• PDF

Kuis, Beranikah?

Penilaian Pengunjung: / 0
TerjelekTerbaik 
  • Senin, 01 Juni 2009 16:45
  • Ditulis oleh Tema Adiputra
  • Sudah dibaca: 2043 kali
Tidak secara kebetulan pertengahan bulan November lalu saya mengikuti Kuis Siapa Berani di stasion televisi Indosiar. Keputusan mengikuti kuis tersebut sudah dengan satu pergumulan lama dan serius. Terlebih teman-teman di dalam tim kuis tersebut adalah alumni SMA saya yang sebagian besar satu angkatan. Ditambah lagi teman-teman saya tersebut adalah siswa-siswi yang menonjol di sekolah waktu itu. Sebab memang-waktu itu katanya-SMA saya yang terletak di daerah Gambir, Jakarta Pusat tersebut adalah salah satu sekolah yang top ditaburi dengan bintang-bintang pelajar lulusan SMP, anak-anak pejabat, anak-anak orang kaya. Bahkan sekolah tersebut sempat mencuat ke media massa nasional karena kasus seorang siswanya menembak seorang pelajar karena membela diri dalam sebuah tawuran.Yahhh…sedikit bernostalgialah saya, sebab itu terjadi 20-an tahun silam! Nah, beranikah saya bergabung dengan mereka?

Akhirnya saya putuskan mengikuti tim kuis tersebut. Tentu setelah saya bawa dalam doa dan sudah jelas motivasi saya. Maka kami pun berlatihlah. Bayangkan! Betapa penuh pengorbanan untuk bisa mengikuti latihan itu. Waktu itu bulan puasa, dari 20 orang yang ada hanya saya sendiri yang tidak berpuasa. Syukurlah karena salah seorang anggota tim adalah Indro-Warkop, maka kelelahan kami terobati dengan banyolan pelawak kondang itu yang merupakan kakak kelas kami. Latihannya memang di tempat strategis Jakarta Pusat (di rumah teman, salah seorang anak mantan Wapres Sri Sultan Hamengkubuwono IX-alm.), namun rumah teman-teman lain bertebaran di kompleks perumahan "pinggiran Jakarta". Jadi sepulang dari kantor sore hari, langsung latihan sampai jam 9 malam lebih. Jam berapa mereka tiba di rumah bertemu anggota keluarga?

Tidak muluk-muluk motivasi saya. Dengan mengikuti tim kuis itu maka saya ingin lebih dekat dengan teman-teman yang dulunya sewaktu sekolah agak beda kelompok-gaul. Juga saya rindu dapat "bercahaya" di antara mereka dengan mohon pada-Nya agar saya pun bisa berprestasi nanti. Tentu saja saya pun mempersiapkan diri dengan mengasah wawasan pengetahuan. Dan, puji Tuhan, setelah melalui proses panjang, dan kami tampil di layar kaca, diizinkan-Nya saya meraih Terbaik ke-2 dalam kelompok. Juga tim kami menjadi pemenang antar-tim. Sehingga berhak untuk maju lagi mengikuti Kuis Siapa Berani Sekali. (Saat membuat tulisan ini tim kami masih belum dipanggil oleh stasion televisi itu.).

Teringat juga sebuah momentum di tahun 1990 lalu. Saat itu saya "nyambi" sebagai guru di sebuah SMA swasta. Pada waktu itu di TVRI tengah mencuat sebuah kuis yang sangat ditunggu-tunggu pemirsa di seluruh Indonesia. Yaitu Kuis Silih Berganti-yang dipandu Bob Tutupoli. Saya rajin menonton kuis itu. Sebab penuh dengan ujian wawasan pengetahuan yang mendunia. Sebuah tim terdiri dari 3 orang. Dan mereka berasal dari berbagai profesi. Nah…sejauh yang saya tahu, setiap kali tampil peserta dari profesi guru/pendidik selalu saja "keok' alias kalah! Waduuhhhh….koq guru bisa kalah ya? Bagaimana nih…wajah pendidikan dan pendidik Indonesia? Disaksikan jutaan pasang mata di seluruh Indonesia tertayang kekalahan tim guru/pendidik dalam kuis itu! Pertanyaan ini meresahkan saya! Maka saya pun berbincang dengan dua orang sahabat saya guru di sekolah. Lalu…ada kesehatian di antara kami. Lagi pula kami satu gereja sehingga sudah saling tahu jiwa pelayanan masing-masing. Setelah membawanya dalam doa, lalu membulatkan tekad, kami pun mendaftarkan diri ke kuis tersebut. Dan kami pun "jumpalitan" mempersiapkan diri. Bukan untuk mengejar ketenaran, tapi kami mohon pada-Nya agar kami yang mewakili tim pendidik/guru dalam kuis Silih Berganti itu dapatlah berprestasi. Puji syukur pada Tuhan…kami menang 2X, namun saat tampil ketiga kali, kami kalah dari tim dosen. Hm…hm…hm…tak apalah, kalahnya oleh dosen! Guru SMA dikalahkan Dosen, wajarlah…demikian kami becanda menghibur diri. Namun, Tuhan sungguh baik, dipakai-Nya kami untuk memperbaiki "wajah" profesi pendidik/guru melalui layar kaca yang disaksikan jutaan mata di seluruh Indonesia. 

Ternyata memang kata "beranikah?" merupakan satu hal yang membuat kita masuk ke dalam satu pergumulan! Beranikah kita ber-manuver dalam hidup, dalam profesi, dalam perjuangan mencari tambahan uang dapur, dalam memperbaiki citra, dan…dalam mencapai pemberian yang semakin baik untuk Tuhan dan untuk sesama? Ouw, tidak mudah mengambil keputusan itu. Timbang-timbang kemampuan diri terkadang menjadi batu sandungannya. Motivasi yang tidak jelas pun turut pula mengganggu keberanian. Dukungan orang-orang yang dekat di hati kita, turut pula mempengaruhi dalam mengambil sikap berani. Namun satu hal---seperti yang juga saya alami---dengan doa dan bekerja (Ora et Labora), serta motivasi yang berkenan bagi-Nya, ini adalah modal utama kita untuk berani melangkah memulai sesuatu, melaksanakan kegiatan, menapaki langkah-langkah pencapaian cita-cita! Saya pribadi telah melihat dan merasakan buktinya! Puji Tuhan!

Jadi siapakah yang menetapkan langkah-langkah hidup kita? Siapakah yang menjamin langkah-langkah hidup kita? Selama kita berani melangkah dalam hidup ini, dengan bersandar penuh pada-Nya, maka hidup kita semakin bermakna!

Tertulis di Mazmur 37:23-24 "TUHAN menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya; apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak, sebab TUHAN menopang tangannya."

Jakarta, 07 Februari 2004

Tema Adiputra
Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."