• PDF

Artis Jailolo Manado Baby

Penilaian Pengunjung: / 2
TerjelekTerbaik 
  • Senin, 01 Juni 2009 17:30
  • Ditulis oleh Tema Adiputra
  • Sudah dibaca: 7920 kali
     Saya agak kaget ketika beberapa menit sebelum On Air di studio RPK FM, dia mengatakan telah menulis sebuah buku rohani. Spontan dalam hati saya berkata: Hah?? Mantan artis lagu-lagu pop Indonesia & film layar lebar koq bisa-bisanya menulis buku rohani?? (Duhhh…saya akhirnya sungguh menyesal memiliki pemikiran spontan seperti itu). Maka selanjutnya di tengah-tengah acara rohani yang saya pandu setiap Sabtu malam itu, berbagai pertanyaan saya ajukan padanya terkait kesaksian hidupnya dan isi bukunya. Dialah Nindy Ellesse yang kini aktif dalam berbagai pelayanan rohani baik di dalam maupun di luar negeri. Buku kesaksian hidupnya, “Hidup Bukan Teka-teki” yang juga mengulas ayat-ayat firman Tuhan dalam bentuk renungan ternyata memang asyik dibaca dan memberi jawaban terhadap: Untuk apa aku hidup di dunia ini? Apa tujuan hidup saya?

      Dua pertanyaan di atas itu yang terus dicari jawabnya oleh sang penulis buku yang mengalami dampak perceraian orang tuanya. Semasa remaja dia telah melakukan tindakan bodoh yaitu: “Sebenarnya ini adalah kali kedua saya mencoba mengakhiri hidup saya. Beberapa bulan sebelumnya saya mencoba mengakhiri hidup dengan menghabiskan dua belas butir obat sakit kepala, tetapi mungkin waktu itu saya kurang serius untuk benar-benar mengakhiri hidup saya, sehingga beberapa menit kemudian saya hanya merasakan jantung yang berdetak semakin cepat dan semakin keras, saya kemudian tertidur, tetapi ternyata keesokan harinya saya masih bisa terbangun dan melihat hari yang baru”.

      Akhirnya, di bagian penutup tulisannya diungkapkan bahwa hidup bukanlah sebuah teka-teki. Hidup yang hanya sekali saja, perlu dimaksimalkan! Yakni dengan meyakini adanya penyertaan Allah, memiliki visi, hidup yang seimbang, dan memiliki integritas. Nah…kalau di awal tulisan ini saya sedikit kaget Nindy Ellesse mampu menulis sebuah buku rohani, maka di bagian akhir paragraf ini saya pun sedikit kaget karena menemukan beberapa kesalahan tulis dalam buku tersebut…hm…hm…hm…seandainya buku itu sebelum naik-cetak saya baca terlebih dahulu (sebagai editor & pembaca awal), maka boleh jadi gangguan teknis itu bisa terhilang.

      Dan sekarang ada apa dengan Jailolo? He…he…he…itu bukan nama kue! Dan juga bukan judul sebuah lagu! Jailolo adalah nama sebuah kabupaten di Halmahera Barat yang saya datangi belum lama ini, tepatnya di kecamatan Akelamo. Meresponi ajakan Senh Li Ministry yang mengadakan Kebaktian Kebangunan Rohani & Seminar Rohani di tempat itu  selama 4 hari, maka setelah melalui pergumulan doa, sayapun akhirnya siap bergabung dalam rombongan. Tetapi saya terlambat satu hari tiba di sana karena masih harus menyelesaikan kegiatan memberi training radio di Jakarta. Ya! Bukan main pengalaman perjalanan rohani ke sana. Saya “menerima” informasi yang menciutkan hati untuk menuju tempat yang belum pernah saya datangi itu. Terlebih di tengah kelelahan fisik dan pikiran karena beberapa kegiatan saya sebelumnya sungguh menguras tenaga dan pikiran. Bayangkan! Hari Jumat jam 04.30 WIB dinihari saya harus sudah ada di bandara Cengkareng, sedangkan saya hanya tidur dari jam 02.00 – 03.00 WIB. Karena masih mempersiapkan materi seminar yang akan saya sajikan di Akelamo. Namun “gangguan” ini harus dilawan dan diatasi. Hm…hm…akhirnya jam setengah empat dinihari saya pun tiba di stasiun Gambir menaiki bus Damri menuju bandara.

      Di dalam pesawat ada tokoh penting, Jenderal (Pur.) Wiranto dan timnya dari partai Hanura yang sedang menuju Manado. Di sebelah tempat duduk saya ada dua orang petugas dinas kesehatan Jailolo yang baru saja mengikuti pelatihan di Depkes, Jakarta. Saya berkenalan dengan mereka. Yang pria bernama Iskandar, yang wanita Erni. Dan di dalam pikiran saya……ada bayangan “info-info” yang menciutkan hati. Katanya, tanggal 7 Juni dan seterusnya akan terjadi gempa, tsunami, dan berbagai bencana alam besar yang akan melanda negeri ini apalagi di bagian timur sana! Dan teman saya pun bercerita, dulu ada dokter PTT di daerah yang saya tuju itu mengalami gangguan jiwa setelah  bertamu di rumah anggota masyarakat setempat. Nah…yang paling seru lagi, dua orang teman baru dari dinas kesehatan Jailolo itu mengatakan, banyak nyamuk malaria di sana, dan serangga itu bekerja 24 jam! Jadi jagalah diri dengan berjaket dan memakai obat anti nyamuk! Woalahhhh…di tengah dinginnya udara di dalam pesawat, segala hal yang menciutkan hati itu terkadang datang mengganggu. Tetapi saya pun tidak melupakan sebelum menaiki pesawat ini, saya telah didoakan dan berdoa pribadi pada-Nya mohon kasih perlindungan-Nya. Agar saya kuat dan berani menghadapi semua itu!   

