• PDF

Penyampaian Kabar Baik lewat Radio

Penilaian Pengunjung: / 1
TerjelekTerbaik 
  • Senin, 01 Juni 2009 17:19
  • Ditulis oleh Tema Adiputra
  • Sudah dibaca: 2269 kali

       Berkomunikasi untuk zaman sekarang sudah seperti tarikan napas per detiknya. Berkomunikasi dengan sanak keluarga, dengan relasi bisnis, relasi pelayanan dan sebagainya adalah bagian dari kehidupan saat ini yang tidak dapat ditolak. Frekuensi yang dilakukan untuk berkomunikasi tidak kepalang tanggung jumlahnya. Rasanya bila tidak berkomunikasi seharian dengan seseorang, hidup tampak tidak lebih hidup.

 

       Menurut Dr. Phil. Astrid S. Susanto, lebih kurang 90% kegiatan manusia dilakukan dengan berkomunikasi. Hal ini memperkuat keadaan yang kita alami saat ini dengan adanya berbagai peralatan canggih untuk berkomunikasi. Seperti halnya, secara sederhana, ada seorang tukang bakso di kawasan Jakarta Utara sudah sekian tahun, tanpa rasa rendah diri memakai handphone sebagai alat komunikasinya dengan para pelanggan. Sehingga dengan demikian akan mempercepat tibanya pesanan bakso tersebut di kawasan dia berdagang yang merupakan kawasan bisnis / perkantoran.

        Namun, memang keampuhan berkomunikasi ini tidak selamanya dapat dipahami seseorang. Mengapa? Karena, hal berkomunikasi ini sudah merupakan bagian dari hidup sehari-hari, sehingga tampak bergulir begitu saja dan tidak sempat lagi direnungi lebih dalam. Khususnya untuk refleksi pada diri sendiri maupun untuk kegunaan bagi masyarakat banyak. Sebab  berkomunikasi itu seperti kita menghirup oksigen dengan gratis tanpa pernah menyadarinya. Dan barulah tersadar bila tiba-tiba terasa pengapnya udara di suatu tempat, terasa hampa udara di lorong-lorong tertentu.

         Dengan memahami akibat fatal yang dapat ditimbulkan oleh aktifitas berkomunikasi ini maka itu berarti ada juga akibat yang tidak fatal dan bahkan sangat menguntungkan setiap orang. Khususnya kita sebagai umat Tuhan yang memiliki tugas dan tanggung jawab untuk mengabarkan / mengkomunikasikan Kabar Baik.

          Kita tahu bahwa acapkali kegagalan hidup dalam bentuk tidak berhasil mencapai cita-cita, tidak tepat mengerjakan tugas yang diberikan, tidak terdapat kesepakatan untuk berdamai, tidak memuaskan hasil yang diperoleh bersama tim kerja, semua tidak lepas dari apa yang disebut dengan miscommunication (salah komunikasi) maupun communication gap (jurang komunikasi). Dengan adanya gambaran seperti ini maka ternyata membuka peluang untuk dapat dimasuki dan dirasuki oleh hal-hal yang baik dan benar. Artinya, peluang yang ada dari persoalan ini akan menjadi sesuatu yang berhasil-guna.   

            Namun, tentu terlebih dulu diperlukan kesadaran terhadap pengalaman hidup dan sudut pandang perihal mengapa seseorang pada akhirnya memiliki kepandaian dan keterampilan? Yakinkah kita bahwa sentuhan komunikasi antarpersonal telah berperan sangat hebat dalam menggiring seseorang untuk dapat memiliki kepandaian dan keterampilan dalam hidupnya? Bahwa seseorang, sejak kecilnya, telah melihat dan mendengar dan mencoba sendiri, dengan dibimbing oleh orang yang lebih dewasa dan berpengalaman semua itu tidak lepas dengan cara berkomunikasi?

            Judul tulisan ini jelas arahnya. Oleh sebab itu sebagai salah satu kegiatan komunikasi pada umumnya yang begitu dekat dengan kehidupan kita sehari-hari maka penulis mengarahkan pembahasan lebih jauh ke pada hal-hal yang berkaitan dengan media massa, khususnya radio siaran. Moeryanto Ginting Munthe menuliskan dalam bukunya Media Komunikasi Radio: ”Radio merupakan salah satu alat komunikasi massa. Semua media massa umumnya mempunyai fungsi yang sama. Sebagai alat memberikan informasi (fungsi informatif), artinya melalui isinya seseorang dapat mengetahui, memahami sesuatu. Sebagai alat yang mendidik (fungsi edukatif), artinya isinya dapat meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan moral seseorang. Sebagai alat menghibur (fungsi entertainment), yakni melalui isinya seseorang dapat terhibur, menyenangkan hatinya, memenuhi hobbinya, mengisi waktu luangnya.”

