Siapa Tahu Bisa Pinjam Beras

Penilaian Pengunjung: / 0
TerjelekTerbaik 
Saya tertawa mendengar ungkapan di atas yang menjadi judul tulisan ini. Mengapa? Karena yang menyampaikannya seorang bapak yang telah kenyang makan asam garam kehidupan ini. Pada waktu itu saya tengah “curhat” padanya. Saya ungkapkan derita batin saya yang sebenarnya sudah lama berlangsung, tapi pada saat itu terungkit kembali dan terkenang kembali. Apakah itu gerangan? Hm…hm…hm…saya terus terang ya…itu lho…tentang diputusin pacar! Nah, selain saya pernah memutuskan pacar, juga pernah kena batunya diputus pacar! Yah…dinamika hidup anak mudalah,waktu itu.

Pada waktu itu saya sedikit kesal kepada bapak yang bijaksana tersebut. Pasalnya cerita pahit getirnya saya didengar dengan tenang-tenang saja. Dan saya mendapat kesan bahwa si bapak ini sedikitpun tidak dalam posisi membela saya. Wah…aneh juga suasana perbincangan waktu itu. Tapi di sisi lain saya pun lega bisa mengeluarkan uneg-uneg saya. Nah, ketika ada suatu kesempatan kami berbincang lagi, maka ganti si bapak itu yang menceritakan kisah hidupnya yang juga pernah terjadi tidak kalah “sakitnya” seperti yang saya alami. Saya terkaget-kaget mengetahui peristiwa yang luar biasa yang merupakan badai di rumah tangganya itu. Dia tegar. Dia sabar. Dia pasrah. Dan dia tidak dendam.

Yang berikut ini di Jakarta, peristiwanya sudah lama sekali berlangsung. Tapi saya ingat satu poin yang diceritakan itu menyangkut mitos dari sebuah budaya. Pada saya diceritakan bahwa pasangan muda-mudi itu, yang sedang diharap-harap bisa lanjut ke pelaminan, saat mereka makan bersama calon mertua, tiba-tiba ada sendok jatuh dari meja makan! Wah! Menurut mitos budaya mereka itu pertanda “ buruk” artinya pasangan itu tidak bisa lanjut ke pelaminan. Saya yang mendengar cerita itu tentulah diberitahu bagian akhir kisah cinta tersebut. Dan ternyata memang benar pasangan itu tidak jadi menikah. Mereka punya jodoh masing-masing. Aneh tapi nyata! Hm…peristiwa itu sudah lama sekali diceritakan pada saya. Dan saya tidak percaya mitos itu! Tapi karena saya telah mendengar cerita itu berikut babak akhirnya, maka bagi saya itu adalah bagian yang mungkin benar saja menimpa mereka. Yang hendak saya catat khusus dari peristiwa itu adalah, setelah sekian tahun, setelah mereka menemukan jodoh masing-masing, dan telah juga memiliki anak-anak yang sudah besar-besar, sudah kuliah, eh…eh…eh…tali persahabatan dan tali persaudaraan antara mereka dan keluarga masing-masing tetap terjaga akrab. Luar biasa!

Kembali ke pada nasehat dari si bapak bijaksana itu. Dia mengatakan bahwa ketika ada masalah putus cinta, putus pacar, bubaran relasi, maka janganlah itu menjadi permusuhan abadi. Janganlah itu menghalangi hubungan relasi antarmanusia ciptaan Tuhan. Kalau memang satu pihak bertepuk sebelah tangan untuk apa marah, untuk apa dendam, untuk apa bermusuhan. Dimulai dengan baik-baik, maka akhirilah dengan baik-baik pula. Dan jagalah hubungan baik selalu. Waow…nasehat itu diberikan pada saya sekian tahun silam dan dilanjutkannya dengan mengatakan: kita toh tidak tahu pasang surut hidup ini, siapa tahu nanti kita perlu minta tolong dan akhirnya yang bisa kita datangi adalah mereka yang pernah menjalin relasi khusus di hati kita, yakni mantan pacar, mantan tunangan, mantan teman dekat……yah…tidak tertutup kemungkinan itu. Dan bahkan bisa saja sebaliknya siapa tahu merekalah yang juga nanti akan meminta tolong pada kita, saat mereka mengalami kesulitan hidup. Yah…siapa tahu kita bisa pinjam beras dari mereka! Bukankah hidup terkadang ibarat roda pedati? Kadang di atas, kadang di bawah?

Betul-betul saya tertawa mendengar kata “pinjam beras” itu. Mana bisa beras dipinjam? Setelah dimasak menjadi nasi dimakan masuk ke perut, apa bisa dikembalikan? Yang paling mungkin kita minta beras. Suatu saat bila keadaan memungkinkan maka kita berikan beras atau sesuatu sebagai ucapan terimakasih kepada orang yang telah menolong kita itu. Jadi waktu itu saya tidak banyak memikirkan ungkapan tersebut. Namun…saat ini, koq ya…tiba-tiba terpikirkan makna terdalamnya. Bapak yang bijaksana itu benar! Di balik ungkapan “siapa tahu bisa pinjam beras” tersebut ternyata ada lingkaran kasih yang tidak terhingga di dalamnya. Itu menurut perenungan saya saat ini.

Kalau kita dilingkari kasih maka tidak ada rasa kecewa dan sakit hati yang berkepanjangan. Kita sebagai manusia tentu punya rasa, punya emosi, punya logika, punya analisa. Dan bila terlanjur larut di semua aspek itu maka dipastikan hidup kita akan selalau resah. Apalagi bila kita baru saja diputus cinta, misalnya, maka mau rasanya merobek semua surat-surat cinta dan foto-foto yang ada saat berpacaran dengannya! Itu maunya emosi kita. Namun, nasehat si bapak itu telah menohok perenungan saya. Bila kita bisa memaafkan dan mau juga meminta maaf maka dijamin relasi baru, suasana persaudaraan akan terbentuk dengan orang yang pada momentum tertentu mungkin telah melukai hati kita, memupuskan harapan indah kita! Dan apa yang didapat kelak? Bukankah ketika atmosfir persaudaraan dan persahabatan terwujud maka itu pertanda kita memiliki sahabat, saudara yang dapat menolong dan dapat kita tolong? Bukankah hidup ini akan sungguh indah bila bisa saling tolong? Lha, wong…ada pesan untuk kita agar menolong orang yang memusuhi kita, yang membenci kita saat mereka perlu pertolongan! Apalagi bila yang akan kita tolong dan yang akan menolong kita adalah orang-orang yang mempunyai hubungan baik karena kasih.

Ya! Saya tidak berpanjang lebar. Saya berterima kasih kepada si bapak yang bijaksana itu. Masih terngiang-ngiang ucapannya sembari tersenyum dan tertawa terkekeh-kekeh…mbok ya jangan benci padanya, jalinlah tali persaudaraan yang baru dengannya, dan doakan agar dia juga bisa menemukan kebahagiaan dengan jodoh yang Tuhan berikan padanya, sangat indah hidup bila bisa tetap memiliki tali persahabatan dan tali persaudaraan dengan orang-orang yang pernah dekat di hati kita, yah…siapa tahu nanti bisa pinjam beras padanya! He…he…he…he…he… (begitu cara si bapak itu tertawa).

Makna terdalam yang saya peroleh dari perbincangan dengan si bapak bijaksana itu ada tersimpulkan di Galatia 6:9-10…“Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah. Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman.”


Jakarta, 7 Mei 2004

Tema Adiputra
Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."