• PDF

Banjir Masalah

Penilaian Pengunjung: / 0
TerjelekTerbaik 
  • Senin, 01 Juni 2009 17:29
  • Ditulis oleh Tema Adiputra
  • Sudah dibaca: 2166 kali
    Saya tidak akan mengutak-atik penyebab Jakarta dan sekitarnya ditenggelamkan banjir besar sampai menggenangi sekitar 70% wilayah yang ada, belum lama ini. Itu urusan Gubernur dan urusan “fenomena alam”--katanya, he…he…he…he…he. Tetapi satu hal yang tercatat di balik semua itu adalah betapa “musibah” tersebut telah memberi sesuatu di dalam hati saya dan juga pada mereka yang mengalaminya secara langsung maupun tidak langsung. Dalam berbagai kesaksian melalui acara radio yang saya pandu, maupun bertelepon secara langsung terungkaplah beberapa hal yang “mengherankan”.

      Seorang Ibu, berumur 60-an tahun, sepulang bersiaran acara rohani pada malam hari haruslah melewati jalanan yang menurun dan telah tergenang air setengah badan dalamnya, dan ada arusnya pula. Dia harus melewati jalanan itu untuk menuju rumahnya di lokasi yang lebih tinggi dan tidak terkena banjir. Ketika kepadanya saya tanyakan via sms, “Bagaimana kabar,Bu? Semoga rumah Ibu tidak kebanjiran.” Apa jawabnya? Saya sedikit tersenyum membaca balasan sms darinya: “Oh…oh…rumah saya tidak kebanjiran, hanya saja jalan menuju ke rumah saya yang banjir. Tetapi…saya menikmati koq, saya lewati banjir itu sembari teringat beberapa tahun lalu saya pernah latihan menyeberangi sungai saat pendidikan Polwan!” Begitulah, saya tidak berlama-lama merenungi jawabannya itu karena saya tahu Ibu itu bukan sekadar “menikmati” tetapi memang sungguh-sungguh mengandalkan Tuhan dalam hidupnya!

      Adik dari Ibu di atas yang bernama bu Leni, lain lagi kesaksiannya! Ketika tengah malam dia pulang menuju rumah di Cibubur tibat-tiba dia mendapat kabar rumah keluarga anaknya di Bekasi telah banjir dan semakin meninggi, membahayakan. Ibu Leni tentu saja cemas namun dia sadar bahwa bila dia tinggalkan Cibubur menuju Bekasi maka dia harus menempuh hujan lebat dan gempuran banjir di tengah jalan. Namun apa boleh buat karena kasih seorang Ibu, dia pun nekad pergi, dengan berdoa penuh penyerahan diri pada Tuhan. Maka dialaminyalah “perjalanan iman” di tengah malam itu. Basah kuyup dia sampai di daerah UKI Cawang dengan kendaraan umum. Tiada henti-hentinya dia berdoa agar Tuhan melindungi dan menyertai dia dalam perjalanan menuju Bekasi guna menolong keluarga anaknya. Ya! Setiba di UKI Cawang itu tinggal satu-satunya angkutan kota (mobil minibus) yang mencari penumpang yang ada di situ. Bu Leni pun naik dengan penuh pengucapan syukur, dia yakin bahwa Tuhan yang menyediakan mobil angkot itu untuknya dan penumpang lain. Itu terjadi tengah malam. Hujan deras, banjir mengancam dan kendaraan umum sudah sangat berkurang. Puji Tuhan---katanya berkali-kali saat bersaksi. “Dan yang sungguh membuat saya lebih bersyukur lagi pada Tuhan Yesus adalah saat saya minta tolong kepada sopir angkot itu agar boleh menyewa mobil itu untuk bolak-balik Bekasi-Cibubur mengangkut barang-barang keluarga anak saya, ehhh…ternyata dia bersedia menolong!” Maka akhirnya keluarga anaknya itu pun dapat diungsikan ke Cibubur dan barang-barang milik mereka dapat diselamatkan! Semua karena penyertaan dan pertolongan Tuhan.

