• PDF

Ketika Orang-orang Media Berdoa

Penilaian Pengunjung: / 0
TerjelekTerbaik 
  • Senin, 01 Juni 2009 17:29
  • Ditulis oleh Tema Adiputra
  • Sudah dibaca: 1757 kali

      Siapa sih yang tidak kenal ibu Sumita Tobing “orang TV” yang pernah menjabat sebagai Direktur Utama TVRI? Dia duduk di sebelah kiri saya, dan melontarkan pernyataan rohani yang sangat mengejutkan! Waktu itu kami---orang-orang media---sedang rapat yang didahului dengan doa dan puji-pujian bagi-Nya. Ucapan ibu itu yang membuat saya terhenyak adalah: “Kalau saya kelak di Sorga ditanya oleh Bapa, hai Sumita apa yang sudah kamu perbuat selama hidup di dunia dengan talentamu itu? Saya harus dapat menjawab itu dengan mantap dan dengan sukacita. Itulah sebabnya saya hadir dalam pertemuan dan kegiatan ini dan siap membagikan ‘sesuatu’. Sehingga dengan demikian saya bisa menjawab pertanyaan tadi.”

      Saya membatin dalam hati, tahukah ibu…bahwa saya meyakini semua yang hadir dalam pertemuan itu juga memiliki kerinduan yang sama. Terbukti dengan kehadiran mereka. Dan kerelaan hati mereka untuk juga memberi “sesuatu” yang dimulai pada saat itu. entah itu pikiran, tenaga, dana (paling tidak telah keluar uang bensin/transport he…he…he…) dan waktu, tentu saja. Nah, kalau yang hadir itu sudah memiliki tujuan dan motivasi yang sama serta visi-misi yang sama, maka tidak perlu lagi menunda-nunda waktu untuk melakukan “sesuatu” secara bersama, yang bermanfaat dan menjadi berkat bagi sesama umat.

      Mari kita mengingat sejenak apa-apa saja yang telah diberikan media setiap hari bagi kita? Dari televisi, dari radio, dari media cetak, dari internet, dari film, dan lain-lain. Wahhhh….pastilah ada segudang catatan yang mampu kita buat untuk menjelaskan dampak positif maupun dampak negatifnya! Hm…hm…hm…untuk menguraikan dampak-dampak itu tentu saja kita---penikmat media, yang memang setiap hari tidak bisa lepas dari kungkungan media---rata-rata dianggap sudah mahirlah menganalisanya. Pemilik dan pelayan warteg saja di Jakarta ini ketika saya pancing kometarnya, woalaahhhh….tidak kalah dengan komentator resmi. Apalagi kalau ditanyakan tentang sinetron-sinetron….wah, bergairah mereka itu!

      Nah, ternyata ada bola salju yang mulai bergulir dari puncak gunung es dalam hal sajian-sajian dari media selama ini untuk dikonsumsi masyarakat penikmat media. Jelas, bola saju itu sangat berbahaya! Oleh sebab itu dalam pertemuan kami di atas tadi, tercuatlah sebuah kegiatan yang akan dilaksanakan dengan mengajak umat kristiani (pemilik/pelaku bisnis media, praktisi media, dan pemimpin/jemaat gereja serta para pendoa) untuk bersama-sama mendoakan media yang ada di negeri tercinta ini.  Kegiatan tersebut bernama “Doa Terobosan Media/Breaktrough Prayer for Media”. Temanya yaitu “Umat berdoa, Media berobah”. Akan diadakan di Jakarta, tepatnya di Bellagio Boutique Mall Lt.2-01, Kawasan Mega Kuningan, pada hari Sabtu, 21 April 2007, dari pukul 10.00 – 13.00 WIB. Para pembaca tulisan saya ini, di manapun Anda berada,  yang tergerak hatinya untuk mendoakan media yang ada di negeri ini, marilah bergabung. Keterangan lebih lanjut hubungi Swanky (HP 08161993643), Jeffry (Telp.021-45860 114).

      Nah…beberapa waktu lalu di gedung tempat akan diadakan “Doa Terobosan Media” itu telah berlangsung Gathering Focus Ministry Media dengan pembicara utama J. Lee Grady (Chief Editor Charisma Magazine-USA). Saya hadir dalam acara itu secara penuh. Dan terungkap dalam pertemuan itu perihal kendala-kendala yang dihadapi media Kristen antara lain: pandangan gereja, kurangnya dana, kecurigaan dari para pemimpin gereja, tidak berkembangnya sistem distribusi, dan tantangan dari pemerintah.

