Lebih Kejam Ibukota?

Penilaian Pengunjung: / 0
TerjelekTerbaik 
Di dalam bus kota itu, di dindingnya, tertulis dengan spidol paten warna hitam (saya yakin tulisan ini dibuat oleh penumpang yang iseng): “Sekejam-kejamnya ibu tiri masih lebih kejam Ibukota!” Juga ada tulisan lain yang dapat mengundang senyum para penumpang: “Hari ini bayar, besok gratis!”. Ya! Tulisan itu masih erat melekat di benak saya walaupun kejadiannya sudah belasan tahun lalu. Baru sekarang saya sempat merenungkannya dan membuktikannya. Tentu dengan latar belakang kota Jakarta saat ini yang sudah “woalaaahhhh”……semrawut, macet, megapolitan karena ditopang oleh daerah-daerah pinggir yang sudah menjadi kabupaten dari propinsi lain, dan juga tingkat kriminal yang tinggi. Ya! Orang daerah (dari Jawa dan luar Jawa) yang untuk pertama kali datang ke Ibukota RI ini dijamin “ketar-ketir” dan bingung! Lha, wong orang Jakartanya sendiri ada yang takut-takut bepergian jauh, dan takut pulang larut malam, koq. Betulkah demikian? Tak adakah ditemukan setitik embun penyejuk hati di Jakarta ini?

Beberapa waktu lalu, saya tengah berada di sebuah perkantoran, di daerah Kebon Jeruk dekat stasion televisi RCTI. Ada rapat organisasi. Dan waktu itu rapatnya selesai bersamaan dengan jam bubar kantor di seluruh Jakarta. Nah, kalau pulang ke rumah pada jam-jam seperti itu, alamat penuh penderitaan! Bus penuh. Jalanan macet. Keringat bercucuran. Bus yang ada AC-nya pun dapat menimbulkan penyakit karena terlalu lama menghantam badan para penumpang yang mungkin saja perutnya mulai “berbunyi”. Ditambah lagi para pengamen yang silih berganti masuk ke dalam bus kota. Dan tidak tertutup kemungkinan para copet profesional turut berkarya. Ya! Sekeluarnya dari kantor itu ada seorang kenalan saya yang menawarkan untuk ikut sepeda motornya, mengantarkan saya ke seberang jalan tol. Saya sambut tawaran itu. Maka naiklah saya dengan penuh pengucapan syukur. Tapi apa yang terjadi? Baru saja sampai di luar pagar perkantoran itu, jalan raya tersebut telah macet total. Kendaraan-kendaraan tidak bisa bergerak. Rupanya dampak hujan lebat beberapa jam yang lalu. Maka…saya ikuti nasehat teman itu untuk saya berjalan kaki saja memutar ke tempat bus stop atau mencari taksi di sana. Lalu berjalanlah saya sembari melihat “penderitaan” para pengemudi mobil dan sepeda motor di depan RCTI itu yang tidak bisa bergerak entah sampai berapa lama.

Sesampainya di seberang, ternyata kini sayalah yang menderita! Macet total pula di jalan tol. Juga di jalan samping tol. Taksi tidak ada. Ojek pun tak kelihatan. Wah……bagaimana ini? Hanya beberapa sepeda motor karyawan yang lewat di jalanan samping jembatan tol itu. Senja sudah menuju malam. Saya melihat seorang pak haji dengan perangkatnya (mungkin hendak ke mesjid) tiba-tiba menyetop sebuah sepeda motor. Dia berbicara sejenak dengan si pengemudi, dan akhirnya si pak haji pun naiklah. Saya perhatikan bahwa itu bukanlah ojek. Saya masih terus mengharap ada ojek. Tapi tak kunjung tampak. Tiba-tiba saya terpikir tidak ada salahnya untuk mencoba menyetop sepeda motor yang melintas. Dan saya lakukan segera. Dengan senyum dan nada minta tolong saya pun berdialog dengan bapak muda pengemudi sepeda motor itu. Wah…dengan ramah dia mempersilakan saya ikut, dan akan diturunkan nanti di Slipi Jaya. Puji Tuhan! Mendekati tujuan saya siapkan beberapa lembaran ribuan di tangan saya. Pas sampai di Slipi Jaya saya pun turun dengan penuh ucapan terima kasih, dan berusaha untuk menyerahkan sejumlah uang itu sebagai “uang rokok”. Waduhhhh….ternyata dia menolak dengan tegas! Dan dengan senyum ramah dia pun pamit melanjutkan perjalanan. Saya tidak hafal raut wajahnya, karena sejak saya stop tadi, mukanya tertutup kaca helm gelap.

