Masih meragukan kuasa doa?

Penilaian Pengunjung: / 0
TerjelekTerbaik 
    Keponakan saya itu baru saja lulus SD negeri di Jakarta Pusat. Namun penantian apakah dia diterima di sekolah pilihannya (juga pilihan orang tuanya) telah membuat sang Ibu uring-uringan, terlebih lagi suaminya tidak sempat membantu langsung dalam urusan ini, karena kesibukannya di kantor. Maka jadilah, hari-hari yang dilalui si Ibu penuh dengan ketegangan. Sedangkan si anak tertua itu tampaknya sih “cuek bebek” saja, pasrah pada orang tuanya. Namun bukan berarti dia tidak siap dan tidak dipersiapkan untuk menghadapi tes umum guna menentukan lulus dan dapat diterima di SMP negeri tertentu. Ketika saya berkunjung ke rumah mereka (dan saya memang sering kali bertandang ke situ) saya melihat langsung bagaimana si Ibu mempersiapkan anaknya untuk bersiap menghadapi ujian masuk ke SMP negeri favorit. Bahkan terkadang saya kebagian pertanyaan tertentu untuk menjelaskan pengetahuan umum bagi si keponakan itu. Nah, dalam suasana berhari-hari seperti itulah, si Ibu meminta saya agar mendukung mereka dengan doa. Dan sebagaimana konsep serta gerakan hati saya, bila sudah mengiyakan, maka benar-benar saya doakan!

       Ternyata zaman sekarang ini, urusan melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi, waduh…njlimet! Saya teringat dulu….duluuuuuu…sewaktu saya lulus SD negeri dan melanjut ke SMP negeri favorit, ke SMA negeri favorit tidaklah serumit ini dan tidak setegang sekarang! Bahkan masih jelas terbayang di benak saya, saat dulu kuliah di kampus negeri di Jakarta, uang SPP-nya per semester hanya 60 ribu rupiah saja tanpa ada pungutan lain-lain! Mahasiswa bebas mengambil sks semaksimal mungkin! Tapi yah…itu nostalgia. Kini, faktor biaya pendidikan bila harus bersekolah di sekolah swasta, memang jadi momok tersendiri. Nah, si Ibu ini “kebetulan” adalah ketua komite sekolah, maka dia pun sibuk pula dipanggil-panggil pihak sekolah. Maka bertambah kliyengan-lah dia! Urusan mendampingi pihak sekolah ke kantor dinas pendidikan, urusan perpisahan anak-anak kelas 6, urusan rumah tangga, urusan uang, dan ketegangan apakah anaknya bisa lulus dan masuk ke SMP favorit. Semua menyatu dan meningkatkan hormon adrenalin!

       Malam itu, saya duduk lagi di ruang tamu rumahnya. Kami sibuk mendiskusikan persoalan dunia pendidikan Indonesia, yang memunculkan polemik Ujian Nasional tidak akan diulang tahun ini. Peduli amat dengan siswa yang tidak lulus karena tersandung pada hanya matematika, misalnya, sekalipun dia selalu jadi juara kelas! Pokoknya tidak lulus! Harus mengulang tahun depan---atau kalau mau ya…ikuti ujian Paket C……woaalaaahhh. Koq ya…jadi begini toh, situasinya? Hm…hm…hm…apa ini disebabkan Menteri Pendidikan Nasional kita adalah mantan Menteri Keuangan, ya? Yang semasa  kuliahnya dulu tidak mendapat mata kuliah pedagogik, psikologi pendidikan, metode pengajaran, dan lain-lain, ya? Namun justru malah sangat…sangat…sangat peduli pada angka nol-nol–nol-nol koma sekian-sekian-sekian,ya? He…he…he…nah, pada saat kami tengah asyik men-canda-i semua itu, tiba-tiba si Ibu tersebut kembali meminta saya untuk mendoakan secara khusus agar anaknya dapat diterima di SMP negeri pilihannya. Pengumumannya tinggal dua hari lagi. Ya! Saya berjanji, dan juga saya dorong mereka untuk lebih kuat lagi doanya. Maka…dua hari kemudian saya telepon ke rumah itu, anaknya yang menjawab : “Ya, Om…aku lulus diterima di SMP Negeri 1 Jakarta Pusat.” Lalu saya cek ke handphone Ibunya yang tengah berada di sekolah, jawabnya:Yes! Syukur pada Tuhan!