      Bersyukur telah berkenalan dengan Iskandar dan Erni, karena dari mereka saya dapat menggali informasi bagaimana  tiba di tempat tujuan. Bersyukur juga karena mereka ramah, dan sempat mentraktir saya makan nasi kuning di bandara Sam Ratulangie, Manado. Bersyukur juga setelah kami menaiki pesawat kecil dari Manado dan mendarat di Ternate, kami berpisah dan ternyata telah ada bapak pendeta yang menjemput saya serta siap bersama dia menaiki motor boat menuju Jailolo. Betapa sukacita hati ini berkumpul dengan rombongan yang telah tiba sehari sebelumnya. Ya! Setiba di rumah penginapan saya langsung mencari Autan untuk berjaga-jaga dari serangan nyamuk di kecamatan Akelamo ini. Tetapi hanya satu saya peroleh dari warung di penginapan itu. Ahhh, saya pikir tak apalah…daripada tidak ada. Tanpa tersadari karena larut dalam acara-acara yang penuh aroma kerohanian, sang obat poles anti nyamuk itu tidak pernah saya sentuh, bahkan sampai terbawa pulang ke Jakarta!

      Ada catatan manis pada malam hari terakhir KKR. Ibu Bupati yang menyempatkan diri hadir di KKR itu menceritakan sesuatu pada kami. Kalau pembaca masih ingat, di media massa belum lama ini ada berita rombongan Ibu Megawati disandera saat tiba di Ternate. Yang disandera massa akhirnya adalah rombongan mobil yang di dalamnya tidak terdapat Ibu Megawati dan Bupati serta Ibu. Itu adalah hasil doa spontan di dalam mobil oleh  Bupati serta Ibu!!  Petinggi daerah ini mohon pada Tuhan agar tidak dipermalukan akibat massa yang akan menyandera kendaraan tamu dari Jakarta itu. Dalam hitungan detik Tuhan memberi hikmat pada Bupati untuk memerintahkan memadamkan lampu kelap-kelip mobil pengawal depan dan mobil Ibu Megawati dan dirinya, tetapi dia lupa memerintahkan kepada mobil di belakangnya. Akibatnya luar biasa! Mobil yang lampunya tidak berkelap-kelip lolos dari kepungan massa. Karena massa menyangka Ibu Megawati berada di dalam mobil yang lampunya masih kelap-kelip, sehingga tersanderalah rombongan berikutnya itu. 

      Nah…Jailolo dan Akelamo penuh kenangan manis, juga Ternate tempat kami sesaat membeli suvenir berbahan besi putih dan makan siang di rumah makan berpanorama laut serta pulau Tidore. Ibu Ketua Senh Li Ministry benar-benar dipakai Tuhan untuk “membakar hati” umat pada saat KKR di Akelamo itu. Demikian pula sajian Seminar pun turut  memberi “api” untuk memaksimalkan bentuk-bentuk pelayanan yang ada! Ya! Semua itu menjadi catatan manis ketika kami telah berada di dalam pesawat kecil yang mengangkut kami dari Ternate menuju Manado untuk pelayanan khusus selama 3 hari.    

      Ada apa dengan kota Manado yang kali kedua saya kunjungi ini? Hm…hm..setiba di penginapan sore hari, tak berapa lama kemudian kami sudah memenuhi undangan yang anggota keluarganya berulang tahun. Kami pun mendoakan keluarga itu. Lanjut lagi, kami menuju Tondano menghadiri ulang tahun seorang Ibu gembala jemaat. Saat mau pulang ke kota Manado sempat kami nikmati kacang khas daerah setempat. Keesokan pagi kami berkesempatan bersiaran di radio El-Gibbor FM (tempat saya dulu pernah memberikan training untuk para crew-nya) yang berbaik hati mau menambah 15 menit agar siaran kami genap 1 jam mengudara. Ya! Dua malam tiga hari di kota tersebut saya pikir kami akan banyak waktu luang, ternyata sangat padat perkunjungan ke rumah-rumah yang mengundang agar didoakan. Bahkan kami berkunjung ke dua pastori gereja yang Gembala seniornya sakit komplikasi untuk didoakan. Wah…wah…(yang aneh) saya rasakan, tidak ada rasa kelelahan fisik dan pikiran. Semua mengalir dengan sukacita!

      Sempat pula kami kunjungi (sekadar ingin tahu) lokasi rumah Natalia di Bitung, anak remaja yang “menghebohkan” karena menyembuhkan orang-orang yang menderita berbagai penyakit. Gadis remaja berusia 15 tahun ini berdoa dalam nama Yesus, maka orang buta dapat melihat, yang lumpuh berjalan, penyakit kanker lenyap, dan lain-lain. Dari tempat parkiran mobil saya memerlukan waktu 5 menit untuk sampai ke halaman rumahnya. Waktu itu sudah jam 6 sore, Natalia sedang beristirahat. Terlihat rumah petak kecil orang tuanya dipenuhi pengunjung. