• PDF

Dering Telepon

Penilaian Pengunjung: / 0
TerjelekTerbaik 
  • Senin, 01 Juni 2009 16:51
  • Ditulis oleh Tema Adiputra
  • Sudah dibaca: 2190 kali
Saya sedang di dalam bajaj (=kendaraan umum beroda tiga) ketika dering HP saya terdengar di sela-sela bisingnya bunyi mesin kendaraan umum yang merakyat ini. Saya sambut telepon dan berlagak sudah kenal pada si penelepon. Itu disebabkan tidak jelasnya suara si penelepon sehingga saya hanya mendengar inti pembicaraannya. Namun tidak berapa lama kemudian dia bertanya, kenalkah dengannya? Wah…saya pun jadi malu sendiri, dan mengatakan siapa gerangan Anda? Dia pun memperkenalkan diri dan aduuuhhhhh….dia rupanya teman SMA saya dulu, yang baru-baru ini kami jumpa dalam sebuah acara reuni. Buru-buru saya katakan sebentar lagi saya hubungi, setelah saya turun dari bajaj. Maka……saya pun berdiri di atas trotoar untuk berbincang dengannya lagi. Nah…apa gerangan yang kami perbincangkan?

Dia bertanya, apakah saya memiliki tabungan? Hah……?! Koq tanya-tanya seperti itu, saya membatin. Dan dalam sekian detik saya pun meresponnya dengan jujur saja. Tidak ada, kata saya. Mengapa memang? Maka mengalirlah penjelasannya. Rupanya teman saya ini yang berprofesi sebagai broker property sedang memerlukan uang dalam waktu singkat. Dia ingin menjual tanah pribadinya di daerah Jonggol, tidak terlalu luas sih, tapi lumayan kalau mau didirikan rumah ataupun sebagai tanah kebun. Karena dia butuh uang maka dihubungilah saya karena dia ingin jual itu dengan tidak mengambil untung banyak, dengan harapan teman-temannya, termasuk saya, bisa segera menolongnya. Wah……saya sedih tidak bisa memenuhi harapannya itu. Maka melalui perbincangan via HP tadi, saya berjanji akan menawarkan tanahnya itu kepada orang-orang yang saya kenal. Karena memang tanah itu dijual murah, menurut saya. Ya! Saya tepati janji itu, beberapa jam kemudian saya tawarkanlah tanah itu ke orang-orang yang saya kenal melalui telepon tentu saja. Beberapa orang pada mulanya berminat karena merasa tanah itu bisa jadi investasi. Namun setelah beberapa hari ternyata mereka tidak jadi membelinya. Hm……yah, apa boleh buat, saya telah berusaha membantu teman SMA saya itu, yang sangat membutuhkan uang untuk biaya rumah tangganya! Dan saya salut tanggungjawabnya sebagai kepala rumah tangga. Saya hanya berani menginformasikan padanya bahwa telah ada beberapa orang yang saya hubungi dalam rangka menawarkan tanah itu.

Masih tentang teman SMA saya, dan waktu kejadiannya pun pada semester yang sama dengan teman yang mau menjual tanah tadi. Dia adalah ibu rumah tangga, dan punya anak tertua kelas terakhir di S D. Ibu ini juga bekerja namun pada suatu waktu, ketika dia berteleponan dengan saya, tiba-tiba saya dikagetkan dengan ucapannya, tolonglah saya, saya perlu uang tambahan nih, untuk biaya sekolah anak-anak di bulan-bulan mendatang. Saya memiliki beberapa koleksi kamera manual yang saya beli dulu sewaktu di luar negeri, adakah kamu mau membelinya? Atau bisakah kamu menawarkannya ke pada peminat? Teman saya ini rupanya peminat fotografi, ketika dulu dia sekeluarga beberapa tahun bermukim di luar negeri dan waktu itu keuangan mereka agak “lumayan” maka dipuaskannya membeli kamera manual itu dengan beberapa model mutakhir. Ketika saya tanya dihargai berapa itu nanti kalau dijual? Wah…terkagetlah saya…karena harga dollarnya bila di-kurs dengan rupiah, jatuhnya bisa mendekati 20 jutaan rupiah setiap kamera. Jelas dengan jujur saya katakan bahwa tidak mungkin saya dapat membantunya membeli kamera itu. Tapi saya berjanji untuk menawarkannya kepada orang lain yang mungkin berminat membeli barang itu. Yah……lagi-lagi saya hanya mampu memberi bantuan seperti itu.