Belum lama ini, malam hari sekitar jam 8 malam, saya naik bus non-AC menuju kota Tangerang. Saya duduk di dekat jendela. Di sebelah saya ada wanita muda (saya tak tahu apakah dia lajang atau telah menikah). Mendekati jalan tol Tomang-Merak maka penuh sesaklah bus itu. Maklum penumpangnya adalah para pekerja di Jakarta yang tinggal di kota kabupaten itu. Saya nikmati saja perjalanan ini. Sudah biasalah saya “merakyat” yang sekaligus memperhatikan atmosfir yang ada. Maka bus pun melajulah di jalan tol tersebut. Eh…eh…di tengah jalan, tiba-tiba seorang pria muda bertopi yang berdiri di dalam bus kami dekat wanita itu, minta izin untuk bisa berjongkok di lantai bus. Saya merasa aneh juga. Tapi mungkin si pria muda itu lelah berdiri. Maka si wanita pun maklum. Namun…beberapa detik kemudian si wanita berdiri dan mempersilakan si pria itu untuk duduk di bangkunya. Dengan gerakan badan yang lemah, si pria itu bangkit dari jongkoknya dan duduk dengan lemah pula. Ouuuuwww…..rupanya si pria muda itu sakit!! Si wanita itu iba hatinya. Maka si wanita muda itu pun bertanya-tanya ke pada si pria muda sakit itu. Dengan lemah dia hanya bisa menjawab dengan anggukan. Si wanita pun menanyakan ke para penumpang adakah yang membawa minyak angin dan tissu? Dari belakang ada seorang ibu yang menyerahkan benda yang diminta itu. Si wanita muda itu agak malu mulanya, maka dimintanya seorang bapak yang berdiri untuk memoleskan dan menggosok minyak itu ke leher si pria sakit tersebut. Si bapak enggan. Maka si wanita muda pun tanpa ragu lagi menggosokkan minyak itu ke leher belakang si pria sakit tadi. Adegan itu berlangsung beberapa menit, sampai akhirnya si pria sakit itu didorong untuk juga menggosokkan sendiri minyak itu ke perutnya. Saya yang duduk dekat jendela segera menutup kaca jendela karena angin jalan tol sangat kencang. Kami lihat si pria sakit itu tertunduk dan menyandarkan kepalanya ke jok bangku di mukanya. Bus pun melaju terus sampai tiba di perhentian berikut. Banyak penumpang yang turun sebelum stasion, termasuk saya dan juga wanita muda yang baik hati itu. Dia masih sempat untuk menitipkan ke bapak di sebelahnya agar memperhatikan si pria sakit itu. Tapi sayang si bapak itu pun turun di tempat yang sama.

Beberapa hari kemudian, siang hari, saya kembali ke ibukota kabupaten itu, dan juga menaiki bus non-AC alias bus rakyat. Saya duduk di bangku tengah. Sebelah kiri saya seorang bapak. Di sebelah kanan saya juga seorang bapak dengan barang belanjaan di pangkuannya. Saya naik bus itu dari halte bus Slipi Jaya. Dan karena siang itu saya harus berkomunikasi dengan beberapa relasi maka dengan “cuek bebek” saya keluarkan HP dan saya pun sibuk ber-SMS-ria. Maka jadilah perjalanan menempuh jalan tol Tomang-Merak itu tidak terasa. Mendekati halte Lippo Karawaci tempat biasanya saya, maupun banyak para penumpang turun, tiba-tiba bapak di sebelah kanan saya itu menasehati saya agar HP tersebut dimasukkan saja ke dalam tas bila nanti saya turun bus. Dia menceritakan bahwa anaknya perempuan sudah dua kali dirampas HP-nya di tempat nanti sebentar kami turun. Saya berterima kasih, namun masih asyik membalas SMS yang penting. Lalu…tak terasa halte sudah di depan mata, tiba-tiba kembali si bapak itu meminta saya untuk memasukkan HP saya itu ke dalam tas sembari menunjukkan tempat di sinilah anak perempuannya itu dirampas orang HP-nya sampai dua kali. Saya kaget juga dengan permintaannya yang tegas dan setengah memaksa itu. Namun….saya pun dengan refleks memenuhi permintaannya tersebut. Saya masukkanlah HP itu ke dalam tas saya. Dan bus pun kembali berjalan…….kira-kira 1 menit kemudian saya pun turunlah. Masih sempat saya pamit ke si bapak itu yang sudah pindah duduk ke bangku depan karena akan segera turun pula.

Saya tidak tahu, Anda punya kesan apa dengan kisah nyata di atas. Tapi saya hanya mau mengatakan bahwa di tengah hutan rimba sekali pun, ada saja makhluk yang dapat tergerak hatinya untuk menolong seseorang yang tersasar. Bahkan di sarang penyamun sekali pun bisa saja ada salah seorang penyamun yang baik dan tergerak hatinya untuk menolong seseorang yang disandera. Ya! Sekalipun sebagian orang mengatakan “Jakarta lebih kejam dari ibu tiri” tapi di balik ungkapan itu masih ada yang punya belas kasihan. Bahkan ibu tiri pun, tidak sedikit yang hatinya baik setulus-tulusnya kepada anak yang diasuhnya. Semua berawal dari hati yang tergerak penuh belas kasihan!

Ingatkah kita pada hal berikut?(Matius 9 : 35-38)…Demikianlah Yesus berkeliling ke semua kota dan desa; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Sorga serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan. Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala. Maka kata-Nya kepada murid-murid-Nya: "Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu."

Jakarta, 20 Oktober 2004

Tema Adiputra
Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."