• PDF

Siapa bilang memaafkan itu mudah?

Penilaian Pengunjung: / 0
TerjelekTerbaik 
  • Senin, 01 Juni 2009 17:18
  • Ditulis oleh Tema Adiputra
  • Sudah dibaca: 2018 kali
“Aduhh…aduh….duh….maaf deh…nggak sengaja, koq. Duhhh….maaf deh, ya?”—nah berapa kali Anda pernah mengucapkan kata-kata seperti di atas selama ini? Hm…hm…saya sangat yakin hal itu sudah berlangsung ribuan kali, kan? Mengapa bisa sebanyak itu ? Yahhh….taruhlah usia Anda sekarang 30-an tahun, maka bila kata-kata permohonan maaf tersebut telah menjadi hal yang biasa apalagi menjadi hal yang sekadar “basa-basi” tentu dia akan otomatis keluar setiap saat!

Namun sebaliknya, bila itu bukanlah sekadar “basa-basi” maka dia akan menjadi suatu momok yang luar biasa menancap di sanubari. Diperlukan perjuangan tersendiri untuk mampu mengungkapkannya dengan baik dan benar serta tulus yang dibarengi penghancuran egosentris. Baik dari si peminta maaf maupun dari si pemberi maaf. Waow…luar biasa! Ya! Saya pernah mengalami ini di masa SD sampai SMP. Bayangkan…di tempat saya tinggal, di sebuah daerah yang para tetangganya masih memiliki rumah-rumah tembok sederhana, bahkan ada yang separuh gedek, berdirilah rumah abang tertua saya yang telah berkeluarga, dengan megah sebagai rumah “gedong” besar. (Rumah gedong istilah Betawi untuk rumah besar dari tembok semua, dan megah). Jadi kami berada di lingkungan seperti itu. Masih banyak kebun-kebun dan tanah kosong dekat rumah kami. Dari lingkungan sebelumnya di Kebayoran Baru Jakarta, berpindah ke sebuah kelurahan yang agak jauh dari jalan raya. Di situlah saya memiliki teman-teman baru. Pergaulan saya yang masih anak-anak/remaja pada waktu itu mula-mula baik-baik saja. Namun lama-kelamaan satu persatu teman-teman saya itu menjadi  “musuh” yang kala itu disebut situasinya sebagai “marahan”. Saya marahan atau teman saya itu marahan sehingga kami jadi bermusuhan dan tidak bertegur sapa. Ya! Bukan hanya di tempat saya tinggal, bahkan dengan teman-teman di sekolah pun terjadi suasana marahan itu. Sampai akhirnya saya sadar, di tempat tinggal itu tidak ada lagi teman saya, semua telah menjadi “musuh” saya, entah karena dia yang tersinggung atau saya yang duluan tersinggung. Wah….luar biasa, dengan situasi seperti itu saya pun serba salah. Lebih banyak bermain di rumah saja. Dan dengan gengsi tinggi tidak mau berdamai. Sehingga diperlukan waktu yang relatif lama untuk berdamai dengan teman-teman itu. Dan akhirnya saya merasakan tuntas semua, terjadi perdamaian, pada saat di SMA tahun akhir.

Ya! Waktu telah menuntun kehidupan saya ke arah yang lebih baik. Sehingga kalau melihat dari kacamata sekarang, maka salah satu kelemahan saya adalah “kekerasan hati” dan sangat perasa. Hm…hm…mungkin ini yang disebut sebagai orang yang berjiwa seni, dan memang selama kuliah dulu saya mendapat julukan “seniman”. Oleh karena itu saya sangat bergumul dan berjuang untuk mampu mengoreksi diri dan sedikit mengalah demi kebaikan bersama. Namun karena mungkin ini sebagai sifat dasar dari “sono” maka sempat pula situasi “marahan” pun pernah terjadi dengan teman sekerja di stasion radio tempat saya bekerja. Dan celakanya dia pun seorang yang berjiwa seni!

Saya, perlahan tapi pasti mulai berbenah diri. Taburan kerohanian kristiani mulai banyak membawa saya berobah ke arah yang lebih sabar. Dan ternyata ini membawa rasa bahagia di hati. Seperti ada yang menjadi ringan. Raut wajah tidak lagi “mengkerut”, dan tidak perlu dalam suasana waspada penuh pengawasan kalau-kalau ada “musuh” di dekat saya. Hidup seperti lancar saja, tidak ada yang menyandung di depan. Hm……saya melihat betapa banyak manfaat bila semakin memiliki banyak teman/sahabat. Seperti yang pernah dikatakan oleh seorang Ibu kepala sekolah SMA yang juga sahabat saya, “seorang musuh terlalu banyak, tetapi seribu sahabat masih terlalu sedikit”. Wahhhh……benar, kan?