       Saya lanjutkan, ya? Tapi yang ini beda lokasi. Ya! Saya kedatangan teman penghuni baru di tempat saya kost, seorang pemuda. Wah…senang juga hati ini. Kamarnya bersebelahan persis dengan kamar saya. Namun, ada sedikit kejanggalan, tidak seperti biasanya penghuni baru yang memperkenalkan dirinya ke pada penghuni lama. Justru sayalah yang akhirnya memancingnya untuk memperkenalkan diri. Itu pun terjadi pada hari ke-3. Karena pertimbangan saya, nggak enaklah di hati…saya harus melewati kamarnya…bila akan keluar rumah kost. Jadi saya usahakan untuk berkenalan. Lagi pula, rumah kost ini sedang sepi penghuni. Bayangkan! Ada 13 kamar namun yang terisi baru 2 kamar. Saya dan dia. Jadi, sempat pula saya menghuni rumah kost besar itu, sendirian! Sedangkan pemilik rumah kost tersebut tinggal di rumahnya sejarak 200an meter. Teman-teman saya bingung koq saya betah dan tidak takut sendirian. He…he…he…saya selalu menjawab dengan njeplak saja. Karena, sekarang ini di mana pun kita tinggal, di Jakarta, tentulah ada beberapa pertimbangan. Paling tidak, tempat itu haruslah strategis. Dan mengenai “takut”, yah…saya selalu menjawab dengan sedikit tertawa (seolah-olah tidak serius, tapi sebenarnya sungguh sangat serius) bahwa saya sebenarnya tidak tinggal sendirian di situ. Saya berdua, koq! Hah? Dengan siapa?---tanya teman-teman itu merasa aneh dan curiga. Dengan Tuhan Yesus!---jawab saya, dan terdiamlah mereka.

       Pemuda berkulit sawo matang gelap itu hampir setiap hari dikunjungi pacarnya. Mereka asyik berbincang di kamar, dan asyik menelepon ke sana ke mari, ada bisnis rupanya. Hm…hm…tentu saja saya yang berada di sebelah kamarnya selalu dapat mendengar yang mereka ucapkan. Kecuali mereka  berbisik dengan sangat pelan. Ya! Dalam hati saya berkata, asyik juga nih pasangan, begitu kompak dalam berbisnis. Kalau nanti mereka berumah tangga, tentu bisa mantaplah perekonomian mereka. Yah…dugaan saya itu sedikit terjawab manakala suatu malam saya dan pemuda itu berkesempatan berbincang-bincang di ruang tamu. Kesempatan itu saya gunakan untuk sedikit menggali perihal siapa dia gerangan. Tentu dengan sebelumnya dengan jujur saya membuka apa dan siapa saya. Waow…saya kaget! Pria dari Medan ini ternyata sekarang sudah meninggalkan Kristus. Dia mengikuti iman sang kekasih yang berasal dari Ponorogo. Mereka sedang mengumpulkan uang untuk persiapan nikah. Dan pada bulan Oktober mendatang mereka akan pergi ke Medan meresmikan pernikahan. Nah…dalam perbincangan itu, sang pemuda juga bercerita, dia pernah menuntut ilmu hitam ke seorang ibu tua, di daerah terpencil di Pulau Nias sekian tahun silam. Dia juga berusaha untuk dapat diterima menjadi anggota kelompok preman terkenal dan berkuasa di Medan. Tapi sekarang dia datang ke Jakarta untuk meraih pekerjaan yang lebih baik. Wahhh…”terpesona” juga saya mendengar kisahnya itu. Sembari dia bercerita, sudah sekian batang rokok habis diisapnya, dan saya perhatikan di lengannya ada beberapa tato, simbol preman. Hm…hm…hm…malam itu menjelang tidur, saya berdoa khusus agar Tuhan melindungi saya senantiasa di rumah kost yang sepi itu. Dan Tuhan sungguh baik, beberapa hari kemudian, datanglah penghuni baru (seorang karyawati—yang juga sering dikunjungi pacarnya) yang menyewa salah satu kamar di bagian depan. Jadi kini kami bertiga yang kost di situ. Namun hari-hari berikutnya komunikasi saya dengan pemuda Medan itu hanya sebatas say hello saja. Dan dalam perjalanan waktu kemudian, saya tiba-tiba menjadi bingung karena handphone si pemuda itu selalu berdering baik itu subuh, pagi, siang, sore, malam, bahkan tengah malam! Dan si pemuda tersebut selalu meresponnya. Bahkan terkadang dia keluar rumah sebentar seusai menerima telepon dari seberang itu. Ada apa ya?

