• PDF

Rehaber

Penilaian Pengunjung: / 0
TerjelekTerbaik 
  • Senin, 01 Juni 2009 16:48
  • Ditulis oleh Tema Adiputra
  • Sudah dibaca: 1747 kali
Apa komentar Anda membaca judul tulisan ini? Carilah di Kamus, saya jamin tidak akan jumpa dengan kata itu. Sebab judul tersebut saya dapatkan secara spontan. Namun isi judul itu sudah lama menjadi pemikiran saya. Oleh sebab itu saya ingin bagikan hal tersebut pada Anda di kesempatan kali ini. Mari kita mulai!

Waktu itu saya masih sering mondar mandir Jakarta-Surabaya. Sekian minggu di masing-masing kota tersebut, sembari juga saya terus menjalankan tugas pelayanan di organisasi. Dan karena keberadaan di organisasi itulah maka secara perlahan-lahan relasi dan kenalan pun bertambah. Nah…suatu ketika saya mengikuti pertemuan dengan para pemimpin radio siaran rohani dari beberapa daerah. Pertemuan dilakukan di Jakarta. Pada saat itulah ada beberapa di antara mereka yang secara pribadi mengundang saya untuk mampir ke stasion radio (stara) mereka untuk dapat berdiskusi dan berbagi pengalaman. Saya mengiyakan namun tak berani mengungkap tanggal pastinya. Dan memang terbuktilah betapa sulit menyediakan waktu untuk menepati janji tersebut. Alasannya klasik, karena saya sedang fokus terhadap tugas di Surabaya ditambah pula karena agak sulit mengalokasikan dana untuk pergi ke daerah lain.

Nah…saat saya berada di tengah perjalanan, ketika kereta api berhenti sejenak di stasiun Tugu Jogya, saya mengirim SMS pada pimpinan stara itu. Sekadar "permisi" bahwa saya tengah berada di kotanya untuk beberapa menit sebelum lanjut ke Jakarta. Dan apa nyana? Ternyata balasan yang saya terima adalah meminta saya untuk turun saja dari kereta dan mampir ke stara mereka. Wahhhh….tentu saja tidak bisa saya lakukan itu! Dan bukan sampai di situ, manakala saya sudah berada di Jakarta maupun di Surabaya, saat saya berkirim SMS ke teman saya di Jogya itu tetap saja pada akhirnya meminta saya untuk mampir ke staranya. Wadouww…lama-lama saya jadi berpikir ulang. Wah…ini sih harus diwujudkan! Tapi saya pun jadi ciut, karena memang tidak ada alokasi dana khusus untuk itu. Namun saya pun tidak tenang jadinya. Saya koq resah? Akhirnya saya pun bergumul dan berdoa. Saya bulatkan tekad. Dan saya ambil dana dari pos lain. Lalu saya berkata dalam hati di dalam doa bahwa dana ini saya relakan untuk membiayai perjalanan saya untuk beberapa hari di Jogya asalkan bisa memenuhi janji bertemu teman itu untuk sharing perihal pelayanan siaran radio rohani!

Maka mulailah episode ini. Saya hubungi pimpinan stara di Jogya itu. Saya katakan bahwa saya rela menginap andaikata di stara-nya ada kamar tidur. Bahkan di rumahnya sekalipun bolehlah. Tidak masalah bagi saya (karena memang dana saya terbatas)! Jujur saya katakan, bahwa ada dorongan kuat dan kesukacitaan untuk mendatangi mereka guna berbagi pengalaman. Tidak lupa saya pesankan kepadanya untuk membelikan terlebih dulu tiket kereta api dari Jogya ke Surabaya, nanti akan saya ganti uangnya. Karena memang jurusan ini agak sulit memperoleh tiket bila tidak dipesan sebelumnya. Wah…memang agak lain saya rasakan di dalam hati. Ada damai dan sejahtera ketika mengambil keputusan semacam ini. Pokoknya saya tidak hitung untung-rugi. Saya benar-benar rela hati. Ya! Ternyata semua itu membuat saya terkaget-kaget akan peristiwa yang terjadi beruntun saat mulai berangkat dari Jakarta ke Jogya untuk menemui mereka.

Yang pertama, beberapa hari sebelumnya saya menceritakan kepada saudara saya di Jakarta bahwa dana saya terbatas untuk ke Jogya. Saya bercerita sepintas lalu saja, dan sembari becanda saya tanya dia maukah jadi donatur saya untuk tiket kereta api dari Jakarta? Dia tidak menanggapi serius imbauan saya itu. Nah…ketika beberapa hari lagi saya hendak memesan tiket kereta, tiba-tiba dia mencegah saya membeli tiket itu dengan uang pribadi saya. Lho? Eh…ternyata dia sudah membelikannya untuk saya. Wah…jadi juga dia sebagai donatur. Saya benar-benar kaget. Sebab saya memang sudah benar-benar rela akan menggunakan dana pribadi yang saya ambil dari pos lain itu. Ternyata untuk langkah pertama saja, dana itu tidak tersentuh. Puji syukur pada Tuhan! 