Saat ini memang zaman susah, ya? Mari kita jujurlah bahwa kondisi negara dan bangsa kita pun sampai saat ini masih terus menambah angka pengangguran dan angka perusahaan yang hidup kembang-kempis. Akibatnya yah…orang sulit mencari uang untuk menambah dan mempertahankan kebutuhan sehari-harinya termasuk kebutuhan untuk masa depan keluarganya. Sehingga dengan demikian setiap orang pun harus ekstra berpikir mencari jalan keluar bagaimana mengatasi semua itu. Teman-teman SMA saya itu adalah juga bagian dan gambaran dari diri kita di masa sekarang, bukan? Kita pun pada sudut-sudut tertentu akan dan mungkin acapkali menghadapi situasi–kondisi seperti itu. Artinya, “nasib” kita pun tidak beda-beda jauh dengan mereka yang saat ini terjepit pada masalah-masalah keuangan. Nah…persoalan yang sama-sama dihadapi ini tentu dapat saja akan menghadirkan satu kondisi baru dalam kita berelasi. Maksud saya, manakala kita tergiring pada situasi seperti itu, maka cara kita merespon dan mensikapinya itu adalah juga menjadi perwujudan kesaksian hidup kita kepada orang lain.

Adalah sikap kita merespon permintaan tolong teman-teman kita yang dalam kesulitan itu merupakan sebuah kesempatan untuk juga memberi spirit kepada mereka agar jangan putus asa dalam menghadapi kesulitan hidup ini. Bahwa kita tidak bisa langsung “membeli” apa yang mereka tawarkan bukan berarti kita sudah masuk kategori orang yang tidak mau menolong mereka. Dengan empati ketika perbincangan berlangsung, sekaligus mengupayakan apa yang bisa ditolong sebatas kemampuan yang dapat kita lakukan maka mereka pun telah merasa
“didengar” dan “dibantu”. Jujur saja---secara pribadi—andai saya memiliki uang lebih maka ingin rasanya saya membeli tanah maupun kamera tesebut sebagai investasi. Dengan demikian pertolongan langsung kepada mereka pun terwujudlah.Tapi…apa nyana?

Nah…sebagai anak-anak Tuhan tentu situasi-kondisi yang tergambar di atas juga merupakan tantangan tersendiri. Apakah kita mau mendoakan mereka? Siapa pun mereka! Ya! Teman SMA saya yang pria tadi---yang menjual tanah itu---berbeda iman dengan saya, dia dari “saudara sepupu” kita. Hati saya pun tergerak mendoakannya termasuk mendoakan teman yang menawarkan koleksi kamera tadi. Dan memang begitulah seharusnya. Manakala kita diperhadapkan pada situasi keterjepitan kebutuhan hidup, maka upaya maksimal harus dilakukan, namun juga keterbukaan maksimal dan melibatkan Tuhan secara maksimal pun tidak boleh terlupakan! Ya! Dua peristiwa di atas berawal muncul dari perbincangan di telepon. Mereka menderingkan telepon untuk menghubungi saya. Dan biarlah kita juga (termasuk teman SMA saya itu, saya harap) tidak lupa men-“dering”-kan telepon bukan ke dunia fana ini, namun ke “nomor telepon 333” untuk juga meminta pertolongan pada Tuhan kita. Dan rasanya ini mutlak.

(Yeremia 33:3) “Berserulah kepada-Ku, maka Aku akan menjawab engkau dan akan memberitahukan kepadamu hal-hal yang besar dan yang tidak terpahami, yakni hal-hal yang tidak kauketahui.”

Jakarta, 20 April 2004

Tema Adiputra
Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."