• PDF

Tak Pernah Terbayangkan

Penilaian Pengunjung: / 0
TerjelekTerbaik 
  • Senin, 01 Juni 2009 16:44
  • Ditulis oleh Tema Adiputra
  • Sudah dibaca: 1861 kali
Saya memiliki tanah kelahiran. Yakni tempat saya dilahirkan oleh ibu saya. Tapi saya juga punya kampung halaman, yakni tempat kedua orang tua saya berasal. Kedua tempat itu berada di pulau yang berbeda. Tanah kelahiran saya itu baru-baru ini saya kunjungi. Setibanya bus tanggung itu di terminal saya menelepon ke rumah abang saya untuk dijemput. Pukul setengah enam sore pada waktu itu. Saat menunggu jemputan di sebuah Wartel dekat terminal, saya duduk merenung dan mulai beradaptasi untuk menikmati atmosfir tanah kelahiran saya ini. Wouuuw….terakhir saya ke sini 13 tahun silam!!

Mobil jemputan telah tiba. Abang saya dengan anak-anaknya tersenyum menyalami saya. Dan…rupanya masih ada waktu-setelah saya rayu-untuk keliling sejenak bernostalgia di tempat saya dibesarkan sampai kelas 2 sekolah dasar ini. Lagi pula saya hanya semalam di sini. Ya! Kami menyusuri jalanan kotamadya itu. Sambil tak lupa saya bertanya-tanya. Kami datangi daerah tempat terakhir saya nikmati berkumpul serumah dengan saudara-saudara sekandung dan kedua orang tua saya. Rumah itu tentu saja masih berdiri kokoh dihuni pemiliknya sekarang. Namun…rumah di seberangnya (dulu rumah bagus) sekarang telah hancur dan tak terurus. Abang saya mengatakan tempat itu sekarang menurut cerita penduduk sekitar ada "penunggunya". Oh….ya?! Lanjut kami menuju tempat-tempat "bersejarah" pada kehidupan saya sampai dengan umur 9 tahun di kotanya Akbar Tanjung dan Feisal Tanjung ini.

Tahu-tahu mobil telah memasuki daerah rumah tempat saya dilahirkan. Abang saya menunjukkan sebuah rumah yang dulu di situlah rumah kami. Rumah papan dan kecil itu telah terganti dengan rumah yang sekarang saya lihat. Dan…tiba-tiba saat mobil mendekati rumah berikutnya, abang saya berteriak kecil di dalam mobil: "Eh…itu dia…itu dia si Tigor…ya…itu si Tigor sedang memasuki halaman rumahnya. Ayo panggil dia! Ayo panggil dia! Itu si Tigor…!" Dalam hitungan detik-setelah menguatkan hati-saya buka jendela mobil dan saya panggil pria yang menggendong anaknya itu yang hanya terlihat punggung. Ya! Dia benar si Tigor. Dia menghampiri kami ke mobil yang telah terbuka lebar pintu depannya. Abang saya menyapanya dan memperkenalkan saya. Untuk sekian detik hati saya berdeguuuppppp…namun akhirnya saya tersenyum dan juga menyapanya sambil mengingatkannya bahwa saya teman masa kecilnya dulu, saat saya masih "kuliah" di Taman Kanak-Kanak. Dia pun mengangguk dan tersenyum, dan mengundang kami masuk ke rumahnya. Sayang sekali waktu kami sempit jadi tidak bisa mampir. Rupanya abang saya masih suka berkomunikasi dengan si Tigor dan keluarganya.

