Nikmatnya Cuap-cuap di Radio

Penilaian Pengunjung: / 2
TerjelekTerbaik 
Orang bawel & ceriwis katanya sangat “cocok” jadi penyiar radio. Benarkah? Tergantung. Bila bawelnya, ceriwisnya berkonotasi negatif, ya…janganlah nekat menjadi penyiar radio. Kasihan nanti stasion radio (stara)-nya. Bisa-bisa diserbu massa karena mempekerjakan penyiar yang bawel & ceriwis yang membawa keresahan bagi para masyarakat pendengarnya. Wah…bisa hancur dunia! Tapi, setelah saya pikir-pikir bisa juga kebawelan & keceriwisan itu dimasukkan sebagai salah satu kriteria penyiar. Mengapa? Karena orang bawel & ceriwis itu, umumnya banyak memiliki kosa kata, cepat berpikir dan cepat berkata-kata. Umumnya mereka “malas” berhenti bicara, doyannya nyambung terus itu kalimat-kalimat dari mulut, yang orang Betawi bilang, itu orang koq “nyerocos” terus, sih?! Nah, coba bayangkan bila seorang penyiar acap kali vakum di udara karena masih memikirkan kata-kata apalagi ya…yang harus dikeluarkan, tentu para pendengar akan kesal dan bosan. Jadi, “berbahagialah” seseorang bila dia memiliki kebawelan & keceriwisan.

Cuap-cuap di udara, khususnya di dunia radio siaran, memang saat ini sudah menjadi lahan industri dan juga membawa ketenaran tertentu. Bila seorang penyiar pandai bicara, enak suaranya, manis bisikannya, dan segar humornya…wah…apa tidak betah kita menikmati acara yang diasuhnya? Pastilah betah. Saya sampai sekarang tidak pernah lupa pada seorang wanita penyiar dewasa. Di sebuah stara di Jakarta. Sekalipun tak pernah jumpa darat, namun saat saya remaja sampai pemuda (sebelum saya terjun ke profesi broadcaster) suara penyiar itu waduhhh……sangat saya sukai. Empuk, lembut tapi ada power. Itu sejak akhir tahun 1970-an silam! Namun…ternyata dalam hal cuap-cuap ini para penyiar sering kebablasan dalam hal becanda-canda---ledekannya konyol dan sensitif, terang-terangan “mengemis” di udara minta dikirimkan makanan ke stara, sampai pada kelupaan pada topik pembicaraan dengan narasumber sehingga perbincangan jadi kesana-kemari.

Demikian juga halnya perihal kreativitas. Penyiar yang sudah layak siaran tentu memiliki kreativitas. Dan pernahkah terbayangkan bahwa kreativitas ini juga suka kebablasan? Mungkin pendengar radio tidak terlalu memperhatikannya. Dalam suatu segmen perbincangan atau cuap-cuap dari si penyiar bisa saja terlontar kata-kata yang dirangkai sedemikian rupa yang sebenarnya tujuannya adalah untuk mempromosikan dirinya sendiri. Mungkin diawali dengan memberi perhatian khusus kepada pendengar tertentu, dengan sapaan manis dan santun, serta sambil tersenyum dan sedikit bercanda keluarlah kalimat promosinya,…..jangan lupa lho undang saya ke pesta pernikahan nanti, jadi MC gratis juga boleh….hm…hm…he…he…he! Nah, lu….kena deh! Atau bahkan pernah terjadi di sebuah stara, diumumkan sebuah kegiatan dengan cara ad-libs, si penyiar dengan semangat menjelaskan 5W + 1 H-nya informasi kegiatan itu. Dan di bagian akhir sebagai penarik utama dari informasi itu dia sebutkanlah nama MC (pembawa acara) pada kegiatan itu nanti. Eh….ternyata nama MC adalah nama si penyiar itu sendiri! Ooaaalahhh……(kenapa sih iklan baca itu tidak dibacakan oleh rekannya saja?) pantas bersemangat menyiarkannya. 

