• PDF

Sebegitu Beratkah Salib Itu?

Penilaian Pengunjung: / 1
TerjelekTerbaik 
  • Senin, 01 Juni 2009 16:50
  • Ditulis oleh Tema Adiputra
  • Sudah dibaca: 2236 kali
Saya masih ingat pada seorang bapak Pendeta di gereja saya, yang telah pulang ke rumah Bapa di Sorga, beliau pernah membawakan kotbah Paskah membahas tentang “palang dan palung”. Singkatnya, tentang kematian Tuhan Yesus di kayu salib dan kebangkitan-Nya tidak bisa dipisahkan dengan kelahiran-Nya yang dibaringkan di palungan. Kotbahnya itu bertujuan mengingatkan makna pengorbanan yang luar biasa hanya untuk menyelamatkan umat manusia yang belepotan lumpur dosa. Ya! Sekalipun kotbah itu sudah sekian tahun berlangsung dan saya pun merasakan kotbah-kotbah dari pendeta lain juga lebih dalam dan berkembang, namun kata “palang & palung” itu tidak bisa saya lupakan. Dia sudah merasuk ke sukma dan ingatan. Karena dari kata “palungan(an)” saja sudah berapa banyak kotbah terlahir di dalam perayaan Natal. Dan dari kata “palang (salib)” saja pun…sudah tak terhitunglah jumlah kotbah dari para pendeta di dunia ini! Masalahnya adalah, apakah kita yang telah pernah mendengar kotbah seperti itu terus menghayati dan mengaplikasikannya dalam hidup kita sampai saat ini dan bahkan di hari-hari mendatang?

Hm……kita beralih ke hal berikut ini. Menyangkut masalah “palang”…masalah “salib”…masalah “beban” yang mau tidak mau masing-masing kita memilikinya dalam hidup kita pribadi lepas pribadi. Ya! Siang itu saya dan sahabat saya, seorang owner perusahaan baru saja mengantar seorang pendeta yang berasal dari salah satu pulau di Maluku. Hamba Tuhan itu naik kereta api menuju tujuan selanjutnya. Dan kami pun turun dari kereta penuh perasaan lega karena telah bisa menemaninya tepat waktu memperoleh sarana tranportasi. Nah…saat kami telah ada di dalam mobil, di tengah kemacetan ibukota propinsi itu, maka perbincangan pun tidak lepas dari area pelayanan rohani. Sampai tiba-tiba melintas sebuah mobil di depan kami yang di kaca belakangnya tertempel stiker dari perusahaan sobat saya itu. Tahukah Anda apa perusahaannya? Dia diizinkan Tuhan untuk mengelola sebuah stasion radio (stara) yang belakangan porsi program acara rohaninya semakin banyak. Nah…yang saya maksudkan, stiker yang tertempel di mobil yang melintas di depan mobil yang kami tumpangi itu adalah stiker stara-nya. Tidak ada yang luar biasa dengan stiker itu. Biasa saja seperti stiker-stiker dari perusahaan lain. Namun si bapak pemilik stara ini tiba-tiba menunjuk stiker itu seraya berkata pada saya:
“ Lihatlah…stiker itu biasa saja tertempel di kaca mobil itu, bukan? Tapi…tapi…bila Tuhan memberkati stiker itu, maka melaluinya seseorang dapat diselamatkan, dapat pertolongan!” Hah….? Kata saya dalam hati. Karena pernyataan itu dapat saya mengerti tapi juga membingungkan saya. “ Maksud bapak apa ,nih…?”

