Engkau Berharga di Mata-KU

Penilaian Pengunjung: / 0
TerjelekTerbaik 
Buku “My Favourite Christmas” telah tuntas saya baca sebelum hari Natal tanggal 25 Desember. Ini membuat saya benar-benar merasakan memiliki modal banyak dalam menikmati dan menghayati perayaan Natal. Saya merasakan pencerahan dan diperkaya perihal sudut-sudut pandang lain terhadap perayaan Natal. Maka, untuk menghiasi tulisan ini saya mencuplik sedikit sebuah kisah dari buku tersebut yang terkait dengan topik tulisan saya ini.

      “Setelah menghubungi Panti Jompo Anugerah, kuketahui bahwa Ibu Maria mempunyai empat orang anak. Tiga di antaranya hidup di luar kota. Dan, seorang anaknya, bernama Angela, hidup sekota dengan Ibu Maria, tetapi mungkin karena kesibukan kerja dan keluarga, Angela lupa akan ibunya. Aiiiihhh…aku teringat, betapa besar kasih Kristus kepada manusia. Dia, Allah yang Mahasuci yang bertakhta di surga begitu mulia, masih mau ingat kepada manusia---sebenarnya calon penghuni neraka---yang hina dan kotor.

      Hari Natal telah tiba. Lonceng gereja bertalu-talu mengajak jemaatnya untuk berbakti. Aku mengajak Ibu Maria untuk merayakan Natal di gereja. Dalam doa Natalku, aku berdoa kiranya Tuhan menjamah hati Ibu Maria, untuk dapat merasakan kembali arti Natal yang sesungguhnya, meski sanak keluarganya tak memedulikannya. Di tengah keramaian perayaan Natal, aku melihat Ibu Maria menatap jendela gereja yang bertaburan butiran air hujan. Aku tahu, ia masih merindukan anaknya. Ia ingin berkumpul bersama anaknya. Tetapi, entah kapan Angela akan datang menjenguknya, entah kapan anak-anaknya yang lain akan merayakan Natal bersamanya lagi. (halaman 147-148).

      Tragis. Tragis! Seorang Ibu yang mempertaruhkan nyawanya ketika melahirkan anak-anaknya, kini “dicampakkan” begitu saja terjauh dari rumah anak-anaknya. Tidak pernahkan terpikirkan sekelebat saja---di benak para anak Ibu itu---bahwa suatu saat kelak mereka pun dapat saja “dicampakkan” oleh anak-anaknya yang sekarang ini? Ouww…hanya Tuhan-lah yang tahu bagaimana jalan hidup mereka selanjutnya. Yang pasti Ibu Maria sangat berharga di mata Tuhan! Dengan cara-Nya yang ajaib Ibu Maria dipertemukan dengan seseorang yang menaruh kasih padanya, yang mengajaknya untuk merayakan Natal di gereja. Bukti sebuah penghargaan dari-Nya untuk Ibu Maria.

      Tidak secara kebetulan, perayaan Natal di bulan Desember, juga berdekatan dengan Hari Ibu. Maka saya pun teringat juga pada beberapa ibu dari Sehn Li Ministry yang sudah lebih dari satu tahun saya kenal dan setiap hari Kamis malam (pukul 19.15 - 20.00 WIB) kami bertemu di studio Radio Pelita Kasih-Jakarta. Peristiwanya begitu “mengalir” sampai akhirnya saya diminta untuk menjadi pemandu (moderator) tetap di acara khusus mereka di radio tersebut. Sehingga itu berarti ketika mereka bersiaran maka terkadang saya sendirilah pria di acara itu! Jangan bayangkan tim inti pengisi acara rohani di radio ini adalah ibu-ibu muda! Tidak! Mereka sudah “berumur”, bahkan ada yang sudah punya cucu! Dan ada juga mantan Polwan yang sudah pensiun sekian tahun silam.      

      Dan jangan bayangkan ketika mereka berbicara di muka mikrofon, maka yang keluar adalah suara-suara yang pelan dan lambat. Ohhhh…tidak! Yang muncul adalah suara-suara yang lantang dan tegas serta sesekali lemah-lembut. Sangat kontras dengan usia mereka. Mereka bersiaran dengan penuh semangat. Sehingga semangat mereka itu pun semakin menambah semangat saya dalam memandu acara itu. Ya! Ibu-ibu ini sungguh-sungguh telah merasakan betapa mereka sangat berharga di mata Tuhan. Betapa Tuhan telah banyak memberikan kasih pertolongan dan kasih pemulihan dalam hidupnya. Itulah sebabnya mereka pun sangat menghargai apa artinya melayani Tuhan lewat berbagai sarana, salah satunya dengan media radio siaran! Itu pulalah sebabnya nama acara radio itu: Engkau berharga di mata-Ku!

      Tentu saja, saya juga sangat menghargai ibu kandung saya (tanggal 7 Januari 2007 beliau genap berusia 87 tahun) yang saat ini bermukim di Medan, di rumah anaknya yang kedua. Baru-baru ini saya berkunjung ke Medan. Dan kesempatan itu saya gunakan untuk banyak berbincang dengan ibu saya. Yah…kami bernostalgia saat saya dulu masih kecil banget di kota kelahiran, Sibolga. Mengapa saya sangat menghargai ibu saya ini? Salah satunya disebabkan kerelaan hatinya melepas saya untuk merantau ke Jakarta pada usia 9 tahun! Mengapa rela? Karena “kekerasan” hati saya yang sangat ingin melihat kota Jakarta! Walaupun ketika itu---dalam perjalanan ke Jakarta kami menginap dulu di rumah kakak di Medan---saya ditawarkan untuk di Medan sajalah melanjutkan sekolah, tapi saya tetap tidak mau, saya maunya ke Jakarta! He…he…he…bisa dibayangkan anak kecil berusia 9 tahun tentulah masih suka bermanja-manja pada ibunya.