Yang kedua, sepanjang perjalanan yang memakan waktu lebih kurang 8 jam itu bukan main sukacitanya hati saya. Berbagai pemikiran telah saya rancang untuk nanti saya bagikan kepada stara itu supaya bisa mengadakan inovasi dan reformat di berbagai aspek. Supaya stara itu dapat menjadi stara yang profesional dan banyak pendengarnya. Khususnya tentang program acara rohani yang selama ini agak di-nomortiga-kan. Dan…pemandangan alam di luar kereta, serta sejuknya AC di dalam kereta, dan juga nikmatnya perbincangan dengan teman sebangku….sungguh-sungguh saya nikmati dengan penuh pengucapan syukur. Dan…saya pun sudah sangat siap dengan senang hati andai nanti saya harus menginap di rumah pemimpin itu yang memiliki rumah sederhana, maupun andai nanti harus menginap di sebuah kamar di stara itu. No problem! Yang penting misi saya harus gol! Berbagi pengalaman dengan mereka! Ya! Setibanya di stasiun Tugu eh…eh…ternyata ada salah seorang Crew yang menjemput saya dengan mobilnya. Wah…saya terkaget lagi karena tidak membayangkannya. Nah, ketika di dalam mobil saya bertanya ini langsung ke stara atau ke rumah pimpinan itu dulu untuk saya menaruh barang-barang. Teman itu tidak memberi jawaban yang jelas. Yah…saya pun tahu diri. Woalahhh….ternyata saya dibawa ke sebuah penginapan yang relatif baik sekalipun kamar mandinya di luar. Dan teman itu mengatakan bahwa di sini hanya semalam lho, sebab besok siang harus sudah pindah tempat lagi. Woalah….saya kaget lagi. Dan tidak masalah bagi saya esok hari mau menginap di mana. Paling-paling di rumah sederhana pimpina stara itu. Maka malam itu tidurlah saya dengan penuh pengucapan syukur. Dan keesokan paginya saya mengikuti rapat yang mereka adakan dan saya sebagai narasumbernya.

Yang ketiga, rapat selesai lewat tengah hari dan saya harus segera mengangkat barang dari tempat penginapan yang pertama. Di kantor stara itu saya sempatkan untuk meminta tiket kereta api yang ke Surabaya untuk esok pagi. Pimpinan stara itu menyerahkannya dengan senyum-senyum dan saya pun tersenyum dengan tulus karena merasa sangat berterimakasih telah dibantu memesankannya. Saat tiket itu ada di tangan saya, maka uang pengganti pembelian pun saya serahkan. Namun apa yang terjadi? Uang saya itu ditolak! Saya bersikukuh bahwa ini harus saya ganti. Namun dengan ramah dan senyum beliau meminta untuk menerima tiket itu dan jangan diganti biayanya. Kalau saya tidak mau menerima itu maka-sembari becanda-dia mengatakan bahwa saya bukan sahabatnya lagi. Hm…hm…saya pun mengerti makna di balik ungkapan itu. Dengan tulus saya terima pemberian tersebut. Ada damai di hati saya. Dan saya yakin di hatinya pun demikian.

Yang keempat, teman yang memiliki mobil itu mengantar saya ke penginapan pertama untuk siap berpindah. Saya menduga akan diantar ke rumah sederhana pimpinan itu (saya katakan rumah sederhana, karena tadi malam saya telah mengunjungi rumah itu). Mungkin mereka memang sengaja menginapkan saya satu malam di penginapan, dan malam kedua ke rumah pimpinan itu. Maka melajulah mobil itu mengantar saya ke suatu tempat yang masih dirahasiakan. Anda tahu ke mana akhirnya saya dibawa? Ternyata ke jalan Solo, ke sebuah hotel berbintang dan sangat terkenal di kota Jogya. Waduhhhhh…..kali ini saya sangat kaget!! Tapi apa mau dikata. Saya terima kejadian itu dengan penuh pengucapan syukur. Walau hanya satu malam, namun saya terharu terhadap kebaikan hati stara itu. Maka malam itu di kamar mewah hotel tersebut, saya dengan teman (pria) yang mengantar dengan mobil itu---dia adalah seorang koordinator program di stara itu---melanjutkan berdiskusi dan banyak hal yang saya bagikan/ajarkan padanya tentang seluk beluk dan aplikasi beberapa program acara. Sampai larut malam "perkuliahan" itu berlangsung. Dan…keesokan pagi, ternyata dia dengan rela hati mau menjemput saya dari hotel untuk mengantar ke stasiun Tugu melanjutkan perjalanan saya ke Surabaya. Puji sukur pada Tuhan!!

Yang kelima, setiba saya di Surabaya, di tengah istirahat saya dan di tengah hati saya yang penuh sukacita dan pengucapan syukur pada Tuhan, saya sangat terkejut sekali lagi. Ternyata tidak sepeserpun dana yang telah saya siapkan---yang saya ambil dari pos lain itu---untuk berangkat ke Jogya, terpakai dan tersentuh. Dia tetap utuh. Tuhan sendiri telah menyiapkan dana untuk itu dengan cara-Nya sendiri. Saya tinggal menikmati dan memakainya saja! Apa rahasianya? Inilah yang menjadi renungan saya sepanjang sore dan malam itu di Surabaya. 

Saya sangat ingat ketika saya ambil keputusan untuk akan berangkat ke Jogya dengan dana pos lain itu, saya begitu terdorong karena saya tahu bahwa saya harus membagikan sesuatu ke stara itu. Dan saya benar-benar minta ampun pada Tuhan karena saya sempat hitung-hitungan untung rugi dengan waktu dan dana yang ada. Namun ketika saya berdoa dan minta ampun atas kesalahan saya itu, serta akhirnya bertekad dengan rela hati berangkat ke sana dengan dana pribadi sekalipun dari pos lain, ternyata…Tuhan memperhitungkan hati yang rela berkorban itu demi untuk-Nya. Yakni untuk memberi masukan ke sebuah stara rohani yang memerlukannya! Dan Tuhan sungguh menghargai hati yang seperti itu. Dan lima hal di atas yang saya alami adalah acara Tuhan memberikan penghargaannya. Luar biasa! 

Catatan khusus saya adalah milikilah "rela hati berkorban" (rehaber) untuk menyenangkan hati Tuhan! (Matius 5:7) "Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan". 

Jakarta, 29 Maret 2004

Tema Adiputra
Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."