Namun, betapa kaget saya belum lama ini. Ketika berlibur ke rumah salah seorang saudara kandung saya di luar Jakarta, dia dengan sangat terbuka mengungkapkan betapa dia masih sakit hati kepada beberapa saudara sekandung ( abang-abang saya lainnya). Dan makin bertambah kaget lagi saya ketika ada kesempatan berbincang dari hati ke hati dengan Mama saya yang sudah tua, terungkap pula bahwa saudara kandung saya itu pun masih menaruh sakit hati ke Mama. Wah…wah…benar-benar kaget saya, ternyata akar pahit itu telah terjadi dan tersimpan selama bertahun-tahun! Dan saya berkesimpulan—dalam perbincangan dengannya di suatu malam---saudara sekandung saya ini masih belum mau menetralisir dan memaafkan serta melupakan semua hal yang pernah menyakiti hatinya itu. Tentu ke-sakithati-annya itu sesuai dengan ukuran subyektifitasnya. Bahkan dia yang menuntut terus untuk semuanya meminta maaf kepadanya, dan bila ada kesempatan akan membalas dendam. Sekalipun saudara-saudara kandung saya itu sudah berbuat baik padanya. Luar biasa kekagetan saya perihal ini! Dorongan halus saya pada waktu itu agar dia memaafkan saja demi mendatangkan damai sejahtera di hatinya, tidak mendapat respon positif. Sehingga ketika saya kembali ke Jakarta, ini menjadi beban pikiran saya, dan beban doa saya.  Ternyata saudara sekandung saya ini, yang telah memiliki beberapa anak yang telah dewasa, juga seperti saya dulu di masa SD-SMP itu. Pemarah dan pendendam!

Maka, setelah berdoa di tengah kegelisahan hati, beberapa waktu kemudian saya beranikan diri mengirimkan SMS kepadanya. Dengan merangkai kata-kata sesopan mungkin, saya dorong abang saya yang satu ini untuk mau memaafkan saja dan melupakan semua hal yang pernah menyakitkan hatinya itu. Tahukah Anda bagaimana hasilnya? Sampai sekarang saya tidak pernah mendapat respon dari SMS itu. Mungkin pula saya telah menjadi koleksi baru baginya di arena “marahan” yang dimilikinya selama ini.He…he…he…he…namun saya tidak putus asa, dari Jakarta saya tetap mendoakannya. Dan saya berharap salah satu Firman Tuhan yang saya kirim kepadanya di SMS itu, biarlah dapat menyentuh hatinya yang terdalam : (Markus 11:24-25)  “Karena itu Aku berkata kepadamu: apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu. Dan jika kamu berdiri untuk berdoa, ampunilah dahulu sekiranya ada barang sesuatu dalam hatimu terhadap seseorang, supaya juga Bapamu yang di sorga mengampuni kesalahan-kesalahanmu."

Nah, bagaimana dengan Anda? Apakah Anda termasuk yang sulit memaafkan orang yang telah menyakiti hati Anda?

Jakarta, 12 Januari 2006

 

    Tema Adiputra
Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
adhien   |222.124.3.xxx |03-06-2010 20:32:33

halo,,nm Q adhien, aq mnta saran ne, aq pnya cewek,,aq sayang bgt sm
dia..
tpi knpa ya, dia mmsh bisa nyelingkuhin aq smpe 2x,,kebayang
gk sich?? gmna lw itu menimpa diri anda?? memaafkan   , marah
, kecewa, itu dah psti donk!!
awal dia selingkuh sich, msh bisa
aq maafkn,dengan sarat dia gk akn mengulaginya lgi.(sarat yg wajar
donk?)..
tpi knpa dia msh bisa nyelingkuhin aq lagi,,,tupai aza gk
akan jatuh ke 2x di tmpat yang sama. tpi knpa aq msh bisa di
selingkuhin oleh cewek yang sama??
waktu itu, aq serasa jd seorg
pecundang,,yg hanya terdiam,tnpa membuat suatu
keputusan apapun..
jujur, aq kecewa,sakit hati dan gk nygka, dia bisa
se tega itu sama aq..
jujur: aq msh sayang bgt sama dia, tpi aq jga gk mau
trs2san di bihongin, dan seperti laki2 yg gk pnya harga diri.. sulit
bgt rasanya untk memaafkan!!
sekarang aq harus gmna ...
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."