Indah dan nikmatnya bercuap-cuap di udara dapat memberi motivasi tertentu pada orang-orang yang ingin mengembangkan sayap “pelayanan”-nya, lho. Koq bisa? Ada seorang teman saya yang profesinya berkotbah (maksud saya dia evangelis), wah dia sangat bersemangat menghubungi saya sewaktu saya masih bekerja di sebuah stara. Macam-macamlah informasi yang disampaikannya yang pada ujung-ujungnya dia ingin supaya dia bisa diwawancarai untuk menjelaskan betapa suksesnya pelayanannya di suatu tempat atau di sebuah daerah. Juga ada kenalan saya yang begitu semangat untuk memoderatori sebuah acara rohani, bila ada yang berhalangan hadir maka dia siap menggantikan sebagai moderator cadangan. Mengapa ya? Wah…ternyata dia sudah sangat sadar karena dia sering bersiaran, sering jadi moderator yang terkadang bablas sebagai narasumber kedua, maka…ternyata banyak pendengar yang menghubunginya untuk mau jadi pengkhotbah di sebuah persekutuan doa, gereja, yang tentu saja sangat disambutnya karena….ya…karena apalagi kalau bukan akan mendapat “apresiasi” dalam amplop. He…he…he…itu realita.

Cuap-cuap yang berlebihan secara terselubung dengan cara menyapa orang-orang khusus, orang-orang tertentu, orang-orang yang disamarkan identitasnya juga acapkali dilakukan oleh penyiar yang sudah kawakan, lho. Karena sifat radio siaran itu adalah personal yang sekaligus publik, maka para pendengar lain mungkin tidak peka terhadap trik-trik seperti ini. Tapi kalau sudah terbiasa menyimak maka kita akan tahu bahwa si penyiar itu tengah memperhatikan orang-orang tertentu dengan sangat khusus. Mengapa begitu? Mau tahu? Hm…hm….hm….tidak bisa dipungkiri bahwa bila seorang pendengar “jatuh hati” kepada seorang penyiar karena suaranya, karena perhatiannya, maka…jangan heran kalau si pendengar itu rela membelikan sebuah handphone kepada penyiar pujaannya. Rela mentraktirnya berkali-kali. Rela membelikan kulkas baru. Rela mengajaknya jalan-jalan keluar kota lebih dari sehari. Rela memberi uang jutaan gratis supaya sang penyiar bisa sembuh sakit parahnya melalui operasi di rumah sakit. Dan…ada juga yang rela menyerahkan rumah bagusnya untuk dihuni selama sekian tahun karena si pemilik tengah berada tugas di luar kota / luar negeri. Asyik….ya? Ini pun realita.

Ahhhh….tibat-tiba saya ingat ini: (Lukas 3:12-14)…Ada datang juga pemungut-pemungut cukai untuk dibaptis dan mereka bertanya kepadanya: "Guru, apakah yang harus kami perbuat?" Jawabnya: "Jangan menagih lebih banyak dari pada yang telah ditentukan bagimu. "Dan prajurit-prajurit bertanya juga kepadanya: "Dan kami, apakah yang harus kami perbuat?" Jawab Yohanes kepada mereka: "Jangan merampas dan jangan memeras dan cukupkanlah dirimu dengan gajimu."

Kata “cukupkanlah” sangat menarik hati saya. Bila kita merasa tidak pernah c u k u p, maka berarti kita menginginkan lagi…lagi…lagi….dan lagi. Dan ternyata maknanya bukan hanya mencukupkan terhadap keperluan materi saja, namun juga diperlukan untuk berbicara / bercuap-cuap secukupnya, seperlunya, karena di luar itu namanya kebablasan. Dan kebablasan terkadang menjurus kepada kreatifitas terselubung, motivasi terselubung, dan misi terselubung untuk mendapatkan sesuatu dari orang lain melalui keahlian tertentu---salah satunya bercuap-cuap di udara. Nah, saya sangat khawatir bila trik-trik ini dijuluki sebagai cara merampas dan memeras para pendengar radio secara terselubung!

Jakarta, Desember 2004

Tema Adiputra
Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
ruru  - betul   |119.235.254.xxx |12-01-2010 22:15:07

betul banget.. jadi penyiar radio tu asik apalagi kalo kita
menguasai sgala bidang tapi dalam radio yahhhh..seruuu log!
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."