• PDF

Saya kaget melihat perilakunya!

Penilaian Pengunjung: / 0
TerjelekTerbaik 
  • Senin, 01 Juni 2009 17:19
  • Ditulis oleh Tema Adiputra
  • Sudah dibaca: 3409 kali
Saya acap kali berbincang dengan satpam (satuan pengamanan) ini manakala berkunjung rutin ke kantor stasion radio (stara) di luar Jakarta tersebut. Tubuhnya kecil-ramping, namun kelak saya tahu ternyata dia bertenaga kuat karena mampu memikul tas besar ditambah kopor saya dari halaman stasion kereta api sampai masuk ke gerbong! Ya! Latihan badani untuk para satpam yang diperolehnya di kepolisian secara periodik membuatnya untuk tidak boleh dianggap enteng. Bicaranya serius dan tegas, tapi kalau saya arah-arahkan ke humor maka meledaklah tawanya. Hm…hm…karena saya sekitar dua minggu sekali ke stara itu, maka tampak jelas di matanya rasa gembira ketika saya telah berkunjung kembali ke situ. Barangkali di hatinya berkata, telah datang teman yang bisa diajak berbincang soal apa saja! Mungkin….lho.

Dan memang demikianlah kenyataannya. Sekalipun “kelas” kami berbeda jauh, tapi kami bisa berbincang apa saja. Masalah ekonomi, politik, keamanan, keluarga sampai rumor di stara itu pun oke-oke saja! Dia banyak mendapat “ilmu” dari saya. Demikian juga saya pun jadi lebih dalam mengetahui dunia ke-satpam-an. Dari dialah saya tahu bahwa dia pun merangkap intel dengan tugas khusus dari kepolisian dekat kantor stara itu. Ada waktu-waktu khusus dia turun ke jalan dan melaporkan hasil pengamatannya ke komandan polisi setempat. Maka dengan posisi gandanya itu tentu saja dia sedikit banyak mendapat kemudahan bila ada urusan dengan kepolisian setempat. Dari berbagai ceritanya, saya menarik kesimpulan bahwa dia termasuk orang yang berani menantang siapapun, selama dia berada di pihak yang benar.

Stara yang saya kunjungi ini semua staf dan direksinya kristen. Karena memang stasion radio ini pun 95%  programnya adalah rohani-kristiani. Nah, dalam suasana itulah saya hadir di situ, dan dalam suasana itu pula pak satpam muda nan kecil ramping tapi kuat itu bekerja. Yang pada akhirnya menumbuhkan benih-benih persahabatan di antara kami. Sehingga tidak bisa terelakkan dia pun sesekali menuangkan uneg-unegnya perihal kantor stara itu. Termasuk saya juga sesekali beruneg-uneg ria kepadanya perihal yang sama. He…he…he…lucu juga ya, relasi ini!?

Suatu ketika ada kebijakan dari pimpinan stara itu, beberapa mantan karyawan bila hendak masuk ke studio di lantai atas haruslah terlebih dulu mengisi buku tamu yang ada di meja satpam di lantai bawah. Ini berkaitan telah terjadinya kehilangan beberapa barang, dan juga untuk menjaga suasana  etis di studio terutama bila ada narasumber. Nah, pak satpam muda itu bercerita suatu saat pada saya ternyata mantan-mantan karyawan itu merasa tersingggung bila diminta mengisi buku tamu. Maka jadilah dia serba salah, padahal instruksi itu tertulis dari pimpinan/pemilik stara tersebut. Dia sempat mengungkapkan, mantan-mantan karyawan itu ‘kan adalah orang-orang yang pelayanan di gereja! Koq, gitu…ya perilakunya?  Hahhhhhhh….? Kaget juga saya mendengar cerita itu, terlebih dia pun menambahkan bahwa ketika pimpinan/pemilik stara itu sempat berkonflik dengan seorang relasinya di dalam kantor, maka beberapa karyawan stara itu bergembira ria dan bahkan saling salaman karena begitu tidak sukanya dengan sang relasi pimpinan itu, yang sebenarnya banyak berjasa ke stara itu. Koq…aneh ya,  koq begitu?- tanyanya. Saya pun hanya tersenyum pahit. Sambil sedikit mencoba memberi penjelasan tentang ke-manusiawi-an seseorang.

Nah, yang agak berat yang sempat saya “tanamkan” padanya adalah perihal posisinya yang strategis itu. Strategis apa? Ya! Dia itu ‘kan duduk di dekat  pintu masuk, dan orang pertama yang menerima tamu. Saya katakan padanya, bila bapak ramah tapi juga tegas dan boleh sesekali fleksibel, sembari jangan lupa tersenyum pada tamu-tamu yang datang, dan juga menaruh perhatian penuh pada mereka, maka bapak telah memberi nilai plus pada stara itu. Citra stara telah terangkat! Para tamu, yang tidak tertutup kemungkinan adalah para pemasang iklan maupun calon pemasang iklan di stara itu akan merasa dilayani dengan baik dan ramah, maka bisa jadi mereka akan betah bermitra dengan stara ini! Panjang lebar saya diskusikan hal ini dengannya, dan dia sangat antusias dan sependapat untuk memposisikan diri seperti itu. Dia sadar betul bahwa tamu dan pemasang iklan adalah raja bila berkunjung ke sebuah stara. Diakuinya wawasannya terbuka pada persoalan yang “remeh-temeh” ini.

