Ketika Donatur Ingkar Janji

Penilaian Pengunjung: / 0
TerjelekTerbaik 
Ternyata bukan hanya merpati yang ingkar janji (saya teringat syair sebuah lagu pop), tapi kita semua pernah melakukannya. Hayo…mari kita jujur! Dan tentu saja pengalaman diingkari dan mengingkari janji itu pastilah menorehkan sesuatu ke dalam hati orang yang mengalami. Bagi yang diingkari janji, dia bisa jengkel, bisa sebal, bisa stress, bisa depresi, bisa putus asa, bisa ketawa-ketawa sendiri, senyum-senyum sendiri, bisa amuk-amuk, dan bisa juga diam penuh makna yang negatif dan positif…bahkan bisa juga lho…bernyanyi memuji Tuhan penuh ucapan syukur! Anda selama ini ada di posisi mana? 

           Belum lama ini ada satu aktifitas pelayanan saya bersama rekan-rekan sepelayanan yang melibatkan banyak orang dan juga memerlukan peralatan video kamera dan berbagai pendukungnya untuk pengambilan gambar di berbagai lokasi. Wah…dari dini hari---kurang tidur pula---sampai malam hari kami bekerja keras. Hujan pun turun pula. Dan kondisi fisik dan pikiran lama kelamaan terasa turun juga. Namun karena memang sudah komitmen maka program tersebut akhirnya berhasil kami selesaikan. Dan legalah hati kami! Kami dapat menarik napas dengan tersenyum manissssssss…!

           Namun di balik senyum manis itu kembali kami tercenung. Karena sehari sebelum dilakukan shooting tersebut kami berada dalam situasi yang sangat dilematis. Bak makan buah simalakama. Betapa tidak, kegiatan pengambilan gambar itu memerlukan biaya banyak, tenaga besar, waktu yang harus khusus dan sebagainya. Nah…malam sebelum shooting itu pihak rumah produksi (PH) mendatangi kami di sekretariat untuk meminta kepastian dan tentu saja untuk meminta uang muka sebagai modal kerja untuk besok. Kami stress! Karena 80% dana kegiatan ini akan ditanggung oleh seorang donatur yang 3 minggu sebelumnya telah menyanggupi diri. Namun beberapa hari lalu dia membatalkannya! Dengan alasan ada persoalan pribadi! Kami mau bilang apa? Dia tinggal di Bandung, kami di Jakarta. Ya! Tentu saja  kami panik. Dan “terpaksa” bekerja dari nol lagi untuk mencari sebanyak mungkin calon donatur. Nah, pada malam sebelum shooting itu pihak rumah produksi meminta kepastian kami. Entah mengapa pada waktu itu kami meng-iya-kan saja, besok pagi berangkat ke lokasi shooting! Dan besok sore kami berjanji memberikan uang muka itu! Padahal saat itu kami belum dapat seorang pun untuk mau membantu menalanginya. Kembali kami bertiga gencar berdoa dan menghubungi beberapa orang kenalan kami! Lalu ……mendekati jam 11 malam, melalui telepon, seorang sahabat kami ikhlas meminjamkan dulu uangnya dan esok pagi dapat kami ambil! Blessssssshhhhhhh…ahhhhhhh…lega! Maka malam itu kami pun berlatih blocking dengan rasa nyaman.   

           Beberapi hari kemudian, setelah kami lakukan editing awal, datang lagi pihak PH. Tentu saja dia meminta uang sisanya yang 2x lipat dari uang muka tadi. Karena produksi akan segera selesai. Kembali kami stress! Dan kali ini kami benar-benar sangat lelah lahir batin. Mengapa? Karena kami bukan hanya pemain, tapi juga perancang semuanya, dari naskah sampai sutradara dan hal-hal khusus lainnya sehingga sungguh-sungguh menguras tenaga, pikiran, dan waktu serta suasana hati. Mengucap syukur bahwa kami masih bisa menikmati tidur malam. Bahkan berharap kalau bisa yang namanya malam itu panjang jamnya 20 jam saja. Jangan cepat-cepat pagi! He…he…he…he…mimpi kali yeeee. Tapi memang benar, kami pun kembali jumpalitan bekerja keras mencari calon-calon donatur. Dengan SMS maupun dengan telepon langsung. Dari pagi sampai malam. Pokoknya siapa yang diingat dan rasanya dia sebagai orang mampu, kami hubungi. Beberapa kali kami harus isi ulang pulsa. Dan beberapa kali kami mendapat jawaban yang kami anggap jujur….”maaf, lagi kosong dana, lagi dalam kesulitan juga nih…” Ucaplah syukur…ucaplah syukur….itulah yang ada di hati kami. Dan kami pun malah balik mendoakan mereka.