      Juga, pada kesempatan itu sebagai orang radio saya menanyakan pada pak Lee Grady bagaimana pengalamannya ketika berada di beberapa negara yang “mirip” dengan Indonesia yang penuh kendala dalam penyiaran Kabar Baik. Dia menjawab berdasarkan pengalamannya, kalau mau diterima “karya-karyamu” maka janganlah frontal “melawan” warna kebijakan yang ada di negara itu. Dengan kata lain, bijaksanalah, berhikmatlah, kreatiflah, kemaslah sedemikian rupa. Ya! Dan…ada satu lagi yang menyentuh hati saya, sebuah kesaksian yang diungkap pak Lee Grady. Kawasan Hollywood-USA yang eksklusif bertabur artis/aktor dunia itu ternyata setelah didatangi anak-anak Tuhan  untuk berdoa ke kawasan itu, maka terjadilah “perobahan”. Banyak yang telah “menikmati” Kabar Baik!  Semua terjadi karena kekuatan doa!

      Oh…ya, mau tahu bagaimana saya menilai sajian media belakangan ini? Baiklah, tidak banyak yang dapat saya ungkap di sini karena keterbatasan halaman. Namun ada hal yang inti ingin saya sampaikan. Saya termasuk manusia yang tidur larut malam he…he..he… karena senang membaca-baca dan menulis pada malam hari. Ketika sudah mulai sedikit lelah, biasanya saya menyetel televisi atau mendengar siaran radio sejenak. Nah…ketika sudah menikmati “selingan” itu, maka saya lanjutkan aktivitas di atas.

      Semenjak di televisi banyak tayangan yang “aneh-aneh” terkadang saya betul-betul terkejut/kaget banget (kata orang Betawi) ketika lagi enak-enak menonton acara yang bagus eh…eh…eh…tiba-tiba muncul iklan acara yang ada hantunya, tengkoraknya, kuburan, makhluk jadi-jadian, dengan wajah menyeramkan dan tubuh tercabik-cabik, berdarah-darah dan sebagainya. Bayangkan! Di larut malam disodori tayangan gambar seperti itu. Saya lagi sendirian di kamar. Suasana lagi sunyi-sepi. Yang lain sudah tidur. Wahhh…bukan takut, lho. Kita ‘kan anak-anak terang! Tapi itu lho…kaget sekali! Dan biasanya meluncurlah dari mulut saya ungkapan kekesalan….huhhhhhhh! Sembari dengan cepat saya ganti saluran ke TV lain---yang terkadang juga menyajikan hal serupa, bahkan lebih seram lagi, woalahhhh…!  Malam sunyi senyap bukannya bintang-bintang bertaburan (teringat lagu Malam Kudus)…tapi malah okultisme bertaburan!

      Ini lagi. Juga pada tengah/larut malam. Mulanya sih iklan TV itu menampilkan seorang wanita cantik berjalan di daerah sepi. Lalu ada dua pemuda yang mengintip dan mengikutinya. Ketika dua pemuda itu merasa sudah aman di dekat semak-semak rimbun, wanita cantik itu pun mereka bekap/tangkap dan akhirnya terjatuh di tanah lalu pingsan! Dua pemuda itu bingung sejenak namun akhirnya tidak mau menyia-nyiakan kesempatan. Semua perhiasan di tubuh wanita itu diambil, dompetnya juga. Nah…ketika melihat cincin emas di jari manis wanita itu mereka pun berusaha mengambilnya.Tapi mengalami kesulitan! Salah seorang pemuda itu berkata, sudah potong saja! Lalu temannya itu pun memotong jari si wanita cantik itu, kemudian melepas cincin dari jari yang terpotong itu. Penuh darah! Dengan “rileks-nya” sang sutradara/kamerawan mempertontonkan kepada pemirsa proses memotong jari, jari yang terpotong saat melepas cincin, dan tangannya  yang akhirnya digeletakkan di dada wanita cantik itu yang terlihat jelas tanpa satu jari (walaupun ini “trik”). Ya, ampuuunnn! Saya sampai beberapa malam selalu secara tidak sengaja---saat memindahkan saluran TV--- melihat iklan sinetron ini. Duhhh…sadisme telah bertaburan di malam sunyi sepi!

      Tapi yang satu ini sedikit menyegarkan. Sempat pula saya melihat wawancara khusus TV dengan bapak Menteri Sofyan Djalil, yang juga sudah mulai gemas melihat sajian-sajian keras dan berdarah-darah itu di televisi negeri ini. Pak Menteri dengan nada sedikit tinggi berujar, dia akan mensomasi pihak penayang acara seperti itu. Pak Menteri bertekad untuk menghapus tayangan-tayangan sadis itu di negeri ini, sembari memberi contoh di negara-negara maju tertentu sama sekali tidak ada “tayangan berdarah”-nya! 

