“Ini ‘kan Pelayanan, tolonglah…”

Penilaian Pengunjung: / 0
TerjelekTerbaik 
Di sebuah kabupaten di Jawa Tengah saya mendatangi seorang relasi. Saya mengenalnya beberapa tahun lalu ketika ada pertemuan konsultasi broadcasting. Saya datang mengunjunginya karena ingin melihat langsung stasion radio (stara) miliknya. Stara ini menyiarkan acara-acara sekuler dan juga rohani Ya! Setelah makan siang dengan menu sate ayam di kota itu maka kami  pun menuju stara-nya. Dia berujar, agar saya tidak kaget bila nanti  mengetahui keberadaan staranya itu. Saya tersenyum saja, apa pula yang harus dikagetkan!? Tapi benarkah saya tidak kaget? Mulai dari sebuah jalan raya menuju tempat wisata yang sejuk dia telah menunjukkan ke arah kanan mobil, di tengah hamparan sawah, di situlah tempat stara-nya mengudara dan berkantor! Menuju ke stara-nya itu ternyata tidak ada jalan langsung, tapi harus terlebih dulu memutar seperti huruf U. Dan…ketika mobil mulai memasuki areal persawahan itu…alahmaaaakkk…jalanan tanah becek berumput, ada rumah jarang-jarang, ada juga sebuah kantor, dan selebihnya hamparan sawah yang hijau dan kuning. Sepiiiiiiii….!

           Bapak muda ini (yang ternyata anak kandung sang owner stara) mengajak saya masuk ke sebuah bangunan rumah gedung—bagus dan cukup besar---untuk melihat ke dalam. Waow…benar-benar bentuk sebuah rumah, diset sebagai kantor dan studio. Namun peralatan studio siarnya sungguh memprihatinkan. Bahkan alat pemancarnya di sebuah ruangan juga sudah ketinggalan zaman. Dan selagi kami berbincang…sang kepala studio melaporkan bahwa pemancar turun / off  lagi. Maka dilakukanlah perbaikan terlebih dulu. Kemudian kembali kami berbincang. Banyak hal yang didiskusikan, dari janji-janji orang Jakarta yang akan membantu (ada yang janji gombal), sampai dengan bagaimana pemasukan iklan yang parah karena pemancar AM ini tidak kuat “power” sehingga kalah bersaing dengan radio-radio FM di sekitarnya. Saya sedih dan prihatin juga mendengar semua itu.

           Hari telah sore, saya diajaknya ke rumahnya jumpa istri dan anaknya yang masih sekolah dasar. Di bangku rumahnya saya lihat ada pemutar CD dan beberapa kaset serta CD. Dari manakah gerangan? Dia mengatakan bahwa itu sumbangan sebuah supplier program (PH) yang barter dengan stara-nya. Saya mengenal boss PH itu di Jakarta, karena dia adalah teman saya sama-sama pengurus sebuah organisasi. Baik hati benar dia! Waktu terus berjalan……dan saya pamit untuk naik kereta api menuju tempat penginapan saya di Jogya. Bapak muda ini diam-diam telah berembuk dengan istrinya…sehingga mereka meminta saya untuk tidak naik kereta api, tapi mereka akan mengantar saya ke Jogya dengan mobil kijang-nya. Wah…kejutan yang tidak perlu saya tolak! Nah, di dalam mobil menuju Jogya inilah dia membuka kartu tentang keberadaan keuangan stara-nya. Dengan jujur dia minta bantuan saya untuk memberi kiat-kiat (konsultasi spontan) bagaimana bisa mendatangkan pamasukan uang ke stara-nya. Hati saya tergerak…..dan ada beberapa janji saya untuknya. Dan janji itu benar-benar saya tepati! Paling tidak saya berusaha membuka jalan, dan memberi nama-nama dan lembaga-lembaga yang dapat diajaknya bekerjasama. Ya! Sekian bulan kemudian…saya sudah melihat iklan stara ini di sebuah tabloid kristiani. Sukses rupanya kerjasama itu. Dan semoga dengan yang lain pun bisa berhasil, itu doa saya.

           Jam 6 sore di sebuah rumah makan cepat saji, di ibukota Jawa Barat saya diperkenalkan oleh seorang sahabat---dia seorang penyiar---ke seorang bapak yang ditugaskan untuk mengelola sebuah stara yang baru mereka beli. Beruntung mereka itu. Karena membeli sebuah stara (walau hanya berupa surat ijinnya saja). Dan si bapak yang ternyata bukan owner itu, menceritakan bahwa saat ini staranya telah mengudara sampai tengah malam hanya mengudarakan lagu-lagu rohani nonstop tanpa ada suara penyiar! Mengapa? Karena mereka belum lagi  merekrut para pelaksana siarnya. Hanya dia dan sang owner yang mengelola sementara ini. Namun mereka bertekad untuk awal bulan depan sudah ada suara penyiar yang terdengar. Maka……berdiskusilah kami. Saya pun membagikan pengalaman untuknya. Memberitahu padanya langkah-langkah yang harus ditempuh. Sampai pada suatu ketika, di tengah rencana kami untuk mungkin akan berkunjung ke sana si bapak ini dengan spontan bertanya, kira-kira berapa jumlah “tanda kasih” yang akan kami minta? Wahhh….saya dan sahabat saya itu kaget! Begitu cepatnya pertanyaan itu muncul. Tapi saya tidak heranlah…karena mungkin latar belakang pendidikan ekonominya telah mendorong untuk berhitung-hitung, dan menjalankan prinsip take & give. Salut juga saya. Tapi tentu saja saya tidak mau memberitahukan di situ nominal yang saya minta. Sahabat saya itu juga punya sikap yang sama. Namun kami berjanji paling lambat esok hari kami sudah memberitahukan nominal yang dia mau tahu, via sms.

