• PDF

Tumpang Tangan

Penilaian Pengunjung: / 1
TerjelekTerbaik 
  • Senin, 01 Juni 2009 17:21
  • Ditulis oleh Tema Adiputra
  • Sudah dibaca: 5026 kali
Namanya Amos Jayaratnam, seorang pendeta dari Singapura yang sering melayani di Indonesia. Saya tak akan pernah melupakannya, sekalipun kesan yang diberikannya hanya “kecil” saja, namun sangat bermakna dalam kehidupan saya. Dan bukan itu saja, malah telah membuka pintu gerbang pengalaman rohani dari berbagai aspek.

       Saya tengah berada di sebuah kota di Jawa Timur, dalam rangka pelayanan di sebuah stasiun radio (stara) rohani di kota panas itu. Sebagaimana biasa saya datang ke stara itu setelah aktifitas kerja di pagi hari mulai menggeliat. Di lantai dua, bagian administrasi tampak sepi, saya jadi heran. Pada ke mana mereka? Lalu saya naik ke lantai tiga (tempat ruangan kerja saya) dan…wahhhh…ternyata sebagian besar karyawan/kru stara itu tengah berkumpul di ruang penyiar/ruang rapat. Ada apa ya? Nah, setelah bertanya pada seorang kru, barulah saya tahu mengapa mereka berkumpul di sini, meninggalkan meja kerja mereka di lantai dua dan lantai empat. Ohhhhh…rupanya ada bapak Amos Jayaratnam tengah bersiaran di studio!!! Mereka semua sedang menanti bapak pendeta itu tuntas bersiaran. Untuk apa? Hm…hm…untuk minta didoakan! Ya..! Tak berapa lama kemudian pak Amos keluar dari ruang siaran, kru radio itu pun mencegatnya, dan beliau langsung mendoakan mereka satu persatu. Dan tentu saja ada yang ditumpangi-tangan. Saya hanya menyaksikan saja semua itu dari jarak tertentu. Usai didoakan, dan setelah pak Amos turun gedung, maka ramailah komentar dari para kru yang didoakan tadi. Sungguh wajah-wajah mereka tampak bersukacita!

       Siapakah yang tidak akan berlelah-lelah guna mendapatkan sebuah sukacita? Kita semua tentu saja akan berjuang keras untuk mencari kebahagiaan/sukacita itu. Teman-teman di stara itu bukanlah secara kebetulan atau ikut-ikutan saja dalam meminta kesediaan pak Amos untuk mendoakan mereka satu persatu. Tentu sebelumnya sudah ada kabar/berita/bahkan pengalaman rohani yang mereka lihat dan rasakan sampai akhirnya berani dan mau berlelah-lelah menuju lantai tiga, meninggalkan sejenak meja kerjanya, untuk mendapatkan tumpang tangan  dan doa dari hamba Tuhan tersebut. Damai sejahtera memang harus dicari dan diraih, tidak datang dengan sendirinya!

       Stara di propinsi Jawa Timur tempat saya melayani ini memiliki program pelayanan ke pulau Madura. Dan sudah dua kali saya ikut pelayanan tersebut. Ya…akhirnya saya menginjakkan kaki juga ke pulau garam itu. Tak pernah terbayangkan sebelumnya. Yang teringat hanyalah sewaktu saya masih di sekolah dasar, saya telah tuntas membaca sebuah buku wisata tentang karapan sapi di pulau Madura. Dan puluhan tahun kemudian saya tiba juga di pulau tersebut, tapi dalam rangka “berwisata rohani”. Nah, cerita singkat itu tentu saja ada hubungannya dengan judul tulisan ini. Dalam KKR di gedung pertemuan yang dihadiri ratusan orang tersebut diadakan juga altar call. Para kru stara tentu saja termasuk yang melayani para jemaat yang maju ke depan. Mereka membantu bapak pendeta dalam mendoakan setiap pribadi-pribadi yang berdiri di altar. Saya dan jemaat lain terus mendukung dengan puji-pujian untuk Tuhan selama proses mendoakan itu berlangsung. Tim pendoa terus bergerak ke satu persatu jemaat yang berdiri penuh pergumulan itu, yang rindu akan damai sejahtera-Nya. Dan satu persatu mereka pun rebah ke lantai! Saya sempat memperhatikan salah seorang pendoa, tanpa menyentuh orang yang didoakan, hanya dengan mendoakannya seolah berbisik ke telinganya, maka jemaat itu pun tiba-tiba  rebah ke lantai! Luar biasa kuasa-Nya!!

