• PDF

Baru Tahu Saya…!

Penilaian Pengunjung: / 0
TerjelekTerbaik 
  • Senin, 01 Juni 2009 17:11
  • Ditulis oleh Tema Adiputra
  • Sudah dibaca: 1943 kali
Ketika “menjabat” sebagai Pembina OSIS di sebuah SMA di kawasan perumahan elit Jakarta Utara, saya mendapat kesempatan untuk memimpin kepanitiaan Karyawisata ke Jogya dan sekitarnya. Peristiwa itu tentu saja sekarang sudah menjadi kenangan manis yang tak pernah terlupakan. Mengapa? Karena inilah tur sekolah yang pertama, yang diizinkan yayasan untuk jangka waktu yang lama dan jarak tempat yang relatif jauh. Sebelumnya pihak yayasan sangat kuatir karena para murid adalah anak-anak manja, anak kawasan elit, (dan maaf) berasal dari etnis tertentu. Wah…saya dan rekan-rekan guru yang seiman tentu tidak henti-henti berdoa agar program membawa anak-anak remaja ini ke luar kota tidak gagal, dan tidak tertimpa musibah. Puji Tuhan, singkat cerita semua berjalan lancar, dan sukses.

Waktu itu kami mengunjungi berbagai obyek wisata di sekitar dan di dalam Jogya. Beberapa hari di kota gudeg itu telah menambah pengalaman tertentu bagi para murid. Dan tentu juga pengalaman bagi kami---para guru---dalam mengawal “orang Jakarte” yang dalam penampilannya membawa gaya Jakarta ke daerah yang masih kuat tradisinya. Lumayanlah kegiatan perdana jarak-jauh ini. (Tahun-tahun berikutnya…karyawisata ini bahkan sudah menjadi langganan berkunjung ke Bali, Pangandaran, dsb. Dan saya sudah tidak di jalur ini lagi karena lebih fokus pada profesi sebagai “orang radio”).

Khusus di Jogya itu ada satu hal yang tak bisa saya lupakan sampai sekarang. Kami semua menginap di hotel “murah” dekat-dekat Malioboro. Ibu kepala sekolah membawa tim kantin sekolah sebagai seksi konsumsi, yang bertugas memasakkan makanan untuk rombongan karyawisata ini. Tentu saja menunya tak beda-beda jauh dengan yang mereka jual selama ini di sekolah. Nah…malam itu adalah malam terakhir. Rombongan akan menikmati jalan-jalan malam di Malioboro. Sekitar jam setengah 7 malam, kami semua sudah disuguhi makan malam hasil karya tim kantin. Tidak banyak waktu yang terpakai di acara makan malam itu, karena terutama anak-anak murid sudah tidak sabar untuk segera hengkang ke Malioboro. Maka…akhirnya sepilah hotel itu, tinggallah sisa-sisa makanan dan masakan yang tidak disentuh, tidak seperti biasanya. Saya heran, mengapa begitu banyak sisa masakan? Hm…hm…keheranan saya akhirnya terjawab. Ketika mengawasi rombongan murid yang menikmati Malioboro…wah…wah…wah…di setiap rumah makan “fastfood” mereka bergerombol sambil menikmati makanan gaya Jakarta itu! He…he…he tak tahan rupanya mereka!

Di sebuah sekolah lanjutan atas yang berlokasi di Jakarta Pusat, saya berbincang dengan sobat saya seorang guru, belum lama ini. Dia mengatakan bahwa beberapa hari lagi murid-murid kelas 2 beserta guru-guru pedamping akan pergi ke sebuah daerah tandus di Jawa Tengah. Kegiatan itu sudah mentradisi di sekolah yang para muridnya kebanyakan dari golongan masyarakat menengah ke atas itu. Saya mulanya tidak kaget dengan informasi itu. Namun setelah berbincang agak lama, wahhhh….saya pun terpesona. Apa pasal? Ternyata para murid kelas 2 SMA itu diharuskan tidak membawa “perlengkapan” anak-anak Jakarte! Mereka membawa apa yang perlu-perlu saja karena akan menginap di beberapa rumah penduduk setempat, mereka melebur dalam kelompok-kelompok, dan menjadi “anggota keluarga” penduduk yang mereka tinggali. Ya! Saya lebih kaget lagi…ternyata…ternyata mereka pun (kelompok itu) diharuskan mengikuti kegiatan / aktifitas keluarga yang mereka tinggali. Bila itu petani, maka mereka akan turut bekerja di sawah. Bila itu guru, mereka pun akan ikut ke sekolah. Bila itu pegawai kantor, mereka pun akan ikut ke kantor. Bila itu pedagang, maka mereka pun akan ikut ke pasar. Mereka membantu “orang tua sementara” mereka yang ada di desa itu. Semua irama hidup di desa itu mereka ikuti. Mandi, makan, memasak…dan sebagainya mereka lakukan sesuai yang dilakukan oleh penduduk yang menerima mereka di rumah. Waooow! Baru tahu saya!! Saya bayangkan alangkah enak dan indahnya (maklum saya anak desa, sih). Tapi pastilah betapa “sengsara’-nya adaptasi untuk hari dan malam pertama bagi anak-anak Jakarte itu!! Namun, menurut guru—sahabat saya itu--- umumnya para murid yang mengikuti kegiatan tersebut sangat terkesan dan menikmatinya. Malah ada yang akhirnya hubungan menjadi tali persaudaraan yang sesungguhnya dengan keluarga di desa itu untuk tahun-tahun selanjutnya.