Ada apa sih dengan si Tigor itu? Terus terang saja, pertemuan di atas adalah jumpa setelah hampir 38 tahun berpisah.! Lalu ada apa dengan dia? Mengapa saya tadi sempat berdeguuuppppp….hati? Pria yang sudah terlihat gurat-gurat ketuaan di wajahnya itu dan masih dengan suara berat-serak adalah anak nakal pada waktu itu. Saya berteman dan bermusuhan dengannya, maklumlah masih anak-anak. Sebuah peristiwa telah menimpa saya pada waktu itu. Sebatas yang saya ingat-dalam usia sekitar 6 tahun-di sebuah tanah kosong, dan ada sumur dangkal dengan air keruh, saya tercebur ke dalamnya ketika hendak naik ke tepi sumur seusai mencuci kaki dengan gaya menyepak air. Saya tercebur dengan wajah menghadap lobang sumur! Waktu itu si Tigor pun ada di dekat sumur. Saya tenggelam, dan saya rasakan kaki saya menginjak dasar sumur, dan saya berusaha melompat-lompat serta merentangkan tangan saya ke atas permukaan air sambil terasa air saya telan melalui lobang mulut dan hidung. Saya tidak tahu berapa lama. Sampai saya rasakan ada tangan yang kuat menarik saya, menggendong saya ke rumah, dan membaringkan saya, serta kaki saya yang diangkat-angkat, terasa ada air keluar dari mulut saya, juga suara ibu saya yang berteriak cemas. Hanya itu yang mampu saya ingat!! Dan sampai sekarang….saya masih hidup!! Puji Tuhan.

Beginilah cerita sebenarnya. Rupanya seorang bapak yang rumahnya di tanah tinggi atas sumur itu telah menyaksikan semua peristiwa tersebut. Dialah yang menceritakan kronologis peristiwa itu ke ibu saya, dan dialah juga yang dengan sigap lari turun untuk menyelamatkan saya dari kematian tenggelam di sumur keruh tersebut. Rupanya ketika saya membelakangi si Tigor itu, didorongnya saya sampai terjatuh ke dalam sumur. Dan ketika tangan saya menggapai-gapai serta kepala saya muncul tenggelam, dari pinggir sumur ditenggelamkannya lagi kepala saya. 

Ya! Kisah di atas berulangkali saya dengar manakala jumpa ibu saya di tanah kelahiran maupun di kampung halaman. Sekalipun kesal dan marah, namun ibu saya dan saudara-saudara saya tetap melihat itu dari atmosfir dunia anak-anak yang belum paham betul apa itu risiko becanda dengan maut. Dan…saya hampir jadi korban!! Nah…tidak berapa lama setelah peristiwa itu, kami pindah ke rumah dinas ayah saya yang jaraknya cukup jauh dari rumah kami yang dekat sumur sial itu. Sehingga saya tidak jumpa lagi dengan si Tigor sampai saya merantau ke Jakarta. Dan seperti yang saya kisahkan di atas, kami berjumpa lagi pada saat yang tidak diduga, tidak direncanakan, dan tidak pernah terbayangkan sebelumnya! Saya telah memaafkan si Tigor. Tuhan memberkatimu, Tigor!

Hm…siapa yang dapat menerka sehasta saja perjalanan hidup kita ke depan? Saya terus terang mengakui bahwa saya tidak bisa menebak perjalanan hidup saya di depan, ke depan. Barulah setelah terjalani saya bisa merenungkannya. Ya! Bukan hanya tragedi sumur, dalam berbagai peristiwa pun saya merasakan pemeliharaan dan penjagaan dari Tuhan dalam menyelamatkan saya dari kematian. Ya! Kalau belum waktunya Tuhan maka manusia tak akan mengalaminya! Demikian ungkapan hati ibu saya ketika dia dengan penuh sukacita melihat saya "hidup kembali" setelah selamat dari ketenggelaman di sumur. 

Apa yang kita alami adakalanya tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Mana mau saya membayangkan diri untuk kelak tercebur ke dalam sumur! Dan tidak pernah sedetikpun dalam hidup saya untuk mau bertemu si Tigor kembali! Namun apa nyana….?
Benarlah, hanya Tuhan yang menyutradarai hidup kita ini. Skenario telah ditulisnya. Dan apakah kita bisa melihat, membaca, mendengar, memikirkan skenario-Nya? 
Sudah lama saya mengimani Firman Tuhan berikut ini: (I Korintus 2 : 9-10) Tetapi seperti ada tertulis: "Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia." Karena kepada kita Allah telah menyatakannya oleh Roh, sebab Roh menyelidiki segala sesuatu, bahkan hal-hal yang tersembunyi dalam diri Allah.

Jakarta, 03 Februari 2004

Tema Adiputra
Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."