      Ada tiga orang sahabat saya yang telah berkeluarga yang tinggal di Kelapa Gading, Jakarta Utara. Kali ini menurut mereka semua, hantaman banjir ke kawasan itu sangat parah melebihi tahun 2002! (Saya sangat paham seluk beluk kawasan tersebut, karena pernah dulu tinggal di situ selama sekitar 3 tahun). Nah…sahabat saya, seorang Ibu guru BP, bercerita panjang lebar saat saya berhasil menghubunginya dengan telepon. Waktu itu masih belum surut air yang ada di dalam rumahnya. Dia dan keluarganya mengungsi ke lantai 2. Hidup dalam “kegelapan” (listrik mati) selama berhari-hari. Hanya lilin yang dapat dinyalakan dengan bijaksana karena harus dihemat-hemat. Dia bersyukur masih mendapat aliran air bersih dari ledeng. Juga dia bersyukur masih memiliki tabung gas, dan sembako yang juga harus dihemat-hemat. Berhari-hari di lantai 2 rumahnya sungguh sangat membosankan dan menjenuhkan. Tidak bisa berbuat banyak. Tidur-makan-tidur-makan saja yang dapat dilakukan. Dia dan anak-anaknya merasakan berat badan semakin gemuk saja. Tetapi hal itu sungguh menjemukan, dan membuat stress! Namun satu hal yang diungkapkannya sembari tertawa lepas adalah: “Ya…jadi bila malam telah tiba, di tengah hujan deras, petir menggelegar, banjir menerpa di lantai satu, kami nyalakanlah lilin-lilin, maka setiap malam kami selalu Candle-light…!” Hm…hm…hm…hm…saya tahu bahwa dibalik semua pernyataan itu, seperti kesaksiannya, dia pun tetap mengimani cahaya kasih Tuhan Yesus adalah tempat sandaran mereka selama  “terpenjara” di lantai dua rumahnya itu!

      Bagaimana dengan sahabat saya seorang Bapak yang adalah seorang kepala sekolah SMA di kawasan tersebut? Dia juga sudah beberapa hari saya  hubungi dengan telepon dan baru berhasil setelah sekian lama. Maka via telepon, meluncurlah aneka ragam kisah yang dialaminya. Sama halnya dengan yang lain, lantai satu rumahnya juga menjadi makanan empuk sang banjir. Beruntung mereka masih sempat menyelamatkan barang-barang ke lantai atas rumah. Bagaimana kalian bertahan?—tanya saya padanya. “Ya, saya tetap menjaga persediaan sembako tetap ada. Bahkan saya pun terpaksa berenang menuju  Pulau Gadung untuk berbelanja. Karena air sudah setinggi leher di jalanan.” (Saya tahu jalanan yang dimaksud, bisa memakan waktu sekitar setengah jam itu). Jenuh, stress dan hendak “marah”, serta khawatir, adalah suasana yang berhari-hari mereka rasakan. Bagaimana dengan gedung sekolah?  “Wah…bersyukur tinggi air hanya sekitar 30 cm saja di lantai satu. Tidak sampai merusak perangkat kelas komputer.”—ujarnya. Dan bagaimana dengan murid-murid, dikerahkan untuk membersihkan sekolah? “Ha…ha…ha…mereka kerja bakti di rumah masing-masing!” Ya, di balik tawanya itu tentu saja pastilah ada kegetiran. Namun, sebagai sahabat yang sudah saya kenal sejak bersama-sama aktif dulu di kepengurusan PMK kampus, saya tetap merasakan bahwa dia dan keluarganya tetap mengucap syukur dalam segala hal!

      Saya pun berhasil menelepon Ibu yang punya jabatan sebagai General Manager di sebuah perusahaan jasa. Di kawasan Kelapa Gading yang banjir itu 3 unit mobil milik keluarganya, yang diparkir di depan rumah, tidak sempat diselamatkan karena banjir pada hari Jumat tersebut begitu cepat meninggi dan masuk ke dalam rumah. Akibatnya mesin-mesin mobil tersebut pun diselimuti air banjir. Banyak hal yang saya tanyakan padanya. Mengapa tidak mengungsi? Kata dia, “Kami menjaga rumah, tetapi salah seorang anak saya yang beberapa hari lalu diwisuda sarjana, sempat dibawa oleh teman-temannya mengungsi ke hotel di Jakarta Barat.” Begitulah…banyak hal yang dia ungkap. Termasuk rasa stress karena tidak bisa keluar dari rumah karena terkepung banjir. Tidak ada air bersih, ledeng mati, listrik mati, air bajir yang kotor dan bau serta bertahan di lantai 2 rumah bersama suami, anak, mantu, pembantu rumah tangga. Luar biasa “tekanan” yang dirasakan. Dan tentu saja, doa pada-Nya tiada henti dipanjatkan untuk mohon kekuatan dan perlindungan dari-Nya. Ya, ada sepengggal kalimat dari Ibu itu yang terngiang-ngiang di telinga saya: “Yang kami alami ini belum seberapa, saya sungguh kasihan dengan mereka yang tinggal di rumah-rumah yang sangat dekat dengan kali. Rumah dan harta benda mereka habis! Semoga air banjir ini secepatnyalah surut. Trims ya…dukungan doamu.” Duhhhhh…di tengah “penderitaan” yang dialaminya, toh masih sempat dia mengingat bahwa ada orang yang lebih menderita lagi.