Hal yang sama juga dilakukan oleh sebuah SMA di Jakarta Barat. Teman saya yang jadi guru di situ menceritakan bahwa pada hari libur yang cukup panjang, para murid kelas tertentu didampingi guru-guru mendatangi sebuah desa yang terkenal karena kuat menjaga tradisinya, sehingga terkenal dalam dua kelompok suku bagian dalam dan suku bagian luar. Suku yang di bagian luar---yang sudah membuka diri ke masyarakat sekitar ternyata juga dengan senang hati menerima para murid sekolah itu untuk tinggal di rumah mereka, menghayati kehidupan mereka, dan menjadi anggota “keluarga sementara”. Ya! Ini pun baru tahu saya! Terlebih desa tempat suku itu berdomisili ada di propinsi Banten, dan masyarakat suku itu terkenal dengan kostumnya yang hitam-hitam. Wahhhh….luar biasa kegiatan “melebur diri” dari SMA tersebut. Ingin rasanya saya masuk ke “lorong waktu” dan kembali menjadi anak SMA untuk mengusulkan ke kepala ekolah saya agar membuat kegiatan serupa. Tapi, ya tak bisalah!

Yah…ada yang mulai terasa hilang bila kita tinggal di kota-kota besar. Paling tidak---bagi saya---bunyi jangkrik, bunyi kumbang, bunyi burung hantu, bunyi kepak sayap kelelawar. Tapi ada yang lebih terasa hilang lagi yakni bunyi di hati! Maksud saya, kehidupan di kota-kota besar telah membuat “bunyi di hati” kita sudah sulit terdengar karena begitu kerasnya suara knalpot kendaraan di jalanan yang penuh persaingan setoran. Bunyi di hati itu pun telah sangat sulit terdengar karena irama kerja dan persaingan ketat yang terkadang kotor main sikut sana-sini dengan klik-klikan. Juga bunyi di hati itu sulit sekali terdengar karena sudah tertutupi oleh muka basa-basi yang penuh pamrih, yang penuh “take & give” dan yang tidak tulus lagi. Ya! Bunyi itu telah membuat kita egois. Telah membuat kita lupa pada indahnya hidup sederhana, hidup tulus, hidup yang saling melayani, hidup yang penuh ucap syukur atas berkat-berkat dari Tuhan!


Tiga kegiatan yang terurai di atas potensinya ada untuk membuat kita kembali sadar bahwa hidup ini tidak melulu di kota-kota besar. Hidup ini tidak hanya materi dan status. Namun ada yang perlu diresapi kembali bahwa pada mulanya kita semua dulu memiliki sebuah Kasih bersama keluarga kita, tetangga kita, saudara sekampung kita, dan saudara-saudara seiman kita, bahkan juga sesama kita, di manapun kita berada! Pertanyaannya, masihkah itu terus mengetuk hati kita? Masihkah dia terus “berbunyi” di hati kita? Wah! Tidak perlu tunda-tunda waktu lagi. Manakala kita sekarang merasakan betapa telah jauh hati ini dari kepekaan untuk Kasih maka waktunyalah sekarang untuk berbenah diri.

Karena Pengkhotbah pun mengingatkan kita bahwa segala sesuatu ada waktunya. Ada waktu untuk di-ingat-kan. Ada waktu untuk men-jalan-kan. Dan ada waktu untuk menerima “upah” dan “akibat”. (Pengkhotbah 3:1-8) “Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apa pun di bawah langit ada waktunya. Ada waktu untuk lahir, ada waktu untuk meninggal, ada waktu untuk menanam, ada waktu untuk mencabut yang ditanam; ada waktu untuk membunuh, ada waktu untuk menyembuhkan; ada waktu untuk merombak, ada waktu untuk membangun; ada waktu untuk menangis, ada waktu untuk tertawa; ada waktu untuk meratap; ada waktu untuk menari; ada waktu untuk membuang batu, ada waktu untuk mengumpulkan batu; ada waktu untuk memeluk, ada waktu untuk menahan diri dari memeluk; ada waktu untuk mencari, ada waktu untuk membiarkan rugi; ada waktu untuk menyimpan, ada waktu untuk membuang; ada waktu untuk merobek, ada waktu untuk menjahit; ada waktu untuk berdiam diri, ada waktu untuk berbicara; ada waktu untuk mengasihi, ada waktu untuk membenci; ada waktu untuk perang, ada waktu untuk damai.”

Jakarta, 5 Oktober 2004

Tema Adiputra
Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."