• PDF

Tanggal 20

Penilaian Pengunjung: / 0
TerjelekTerbaik 
  • Senin, 01 Juni 2009 17:12
  • Ditulis oleh Tema Adiputra
  • Sudah dibaca: 1829 kali
Saya tidak bermaksud untuk “memuja” angka-angka. Bagi saya angka adalah sebatas angka! Tidak lebih dan tidak kurang. Namun, kalau kita ingat sebuah angka maka---saya yakin Anda pun demikian---bisa jadi ada beberapa peristiwa dibaliknya. Seperti kalau kita mendengar sebuah lagu diputar di radio misalnya, maka boleh jadi kita teringat sebuah nostalgia kenangan manis / pahit 
(maklum, saya orang radio sih). Demikian konsep saya. Oleh sebab itu judul tulisan ini tentu saja mengandung makna yang terdalam, paling tidak, dalam diri saya pribadi.

Tanggal 20 September yang lalu. Kita semua tahu itu adalah momen yang seru dan bersejarah di tanah air kita ini. Saya adalah warga Negara Indonesia, maka saya sambut itu dengan penuh pengucapan syukur. Saya kali ini memilih pasangan presiden RI (putaran kedua) di tempat pemungutan suara bukan di tempat saya tinggal saat ini, tapi di tempat saudara saya di Jakarta Pusat. Jadilah saya pemilih tamu di situ. Tak apalah karena memang saat-saat administrasi pemilihan itu dilakukan saya tengah berada di luar kota, tugas konsultan radio, sehingga saya minta tolong ke saudara itu untuk boleh “nebeng” pemilu di tempatnya. Diurusnyalah dan bisalah saya berpemilu-ria dengan nyaman dan aman di Jakarta. Pada waktu pemilu putaran pertama, saya termasuk bagian masyarakat pemilih yang mencoblos kertas bergambar pasangan-pasangan capres/cawapres sampai tembus ke halaman muka! Kita tahu waktu itu, pencoblosan seperti itu bisa membatalkan suara pemilih. Namun, sorenya saya telepon saudara saya menanyakan nasib “suara” saya, dan…ah…syukurlah…panitia pemilu di TPS itu sudah mendapat lampu hijau dari KPU bahwa “kebablasan coblos” tersebut dinyatakan sah! Puji Tuhan. Lega hati saya. Belajar dari pengalaman tersebut, maka pada pemilu putaran kedua ini saya sangat hati-hati dalam mencoblos kertas suara! Dan…sukses!

Tanggal 20 Oktober yang lalu. Bangsa Indonesia memiliki seorang Presiden hasil pemilihan langsung oleh rakyatnya. Terpilihnya sang bapak “pendatang baru pemilu” (SBY-MJK) ini persis seperti yang diduga rakyat Indonesia dan seperti yang saya terka juga, lho. Saya senang, dan saya lihat sebagian besar rakyat negeri ini pun senang! Puji Tuhan! Pemilu ini pun berjalan lancar aman dan nyaman. Terlepas dari berbagai polemik tentang masalah teknis yang ada. Nah…untuk paragraf ini saya akan buka sebuah rahasia. Kalau rahasia dibuka itu berarti sudah tidak jadi rahasia lagi, bukan? Tak apa-apalah. Toh, negara kita sudah memiliki pemimpin yang menjalankan pemerintahan dengan gaya barunya. Begini, sebulan yang lalu, beberapa hari sebelum masuk ke kotak suara, saya bergumul dalam hati siapakah yang akan saya pilih dan mengapakah dia saya pilih? Pada hari-H-nya saya sudah mantap untuk mencoblos gambar tertentu dengan alasan tertentu, yang mungkin saja sangat berbeda dengan orang lain. Tahukah Anda siapa yang saya coblos? Yakni pasangan MS-HM. Alasan saya sederhana dan ini datang dari lubuk hati saya yang terdalam penuh ketulusan. Saya mau berterimakasih kepada MS yang telah dengan berani mengambil sikap untuk menerima tongkat estafeta kepemimpinan bangsa di saat-saat tersulit, di saat-saat penuh risiko kehancuran bangsa, yaitu pada peristiwa akan dikeluarkannya Dekrit Presiden di era pemerintahan AW. Bagi saya MS perlu diberi ucapan terimakasih oleh saya pribadi atas keberaniannya itu. Sehingga bangsa ini terhindar dari kekacauan dan kehancuran. Ya! Saya telah memberikan hak suara saya padanya, sekalipun kemungkinan besar beliau tidak akan memenangkan pemilu capres/cawapres putaran kedua itu. Yang penting saya pribadi telah mencatat dalam “sejarah” bahwa saya memberikan penghargaan padanya dengan cara seperti itu!