Suatu saat lagi, dia mengeluh akan gajinya yang sudah sangat minim. Dia pun minta pendapat saya, apakah sopan untuk maju bertemu pimpinan tertinggi dan mengajukan usul tambahan gaji. Ya! Memang secara rasional angka yang diperolehnya saat itu memang—menurut saya—sangat memprihatinkan. Sebagaimana biasa saya buka pula wawasannya, dan mendorongnya untuk berani maju menghadap pimpinan tentu dengan koridor-koridor yang ada. Saya katakan padanya, jangan lupa berdoa, dan saya pun akan mendukungnya dengan doa. Wahhhh…. betapa senang hati saya ketika beberapa hari kemudian dia mengatakan usulannya telah disetujui oleh boss!

He…he…he…tapi saya pun pernah iseng mengganggu sistem keamanan pada malam hari yang diterapkannya bersama rekan satpam lainnya. Saya ceritakan padanya suatu malam saya berhasil menyelip masuk ke studio melewati bangku-meja satpam tanpa dilihat oleh rekannya yang tengah tugas malam. Tentu saja saya tak terlihat, karena saya datang dari arah timur, sementara si rekannya itu tengah berdiri agak sedikit  menjauh dari pintu masuk dengan menghadap arah barat! Maka masuklah saya dengan merdeka. Dan beberapa jam kemudian betapa kaget rekannya itu karena melihat saya turun dari lantai atas hendak pulang. Lho….lho…lho…koq bapak sudah ada di dalam? Kapan datangnya? Tadi sore ‘kan sudah pulang?-tanyanya heran.  He…he…he…apa reaksi komandan satpam ini usai mendengar cerita saya? Dia kaget dan minta maaf.

Beberapa waktu kemudian ketika kerutinan saya berkunjung selama dua minggu sekali ke sana masih terus berlangsung, dia pun menceritakan telah memiliki warung makan bertenda nan murah meriah di pinggir jalan dekat kantor stara itu. Dia, istrinya dan adik iparnya mengelola usaha tambah-tambah penghasilan itu. Tentu saja seluruh karyawan kantor tersebut, dengan senang hati makan di situ sesekali. Termasuk saya ada beberapa kali ke situ. Nah…di sinilah saya mulai kaget terhadap sesuatu hal!  Pada siang itu saya tengah makan. Dan keadaan warung sedang sepi. Tiba-tiba datanglah dua orang ibu pengemis. Kedua pengemis itu pun mulai beraksi, dan saya langsung menduga tentu akan “diusir”-nya hanya dengan memberi uang recehan. Ternyata…ternyata…wahhhh….sang pengemis itu mendapat masing-masing nasi bungkus lengkap dengan lauk pauknya! Tidak tampak kekesalan di wajah suami-istri itu, bahkan dengan ramah mereka membalas ucapan terima kasih sang pengemis. Saya…sempat terbengong sekian detik. Karena selama ini bila saya makan di rumah-rumah makan yang ada di seberang warung ini, biasanya para pengemis itu baru saja berdiri di pintu masuk sudah dicegat oleh pemilik rumah makan dengan memberinya uang receh. Bahkan ada rumah makan yang menulis di kaca pintu masuknya “pengemis/pengamen dilarang masuk”.

Nah, surprais berikutnya tentang warung makan ini adalah, pak satpam muda ini berkonflik (bertengkar) dengan ipar-iparnya yang rumah kontrakannya sederetan. Yang kebetulan ipar-ipar itu memiliki saham sedikit di warung tenda tersebut. Ipar-iparnya minta agar warung tenda itu diserahkan saja kepada mereka, karena sudah tampak mendatangkan untung. Problema ini menjadi diskusi saya dengannya di kantor. Tentu saja saya memberi pendapat yang mengarah kepada kesabaran sembari tetap mempertahankan kebenaran. Namun, apa yang terjadi selanjutnya? Ketika dua minggu kemudian saya datang lagi ke stara itu, ternyata dia telah dengan rela menyerahkan warung tenda itu ke ipar-iparnya. Demi menghindari permusuhan dalam keluarga besar. Pak satpam muda ini menyerahkan sepenuhnya pada Tuhan yang Mahaadil. Dia lebih memilih kedamaian dan kesejahteraan rumah tangganya. Anak dan istrinya! Dan dengan tekun terus bekerja sebagai satpam di stara tersebut.  

Ya! Sampai sekarang saya tidak dapat melupakan dua hal di atas. Yakni cara dia “melayani” dua orang ibu pengemis itu. Dan bagaimana dia tidak terlalu mementingkan “harta duniawi” dalam bentuk warung tenda miliknya yang diperebutkan ipar-iparnya. Jujur saja, saya teringat perumpamaan Orang Samaria yang baik hati! Juga saya teringat pada seorang muda yang kaya yang diminta Yesus untuk menjual hartanya---tapi tidak rela---agar bisa  mengikut Dia.

Tapi, hal di atas baru kekagetan biasa saja! Yang mungkin jadi kekagetan luar biasa lagi adalah, hm…hm…hm…perlu  Anda ketahui, bahwa si bapak satpam muda itu---sahabat saya itu---adalah tidak seiman dengan saya! Dia adalah bani Ismail. Bahkan sampai sekarang pun!

Kita memang harus mau belajar dari orang lain tentang pernak-pernik kehidupan. Ada hal yang saya pelajari dari pak satpam muda itu. Dan saya rela mempelajarinya. Dan bukankah kepada semut pun kita perlu belajar? (Amsal 6:6-8) “Hai pemalas, pergilah kepada semut, perhatikanlah lakunya dan jadilah bijak: biarpun tidak ada pemimpinnya, pengaturnya atau penguasanya, ia menyediakan rotinya di musim panas, dan mengumpulkan makanannya pada waktu panen.”

Ya! Sangatlah bijak bila kita selalu mau belajar dari kehidupan ini.

 

Jakarta, 26 April 2006

     Tema  Adiputra

 

Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."