      Sekali lagi, mengapa sampai ada dorongan dalam diri sebagian jemaat itu untuk merespon altar call tersebut? Ya…tentu saja banyak motivasi dan alasannya. Namun satu hal yang terpenting. Ketika maju ke depan/ke altar, hal itu bukanlah sesuatu yang mudah. Terlebih dulu “harga diri” harus dipatahkan! Dorongan kerinduan yang luar biasa untuk merasakan Kasih dan jamahan-Nya  membuat mereka untuk tidak mempedulikan ratusan pasang mata yang melihat mereka maju ke depan untuk didoakan. Dorongan untuk keluar dari pergumulan/persoalan hidup yang begitu berat membuat sebagian jemaat itu berusaha kembali mendapat janji penyertaan-Nya di hari-hari mendatang dalam kehidupannya. Dan…ketika mereka usai didoakan, usai bangun dari ke-rebah-annya di lantai altar, maka wajah-wajah sukacita pun tampak, dan tidak sedikit pula yang berurai air mata kebahagiaan.

       Yang berikut ini terjadi di Jakarta. Di lantai dasar sebuah gedung bertingkat, rutin dilaksanakan ibadah/persekutuan doa dari sebuah lembaga ministry. Saya waktu itu hadir di sana bersama seorang pria pendeta muda (Pdm.). Kami diundang. Kawan pelayanan saya ini usianya lebih muda daripada saya. Sekalipun kami berdua berbeda denominasi namun itu tidak menghalangi keakraban rohani kami. Bahkan kami sama-sama bersiaran rohani di sebuah stara terkenal di Jakarta, sampai sekarang. Nah…dalam ruangan itu kami memilih duduk di bangku deretan tengah. Saya dalam posisi di pinggir dekat jalan tengah. Dia persis di sebelah saya. Waktu dilakukan altar call, beberapa orang maju ke depan merespon panggilan itu. Dan tentu saja, bapak pendeta dari panggung terus mendoakan, sementara hamba-hamba Tuhan lainnya datang membantu mendoakan dengan menumpangkan-tangan ke kening maupun ke pundak orang yang didoakan itu. Ya…sebagaimana biasa, maka beberapa di antara mereka pun rebahlah ke lantai!