Tanggal 20 November. Ada seorang lelaki yang teringat kembali pada waktu dia masih kecil, murid sekolah taman kanak-kanak di kota kabupaten, dia menangis dan ketakutan karena bapaknya belum datang menjemputnya di gedung Nasional tempatnya barusan mementaskan drama malam kesenian. Untung sang ibu guru menemani di larut malam itu sampai terlihat di kejauhan ada sinar lampu sepeda bapaknya datang menjemput. Juga lelaki ini ingat bagaimana dia pada waktu kelas 2 sekolah dasar dan telah naik ke kelas 3, bergembira sekali menjelang hari-hari keberangkatannya ke Jakarta untuk melanjutkan sekolah. Sementara sang ibunya diam-diam selalu menangis karena akan berpisah dengan anak bungsu laki-lakinya itu. Teringat juga di benak dan hati si lelaki ini bagaimana pada tahun 1974 dia pulang ke kampung halaman untuk membezuk bapaknya yang terbaring di rumah sakit karena serangan stroke. Ironisnya sang bapak tidak bisa mengenalinya lagi. Ditambah pula---karena dorongan dari ibunya dan famili---dia segera pulang ke Jakarta agar tidak terlambat masuk sekolah di bulan Januari 1975. Sehingga dia hanya mendapat kabar saat berada di Medan bahwa sang bapak tercinta telah meninggal dunia.Ya! Lelaki ini juga ingat bagaimana suatu malam ---saat menjadi mahasiswa---dia berjalan berdua dengan pacarnya di perkampungan Pejompongan, di gang-gang sempit, tiba-tiba sang pacar memegang erat tangannya dan menahan laju perjalanan mereka karena saking asyiknya mereka berbincang tidak menyadari di hadapan mereka ada rel kereta api yang pada waktu bersamaan lokomotif kereta api itu melintas di depan mereka. Kalau sang pacar tidak menghentikan perjalanan itu, maka selesailah sudah! Juga lelaki ini ingat pada suatu siang dia berdiri di ujung jalan menunggu bus Metro Mini menuju tempat kerjanya di Cawang. Entah mengapa, seolah-olah ada yang menggerakkan, dia pun berpindah beberapa meter ke arah samping sembari melihat kedatangan sebuah Metro Mini yang akan dinaikinya. Tiba-tiba, hanya sekian detik…terjadilah sesuatu…bus itu tidak bisa dihentikan sang sopir, remnya blong…lalu menabrak becak-becak yang ada di ujung jalan itu ! Untung tidak ada yang tewas, namun si sopir dan kondektur melarikan diri sehingga bus itu jadi sasaran amuk massa. Dan lebih “untung” lagi si lelaki ini, kalau saja dia tetap berdiri dekat becak-becak itu, maka dia adalah sasaran empuk Metro Mini tadi! Nah…berikut adalah kejadian di bulan November 2004, lelaki ini menaiki bus patas AC dari Lippo Karawaci menuju Jakarta, baru beberapa menit bus meluncur cepat di jalan tol yang sepi karena masih suasana Idul Fitri tiba-tiba terdengar letusan yang memekakkan telinga dari bawah bus.Apa yang terjadi?! Ternyata 2 ban belakang kanan bus tersebut pecah mendadak! Syukur pada Tuhan, bus masih dapat berjalan untuk dipinggirkan sang sopir, dan tidak ada korban jiwa! Nah……mau tahukah Anda siapa sebenarnya lelaki ini? Dia adalah……saya sendiri, yang merayakan ulang tahun pada tanggal 20 November. Kalau bukan Kasih Pemeliharaan dari Tuhan, dan kalau bukan doa-doa yang saya panjatkan pada-Nya sebelum keluar rumah setiap harinya, maka tak tahulah saya apa jadinya perjalanan hidup saya kemarin—sekarang—dan yang akan datang! Peristiwa yang saya ceritakan di atas hanyalah sebagian kecil saja dari sekian banyak kesaksian hidup yang Tuhan selalu campur tangan dalam hal memberkati, melindungi dan memberi jalan keluar dari berbagai problema hidup yang saya alami. Segala pujian hanya untuk-NYA ! 

Ya! Kita bebas memaknai sesuatu hal yang ada di dalam hidup kita. Ada banyak hal yang dapat kita jadikan simbol dalam kehidupan kita. Ada banyak hal yang dapat kita jadikan monumen sejarah hidup kita pribadi. Tidak harus membangunnya dalam bentuk patung monumen, namun kita bisa bebas mengukirnya di hati dan pikiran kita…untuk jadi bahan permenungan. Saya tidak pernah melupakan kata seorang pendeta : ada 3 misteri dalam hidup ini. Yang pertama, tentang kelahiran. Yang kedua, tentang kematian. Yang ketiga, tentang pernikahan/jodoh. Oleh sebab itu bila Tuhan telah memberi “kesempatan“ untuk kita lahir dan menjalani hidup ini, maka itu adalah anugerah yang sangat besar. Yang perlu dinikmati dengan penuh pengucapan syukur. Termasuk menikmati berbagai peristiwa yang ada di dalamnya. Karena siapakah yang tahu perihal apa yang akan dialaminya di hari-hari mendatang? Ah…..tak perlulah memusingkan hal itu! Lebih baik merenungkan ini: (Mazmur 28:6-8) “Terpujilah TUHAN, karena Ia telah mendengar suara permohonanku. TUHAN adalah kekuatanku dan perisaiku; kepada-Nya hatiku percaya. Aku tertolong sebab itu beria-ria hatiku, dan dengan nyanyianku aku bersyukur kepada-Nya. TUHAN adalah kekuatan umat-Nya dan benteng keselamatan bagi orang yang diurapi-Nya!”

Jakarta, 20 November 2004

Tema Adiputra
Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."