           Akhirnya di tengah kelelahan yang luar biasa. Hati kami sudah terasa “lunglai” juga, maka tiba-tiba ada seorang ibu pendeta mengirimkan SMS pada kami dengan pesan: kirimkan proposalnya! Hahhhhhhh????? Tentu saja kami kembali jungkirbalik mempersiapkan hal itu. Karena memang dari sejak awal kami tidak ada rencana membuat proposal, sebab sudah ada donatur yang jauh-jauh hari secara lisan mau mendukung kegiatan tersebut. Ya! Akhirnya, tengah malam itu segala sesuatunya beres. Dan esok hari kami berencana menyerahkan proposal itu ke ibu pendeta yang telah merespon permintaan bantuan kami. Waoooow……untuk bisa menyampaikan  proposal itu pun penuh dengan jalan berliku. Maklum beliau pendeta jadi sangat sibuk melayani ke sana ke mari. Sampai-sampai dia meminta kami datang saja ke kantornya, temui sekretarisnya, dan keesokan pagi dia baru bisa membacanya. Hahhhh??? Tahukah Anda bahwa “keesokan pagi” itu adalah batas hari bagi kami harus menyerahkan uang sisa ke pihak PH. Bagaimana ini? Kepada Tuhan saja kami mengadu dan berseru!!!      

           Dan ternyata benarlah apa yang Tuhan  kehendaki bagi kami. Keesokan pagi, kira-kira jam 10-an saya menelpon ibu pendeta donatur itu, yang kami harapkan mau meminjamkan dana yang kami perlukan. Apa katanya? (Di telepon dia sebut nama saya…terus berkata…)….”baik, dananya ada tapi tidak bisa sekarang ya karena proposal baru saya baca tadi pagi (Jumat pagi), jadi hari Senin saja datang ke kantor itu pun siang hari, karena semua ini ‘kan ada administrasinya.”

           Saya stop kisah kesaksian nyata di atas. Saya tidak lanjutkan bagaimana paniknya kami dan bagaimana harus menghadapi orang PH untuk menjelaskan semua penundaan itu. Tapi satu hal…kami merenungkan: ada maksud Tuhan di balik semua kejadian ini!!! Dan kami mengucap syukur pada-Nya!!! 

           Begitulah, para pembaca tulisan ini mungkin pernah mengalami hal yang lebih “seru” dibanding hal di atas. Sikap dalam menghadapi situasi tersebut tentu saja akan berbeda-beda. Dan tidak salah bukan, bila kita bertanya: mengapa Tuhan ijinkan itu terjadi? Untuk menguji iman, motivasi, kasih kita pada-Nya-kah? Hm…hm…hm…pada waktu membuat tulisan ini saya menerima SMS yang berisi ayat Firman Tuhan untuk diteruskan  kepada orang-orang yang saya kenal. Dan ternyata setelah saya baca, saya tambah dikuatkan untuk terus berjalan di dalam tuntunan Tuhan.

           (2 Tawarikh 11:16) Dari segenap suku Israel orang datang ke Yerusalem mengikuti orang-orang Lewi itu, yakni orang yang telah membulatkan hatinya untuk mencari TUHAN Allah Israel; dan mereka datang untuk mempersembahkan korban kepada TUHAN, Allah nenek moyang mereka.

           (2 Tawarikh 16:9a) Karena mata TUHAN menjelajah seluruh bumi untuk melimpahkan kekuatan-Nya kepada mereka yang bersungguh hati terhadap Dia.

           Ya! Tuhan memberi kekuatan bagi umat-Nya yang bersungguh-sungguh hati mencari Tuhan dan bersungguh-sungguh hati terhadap Dia. Saya dan teman-teman sepelayanan, meng-amin-kan hal ini. Terutama untuk menghadapi berbagai persoalan yang akan muncul dalam tugas-tugas pelayanan kami kelak. Bagaimana dengan Anda?

Jakarta, 5 Februari 2005

 

Tema Adiputra

Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."