Aaaahhhh……benar!! Jangan andalkan manusia!!

Penilaian Pengunjung: / 0
TerjelekTerbaik 
Jam setengah dua siang saya hubungi ibu muda beranak dua itu---yang adalah salah seorang anggota tim pelayanan persekutuan kami---untuk bersiap di rumahnya karena sebentar lagi saya akan menjemputnya dengan taxi. Saya katakan padanya : mari kita berjalan dengan iman saja! Dan dia pun mendukung situasi itu. Maka ketika kami sudah berada di dalam taxi menuju suatu tempat, suasana di dalam taxi penuh keheningan. Penuh doa dalam batin. Sesekali saja kami berbicara. Malah sempat terlontar ucapan saya: kalau memang harus sampai jam 8 malam, saya jabanin, nih! (jabanin=hadapi=ladeni). Saya juga heran koq saya mengeluarkan ucapan seperti itu. Tak tahulah mengapa.

           Kami menuju ke arah jembatan Semanggi. Ke sebuah gedung perkantoran. Kami putuskan untuk berjalan dengan iman, karena sebelumnya beberapa kali saya hubungi pimpinan perusahaan itu dengan telepon, tidak juga ada respon. Sementara batas waktu untuk jam kantor sudah semakin dekat. Dan bagaimana nanti kalau ada urusan administrasi yang bertele-tele? Bisa runyam semua, bisa gagal semua, bisa tertunda semua. Dan bisa-bisa kami kembali dengan tangan hampa tidak jadi mendapatkan uang pinjaman yang sangat kami butuhkan karena situasi emergensi. Mengapa emergensi? Bila Anda membaca tulisan kesaksian sebelum ini, di kolom ini, tentang donatur yang ingkar janji, maka akan jelas semua. Jadi, siang menjelang sore itu kami mengejar Ibu pendeta yang punya perusahaan tersebut, yang telah berjanji memberi pinjaman uang. Kami datang karena sesuai dengan hari yang dijanjikannya untuk mencairkan uang itu.

           Di lantai satu gedung dengan harap-harap cemas kami naik ke lantai 4. Selintas terbayang bahwa nanti kami akan membawa setumpukan uang. Dan pada malam harinya kami akan begadang di studio PH untuk melakukan editing terakhir dan akhirnya bereslah semua……hm…hm…hm…indahnya. Kami pun menemui resepsionis. Kami utarakan maksud kedatangan kami. Dan dengan mata penuh selidik dan ketidaktahuan, sang wanita resepsionis itu mengatakan bahwa Ibu (pimpinan) jarang-jarang datang ke kantor ini. Sekretarisnya ada? Oh…sekretarisnya sedang tugas luar. Adakah titipan untuk kami dari Ibu? Wah….nggak ada, tuh! Bisakah…bisakah…Ibu dihubungi, bisakah sekretarisnya dihubungi untuk memberitahukan bahwa kami telah tiba di sini untuk mengambil sesuatu yang dijanjikan Ibu? (Resepsionis itu mencoba menelepon dan ternyata semuanya gagal). Dan, saya bersama ibu muda teman sepelayanan itu terdiam sejenak, terduduk dengan lesu di bangku ruang resepsionis itu. Tak berapa lama kemudian, saya keluar dari ruang tersebut, menuju koridor, dan berusaha menghubungi Ibu donatur itu dengan HP. Tidak ada respon! Bahkan ketika dari pintu lift keluarlah sang sekretaris yang baru tugas luar, dia pun hanya geleng-geleng kepala karena tidak ada pesan dari Ibu untuk kami. Bahkan sang sekretaris itu mengatakan jumlah dana yang kalau diturunkan pun nanti hanya sepertiganya, lho? Haaaaaahhhh?? Koq?? Kalut saya pada waktu itu. Dia pun tak bisa mengusahakan, karena boss-nya itu sedang rapat di tempat lain, dan sedang sedikit sakit pula, dan banyak acara kotbah jua. Dia menawarkan untuk datang ke sebuah tempat nanti jam 7 malam, karena Ibu pendeta itu akan hadir dalam kebaktian keluarga di situ. Saya hanya mengangguk, dan dengan gugup dan lemas mencatat alamat tempat tersebut. Termasuk nomor HP sang sekretaris itu.