            Bukankah hal di atas sangat bermanfaat dalam mengabarkan Kabar Baik? Tentu ada tahapan yang mau tidak mau harus dilalui bila kita hendak menyampaikan pesan.Bila kita hendak menyampaikan warta / kabar. Sisi informasi adalah tahap awal yang dapat dipakai untuk memasuki dan merasuki hati seorang pendengar radio (siaran). Dalam sajian kalimat yang sederhana dan memancing keingintahuan yang lebih dalam maka apa, siapa,di mana, bagaimana, dan mengapa ada Kabar Baik itu akan terdengar lebih ringan terlebih bila dipadukan dengan hal-hal yang menghibur seperti adanya lagu-lagu pujian yang diperdengarkan. Dan tentu saja bila pancingan pertama ini berhasil maka waktu-waktu selanjutnya adalah sisi edukasinya yang disajikan.

              Onong U Effendy mengungkapkan bahwa radio memiliki keunggulan sebagai berikut:

1.Harga (pesawatnya) relatif murah.

2.Mudah dibawa ke mana-mana.

3.Menguasai ruang dan jangkauan yang luas.

4.Bahasa(nya) yang komunikatif.

5.Bisa dipahami oleh khalayak yang buta huruf.

 

Sedangkan kelemahan dari radio (siaran) adalah:

1.Tidak menguasai waktu.

2.Dipengaruhi oleh cuaca.

3.Khalayak (pendengar) cenderung imajinatif.

4.Sedikit umpan balik dari khalayak.

5.Bergantung daya serap khalayak.

            Dari uraian di atas maka tentu saja keunggulan dari media elektronik ini menjadi pilar utama untuk digunakan dalam pewartaan Kabar Baik. Bukan hanya ditujukan pada masyarakat pendengar di perkotaan dan di megapolitan namun juga sangat tepat ditujukan untuk pelayanan bagi masyarakat di pelosok-pelosok daerah. Perlu diakui, untuk masyarakat perkotaan dan megapolitan kejenuhan sekulerisme dengan ditindih berbagai krisis multikompleks yang terjadi saat ini membuat masyarakat di area tersebut mencari dan merindukan sesuatu sebagai penyeimbang yang tidak lain dan tidak bukan adalah sesuatu yang bernuansa spiritual. Yaitu Kabar Baik dan Kabar Keselamatan. Terobosan yang dilakukan oleh (gelombang) radio siaran ke tembok-tembok rumah mereka dan juga ke tembok-tembok hati mereka yang terdalam tidak dapat dicegah lagi.Termasuk juga bagi setiap hati masyarakat pendengar di pelosok-pelosok daerah yang memiliki kerinduan yang sama.

            Di dalam kitab Yesaya 52:7 ada tertulis…”Betapa indahnya kelihatan dari puncak bukit-bukit kedatangan pembawa berita, yang mengabarkan berita damai, dan memberitakan kabar baik, yang mengabarkan berita selamat dan berkata kepada Sion: Allahmu itu Raja!”…Ya!Inilah salah satu penjelas betapa indahnya bila Kabar Baik itu disampaikan kepada mereka yang memang sudah menanti-nantikannya. Bukan hanya sekadar menantikan, tapi juga dirindukan karena adanya lobang dalam jiwa serta  sumber air hidup yang tidak mengalir lagi sehingga menimbulkan kehausan yang sangat. Kalau pada zamannya kedatangan sumber berita itu dilihat dari puncak-puncak bukit, maka kita pun mengertilah bahwa yang dimaksud dalam konteks saat ini dapat dianalogikan pada pemancaran siaran Kabar Baik melalui stasion radio. Kapasitasnya tentu siaran program acara rohani.