       Saya dan pendeta muda ini turut mendukung dari tempat kami berdiri dengan terus bernyanyi bersama jemaat lain, sembari juga sesekali tutup mata karena turut pula memberi dukungan doa. Dalam suasana seperti itulah, saya melihat ada seorang bapak, hamba Tuhan yang membantu mendoakan di altar itu berjalan dari depan di jalan tengah menuju ke arah belakang. Dia berjalan, sembari sesekali berhenti menumpangkan tangannya ke kening jemaat yang dilewatinya sembari berdoa tentu. Dan…dan…akhirnya dia tiba di dekat saya! Saat itu saya tengah membuka mata sedikit, dan ketika dia mendekat, secara otomatis saya pun menutup mata. Sembari terus mulut saya turut mengumandangkan lagu pujian yang sedang dinyanyikan. Ehhhh…tiba-tiba saya merasakan telapak tangannya telah menjamah kening saya. Saya dengar dia mengucapkan kata-kata doa, tapi saya tidak terlalu memperhatikannya. Kemudian…kemudian…saya merasakan ada dorongan kecil dari tangannya sehingga kepala saya agak bergerak ke belakang sedikit. Tapi…tapi…kemudian…tiba-tiba saya rasakan telapak tangannya itu mendorong dengan keras kening saya sehingga saya terduduk di bangku. Saya kaget!! Namun tetap saya menutup mata. Dan ternyata belum selesai!! Kembali saya rasakan telapak tangannya itu mendorong lagi dengan keras ke kening saya sehingga saya tersandar ke bangku. Saat itu saya dalam kondisi sadar penuh. Dan saya mendengar serta melirik sedikit, teman saya si pendeta muda itu pun diperlakukan sama olehnya, sampai juga terduduk dan tersandar di bangku! Waaahhhh! Nah…setelah dilihatnya kami “tak berkutik” dia pun kembali berjalan menuju arah bangku belakang. Dan…sekian waktu kemudian  saat kami lihat dia kembali ke bangku depan, tempatnya duduk, kami berdua pun membuka mata dan kembali berdiri, dan kali ini ditambah saling senyum, dan saling geleng-geleng kepala. Usai KKR itu, di dalam perjalanan pulang, pengalaman tumpang-tangan “paksaan” itu menjadi topik pembicaraan kami!! (Baru-baru ini saya diberitahu oleh kawan saya itu, bahwa sang hamba Tuhan yang sekitar 3 tahun lalu menumpangkan tangannya ke kami itu, sedang menjalani/mendapat penggembalaan khusus dari gereja, di sebuah kota di Jawa Tengah).

      Saya tidak banyak berkomentarlah tentang hal di atas. Yang pasti kami tidak merasakan damai sejahtera di hati ketika diberi “tumpang tangan” itu. Justru yang terasa adalah kekesalan dan rasa sakit sedikit akibat paksaan si bapak itu yang menyebabkan kami teduduk dan tersandar di bangku. Padahal, menurut cerita/kesaksian orang-orang yang pernah rebah karena di-tumpang tangan-i, mereka mengalami sebuah “suasana” yang damai…sejuk…sejahtera, dan benar-benar tidak menyadari bahwa mereka dari posisi berdiri telah rebah di lantai! Ya! Itu pun disebabkan kesadaran sendiri untuk merespon altar call, untuk minta didoakan khusus, dan ditumpang-tangani. Namun, satu hal yang sampai saat ini saya tidak temukan jawabannya adalah, ketika menyaksikan adanya beberapa orang (jemaat) yang sudah maju ke altar call, lalu ditumpang-tangani, lalu rebah, lalu sadar/bangun, lalu kembali ke bangkunya…ehhh, tak berapa lama maju lagi ke altar call, rebah lagi…dan seterusnya. Terkadang yang bersangkutan sampai 3x melakukan itu bolak-balik. Apakah yang dia cari? Mengapa tidak puas hanya dengan  sekali saja? (Hm…hm…pembaca bisa membantu saya menjawab ini?).

       Baiklah! Kita kembali ke nama Amos Jayaratnam. Bapak pendeta ini---sekitar 3 tahun sebelum peristiwa yang saya ceritakan di paragraf 2 tulisan ini---pernah saya wawancarai dalam acara khusus di stara tempat saya bekerja, di Jakarta. Waktu itu malam hari, pukul 22.00. Selama 1 jam acara itu mengudara memang luar biasa, sekalipun harus menggunakan penterjemah, saya pribadi mendapatkan berkat dari jawaban-jawaban pak Amos tersebut! Malam itu turut pula rekan saya, seorang ibu dari bidang marketing, menunggui acara itu sampai tuntas. Nah…ketika acara itu selesai maka keluarlah kami serombongan dari ruang studio. Saat menuju ke pintu ruang tengah (studio ada di belakang) tiba-tiba pak Amos berbalik arah menuju dekat pintu masuk studio. Dan tiba-tiba…dia berkata (diterjemahkan) : “Hati saya digerakkan Tuhan  untuk mendoakan kamu berdua (saya & ibu dari bidang marketing itu) malam ini…!” Dan langsung saja pak Amos menumpangkan telapak tangannya di pundak ibu itu…dia pun berdoa… dan juga memberi janji Tuhan padanya. Kemudian giliran saya, pundak saya pun ditumpang-tangani olehnya, saya didoakan……dan juga diingatkan akan janji Tuhan pada saya dalam kehidupan hari-hari mendatang!