       Saya mulai tidak sejahtera dalam situasi seperti itu. Saya terus berdoa khusus pada Tuhan. Dan sekitar dua mingguan dari kehadiran si pemuda itu, saya mulai berhikmat, dan menganalisa setiap perbincangan yang dilakukannya via HP-nya. Perbincangannya selalu terdengar dari kamar saya, bahkan yang dilakukan secara berbisik tanggung pun dapat saya dengar. Dan akhirnya saya menarik kesimpulan, dia memiliki “sesuatu” bisnis yang dapat dipesan via HP, dan dia akan antarkan ke pemesan di suatu tempat, setiap saat dia siap mengantar pesanan itu. Wahhh….saya jadi cemas…bisnis apa gerangan itu? Karena dalam perbincangannya di telepon itu tidak secara jelas dia sebutkan jenis barang dagangannya! Saya mulai menduga-duga. Dan saya pun sharing dengan teman-teman pelayanan saya. Dan akhirnya saya pun memanjatkan doa khusus pada Tuhan: ”Ya, Tuhan…kalau si pemuda itu berbisnis narkoba, tolonglah saya agar terhindar dari hal-hal yang membahayakan. Dan tolonglah ya Tuhan, agar si pemuda itu ditangkap polisi, atau dia pindah dari tempat kost ini! Amin.”

       Memasuki bulan kedua, si pemuda itu---menurut cerita pemilik rumah kost---pulang ke Medan karena ada urusan keluarga sebentar. Dan kamarnya dihuni oleh temannya, seorang pemuda berkepala botak, kurus kering, tinggi postur tubuhnya. Dalam perkenalan singkat dengannya, si pemuda orang Ambon ini ternyata sering ke gereja. Wah…sedikit tenang hati saya. Namun, tetap saja suasananya adalah “tertutup”. Bahkan saya bertambah heran karena tamu-tamu si pemuda Medan dan si pemuda Ambon ini (tamunya anak-anak muda juga) sering langsung masuk kamar, lalu pintu ditutup, dan tak berapa lama keluar pulang. Terlebih pula saat kamar itu dihuni si pemuda kurus tersebut, deringan HP tidak kalah banyaknya datang, dan dia pun seusai menerima telepon tersebut keluar sebentar, dan tak berapa lama kembali lagi, begitu seterusnya. Ya! Makin kuatlah dugaan saya perihal bisnis mereka itu. Dan semakin kuat saya berseru pada Tuhan!

       Pada hari Kamis sebagaimana biasa, jam 6 pagi saya sudah keluar rumah untuk mengikuti Pemahaman Alkitab di daerah Senayan. Dan sekitar jam 10.00 pagi saya sudah kembali  ke tempat kost. Tidak ada perasaan apa-apa pada waktu itu. Saya tenang-tenang saja memasuki rumah. Di teras rumah saya melihat si pemuda Medan itu tengah sibuk bertelepon-ria. Dan memasuki rumah, di depan kamarnya saya berpapasan dengan si pemuda Ambon yang tengah memegang kantong sabun diterjen. Ya! Hari itu saya capek dan mengantuk karena kurang tidur. Maka saya pun langsung masuk kamar dan beristirahat. Saya tidak langsung bisa tidur. Masih sedikit tidur-tidur ayam. Dan sekian waktu kemudian saya dengar sayup-sayup ada yang mengetok pintu pagar rumah. Tapi sedikitpun saya tak berniat untuk membukanya. Toh, ada kedua pemuda itu, siapa tahu itu adalah tamunya. Tapi ternyata mereka pun tak membukanya. Ya! Di tengah tidur-tidur ayam saya itu selanjutnya terdengar si pemuda Medan tersebut mengajak si pemuda Ambon untuk keluar makan siang karena ada temannya yang akan mentrakir. Terdengar bahwa si pemuda Ambon itu enggan keluar, namun karena tidak enak hati maka dia pun akhirnya siap menemani. Maka keluarlah mereka. Mengunci pintu dan menuju halaman depan. Sementara saya tetap dalam kamar beristirahat. Saya masih sempat mendengar mereka membuka gembok pagar, dan sempat pula mendengar ada beberapa orang berteriak di jalan itu.

