• PDF

Tidak Terasa

Penilaian Pengunjung: / 0
TerjelekTerbaik 
  • Senin, 01 Juni 2009 16:48
  • Ditulis oleh Tema Adiputra
  • Sudah dibaca: 1833 kali
Kejadian ini di luar kota Jakarta, senja hari, di warung sate dekat sebuah gereja. Keponakan saya (mahasiswi) dengan teman prianya, duduk satu meja dengan saya sembari menunggu pesanan makanan. Sudah lama saya tidak jumpa dengan keponakan "jauh" ini ( maksudnya, dia adalah anak dari abangnya kakak ipar saya!). Tapi saya memang rasa dekat tali persaudaraan dengan dia sewaktu di Jakarta dulu. Nah…perjumpaan di luar kota ini sungguh membuat saya merenung. Karena sekian tahun belakangan ini kami di Jakarta sulit berjumpa, dan saya pun serasa tak punya waktu lagi berkunjung ke rumah orang tuanya. Saya tahu dia kuliah di kota ini karena diberitahu oleh tantenya, baru-baru ini. Maka ketika saya datang ke kota ini saya hubungi dia untuk bertemu usai kebaktian di gereja. Maka kini kami berbincanglah di warung sate ini.

Saya sudah seperti bagian dari keluarga neneknya, bapak-ibunya, dan om maupun tantenya. Karena ketika dulu mereka memiliki Vocal Group saya pun turut jadi anggotanya. Dan makan, mandi serta menginap di rumah mereka sudah bagian hidup saya! Bahkan sewaktu dulu saya pindah kost ke daerah Kelapa Gading BCS, bapaknya dengan mobil pribadi mengantarkan saya mengangkut barang-barang. Kalau saya sakit-sakit "kecil" neneknya yang adalah bidan, menyuntik saya. Jadi memang sejak kecil saya mengenal gadis ini, dan saya sangat terpana saat kini bertemu dengannya dalam status mahasiswi, di luar kota, bersama teman prianya (saya tidak menanyakan apakah itu pacarnya). Persis seperti waktu kecil dia saya kenal, suaranya, canda-candanya, spontanitasnya, dan semangatnya. Serta sopan santunnya dengan tetap menyapa saya dengan "om" (bahkan dulu dia malah menyapa saya dengan "om kumis!"). Wahhh…wahhh….!

Tidak terasa……waktu bergulir terus. Kesibukan terjalani terus. Usia bertambah terus. Yang dikejar bertambah terus. Dan hidup harus terus! Jangan stagnasi. Ya! Pertemuan dengan keponakan saya di atas itu, hanyalah pemicu bagi saya untuk menuliskan ini. Artinya, ada dorongan untuk merekam momentum itu dalam tulisan ini. Padahal kekagetan saya perihal momentum seperti hal itu sudah berkali-kali. Dan itu memang akan membuat saya termenung sejenak. Hanya saja tidak ada dorongan untuk menuliskannya. Tapi kini berbeda. Letupan dan suasana hati yang ada di warung sate tersebut membuat saya terjun ke lembah permenungan yang lebih dalam. Beberapa hari sebelum saya jumpa dengan keponakan itu, saya menelpon ibunya di Jakarta. Ini pun setelah sekian tahun tak sempat berkomunikasi. Saya mengkonfirmasi keberadaan anaknya itu. Dan salah satu perbincangan kami di telepon itu adalah---seperti halnya orang tua lain---mengenai bagaimana nanti ya kalau anaknya sudah tamat kuliah, dapatkah pekerjaan, bagaimana nanti ya tentang pasangan hidupnya, dan juga ibunya sempat mengungkap bahwa rumah semakin sunyi karena anak-anaknya yang sibuk di kantor dan kuliah…sehingga saya becanda mengatakan, jadikan saja rumah itu tempat kost putri! Pasti ramai!