           Perbincangan pun berlanjut. Terungkaplah sebuah kesaksian bahwa stara itu pemiliknya adalah seorang pengusaha top dan berpengaruh di ibukota kabupaten. Karena dia punya banyak uang maka dia rindu memiliki stara rohani di kota yang penuh dengan bani Ismail itu. Tapi karena kesibukannya dalam usaha, maka ditunjuklah bapak yang berbincang dengan kami itu sebagai pimpinan harian. Tersirat, bahwa cukup besar modal yang telah dikeluarkan. Dari membeli surat ijin dari sebuah stara sekuler (pindah tangan), sampai telah memiliki gedung dan peralatan siaran dari Eropa….wah….tidak tanggung-tanggung nih semangatnya! Tapi begitulah…ternyata belum ada “isi” dan “manajemen” siaran berikut SDM-nya. Kami diminta  untuk membantu….sekali lagi diminta untuk datang berkunjung dan membantu…! Ya! Kami mengangguk. Setelah sekian waktu berbincang bapak itu pun pulanglah ke kotanya , dengan mobil khusus milik si owner yang berhalangan hadir bertemu dengan kami.

           Keesokan harinya, sahabat saya yang memperkenalkan saya ke pengelola stara baru tadi, telah mengirimkan jawaban atas pertanyaan berapa nilai “tanda kasih” yang dimintanya. Dia tidak mengungkapkan angka, tapi hanya menggugah kerelaan hati dari mereka saja tentang berapa jumlahnya, asalkan akomodasi ditanggung untuk kunjungan satu hari satu malam itu. Pengelola stara baru itu senang hatinya dan siap menunggu kadatangan sahabat saya tersebut. Dan bagaimana dengan saya? Tentu saya bertukar pikiran dengan kelompok studi radio siaran saya. Berapa “tanda kasih” yang saya ajukan. Maka saya dan teman-teman di Jakarta sepakat mengeluarkan sebuah angka, yang sudah kami diskon jauh ke bawah, karena perkenalan pertama dan kunjungan pertama satu hari satu malam nanti masih kental nuansa pelayanannya. Tapi saya alergi dengan kata “tanda kasih”, saya memakai istilah “apresiasi”. Dan itulah yang saya sms ke  pengelola stara baru itu. Dua hari kemudian…saya menerima jawabannya: “…..kami membatalkan rencana mengundang bapak ke tempat kami….karena keterbatasan dana….!”

          Hm…hm…begitulah, terkadang kita harus memiliki sikap dan prinsip  dalam menghadapi “dilemma” yang tergambar dari kasus realita di atas. Saya totalitas membantu stara yang pertama, karena sudah melihat langsung bagaimana prihatinnya keadaannya. Termasuk owner-nya yang memang hanyalah seorang hamba Tuhan yang bukan pengusaha. Namun untuk kondisi stara yang kedua, hati saya tidak “tega” untuk bersikap seperti sikap saya pada stara yang pertama. Mengapa? Saya sederhana saja logikanya. Seorang pengusaha sukses dan berpengaruh, dengan kemampuan  ekonomi yang “lebih” tentulah perlu memasukkan tambahan modal khusus untuk mempersiapkan “isi” dan “manajemen” siaran dengan tidak memakai lagi istilah “tanda kasih”.

           Bukan maksud saya menyesali. Bukan maksud saya protes. Namun saya banyak melihat dan mengalami dilemma hal seperti di atas. Dan ternyata tidak sedikit teman-teman saya yang juga “terjebak” dan “dijebak” pada situasi itu. Alasannya sederhana: “ini ‘kan pelayanan…tolonglah…!” Ya! Sebuah perseroan terbatas (PT) tentu sarat dengan perhitungan bisnis. Sebuah persekutuan (ministry) juga tidak luput dari hitungan-hitungan modal kerja. Tapi sebuah perusahaan yang sudah mau bangkrut dan sebuah perusahaan yang baru mau berkembang dengan peralatan barunya….adalah sebuah situasi yang sangat berbeda. Diperlukan hikmat, kebijaksanaan, dan keberanian bersikap dalam menghadapinya….tentu dengan dilapis doa!   

           Nah, bagaimana kalau kita renungkan ini? (Amsal 14:15) “Orang yang tak berpengalaman percaya kepada setiap perkataan, tetapi orang yang bijak memperhatikan langkahnya.”

Jakarta, 20 Januari 2005

 

Tema Adiputra

Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."