      Saya sangat terkejut mendengar sebuah cerita yang kontradiktif. Ibu mengatakan, suatu waktu, mendekati hari saya berangkat ke Jakarta, saya memanjat pohon jambu air di depan rumah yang buahnya belum matang benar. Saya bergelantungan di pohon itu dengan gembira sembari memakan buahnya. Sementara Ibu menyaksikan ulah saya itu dengan derai air mata sembari mendengar celetukan saya: “….saya mau makan buah jambu ini sepuas-puasnya, karena nanti kalau sudah matang saya tidak bisa memakannya lagi. Karena saya sudah berada di Jakarta!”. Hm…hm…hm…bukan itu saja, buah jeruk yang belum matang benar pun saya petik beberapa, dan saya jadikan bekal dalam perjalanan ke Jakarta bersama abang saya yang baru lulus SMA. Nah, jangan terlarut dalam cerita nyata ini. Saya ajak pembaca untuk melihat pesan khususnya. Yakni, betapa indahnya, betapa bahagianya, betapa sejuknya hati bila kita masih memiliki kesempatan mengasihi Ibunda tercinta kita di masa tuanya! Tuhan sangat menghargai kasih kita kepada orang tua kita!

      Kasih Tuhan, cara Tuhan menghargai kita acapkali tak mampu dicerna oleh pemikiran analisis kita yang sangat terbatas ini. Mungkin saja kita akan protes, Tuhan…koq yang seperti itu masih Kau hargai?! Yah…ternyata nilai/tolok ukur maupun kriteria yang kita bikin sangat berbeda jauh dan bahkan kontras dengan yang Tuhan punya.

      Simaklah ini. Maka ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi membawa kepada-Nya seorang perempuan yang kedapatan berbuat zinah. Mereka menempatkan perempuan itu di tengah-tengah lalu berkata kepada Yesus: "Rabi, perempuan ini tertangkap basah ketika ia sedang berbuat zinah. Musa dalam hukum Taurat memerintahkan kita untuk melempari perempuan-perempuan yang demikian. Apakah pendapat-Mu tentang hal itu?"

Mereka mengatakan hal itu untuk mencobai Dia, supaya mereka memperoleh sesuatu untuk menyalahkan-Nya. Tetapi Yesus membungkuk lalu menulis dengan jari-Nya di tanah. Dan ketika mereka terus-menerus bertanya kepada-Nya, Ia pun bangkit berdiri lalu berkata kepada mereka: "Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu." Lalu Ia membungkuk pula dan menulis di tanah. Tetapi setelah mereka mendengar perkataan itu, pergilah mereka seorang demi seorang, mulai dari yang tertua. Akhirnya tinggallah Yesus seorang diri dengan perempuan itu yang tetap di tempatnya. Lalu Yesus bangkit berdiri dan berkata kepadanya: "Hai perempuan, di manakah mereka? Tidak adakah seorang yang menghukum engkau?" Jawabnya: "Tidak ada, Tuhan." Lalu kata Yesus: "Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang." Maka Yesus berkata pula kepada orang banyak, kata-Nya: "Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup." Kata orang-orang Farisi kepada-Nya: "Engkau bersaksi tentang diri-Mu, kesaksian-Mu tidak benar." Jawab Yesus kepada mereka, kata-Nya: "Biarpun Aku bersaksi tentang diri-Ku sendiri, namun kesaksian-Ku itu benar, sebab Aku tahu, dari mana Aku datang dan ke mana Aku pergi. Tetapi kamu tidak tahu, dari mana Aku datang dan ke mana Aku pergi. Kamu menghakimi menurut ukuran manusia, Aku tidak menghakimi seorang pun, dan jikalau Aku menghakimi, maka penghakiman-Ku itu benar, sebab Aku tidak seorang diri, tetapi Aku bersama dengan Dia yang mengutus Aku. (Yohanes 8:3-16).

      Kalau begitu adanya, apa susahnya menikmati “penghargaan” yang Tuhan berikan dalam hidup kita? Namun, jujur saja adakalanya kita---manusia---sukanya hanya menerima saja. Tidak doyan memberi. Padahal sebuah penghargaan barulah dapat diperoleh dengan syarat-syarat tertentu (berkorban). Dengan kita memenuhi syarat-syarat (pengorbanan) itu maka itu berarti kita memberi penghargaan pada-Nya yakni dengan tindakan hidup sesuai dengan Firman-Nya.  

      Ya, sekali lagi. Ketika kita tahu pasti dan sungguh-sungguh merasakan kasih Tuhan dalam hidup kita, mungkin kita bertanya, mengapa bisa demikian? Jawabnya: “Oleh karena engkau berharga di mata-Ku dan mulia, dan Aku ini mengasihi engkau, …….” (Yesaya 43:4).

 

Jakarta, 3 Januari 2007

 

     Tema Adiputra

Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."