• PDF

Yang Terjawab dan Tak Terjawab!

Penilaian Pengunjung: / 0
TerjelekTerbaik 
  • Senin, 01 Juni 2009 17:27
  • Ditulis oleh Tema Adiputra
  • Sudah dibaca: 2050 kali
Setiap orang tidak pernah lepas dari momentum kehidupan ini. Kalau dia ternyata tidak pernah mengalami hal tersebut maka perlulah dipertanyakan “apa dan siapakah” dia itu? Ya! Tampaknya sederhana, ya? Yang saya maksud begini, saat kita tergiring memasuki area untuk menentukan pilihan serta harus mengambil keputusan maka ya…ambil sajalah sebuah keputusan lalu nikmati saja hasilnya, entah itu hasilnya adalah kenikmatan maupun kesengsaraan akibat keputusan itu, ya…tanggung jawab sendirilah! He..he..he…memang ada orang-orang tertentu yang “tercipta” sebagai orang-orang yang “tampaknya” begitu rileks saja berkecimpung di area saat-saat menentukan! Mereka rileks pada detik-detik pengambilan sebuah keputusan sampai menghasilkan sebuah keputusan yang menentukan! Namun, untuk saya pribadi tidaklah seperti itu.

      Tahun 1985, siapakah yang tidak mengenal majalah mingguan Tempo?  Waoww…majalah tersebut sangat terkenal dan sedikit “disegani” pemerintah Orde Baru waktu itu. Banyak orang yang ingin bekerja di majalah itu. Termasuk saya tentunya. Padahal waktu itu saya sudah setahun bekerja di Radio Pelita Kasih. Namun karena “naluri” jurnalis saya maka saya layangkanlah sebuah surat lamaran. Di dalam surat lamaran itu saya cantumkan nominal gaji yang saya minta (tentu saja 2 X lipat dari nominal yang selama ini saya terima di tempat saya bekerja). Dan ehhhh…ternyata saya dipanggil untuk mengikuti tahap seleksi selanjutnya. Masalah jumlah gaji yang saya minta tidak dipersoalkan, alias okey-okey saja! Waow…terhenyak saya! Maka majulah saya mengikuti tes tertulis untuk posisi yang dibutuhkan waktu itu, sebagai editor. Tak dinyana, ternyata ada 10 orang sarjana sastra dari seluruh Indonesia diuji untuk memperebutkan posisi editor yang hanya untuk 1 orang saja! Hm…hm…prinsip berdoa dan bekerja yang selama ini saya pegang ternyata ampuh. Puji Tuhan, saya lolos dan lulus sebagai peringkat pertama. Maka bersiaplah saya untuk datang lagi ke kantor majalah Tempo itu pada hari yang ditentukan guna urusan administrasi. Nah…di sinilah persoalannya!

      Pada saat menjelang hari tersebut di atas, saya tiba-tiba dilanda keragu-raguan yang luar biasa. Saya tidak tahu mengapa perasaan itu datang? Padahal saya sudah memperoleh apa yang saya cita-citakan, perjuangkan, yakni dapat bekerja di sebuah majalah bergengsi pada zaman Orba. Namun koq…saya jadi bimbang-ragu seperti ini, ya? Lalu saya gumulilah itu di dalam doa. Sampai akhirnya saya mantap mengambil sebuah keputusan yaitu untuk bernegosiasi ulang. Pagi harinya, sebelum mendatangi kantor majalah itu, saya masuki box telepon umum di pinggir jalan raya dekat rumah saya. Saya hubungi bagian personalia majalah Tempo. Lalu saya tanyakan: kalau saya mengundurkan diri siapakah yang akan mengisi posisi editor itu? Jawabnya, pastilah orang yang meraih peringkat kedua. Nah…kemudian saya ajukan pertanyaan yang sangat menentukan! Dapatkah saya menjadi editor dalam posisi sebagai part-timer saja? Karena saya masih ingin dapat bersiaran di Radio Pelita Kasih sebagai part-timer juga. Apa jawab bagian personalia itu? Tidak bisa pak, Anda harus full-timer di majalah Tempo karena tugas-tugas editor itu sangat banyak, sangat menentukan, dan bisa jadi dalam beberapa hari Anda akan bekerja sampai larut pagi, terutama menjelang naik cetak! Wahh…saya terpana! Dan…bergumul cepat mengambil keputusan di box telepon umum itu. Ya! Akhirya…akhirnya…saya meminta maaf karena tidak bisa bergabung dengan majalah Tempo itu sebab tidak dapat berposisi sebagai tenaga part-timer. Yahhhh…sekian detik hati saya trenyuh. Namun beberapa jam kemudian, saya sudah “normal” lagi….he…he…he. (Paling tidak saya sudah pernah punya pengalaman diterima untuk bekerja di majalah terkenal itu!)