Suatu malam saya datangi warung tenda langganan saya di Cawang. Saya makan udang saos tirem di situ. Sangat fokus dan menikmati sungguh saya malam itu dengan dinner tersebut. Eh…tiba-tiba, seorang pria telah berdiri di samping kanan saya dan berbisik di telinga saya membuat saya terkejut setengah mati dan jantung saya berdegup. Saya pikir pengamen atau preman yang hendak berbuat macam-macam! Eh…tidak tahunya dia adalah teman sekerja saya dulu di kantor yang lama. Wah…saya lega, dia tersenyum. Dan spontan saya katakan bahwa saya sangat terkejut. Dia hanya tersenyum. Lalu dia pun duduk di sebelah saya…bersama seorang wanita…yang ketika saya tanya secara berbisik siapa itu? Itu istri saya, pak! Hah…..?? Wouw…sudah jauh berbeda! (Maaf, ketika dulu mereka pacaran, dan tahun pertama menikah, istrinya itu tinggi dan proporsional tubuhnya. Tapi sekarang kebalikannya, setelah mereka memiliki seorang anak kecil--yang dititipkan dan diasuh oleh mbah-nya di Jogya). Saya spontan menyalami istrinya itu. Tidak terasa waktu telah membuat ke-berbeda-an! 

Hm…pasangan ini memiliki jalan hidup sendiri. Siapa sangka bahwa teman saya (sang suami itu), mula pertama masuk bekerja adalah sebagai petugas kebersihan di usianya yang masih remaja. Bahkan saya masih ingat karena polosnya, saat dia keluar dari toilet, tanpa disadarinya celana panjangnya itu basah di bagian perut bawah akibat tidak hati-hati "membersihkan sesuatu". Kini dia sudah dewasa, Tuhan sangat memberkatinya, dia telah memiliki sepeda motor, istri yang setia dan pekerjaan yang tetap dengan gaji dan bonus yang membuat hati tersenyum. Malam ketika kami jumpa di warung tenda itu dia berusaha mentraktir saya yang telah duluan usai makan dan hendak pamit. Namun saya tidak siap ditraktir. Tapi sebuah kesan tidak akan saya lupakan. Apakah karena waktu itu tepat hari perayaaan Valentine; maka dia tidak malu-malu beberapa kali menyuapi istrinya dengan tangan, di depan sekian banyak orang di warung itu? ( Belakangan saya diberitahu teman lain, bahwa pada malam itu si suami tersebut merayakan hari Ulang Tahunnya! Saya sangat menyesal tidak menerima tawaran traktirnya itu karena pastilah itu bentuk ucapan syukur pada Tuhan!). Mestinya saya bertanya dulu…(sambil tersenyum ya)…wah…dalam rangka apa nih, hendak mentraktir saya? Namun hal ini tidak terpikirkan saat itu. 

Saya menganggap adalah baik memiliki waktu tertentu untuk merenungkan perjalanan hidup kita maupun perjalanan hidup orang lain yang kita kenal beberapa tahun lalu. Sebab bukan hanya kita yang memerlukan evaluasi sudah sejauh mana kita berjalan, berkarya, dan berprestasi, namun juga orang lain yang kita jumpai itu---saya sangat yakin---juga akan memiliki bahan permenungan ketika berjumpa dengan kita yang sudah sekian tahun tak dilihat dan didengarnya! Paling tidak ada sedikit di hatinya untuk melakukan komparasi. Nah…ketika saya dikagetkan dengan munculnya keberbedaan yang terlihat saat dulu dan saat sekarang sewaktu bertemu dengan orang-orang yang telah lama tak jumpa itu, maka saya sadar betul hidup dan kehidupan ini sungguh dinamis! Dinamika hidup dan kehidupan ini tidak bisa kita cegah untuk mengantar kita ke "terminal akhir". Hm…hm…yang jadi pertanyaan adalah: bagaimana kita memaknai setiap langkah-langkah hidup kita itu saat menapaki jalan menuju "terminal akhir" tersebut dengan warna yang menyenangkan hati Tuhan. Sehingga bila suatu saat kita jumpa seseorang yang telah "berubah" maka kita tidak terkejut, namun melihatnya dalam perspektif positif yang dinamis serta penuh pengucapan syukur pada-Nya. Dan ini akan memantapkan hati kita untuk tetap yakin bahwa hidup kita ini tidak sia-sia!

Ya! Saya berharap Anda mampu menangkap pesan dinamis dan positif dari apa yang tertulis di kitab Pengkhotbah 3:1-2….."Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya. Ada waktu untuk lahir, ada waktu untuk meninggal, ada waktu untuk menanam, ada waktu untuk mencabut yang ditanam;…….."


Jakarta, 15 Maret 2004

Tema Adiputra
Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."