• PDF

Mengucap Syukur…?

Penilaian Pengunjung: / 1
TerjelekTerbaik 
  • Senin, 01 Juni 2009 16:52
  • Ditulis oleh Tema Adiputra
  • Sudah dibaca: 2303 kali
Sudah banyak kali saya melihat kejadian yang membuat hati trenyuh melalui media massa. Bahkan sesekali kejadian yang dimaksud saya lihat dengan mata kepala sendiri dan ada di tempat peristiwa itu berlangsung. Belum lama ini kejadian meledaknya pabrik bahan kimia di Jawa Timur, berakibat sebagian rumah tinggal warga sekitar hangus terbakar. Dan di televisi ditayangkan bagaimana orang tua yang memiliki rumah itu mengais-ngais sisa-sisa rumahnya, mencari barang-barang berharga yang masih bisa digunakan. Pada tayangan itu si bapak tua itu hanya mampu berujar…..saya pasrah…saya pasrah! Semoga saya mendapat pertolongan dari pemerintah maupun masyarakat. Ya! Tentu kejadian lain yang mirip seperti di atas pun Anda sudah pernah melihat dan membacanya di media massa, bukan? Setelah ditayangkan atau diberitakan hari itu, maka keesokan hari mungkin saja pemberitaan lanjutan sudah tidak ada lagi. Digantikan dengan berita-berita hangat yang baru dan aktual.Dan…kita tidak tahu lagi bagaimana pergumulan lanjutan, perjuangan lanjutan orang-orang yang terkena musibah itu! Dan…kita pun pada akhirnya hanya trenyuh pada hari ditayangkannya musibah itu di media massa! Untuk selanjutnya kita tidak merasakan lagi penderitaan mereka. Mengapa? Salah satu sebabnya yahhh…urusan gue juga buuaaanyaaaakkk, cing! (Kata orang Jakarte).

Seruang dengan saya saat menangani tugas-tugas jurnalistik radio, ada seorang sahabat yang sekarang sudah jadi presenter olahraga di televisi swasta. Kami agak terkejut manakala dia pada akhirnya bisa merangkap siaran di televisi pemerintah sebagai tenaga paruh-waktu, sebagai pembaca berita. Nah, hebat dia tuh! Dan memang “nasib baik” menyertainya. Selang berapa lama dia pun pindah dari kantor saya dan juga pindah ke televisi swasta. Namun karena memang sudah dekat relasinya, maka sesekali dia datang bermain ke kantor saya. Nah, biasanya dia banyak mengeluarkan “rahasia dapur” tempatnya bekerja itu, dan itu menjadi ajang diskusi kami. Tapi ada satu hal yang diceritakannya pada suatu malam, dan kami sangat terkejut. Dia kost di daerah Jakarta Selatan, dan pada waktu itu dia sudah memiliki mobil pribadi, hm…hm…pastilah karena gajinya sudah lumayan karena bekerja di televisi swasta dan tentu juga untuk menjaga penampilan dan staminanya sebagai crew televisi. Mau tahu apa yang diceritakannya? Di tempat kost-nya itu, dia kehilangan mobilnya itu yang diparkir di halaman rumah kost! Luar biasa itu maling! Pagi-pagi dia terkejut mobilnya sudah tidak ada di tempat. Wah…mendengar kisahnya itu kami pun turut sedih. Pantas saja dia datang dengan mobil sedan lain, rupanya dia sudah ganti mobil entah itu beli kontan atau kredit, tak tahulah kami. Yahh…kami sedih sesaat, karena kami sudah akrab dengan mobilnya yang hilang itu. Dia pun sempat melontarkan kata…pasrah…pasrah sajalah…! Serta berharap polisi bisa menemukan mobilnya itu (tapi tidak pernah polisi berhasil menemukannya!). Nah, satu-dua hari kemudian kami pun (dan terutama saya) sudah tidak sedih lagi mengenang nasib mobil yang hilang itu. Karena kesibukan kerja, cerita pedih itu akhirnya hilang. Kami tidak tahu lagi bagaimana kelanjutan perjuangan sahabat itu dalam mengatasi duka batinnya dan juga dalam mencari pengganti mobilnya itu.