      Ada yang terjawab dari pengalaman itu. Yaitu, saya ternyata “dihalangi” untuk dapat menjadi editor part-timer. Namun, sekian tahun ada pula yang tak terjawab dari pengalaman di atas. Mengapa saya resah-gelisah-bimbang-ragu untuk menerima status sebagai full-timer di majalah Tempo itu, pada saat-saat menentukan? Nah…Tuhan telah memberikan jawabannya pada beberapa tahun kemudian. TERNYATA pada tahun 90-an, majalah Tempo dibreidel selamanya di masa penguasa Orde Baru! Tentu saja para karyawannya pun menganggurlah! Sementara saya (dalam kasih pemeliharaan Tuhan) tetap dapat bekerja/melayani Tuhan di Radio Pelita Kasih. Hm…hm…hm…Tuhan kita itu baik…sungguh baik!!   

      Tahun 1986, selagi asyik masyuk menekuni profesi sebagai penyiar radio, tiba-tiba datanglah ke kantor saya teman-teman akrab saya semasa di kampus dulu untuk mengajak saya menjadi guru SMA yang baru dibuka di daerah Kelapa Gading Permai, Jakarta Utara. Dalam damai sejahtera di hati, saya terima tawaran itu sebagai tenaga part-timer awal mulanya. Maka jadilah saya merangkap profesi, ya sebagai penyiar, ya juga sebagai guru! Lima tahun di sekolah itu sebagai Pembina OSIS sangat memperkaya saya dalam membina jiwa-jiwa remaja, dan mendalami karakter mereka. Jadi guru, juga jadi Pembina OSIS, tidak terasa saya dapat bertahan selama 10 tahun di sekolah itu sembari juga merangkap tugas sebagai penyiar radio. Pengalaman sangat berkesan di sana yakni dapat menggiatkan kegiatan kesenian, menerbitkan majalah sekolah, menemani para murid mengisi acara di TVRI, dan sebagainya. Ya! Apakah ini adalah juga bagian dari skenario yang Tuhan bikin untuk hidup saya dengan tidak menerima tawaran bekerja full-timer di majalah Tempo? ( He…he…he…untuk pertanyaan ini, saya persilakan para pembaca saja yang menjawabnya, ya. Trims lho.).

      Menarik untuk merenungkan “lompatan-lompatan kehidupan” yang kita alami, atau yang sering saya istilahkan sebagai “manuver kehidupan” kita pribadi lepas pribadi. Salah satu yang tercatat erat di hati saya adalah, apa yang saya dapatkan di masa kini, dulunya, acapkali tidak pernah terbayangkan sebelumnya! Dan saya yakin kita (para pembaca) pun memiliki segudang kisah/kesaksian hidup tentang hal ini. Yakni bagaimana Tuhan merenda kehidupan kita dengan pola-Nya, sekalipun yang ada dalam rencana kita adalah pola-pola yang telah terkonsep dari diri kita sendiri. Pertemuan pola-Nya dengan pola kita, maupun bertolak belakangnya pola-Nya dengan pola kita…biasanya baru kita sadari setelah sekian lama menjalani hari-hari kehidupan kita!

      Tulisan ini menyenggol atmosfir saat–saat menentukan untuk mengambil keputusan penting dalam hidup kita, dan juga perihal pertanyaan-pertanyaan perenungan di dalamnya yang dapat saja terjawab maupun tak terjawab. Seperti hal yang berikut ini, ketika tahun-tahun pertama saya sebagai konsultan di sebuah radio rohani di kota Surabaya, tiba-tiba saya menerima sepucuk surat dari kampus sekolah tinggi teologia yang ada di Jakarta Barat, tempat saya dulu pernah menimba ilmu di program pasca sarjana, sebagai angkatan perdana! Ketika membaca isi surat resmi itu saya diingatkan (dan saya sedikit malu serta terkejut) ternyata saya sudah mengambil cuti selama 5 tahun!! Dalam surat itu pimpinan kampus tersebut menawarkan sebuah kemurahan hati pada saya (sungguh-sungguh sebuah kemurahan hati!), apakah saya bersedia melanjutkan /menyelesaikan kuliah S2 itu? Bila bersedia silakan bergabung kembali pada semester baru yang tinggal 3 bulan lagi (pada bulan Juli mendatang). Ditunggu jawaban saya secepatnya! Waduhhhh…betapa hati saya bergumul! Bila saya lanjutkan kuliah, maka profesi sebagai konsultan radio ini—yang baru saja saya rintis, berhentilah sampai di sini. Bila tidak melanjutkan kuliah pada semester baru itu, maka kelak saya harus mendaftar ulang, dan dianggap sebagai mahasiswa baru! Aduhhhhh…sungguh-sungguh bergumul. Namun toh keputusan harus segera diambil. Maka…akhirnya…akhirnya, dengan berserah penuh pada Tuhan untuk hari depan saya, saya jawablah surat itu, yakni hendak fokus dulu dalam tugas/profesi/pelayanan sebagai konsultan/praktisi/trainer radio siaran di Indonesia. Hm...hm…jelas kembali ada ke-trenyuh-an di dalam hati saya! Namun keputusan telah final. Dan ternyatalah…kembali Tuhan merenda perjalanan tugas/pelayanan saya itu dengan memberi kesempatan menangani/membenahi beberapa stasiun radio rohani di Indonesia! Puji Tuhan!   