       Nah! Hanya dalam hitungan beberapa menit saja, tiba–tiba terjadi kegaduhan di rumah kost saya itu! Tiba-tiba ada suara pria-pria yang membentak-bentak dan memasuki kamar kedua pemuda itu. Terdengar pula suara pemuda Ambon itu panik karena dibentak-bentak dan ada suara orang yang dipukul, dan mempertanyakan mana barangnya!? Mana barangnya!? Dan sebagainya! Lalu tidak berapa lama suasana semakin tambah gaduh, dan penuh dengan bentakan-bentakan dari beberapa pria sembari memukul seseorang, dan ternyata orang yang dipukul itu adalah si pemuda Medan. Dan…dan…barulah saya tersadar di dalam kamar, bahwa kedua pemuda itu, telah ditangkap! Telah terjadi penggrebegan! Ya…Tuhan! Tiba-tiba saja rasa takut luar biasa menjalari hati saya! Jantung saya berdegup keras! Oh…Tuhan lindungi saya! Jangan sampai para reserse itu menendang pintu kamar saya dan menyeret-nyeret saya yang tidak terlibat ini! Tolong Tuhan….itulah doa saya di saat-saat menegangkan tersebut! Dan saya terus bertahan di dalam kamar, tidak mau keluar! Dan puji Tuhan, pada saat itu lampu kamar saya tidak saya nyalakan dari awal! Jadi, semua yang terjadi di sekitar kamar kedua pemuda itu saya dengar penuh. Dari bentakan, pemukulan, membongkar kamar, membuka lemari pakaian, mengeluarkan isinya semua terdengar jelas! Dan saya ketakutan di kamar! Dan terus berdoa agar Tuhan melindungi saya!

       Puji syukur pada Tuhan! Singkat cerita, sampai penggrebegan itu usai, saya tetap Tuhan lindungi di dalam kamar. Bahkan ketika sekian hari diadakan pemeriksaan ulang TKP maka yang diinterogasi adalah si pemilik rumah kost. Dan tidak secara kebetulan, saat itu saya selalu sedang berada di luar rumah. Tuhan benar-benar melindungi saya! Dan ini tentu juga karena dukungan doa khusus dari teman-teman pelayanan saya yang saya SMS beberapa menit setelah penggrebegan yang membikin saya sport jantung dan sedikit trauma beberapa hari. Tuhan sungguh baik. Namun yang pasti doa khusus saya telah Tuhan jawab! Bahkan Dia beri hikmat pada saya di saat-saat genting. Saya tidak bisa membayangkan apa yang akan menimpa saya, seandainya saya membuka pintu pagar pada saat saya mendengar ada orang yang mengetok-ngetok pintu pagar pada hari penggrebegan itu. Ternyata itu adalah pancingan dari para reserse itu agar pintu pagar terbuka, dan mereka dapat meringkus kedua pemuda itu. Dan saya juga tidak bisa membayangkan apa yang akan menimpa saya---yang tidak tahu apa-apa ini---bila seandainya saya keluar dari kamar saya pada saat para reserse itu tengah membawa kedua pemuda tersebut ke kamarnya untuk mencari barang bukti. Ya! Belakangan saya tahu dari cerita si pemilik rumah kost, bahwa terjadi pengejaran oleh reserse saat kedua pemuda yang  keluar dari pintu pagar rumah kost itu terkejut saat hendak ditangkap. Bahkan sempat dilakukan tembakan peringatan! Dan yang lebih mengerikan  lagi adalah, ternyata kedua pemuda  itu berstatus residivis. Si pemuda Medan itu adalah bandar narkoba---termasuk juga pacarnya yang sering datang ke tempat kost---dan si pemuda Ambon itu adalah pengedar! Woaaalahhhh….!! Bertahun-tahun saya telah kost  di rumah itu, baru kali ini si pemilik rumah kost ini kecolongan! Namun syukur…ternyata tetangga-tetangga di situ ada beberapa yang menjadi  intel/reserse. Dan kedua pemuda residivis itu sudah dicurigai sejak awal mereka menghuni rumah kost yang berpagar tinggi tersebut. Namun, sayang, pacar si pemuda Medan itu belum berhasil ditangkap selain memang dia pada hari tersebut tidak datang ke rumah kost, juga karena si pemuda itu masih sempat menghubunginya via HP sesaat terjadi pengejaran oleh para reserse tersebut.

       Masih meragukan kuasa doa? Itulah judul tulisan ini. Dengan penuh pengucapan syukur pada Tuhan, saya menjawab untuk diri saya pribadi: Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya. (Yakobus 5:16b)

Jakarta, 11 Juli 2006

 

   Tema Adiputra

Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."