       Apa yang kami rasakan dari doa spontan yang tidak kami minta itu? Luaaaarrr biasa!! Usai mendoakan, pak Amos pun pulang bersama rombongannya, kami antar mereka sampai ke pintu depan. Sesaat setelah didoakan…saya merasakan “sesuatu” yang luar biasa di dalam hati saya. Ada kedamaian luar biasa…...ada kesejukan luar biasa…...ada ketenangan luar biasa…… rasa hati seperti berada di sebuah taman yang indah dan tenang dan sejuk sekali. Hati seperti diselimuti gumpalan embun yang sejuk sekali…... tidak ada perasaan-perasaan negatif……padahal waktu itu saya dalam keadaan sadar penuh, masih berbincang dengan rekan saya dari bidang marketing itu, sampai kami berpisah untuk pulang ke rumah masing-masing karena sudah larut malam. Saya pun pulang ke rumah menggunakan mikrolet, turun di ujung jalan rumah, masih berjalan kaki lagi ke dalam sekitar 15 menit, lalu tiba di rumah……semua perasaan damai sejahtera/kesejukan hati itu terus saya rasakan. Saya bahkan sampai berkeinginan kalau boleh janganlah hilang “suasana rohani” ini dari dalam hati saya. Ya! Sampai akhirnya saya tertidur dengan “suasana hati” seperti itu……dan keesokan pagi pun bangun, maka…”suasana” yang didapat dari doa pak Amos itu ternyata telah berganti dengan suasana normal kembali. Wahhh, tapi, pengalaman rohani ini, tidak akan pernah saya lupakan!! Termasuk juga oleh si ibu, rekan saya itu, ternyata dia pun persis merasakan seperti yang saya rasakan…...damai sejahtera/sejuk luar biasa di dalam hati sepanjang malam itu, sampai akhirnya tertidur!!

      Hm...hm...hm…ya…ya…ada orang yang mencari-cari cara tersendiri untuk mendapatkan kedamaian di hatinya. Ada orang yang bersedia mengeluarkan uang dalam jumlah yang sangat besar hanya untuk memperoleh kedamaian di hatinya. Berhasilkah? Saya tak tahu jawabnya. Yang saya tahu adalah, damai sejahtera yang sesungguhnya hanya ada di “satu” tempat. Sumber damai sejahtera itu hanya ada di “satu” tempat. Saya percaya, pembaca akan langsung mengetahui di mana, dan bagaimanakah caranya kita mendapatkan damai sejahtera itu bila membaca yang berikut: (Yohanes 14:27) “Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu.”

Jakarta, 28 Agustus 2006

 

Tema  Adiputra

Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Thomas Go  - Tumpang Tangan   |180.252.243.xxx |10-01-2012 22:33:12
Memang benar seorang hamba Tuhan yang diurapi tidak akan memaksakan mendorong
orang yang didoakan agar jatuh.Ada kesombongan yang ngawur dari orang yang
mendoakan karena merasa bahwa kalau orang yang didoakan jatuh maka Kuasa Tuhan
bekerja dengan kuat dalam hidupnya.Jangan sembarang mau ditumpangkan tangan,cek
dulu pdt tsb apakah karakternya karakter Kristus?agar kalau bukan orang benar
kuasa jahat orang tsb tidak transfer ke orang yang didoakan.Setelah didoakan
apakah kita menjadi lebih dekat dengan Tuhan dan seperti cerita di atas apakah
ada damai sejahtera?jika ya ,maka berarti memang betul orang yang mendoakan tsb
diurapi Roh Kudus
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."