Saya memiliki sebuah kamar di rumah famili. Sekalipun rumah itu dikontrakkan ke orang lain, tapi perjanjiannya kamar itu tidak boleh dipakai karena berisi barang-barang saya. Sehingga dengan demikian bila saya datang ke rumah itu maka saya boleh memasuki kamar tersebut untuk sekadar mengecek isinya. Tapi bila nanti rumah itu ada yang membeli maka otomatis isi kamar saya itu harus dipindahkan ke tempat saya sekarang. Anda mau tahu apa isi kamar itu? Saya terbuka menginformasikannya! Di situ ada skripsi kesarjanaan saya dan juga dari teman-teman, buku rapor sejak dari sekolah dasar, album-album foto kenangan sejak kecil sampai dengan mendekati tahun 1990-an. Kaset-kaset lagu kesukaan saya, bahkan ada kaset rekaman 10 lagu pop ciptaan saya semasa kuliah dulu, buku-buku harian, pakaian-pakaian, lemari kaca dengan kerangka besi, rak/lemari katu berisi paper-paper kuliah, dan…dan…yang terutama…yang terutama adalah buku-buku bacaan yang sangat beraneka ragam yang saya beli sejak SMP sampai dengan mendekati tahun 1990-an (pada periode ini bila saya masuk toko buku, saya boros membeli buku-buku). Dari yang sekuler sampai yang rohani! Jumlahnya berdus-dus, belum terhitung yang di dalam rak dan lemari. Dan, yah……masih aneka ragamlah isi kamar itu. Saya sengaja menaruh buku-buku yang ratusan itu di dalam dus supaya suatu ketika gampang diangkut untuk saya sumbangkan ke perpustakaan sekolah atau kampus yang ada di daerah pelosok. Kira-kira 2 tahun yang lalu, hampir saja terwujud pengangkutan buku-buku itu. Karena teman saya seorang Doktor Teologia yang memiliki yayasan pendidikan di Kalimantan Barat, daerah pelosok, akan bersedia mengangkut dan mengirim buku-buku saya itu. Wah…saya gembira sekali! Tapi sayang sekali, waktu itu tiba-tiba dia harus keluar kota dan waktu penggantinya tidak cocok dengan jadwal kerja saya sebagai seorang konsultan di luar Jakarta. Maka…batallah rencana yang indah dan luhur itu. Dan…ternyata, ke-batal-an itu berlanjut terus sampai baru-baru ini (akibat kesibukan saya) saya baru mendengar berita bahwa rumah itu sudah laku dijual! Spontan saya bertanya wah…bagaimana dengan barang-barang saya di kamar itu, bisakakah saya ambil segera? Famili saya itu menjawab dengan sedih: “Tak usalah diingat-ingat lagi isi kamar itu, sudah hancur-hancuran dan lenyap sebagian, karena terkena hujan akibat atap yang bocor, dan digondol maling……karena ada masa beberapa bulan rumah itu kosong setelah habis masa dikontrak oleh orang lain.” Saya sedih bukan kepalang. Di kamar saya sekarang, saya menangis! Tapi……semua sudah terjadi. Perlu sekian waktu untuk saya bisa menerima kenyataan itu dengan penuh pengucapan syukur setelah sebelumnya saya mohon ampun pada Tuhan atas kelalaian saya!

Ada tiga contoh realitas di dalam tulisan saya ini. Dua menimpa orang lain dan yang satu menimpa saya. Di awal saya katakan bahwa hanya dalam hitungan 1 atau 2 hari kita dapat melupakan bencana yang menimpa orang lain. Dan kita tidak tahu lagi berapa lama dia berjuang menghilangkan kesedihannya, memperbaiki kesalahannya, dan bahkan berjuang mencari pengganti barang-barang yang hilang lenyap. Karena kita telah melupakannya, maka hati kita dalam keseharian rasanya biasa-biasa saja. Kita tidak ada beban yang mendalam (empati) kepada orang lain yang terkena musibah itu. Kita tidak mampu “masuk” ke kedalaman perasaan hatinya. Tapi, manakala kita sendiri mengalami hal yang sama, atau paling tidak hal yang hampir sama, dengan kadar kesedihan yang tidak kalah bobotnya, maka apa yang terjadi? Yang terjadi adalah…..pada akhirnya…kita jadi tahu…ohhhh….begini toh rasanya “kehilangan” sesuatu yang kita sayangi, yang kita banggakan, yang kita raih dan kumpulkan bertahun-tahun. Ya! Dengan kejadian yang menimpa kita itu, maka peristiwa–peristiwa musibah yang menimpa orang lain, yang menimpa sahabat kita, manakala kita ingat bersamaan dengan kita pun tertimpa bencana hidup, maka pahamlah kita bahwa…beginilah rasanya!! Sehingga dengan demikian kelak di waktu-waktu mendatang, bila kita memelihara rasa empati yang telah tumbuh, dan kita kembali mengetahui dan menyaksikan musibah yang menimpa orang lain, maka nilai dan makna serta persepsi yang ada di hati dan pikiran kita sudah berbeda dari yang sebelumnya. Semoga begitu!

Tapi tulisan ini belum berakhir! Tulisan ini berjudul dengan tanda baca tanda tanya (?). Mengapa saya tanyakan perihal mengucap syukur? Karena ungkapan itu sangat sering kita dengar dan tentu saja juga sangat sering kita ucapkan. Masalahnya adalah, apakah ungkapan mengucap syukur itu kita lontarkan lebih sering ke orang lain ataukah ke diri kita sendiri? Ke orang lain lontaran itu biasanya “ringan”. Tapi ke diri kita sendiri yang tengah mengalami musibah yang menyedihkan hati, mungkin saja lontaran mengucap suyukur itu terucap dengan terbata-bata! Tapi tak apalah. Paling tidak dengan demikian kita lebih…dan lebih lagi…memahami apa sebenarnya makna terdalam dari kata “mengucap syukur”.Oleh sebab itu tidak salah bila dengan tidak jemu-jemu saya ungkapkan kembali hal berikut ini : ( I Tesalonika 5:18 ) Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.

Jakarta, 21 Mei 2004

Tema Adiputra
Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."