           Kembali saya ke ruang resepsionis itu melaporkan ke ibu rekan sepelayanan saya. Lalu kami pamit. Tapi tidak langsung masuk lift. Di koridor itu, kira-kira 5 meter dari ruang resepsionis tadi, kami duduk dan diam sejenak, berdoa dalam hati. Lalu saya berusaha lagi untuk menghubungi Ibu pendeta donatur itu. Gagal lagi. Bahkan saya sempat berkata : kalau begitu saya akan hubungi seorang Ibu lain lagi, dengan spekulasi yang tinggi, dan dengan menahan rasa malu yang besar. Pada waktu itu saya membatin kepada Tuhan: kalau memang harus begini akhirnya Tuhan, maka terjadilah apa yang perlu terjadi. Kalau memang hasil shooting itu harus dihancurkan akibat kemarahan orang-orang studio PH, maka kami siap menanggungnya. Yang penting Engkau telah tahu bahwa semua karya itu kami buat untuk memuliakan Engkau dan mengabarkan Kabar Baik. Namun……belum sempat saya menghubungi Ibu lain itu, tiba-tiba ada bunyi SMS di HP saya. Tapi tidak ada tulisan pesan! Yang menghubungi adalah Ibu pendeta donatur itu. Saya merenung sejenak. Dan akhirnya mengerti. Dia minta dihubungi-balik! Dan……tersambungkan. Dan akhirnya saya disuruh datang ke tempat dia menghadiri kebaktian malam ini, sebelum jam 7 malam. Di sana dia nanti akan memberikan dana pinjaman itu.

           Bagi kami menunggu dari jam 4 sore sampai jam 7 malam tidaklah  terasa berat lagi. Sekalipun harus menunggu di warung makan, lanjut menunggu di teras rumahnya, di sebuah perumahan elite di Jakarta Selatan. Hati telah tenang. Dan memang Tuhan tolong kami. Jam 7 lewat sedikit Ibu pendeta donatur itu turun dari mobilnya, dia masuk ke rumah sejenak, dan keluar menemui kami di teras rumah, dan akhirnya dia berikan selembar cek untuk kami cairkan besok siang. Puji Tuhan! Saya mengajak Ibu itu berdoa. Dengan suara haru-bergetar saya ungkapkan doa ucapan syukur kami. Ibu pendeta donatur itu tersenyum dan menyalami kami. Kami lalu pamit. Dan akhirnya tiba kembali di sekretariat pada jam 8 malam! (Persis seperti ucapan yang saya lontarkan di dalam taxi tadi!).

           Dan saya mendapat “pelajaran rohani” yang sangat berharga. Jangan andalkan manusia! Jangan menaruh harapan pada manusia tapi taruhlah harapan sepenuh-penuhnya kepada Tuhan. Di ruang resepsionis tadi, kami sangat mengharapkan bantuan sang resepsionis maupun sekretaris itu. Terasa bahwa mereka adalah “dewa penolong” yang dapat mengeluarkan kami dari situasi sulit pada waktu itu. Sehingga pikiran kami fokus pada mereka. Tapi apa nyana? Nomor HP sang sekretaris pun terhapus dari HP saya tanpa saya tahu apa penyebabnya. Hal-hal yang diinformasikan oleh mereka pun adalah hal-hal yang membikin kami hampir putus asa. Karena kami fokus pada manusia. Ya! Namun pada saat berada di titik ke-menyerah-an kami,  yang terjadi biarlah kehendak Tuhan saja, maka Ibu pendeta donatur itu menghubungi saya dengan SMS. Saya meng-imani, Tuhan-lah yang menggerakkannya, tepat pada waktunya!!

            Ya! Tidak bosan-bosan saya mengingat Firman Tuhan ini ”Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada Tuhan!” (Yeremia 17:7).

            Nah…bagaimana Anda selama ini memahami dan mengalami hidup yang berharap penuh pada Tuhan?

 

Jakarta, 20 Februari 2005

      Tema  Adiputra

Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."