      Mengapa saya bergetar dan getir bila mendengar musibah banjir di Jakarta? Pada tahun 2002 silam, saya berada di Surabaya, dan sedang berjalan-jalan ke Jogya. Waktu itu saya lihat di TV berita Jakarta ditelan banjir besar di bulan Januari, kalau tidak salah. Saya tenang-tenang saja karena tempat kost saya di Jakarta Timur itu termasuh daerah yang tinggi. Sang Ibu kost pernah berkata, bila rumah ini terkena banjir, maka Monas di Jakarta Pusat pastilah sudah tenggelam! Nah…waktu itu saya iseng-iseng menelepon dari Jogya ke si Ibu kost. Waduhhhhh…! Siaran berita langsung meluncur dari mulut Ibu kost itu. “Kamarmu kebanjiran dari atas, karena aliran air di atas genteng menumpuk persis di atas kamarmu. Rupanya para tukang yang merenovasi tidak tepat memasang seng! Lemari dan baju-bajumu serta kasur dan barang-barang sudah berhari-hari terkena air itu dan sudah bau!” Wahhh…kontan saya percepat kembali ke Jakarta. Orang lain terkena banjir dari “bawah” sedangkan saya tertimpa banjir besar dari “atas”. Gemas, marah, getir, bergetar, dan yah…akhirnya dengan perjuangan berat, saya pun mengucap syukur dalam segala hal.

      Tahun 1996, juga merupakan tahun Jakarta diterkam banjir bandang kiriman dari Puncak dan Bogor. Siang hari kejadiannya. Waktu itu saya mengontrak rumah tidak jauh dari Kali Ciliwung, di dekat Kalibata. Namun rumah itu ada di daerah tinggi. Tiba-tiba seorang teman saya wartawan majalah Higina mendatangi saya di studio, minta izin “pinjam” kunci rumah kontrakan saya---yang saya huni sendiri---untuk dapat mengungsi bila bajir naik ke rumahnya. Rumah kami berdekatan, hanya saja rumahnya lebih rendah tanahnya. Nah…sepanjang siang sampai sore itu saya tenang-tenang saja bekerja. Jakarta pun panas dan tidak hujan. Lalu saya pulang. Dan…aooowwww! Sesampai di rumah betapa terkejutnya saya, rumah saya sudah penuh barang-barang dan juga keluarga dari teman tadi. Banjir telah menerpa rumahnya, dan bahkan di jalanan rumah saya yang menurun itu tinggal sekitar 20 meter lagi banjir dapat saja masuk ke rumah saya. Namun syukurlah selama beberapa hari banjir tidak naik menuju ke rumah saya. Tetapi saya sungguh merasakan bagaimana jadi pengungsi! Rumah saya dipenuhi satu keluarga. Barang-barang bercampur baur. Sulit mendapat air sumur bersih. Listrik padam. Dan saya pun “mengungsi” tidur dari spring bed yang nyaman di dalam rumah menuju teras rumah, tidur di kursi. Demi mebela anak-anak dan kaum wanita keluarga teman tadi.      

      Tahun 1980-an, saya sering menginap di rumah keluarga abang saya di Perdatam Cipulir. Sebagian barang-barang saya ada di rumah itu untuk memudahkan saya berganti pakaian dan sebagainya. Persis di sebelah rumah itu ada kali kecil. Dan bila hujan lebat berjam-jam maka pastilah rumah abang saya itu kebanjiran. Mereka sudah “pengalaman” menghadapi banjir itu. Dan saya akhirnya pun mengalaminya juga. Suatu saat saya datang berkunjung hendak menginap. Eh…tidak tahunya banjir telah masuk ke rumah setinggi lutut orang dewasa. Wah…saya tidak menduga, karena hujan tidak terlalu lebat waktu itu. Ya sudahlah…sekalian basah, menginap sajalah dan membantu mengamankan barang-barang di rumah tersebut. Saya berjalan ke berbagai sudut rumah. Dan suatu ketika, di halaman samping rumah, saya merasakan telapak kaki kanan saya tersangkut ke sebuah lubang kecil. Saat saya angkat terasa berat, ada beban. Nah…begitu saya paksa angkat, woalaaahhh…rupanya benda itu adalah gitar buatan Solo milik saya! Gitar gemuk itu rupanya “rindu” pada si pemiliknya, sehingga terjadilah telapak kaki saya terperosok ke lobang suara dari gitar itu! He…he…he…antara kaget, sedih, dan lucu! Malamnya saya tidur di kamar di atas tempat tidur kayu berkasur, sementara beberapa sentimeter dari kasur itu air banjir dengan merdeka bekecipak-cipak!

