. Dan itu tidak hanya dalam jumlah seorang atau dua orang, tapi bisa sampai hampir mendekati 10 orang hanya dalam kurun waktu setahun pada suatu masa. Tentu berbagai "alasan manis" disodorkan oleh para para karyawan yang mengundurkan diri itu. Dan kalau mau disimpulkan semuanya tidak lepas dari keinginan mendapat penghasilan yang lebih meningkat. Ya! Tentu setiap orang memiliki hak azasi perihal ini. Namun…saya yang sedikit banyak mengenal boss itu dan juga berkesempatan menganalisa situasi yang pernah terjadi, tergelitik rasa penasaran.

Suatu hari, pada kesempatan yang suasananya tepat, sambil bersendagurau, saya mempertanyakan pada sang boss itu mengapa demikian suasana kantornya? Biasalah…jawaban klise pasti keluar. Hm…setelah mendengar jawaban seperti itu, saya lalu mengajaknya diskusi dengan ringan. Saya hanya mengajukan dua pertanyaan mendasar. Yang pertama bagaimana dulu motivasi perusahaan itu dalam merekrut karyawan baru? Ya, saya pertanyakan ini padanya apakah karyawan itu nantinya akan diusahakan bertahan lama atau akan dibiarkan bergonta-ganti sebagai taktik gaji yang tidak perlu dinaikkan lagi karena selalu ada karyawan baru yang terpaksa tidak bisa menolak jumlah gaji di tahun-tahun awal. Yang kedua saya tanya padanya bagaimana selama ini perusahaan me-"maintenance" karyawannya? Nah…ini dia!

Kalau dua hal mendasar tersebut terjawab dengan bijaksana dan tulus terlebih nuansa rohani mendominasi (karena perusahannya itu bernafas kristiani) maka dijaminlah bahwa tidak akan ada atau setidak-tidaknya akan jarang sekali karyawan tersebut hilir mudik-silih berganti alias gonta-ganti! Di awal merekrut, tentu dicarilah karyawan yang memang sesuai kebutuhan dengan memaparkan hak dan kewajiban serta peluang-peluang pengembangan dirinya dengan berbagai kebijaksanaan yang mungkin diperlukan. Dan di tengah masa perjalanannya bekerja, bagaimana upaya memperhatikan secara simpati dan empati kepada para karyawan sehingga membuat mereka aman dan nyaman bekerja di situ. Hm…itu saja yang saya ungkapkan. Saya tidak mau panjang lebar takut nanti disangka menggurui. Sebab siapa sih saya ini? Tapi saya lega karena telah berkesempatan mengungkapkan hal tersebut. Karena sudah sekian lama saya berdoa meminta pada-Nya agar mendapat kesempatan berbicara tentang hal ini. Dan Tuhan kabulkan doa saya. Ya, saya tahu bahwa sang boss itu paham yang saya maksud. Bagaimanapun juga para karyawannya pastilah ingin turut berjuang dalam suka duka perusahaan yang penuh keterbukaan yang bijak. Dan ketika perjuangan telah menghasilkan buah tentulah para karyawannya rindu untuk bersama-sama menikmatinya dalam kesukariaan penuh pengucapan syukur. Bukankah begitu?

Ah…siapakah kita? Kita adalah ciptaan Tuhan. Dan ternyata Tuhan jauh-jauh masa telah memberi contoh yang sederhana. Dia memelihara ciptaan-Nya! Dia merekrut (baca: menciptakan, melahirkan, menumbuhkan), dan Dia juga memelihara dengan perlindungan dan berkat-berkatnya, termasuk memelihara kita dengan memberikan ujian-ujian untuk naik tingkat dalam kelas iman! Ah…mengapa kita tidak meneladani Dia di setiap sentuhan karya dan kekuasaan yang kita miliki pada saat Tuhan memberi kepercayaan pada kita sebagai pemimpin di mana pun kita ditempatkan?

Kita bisa me-"maintenance" para mitra kerja, anak buah kita dan siapa saja yang bekerja di perusahaan kita, di gereja, di mana pun, bila kita sendiri pun merasakan bagaimana Tuhan telah memelihara dan merawat kita. Nah, ucapan syukur kita tentu saja mencurahkan hal serupa kepada yang memang seharusnya menerimanya. Rasul Paulus dalam pesannya, sangat meyakini hal ini: (II Tesalonika 3:3) Tetapi Tuhan adalah setia. Ia akan menguatkan hatimu dan memelihara kamu terhadap yang jahat.

Tidak ada ruginya kita menyalurkan berkat yakni dengan tulus melakukan "perawatan" dan "pemeliharaan" semangat kerja / semangat melayani /semangat berkarya dari orang-orang yang bekerja untuk kita !

Jakarta, 20 Januari 2004

Tema Adiputra
Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."