      Ya! Adakalanya kita pun sempat “ngedumel” alias kesal/jengkel terhadap situasi tertentu misalnya, tugas-tugas khusus yang diberikan yang sebenarnya bukan porsi kita. Namun karena posisi kita yang memang wajib menjalankan perintah itu maka mau tidak mau kita laksanakanlah. Hal ini sempat saya alami beberapa bulan sebelum saya pamit dari Radio Pelita Kasih guna memulai profesi baru sebagai konsultan/praktisi/trainer. Waktu itu saya mendapat tugas khusus dari Direksi untuk merancang buku “Company Profile”. Bukan hanya sekadar merancang! Tetapi juga membuat konsep Visi-Misinya dan berbagai hal yang berkaitan dengan keberadaan stasiun radio itu. Nah, pada waktu itu, sejujurnya, saya sempat bertanya-tanya mengapa tugas berat ini (dan sebenarnya bukan porsi saya) diberikan pada saya? Yahhh…saya tidak mendapatkan jawabannya. Namun, toh…tetap saja saya laksanakan tugas itu karena memang harus dilaksanakan! Maka saya pun “berjibaku” membuat tugas itu. Sampai akhirnya rancangan “Company Profile” itu pun saya serahkan ke Direksi dan sudah siap untuk dicetak, maka saya pun pamit dengan baik-baik dari stasiun radio itu untuk memulai “perjalanan” profesi baru! (Dan…saya tetap tidak mendapatkan jawaban, ada apa sebenarnya dengan pemberian tugas tersebut pada saya?)

      Mau tahu kelanjutannya? Ya, beberapa bulan kemudian (waktu itu saya sudah menjadi konsultan di sebuah stasiun radio rohani yang baru berusia 6 bulan, sehingga saya bolak-balik Jakarta-Surabaya) saya mendapat  “order” dari Universitas Pelita Harapan di Lippo Karawaci untuk membuat “Company Profile” atau lebih dikenal dengan sebutan Prospektus! Waooowww…tentu saja saya terkejut setengah mati! Sebuah tantangan besar! Dan tentu saja saya tidak berani menolaknya! He…he…he…namun kali ini bukan karena “takut” maka saya tidak menolak tetapi karena ini memang murni “bisnis”. Apalagi pengalaman terakhir saya adalah membuat sebuah “Company Profile” di stasiun radio tempat saya bekerja full-timer selama 17 tahun! Tidak banyak kata terucap, yang ada hanyalah ucapan syukur…sekali lagi…ucapan syukur pada Tuhan…yang telah “mempersiapkan” saya untuk tugas yang lebih besar di hari berikutnya. Yakni membuat “Prospektus tahun 2002 Universitas Pelita Harapan”. Puji Tuhan, tugas tersebut terlaksana dengan baik tepat waktu karena Prospektus itu akan di bagi-bagikan ke seluruh SMA di Indonesia sebagai alat promosi untuk calon mahasiswa baru/tahun ajaran baru perkuliahan. Itulah sebabnya Prospektus itu dicetak dalam jumlah ribuan dengan  kualitas kertas art paper, dan jumlah halaman seratus lebih. Karena seluruh “isi perut” universitas tersebut tertera di dalamnya!

      Nah, mungkin tidak banyak orang yang mau berlelah-lelah untuk mencari jawaban dari “sesuatu” yang belum terjawab. Mungkin lebih banyak orang yang enggan mencari jawaban dari rasa penasarannya terhadap momentum-momentum kehidupannya. Ahhh…ini wajar-wajar saja, koq. Namun, saya pribadi telah merasakan bagaimana indahnya untuk sesekali menarik “benang merah” manuver kehidupan pribadi saya! Karena ketika merenungkan itu, pada akhirnya saya harus jujur…ternyata pengendali “benang merah” tersebut adalah Dia! Bukan saya! Hal ini semakin menebalkan iman percaya saya terhadap pesan-Nya: (Yesaya 55:8-9) “Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu”.

Bagaimana dengan Anda, para pembaca?

 

Jakarta, 27  November 2006

 

     Tema Adiputra

Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."