            Telah banyak terbukti dampak siaran rohani yang mengobah total hidup seseorang. Bahkan dari yang sangat kelam menjadi orang yang bercahaya juga adalah bagian yang dikerjakan oleh bidang penyiaran ini. Tidak sedikit yang pada mulanya hanya secara kebetulan menyetel sebuah gelombang siaran rohani, dan lalu terkejut sejenak, kemudian tidak pernah lagi melepaskan gelombang itu di keseharian hidupnya. Berapa banyak tembok-tembok penjara telah ditembus gelombang siaran rohani ini? Tidak terhitung tentu, dan barulah akan ketahuan hasilnya bila “secara kebetulan” ada mantan narapidana yang telah hidup baru mau bersaksi pada khalayak secara terbuka.

            Beberapa stasion radio (stara) rohani kristiani di luar ibukota Jakarta sudah tidak gentar lagi dalam melakukan penyiaran Kabar Baik secara penuh (full gospel!). Motivasi dan sandarannya tidak muluk-muluk, yaitu kerinduan yang dalam terhadap Amanat Agung dan keyakinan iman yang tinggi terhadap kasih penyertaan dan perlindungan Tuhan. Anugerah yang telah didapat dengan cuma-cuma dari Bapa di Sorga dibagikan pula dengan cuma-cuma melalui sarana yang juga Tuhan telah percayakan kepada para pemilik stara yang tahu berterimakasih dan mengucap syukur.Dan bagaimana hasilnya? Yang sakit, disembuhkan. Yang susah, disegarkan. Yang hancur, dipulihkan. Yang tersesat, diselamatkan.Yang resah, didamai-sejahterakan. Dan yang miskin, diangkat. Semua terjadi karena ada hati yang ingin mengkomunikasikan Kabar Baik (para komunikator) dan ada hati yang rela dan tulus untuk mendengarkan dan menerima Kabar Baik (para komunikan).

            Tuhan Yesus semasa kehadiran-Nya di dunia, telah menunjukkan contoh keteladanan yang tiada banding! Setiap hari Dia berkomunikasi dengan Bapa Sorgawi. Juga berkomunikasi dengan para murid-Nya. Dan yang tidak kalah pentingnya, Dia pun tidak segan-segan berkomunikasi dengan para ahli Taurat dan orang Parisi dan bahkan sampai ke pada orang-orang yang dikucilkan dan dibuang masyarakat pada waktu itu. Untuk apa upaya komunikasi yang sedemikian gencar itu dilakukan-Nya? Apalagi kalau bukan menyampaikan Kabar Baik dan Berita Keselamatan. Dan kita ketahui bahwa Tuhan Yesus tidak hanya sekadar berkomunikasi, tapi Dia tahu siapa yang dihadapi-Nya (dia memahami audience-Nya). Dan Dia pun piawai memilih dan memilah kata-kata sesuai dengan konteks dan situasi kondisi pada waktu berkomunikasi. Inilah sebuah keteladanan dan kebijakan penuh hikmat yang hendak ditunjukkan-Nya pada kita dalam hal mengkomunikasikan Kabar Baik.

            Rasul Paulus sangat peka terhadap keteladanan Tuhan Yesus itu, hal ini dia ungkapkan di dalam I Korintus 9 : 20-22,…”Demikianlah bagi orang Yahudi aku menjadi seperti orang Yahudi, supaya aku memenangkan orang-orang Yahudi. Bagi orang-orang yang hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti……(dst.)” Inilah pendekatan komunikasi yang bijaksana yang dilakukan oleh Paulus. Dan hal seperti ini masih sangat relevan untuk digunakan oleh setiap kita,saat ini, yang mendapat tugas mengkomunikasikan Kabar Baik.

            Jadi, sekali lagi, mengapa menggunakan sarana (media) radio siaran? Karena memang sekaranglah waktunya. Media ini tidak dihalangi dimensi waktu dan ruang. Media ini, di balik beberapa kekurangannya, tetap saja mampu merembes dengan bebas ke seluruh khalayak di perkotaan maupun di pelosok-pelosok daerah. Media ini telah terbukti mampu dan ampuh mengkomunikasikan Kabar Baik sehingga banyak jiwa yang terselamatkan. Dan telah terbukti juga, siapa yang memiliki media maka dia memiliki “kekuatan”. Kekuatan yang tentu saja dengan bijaksana dipakai untuk kebaikan dan kesejahteraan dan keselamatan umat manusia. Semua itu memerlukan sarana dan para pekerja untuk mengkomunikasikannya!

 

Jakarta, 13 Februari 2006

 

        Tema Adiputra

 

( Catatan: Tulisan ini sudah pernah dimuat di majalah rohani Narwastu Pembaruan-Jakarta )
Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."