      Kita kembali ke acara rohani radio yang saya pandu pada Sabtu malam. Waktu itu sang narasumber mengajak seorang bapak muda yang memiliki dua orang anak yang masih keci-kecil, dan tentu saja dia memiliki satu istri! Bapak muda ini saya perhatikan murah senyum, dan sorot matanya penuh semangat sekalipun postur tubuhnya sedang-sedang saja, tetapi tampak gesit. Dia pun bersaksi tentang rumahnya di daerah Ciledug yang kebanjiran. Berapa tinggi air yang masuk ke dalam rumah? Jawabnya, “Hanya 10 cm saja, koq.” Ouwww…(membuat saya dan yang ada di studio sejenak terheran) dan dengan cepat dilanjutkannya: “…ya, hanya 10 cm bila diukur dari atap rumah!” (dia tertawa, dan kami pun tertawa, tapi tawa getir…!). Selanjutnya dia bercerita di muka mikrofon tentang bagaimana dia sebagai kepala keluarga berjuang menyelematkan anak-istrinya dengan sebuah mobil yang bisa juga diselamatkan. Mereka berhasil mengungsi ke rumah familinya! Namun, penghobi alat-alat elektronik ini tidak perlu lagi bermimpi benda-benda itu dapat kembali, semuanya---isi rumah—sudah dibawa hanyut banjir. Ketika saya tanya, bagaimana kondisi rumah, dapat ditinggali lagi? Dia menjawab dengan senyum, sejak banjir rumahnya sudah kosong melompong, rusak parah, dan tak mungkin dihuni lagi. Dan atas kemurahan hati seorang Pendeta, mereka sekeluarga tinggal di rumah hamba Tuhan itu. Dan hanya karena kasih karunia Tuhan belaka, mereka mendapat kiriman berkat sandang-pangan dari orang-orang yang tergerak belas kasihnya. Perjuangan baru dalam hidupnya dimulai lagi dari nol. Adakah maksud Tuhan baginya dengan musibah ini? Dengan mata berbinar dia berujar: “Saya waktu itu panik, cemas, marah…di tengah-tengah serangan bajir itu, namun di tengah kepanikan itu tiba-tiba saya merasakan damai sejahtera di hati saya, sehingga dengan tenang saya bisa berdoa bersama anak-istri dan dengan tenang mengungsi, serta menerima semua ini dengan hati penuh pengucapan syukur! Selain itu saya pun telah memperoleh posisi kembali sebagai imam di tengah keluarga! Dan yang lebih penting lagi kehidupan rohani rumah tangga kami dipulihkan! Sebab, sebelum musibah banjir hal-hal tersebut tidak ada dalam rumah tangga saya.”

      Banjir melahirkan ribuan masalah! Harta benda, nyawa melayang. Rasa sakit, rasa frustrasi, rasa marah bertubi-tubi menghinggapi. Hasil kerja keras bertahun-tahun hilang lenyap dalam hitungan menit. Kehilangan pekerjaan, kehilangan keuntungan, kehilangan surat-surat penting dan barang-barang penunjang kerja. Ya! Akankah semuanya ini menghancurkan hidup kita? Teringat kisah Ayub di Alkitab, dia pun tidak ada bedanya dengan kita yang saat ini banyak “kehilangan” akibat dihantam banjir! Namun diujung terpaan musibah yang bertubi-tubi itu Ayub melakukan reaksi seperti ini: Maka berdirilah Ayub, lalu mengoyak jubahnya, dan mencukur kepalanya, kemudian sujudlah ia dan menyembah, katanya: "Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!" Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dan tidak menuduh Allah berbuat yang kurang patut. (Ayub 1:20-22).

      Dan siapa bilang kita tidak memendam kemarahan saat terkena musibah banjir ini? Rasio dan perasaan kita pastilah bekerja dalam menghadapi bencana ini. Ribuan pertanyaan dan pernyataan yang dilapisi kekesalan dan kemarahan keluar menggaung! Mengapa Gubernur-ku tak mampu mengatasi ini? Mengapa “fenomena alam” yang menjadi terdakwa utama? Mengapa hutan dan bukit-bukit jadi gundul dan didirikan villa-villa? Mengapa sampah dibuang sembarangan sehingga memenuhi sungai-sungai dan saluran air? Dan mengapa sawah-sawah telah dipakai untuk membangun gedung-gedung bertingkat yang megah? Mengapa…mengapa…mengapa?

      Ujung dari ”mengapa” tersebut tentu saja adalah kemarahan! Tetapi syukurlah pemazmur memberi pesan untuk kita: Biarlah kamu marah, tetapi jangan berbuat dosa; berkata-katalah dalam hatimu di tempat tidurmu, tetapi tetaplah diam. (Mazmur 4:5)

Jakarta, 23 Februari 2007

 

     Tema Adiputra

Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."