Penyiar Lahir Baru

Penilaian Pengunjung: / 0
TerjelekTerbaik 
Istilah “lahir baru” terungkap dari kesaksian hidup si gadis usia 20-an tahun yang masih kuliah ini. Dia sendiri yang mengatakan dirinya dalam status itu. Karena sebelumnya dia tidak percaya pada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya. Namun karena kasih karunia Tuhan akhirnya dia telah beroleh “hidup baru” itu. Dan dalam kesaksian sehari-harinya tidak pernah dia lupa mengatakan, sekalipun hidupnya dan orang tuanya masih susah (dari sisi keuangan / ekonomi) tapi selalu ada sukacita menghadapi beban-beban hidup yang menindih. Ada ucapan syukur dan sukacita serta pengharapan hidup yang akan dipulihkan dan diberkati senantiasa.

Semangatnya luar biasa. Keinginannya untuk bersaksi pun penuh gairah. Dan itu terlukiskan pada saat dia mengudara. Sore itu, saya tengah menikmati acara yang disiarkan oleh stasion radio tempat gadis itu bekerja. Setelah dia melakukan wawancara dengan narasumber tamu, maka jam selanjutnya dia harus isi sesuai dengan program acara yang telah dirancang. Waktu itu mestinya yang bertugas orang lain namun dia rela untuk menjadi penyiar pengganti.

Saya mendengarkan siarannya di kamar lantai 3. Di awal acara dia tidak banyak bicara dan sempat mengatakan bahwa dia hanyalah penyiar pengganti. Maka dia putarlah beberapa lagu. Namun pada menit-menit selanjutnya acara itu berkembang, dia bukalah interaktif dengan pendengar yang dipersilakannya untuk membagikan sesuatu / menanyakan sesuatu di udara. Maka lama kelamaan acara itu menjadi ajang acara sharing…dan akhirnya mengarah ke konsultasi di udara. Dan, menurut catatan saya bukan hanya anak muda yang berpartisipasi, tapi sempat juga terdengar ada ibu muda yang baru berumah tangga pun turut bertanya. Dan si gadis muda itu pun berusaha meladeni dan menjawabnya. Ohhhhh…!

Ada satu kekagetan saya, ketika itu si penyiar muda ini menceritakan kesaksian hidupnya di udara, dan dengan cara yang sukacita dia mengungkapkan betapa kini dia selalu mengucap syukur apapun kondisi hidupnya. Nah…karena caranya bersiaran itu terasa bergairah dan sukacita, maka sempat terdengar ada pendengar yang memberi pujian kepada caranya bersiaran. Lho…mengapa saya kaget? Rupanya ketika pujian itu disampaikan di udara, penyiar lahir baru ini sempat menanggapi dengan beberapa kalimat yang mengarah ke situasi ”g-r” (gede rasa). Dia menikmati pujian itu untuk dirinya sendiri dan itu tentu saja didengar ribuan pendengar pada sore itu, di acara rohani! Saya spontan meneleponnya di studio saat lagu sedang diputar di udara. Kepada penyiar lahir baru itu (“kebetulan” juga dia baru jadi penyiar) saya nasehati dia untuk jangan berlama-lama menikmati kalimat pujian dari para pendengar yang disampaikan kepadanya melalui udara. Saya katakan :…cukuplah kamu balas saja dengan kata “terimakasih ya…puji Tuhan!” Dia sangat kaget ketika menerima telepon saya yang berisi nada tegoran itu. Namun justru saya yang lebih kaget lagi ketika dia menjawab pertanyaan saya perihal mengapa dia menikmati untuk dirinya sendiri pujian dari pendengar itu : “….habis sih, saya tidak pernah dipuji, Pak!” Weleh….weleh…welehhh……!-ujar saya dalam hati.

Ya! Bukan hanya itu…saya pun dikagetkan dengan caranya menjawab (menjadi konselor di udara) pertanyaan dari beberapa pendengar termasuk yang sudah berkeluarga. Saya nilai jawabannya atau tanggapannya selalu dilatarbelakangi dengan hidup barunya, lahir barunya yang masih seumur jagung itu. Tentu saja jawaban itu sangat mengambang dan berputar-putar di situ. Wah….dalam hati saya bertanya-tanya….mengapa ya koordinator penyiar membiarkannya membawakan acara dalam bentuk yang mendadak seperti ini? Hm…hm…besok akan saya tanyakan perihal ini.

Tahukah anda apa yang saya dapat keesokan harinya? Ternyata sang koordinator penyiar memang menugaskannya untuk mengisi jam siaran yang penyiar aslinya berhalangan hadir itu. Kepada si gadis muda itu, sang kordinator hanya menugaskan untuk putar lagu sebanyak-banyaknya, dan berbicaralah hanya sesekali sekadar menyapa dan menyebut judul-judul lagu yang diputarkan. Begitu! Tapi apa nyana? Ternyata si penyiar lahir baru tersebut telah melanggar semua itu! Hebat ya? Dorongan semangat yang sangat menggebu untuk “menjadi saksi di udara” membuatnya melakukan ketidaktaatan, melakukan kesenangan dan kebanggaan diri sendiri. Adakah akibatnya? Jelas dia dapat tegoran. Mengapa ditegor? Karena untuk jadi konselor di udara tidaklah semudah dan secepat itu bisa bersiaran. Tapi yang lebih mendasar adalah dia tidak menyadari bahwa ada aturan main yang ketat untuk bisa menjadi penyiar acara rohani sesuai dengan klasifikasi program acara!

Nah…berapa banyak di antara kita pernah “terjebak” dalam semangat yang luar biasa karena didorong oleh ke“lahir-baru”-an yang tidak bijaksana dan berhikmat? Akankah kita sadari bahwa pada akhirnya itu dapat menjadi bumerang bagi diri kita sendiri, bagi lembaga tempat kita melayani dan bekerja? Dan terlebih dari itu apakah nun jauh di hati kita menyadari bahwa dengan cara-cara seperti itu, sebenarnya Tuhan sedang kita dukakan, karena kita termotivasi untuk menunjukkan betapa hebatnya kita, betapa kita layak dapat pujian ketimbang Dia?

Aahhhhhh….saya tak mau berpanjang lebar lagi. Biarlah kita merenung. Sebab lahir baru itu, sangat baik dan tentu saja benar. Namun sebagaimana dengan sesuatu yang baru lahir, maka ada tahapan-tahapan pembelajaran yang akan dilalui untuk mencapai kelas-kelas tertentu. Bila saatnya belum tiba untuk tiba di kelas tertentu, maka bersabarlah, jangan lompat kelas tanpa melalui ujian dulu. Salah-salah bisa menjadi “bajing loncat” yang suka mengganggu truk-truk kontainer yang lalu lalang di jalur Pantura. He…he…he…..!

Mari kita senantisa rendah hati. Mari kita mengembalikan pujian yang diberikan orang lain ke diri kita, kita kembalikan kepada yang paling berhak menerimanya: Puji Tuhan!! (Mazmur 22:27) Orang yang rendah hati akan makan dan kenyang, orang yang mencari TUHAN akan memuji-muji Dia; biarlah hatimu hidup untuk selamanya!

Jakarta, 7 Juli 2004

Tema Adiputra
Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."