      Ya! Sekarang, mari kembali ke warteg (mau tahu mengapa saya sering ke warteg? Ternyata menu makanan di warteg juga tidak kalah nikmatnya dengan yang ada di rumah makan Padang maupun restoran-restoran….ha…ha…ha, namun harus juga siap menerima bonus asap rokok yang mengepul-ngepul dari pengunjung lain). Pagi itu saya tengah menikmati makanan, dan saya semeja dengan buruh bangunan yang sedang merenovasi warteg itu. Sambil makan, saya lirik si tukang itu tampak sangat serius membaca “koran kuning” (berisi berita-berita sensasional, gossip-gossip, dan kriminalitas vulgar). Sampai saya usai makan barulah dia beranjak dan meninggalkan meja itu. Nah…sambil memberi kesempatan makanan turun ke perut, saya ambil koran itu dan membuka halaman pertama. Weleh…weleh…weleh…di situ penuh dengan judul-judul berita yang diuntai dengan kalimat panjang yang hanya “pantas” dibaca oleh orang sangat dewasa. Ditambah pula dengan foto-foto penunjang yang “alahmaaaakkkk” ! Dan ada satu berita kriminal di tengah halaman pertama dimuatnya, diberi judul “Sopir antar-jemput karyawan/karyawati mencabut……” (maaf saya tidak teruskan, pokoknya judul berita itu memuat proses pelecehan seksual sadis oleh sang sopir terhadap seorang karyawati yang paling terakhir hendak diantar pulang ke rumahnya pada malam hari). Kontan saja saya yang baru makan di situ, merasakan mual di perut. Segera saya tinggalkan warteg itu, dan di perjalanan saya merenungkan…dan berharap…kapan, ya…media cetak seperti itu bisa dibreidel!

      Nah, yang berikut tentang buku terbitan penerbit & penulis kristiani. Tahun lalu, seorang teman saya---ibu rumah tangga memiliki dua anak remaja yang masih di SD---dengan wajah tegang dan ngomel-ngomel me-lakban dan membungkus sebuah buku bacaan tentang mendidik anak yang diceritakan oleh seorang wanita penulis (single parents, korban kekerasan dalam rumah tangga). Di dalam buku  itu ada bab yang menceritakan bagaimana anak si penulis (anak laki-laki masih kecil) mendapatkan kosa kata tertentu dari teman-teman sepergaulannya. Kata itu menjadi bahan diskusi antara si penulis dengan anaknya. Namun kata itu begitu sering bertaburan di dalam bab tulisan itu, sehingga “mengganggu” nilai rasa bahasa para pembaca. Itulah yang dialami ibu rumah tangga yang ngomel-ngomel di atas. Oh ya….sedikit info tentang nilai rasa bahasa yang membudaya di masyarakat kita: orang-orang kalangan tertentu akan memilih kata-kata  yang bernilai rasa bahasa “tinggi” ketimbang yang “rendah” ketika berbicara. Misalnya: nyonya (si anu)—istri (si anu)---bini (si anu). Nah, di dalam buku kisah mendidik anak secara single parents tersebut ada satu kata yaitu nama/istilah alat kelamin anak laki-laki ditulis sesuai ucapan si anak, namun dengan kata yang bernilai rasa bahasa “rendah” sehingga terkesan vulgar! Persoalannya adalah (setelah saya pun mendapatkan buku itu dan membacanya) frekuensi penulisan kata tersebut berkali-kali di dalam bab itu. Padahal sebenarnya cukuplah sekali saja kata “vulgar” itu ditulis, lalu untuk seterusnya dipergunakan istilah yang lebih “halus”. Jadi, wajar saja si ibu yang ngomel-ngomel itu, tidak mau buku tersebut dibaca/terbaca anak-anaknya, khawatir terhadap kata “vulgar” tadi yang bernilai rasa bahasa “rendah”, yang acapkali juga dipakai untuk memaki/menghina orang dalam suatu pertengkaran!

      Aihhhh……sangat banyaklah yang dapat dibahas bila berbicara tentang media. Tapi saya ingin bertanya pada kita, semua? Sadarkah kita bahwa kita ini adalah juga media? Bahwa kita ini adalah kitab yang terbuka yang menjadi saksi-Nya dalam kehidupan kita sehari-hari. Kita juga dipakai-Nya sebagai media pengabaran Kabar Baik. Ya! Yang menyadari ini tentulah akan selalu berusaha hidup dengan baik dan benar sesuai petunjuk-Nya. Namun bagi yang tidak menyadari maupun bagi yang setengah menyadari maka hal itu bisa menjadi bumerang alias senjata makan tuan! Nah, oleh sebab itu marilah kita saling mendoakan, terkait dengan persoalan media yang mungkin tengah “sakit” dan bertaburan di negeri ini, di dunia ini! Ingat, “umat berdoa, media berobah”! (Yakobus 5:16) “Karena itu hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh. Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya.”

Jakarta, 7 April 2007

 

    Tema Adiputra
Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
na  - komen   |125.160.204.xxx |09-12-2009 23:01:46
Setuju...memang media di Indonesia perlu banyak dikaji, terutama dari segi gaya
bahasa, baik di media cetak maupun elektonik.
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."