Memanfaatkan si penolong, mengapa tidak?

Penilaian Pengunjung: / 0
TerjelekTerbaik 
       Seorang staf Rektor sebuah sekolah tinggi teologi yang mengetahui saya pernah bekerja di sebuah stasion radio (stara), meminta beberapa informasi. Sebatas yang saya tahu saya berikan padanya. Rupanya, kampus dan yayasannya ingin sekali mendapatkan jam siaran tetap di stara itu. Mereka sudah hampir dua tahun mencari kesempatan tersebut. Dan ternyata Tuhan belum izinkan juga terwujud. Bahkan untuk mendapatkan kepastian permohonannya, respon yang didapat sangat minim. Sampai akhirnya saya bertemu lagi dengan staf itu yang meminta saya untuk bertemu Rektornya. Saya tidak keberatan, namun ada sesuatu yang mengganjal di hati saya ketika staf itu berkata, “Apakah bapak masih ada pengaruh di stara itu?” Hah….? Sesaat kening saya berkerut! Muka saya tegang! Apa-apaan ini? Timbul di pikiran saya, ohhhh…rupanya saya hendak dimanfaatkannya! Wah…ada sedikit rasa “panas” di hati saya ketika itu. Tapi karena itu adalah pertanyaan maka saya wajib menjawabnya. Saya katakan, “Wah…saya tidak tahu apakah saya masih punya pengaruh di stara itu. Karena saya selama ini---setelah tidak bekerja di situ---tidak pernah berusaha mempengaruhi mereka.” Mendengar ucapan saya itu, dia spontan tertawa, dan saya tidak tahu makna tawanya itu.

       Setelah melalui pergumulan khusus, akhirnya saya putuskan untuk datang bila nanti sang Rektor mengundang saya ke kampusnya untuk sharing tentang pelayanan radio rohani. Dan memang waktu jumpa itu pun tibalah. Siang itu saya bertemu sang Rektor. Kami berdua berdiskusi panjang-lebar. Saya banyak memberikan wawasan padanya, juga  mendorongnya untuk  tetap bersemangat dalam meraih cita-cita bersiaran itu. Sekaligus juga saya ungkapkan padanya sesuatu yang mengganjal di hati saya. Dengan kalimat yang sama persis terhadap stafnya, saya katakan kepada pimpinan sekolah tinggi teologi ini untuk tidak berpikir “pengaruh-mempengaruhi”. Dia agak terkejut. Tapi hati saya telah lega. Secara “halus” telah saya sampaikan pesan untuk tidak memanfaatkan saya. Biarkan kerelaan hati saja yang bergulir untuk membantu.

       Pertemuan dan pembicaraan itu akhirnya mengalir saja. Saya bersyukur, karena memang sebelum datang ke kampus itu, saya telah berdoa khusus. Di ruang sekretariat kampus, disaksikan oleh beberapa stafnya, saya menelepon pimpinan stara itu. Upaya menelepon sempat berhenti sejenak, karena pimpinan stara itu katanya tidak ada di tempat. Dan saya pun sudah hendak pamit dari situ. Namun saya seolah digerakkan lagi untuk mencoba menelepon. Dan tersambungkan! Sehingga akhirnya……akhirnya….sore itu juga saya bersama Rektor dapat bertemu langsung dengan pimpinan stara tersebut di kantornya. Dan puji Tuhan, permohonan sang Rektor untuk dapat bersiaran tetap di stara itu direspon dengan mendapatkan nomor urut satu di waiting list. He…he…he…saya perhatikan wajah sang Rektor, sudah berseri-seri penuh pengharapan. Dan ketika memasuki mobilnya saya katakan padanya, “Pak, terus doakan secara khusus agar air time itu Tuhan berikan.”  

       Terus terang saya baru kenal pimpinan sekolah tinggi teologi tersebut. Dan pembicaraan kami yang sedikit melebar terjadi lagi di dalam mobil usai saya menemaninya bertemu pimpinan stara pada sore itu. Terbersit dalam pembicaraan agar saya masih bisa membantunya. Dan secara diplomatis---secara naluriah pula---saya katakan padanya, ya…bisa diaturlah. Maka saya pun turunlah dari mobilnya setelah berada di dalam sekitar 15 menit. Karena tempat tinggal saya dekat saja dengan stara itu.

       Sekian waktu kemudian, saya diminta tolong oleh pimpinan stara itu via telepon, untuk memberitahukan ke sang Rektor bahwa lembaganya sudah mendapat “jam kosong” untuk dapat bersiaran. Wah…secepatnya saya informasikan hal itu dengan telepon ke sang Rektor. Dan selanjutnya…kami pun bertemu lagi di kampusnya. Dan…dan…entah mengapa pula secara naluriah, saya pun ungkapkan secara terus terang padanya, bila nanti saya akan membantu terus pelayanan mereka, ouw..jangan lupa persembahan kasihnya, lho. Waktu itu dia tersenyum saja, dan mengangguk saja. Dan….sejak itu sampai dengan saya menulis ini, kami sudah tidak pernah lagi berkomunikasi. Bahkan saya pun tidak tahu darinya kapan lembaganya mulai siaran untuk pertama kalinya. Justru saya tahu hal ini dari pimpinan stara itu. He…he…he…asyik  lha yaow…!

       Jangan salah mengerti, lho. Bukan bermaksud tidak mau menolong. Bukan pula bermaksud untuk “menggerogoti” rezeki alias berkat dari seseorang. Tapi, perjalanan waktu telah mengasah kepekaan saya (baca: naluri) bila berhadapan dengan seseorang terkait dengan hal-hal yang prinsip dan sensitif. Dari awal berkomunikasi, saya sudah dikagetkan dengan pernyataan :…apakah bapak masih ada pengaruh, di sana? Namun, tetap saja saya terdorong untuk menolong “membuka” jalan. Tetapi, ketika saya merasakan akan ada kerjasama/ikatan di waktu-waktu mendatang, spontan saya ungkapkan konsep:…ingat lho…tidak ada makan siang gratis, sekalipun itu adalah “pelayanan”. (Kata pelayanan di sini saya beri tanda kutip = “pelayanan” untuk mengungkapkan bahwa di situ ada sesuatu yang masih perlu diuji kemurniannya). Ya! Sampai sekarang atmosfir seperti ini masih sering mengganggu saya. Dan tentu saja tiada henti saya minta hikmat dari-Nya agar dapat memberi keputusan yang tepat, jawaban yang tepat.

       Hm…hm…bagaimana dengan pengalaman Anda? Saya berharap tulisan di atas tidak mengganggu niat Anda, para pembaca, untuk menolong siapa pun yang memerlukan pertolongan. Tetaplah murah hati, memberi pertolongan! Namun, saya boleh dong berharap, agar kita semua pun memiliki sensitifitas yang tinggi, agar pertolongan kita itu jangan disalahgunakan/dimanfaatkan/dieksploitasi oleh oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab yang mungkin saja kelak bertemu dengan kita.

       Biarlah selalu kita ingat hal berikut ini: (Matius 5:7) Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan.

 

Jakarta, 1 Juni 2006

  Tema Adiputra
Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."