Maka berkisahlah sobat saya ini. Suatu waktu ada sepasang suami istri tengah dirudung persoalan hidup yang sangat berat. Mereka sudah mencapai titik kondisi yang tak tahu harus berbuat apalagi, dan hampir putus asa. Waktu itu pasangan suami istri tersebut sedang berada di dalam mobil di kota ini juga. Di tengah kegalauan hati mereka karena persoalan hidup yang berat itu, tiba-tiba mereka melihat stiker stara tersebut dan tebersit dengan cepat di benak dan hati mereka untuk mendatangi stara tersebut---karena memang stara itu terkenal sebagai radio siaran rohani. Ya! Mereka belum kenal betul stara itu, namun mereka juga pendengar stara tersebut. Entah bagaimana muasalnya…dorongan mengunjungi stara itu untuk minta didoakan, begitu kuat. Mereka pun bertekad untuk datang. Dan memang akhirnya datang. Lalu jumpa dengan istri sobat saya ini. Maka pasangan suami istri yang berproblema itu pun didoakanlah. “Hm……terus bagaimana selanjutnya, pak?” Tanya saya penasaran. “Yah…Tuhan itu sungguh baik pada umat-Nya yang berteriak meminta tolong dan bersandar pada-Nya. Beberapa waktu kemudian, hidup pasangan suami istri itu pun dipulihkan!” Ya…ya…puji Tuhan—saya membatin. Pasangan suami istri yang tertimpa masalah berat itu telah ditolong Tuhan dengan mengarahkan mereka menuju “satu” tempat untuk bersama-sama berdoa, hanya karena “gara-gara” mereka melihat sebuah stiker stara, yang tertempel di kaca belakang sebuah mobil yang melintas di depan mobil mereka! Ya! Kalau Tuhan telah memberkati sesuatu, maka tak ada sebuah kekuatan apapun di dunia ini yang dapat mencegahnya! Kalau Tuhan telah berencana menolong seseorang maka cara yang diberikan Tuhan, tidak akan mampu dicegah oleh kekuatan apapun di dunia ini!

Yang berikut kejadiannya di kota lain dengan figur yang berbeda. Saya pernah menghadap ibu pimpinan itu di ruang kerjanya, waktu itu adalah masa-masa ujian kepemimpinan si ibu itu. Karena dia memang baru saja menjalani tugas sebagai pimpinan harian di perusahaan tersebut. Memang disiplin ilmunya sangat menunjang dengan misi perusahaan yang dipimpinnya itu. Nah…saya terkadang menjadi tempat “curhat”-nya untuk hal-hal tertentu. Namun saya juga merasakan bahwa situasi curhat itu bukanlah bukti kedekatan relasi. Relasi tetap formal. Namun memang tak terhindari bahwa ketika saya melapor masalah tugas kantor, maka ada saja celah untuk membicarakan hal lain, dan itu sedikit banyak menyangkut “salib” yang dipikul ibu itu. Tentang rumah tangganyalah…tentang anak buahnyalah…tentang posisinya yang sedikit bertentangan dengan pimpinan tertinggi…dan juga tentu tentang pergumulan pribadinya sendiri. Nah…sangat teringat oleh saya pada waktu itu dia sedang membaca buku tentang “kalau boleh cawan ini berlalu”. Benar memang saya akhirnya berkesimpulan bahwa si ibu itu sedang dirudung pergumulan berat! Dan ungkapan “kalau boleh cawan ini berlalu” benar-benar terlontar di hadapan saya sembari dia menunjukkan buku yang memakai judul tersebut yang memang sedang dia baca.

Hm…..setelah sekian waktu, ternyata si ibu itu akhirnya mengundurkan diri dari perusahaan tersebut. Penyebabnya…yah…bermacam-macamlah. Dan sekian tahun kemudian saya hanya mendengar “kabar” bahwa suaminya telah kecantol dengan WIL-nya. Saya sedih bila itu memang benar-benar terjadi. Saya hanya terbayang situasi di ruang kerjanya itu. Saat dia berbeban berat, dia membaca buku---yang mungkin dapat menolongnya---agar “cawan/beban penderitaan hidupnya/salib yang dipikulnya” dapat berlalu. Tapi…barangkali memang salib itu terlalu berat baginya!

Ya! Kita memang akan selalu akrab dengan istilah “menyangkal diri dan memikul salib”. Dan keakraban itu bukan hanya sekadar akrab terhadap maknanya, namun juga bisa saja akrab dengan aplikasinya. Yakni, kita memang benar-benar dituntut untuk mampu dan mau menyangkal diri. Dan benar-benar memang ada “salib” kehidupan yang kita pikul setiap harinya. Ketika itu datang menerpa apakah kita akan berusaha menyingkirkannya---padahal itu memang diizinkan Tuhan untuk kita pikul---ataukah kita taat untuk menghadapinya sembari tiada henti-hentinya mohon pada-Nya agar kita dikuatkan dan diteguhkan hati untuk memikulnya? Ya! Memang Yesus sendiripun ada berkata seperti ini: (Matius 26 : 39b) “……: Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu daripada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.”

Yesus sendiri berkata demikian! Apalagi kita! Namun bila Tuhan menghendaki kita memikul “salib” itu, akankah kita berkata bahwa salib itu sangat berat Tuhan!?

Ingatlah……Tuhan Yesus telah memberi teladan ketegaran, kepasrahan, ketaatan pada Bapa-Nya.

Jakarta, 07 April 2004

Tema Adiputra
Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."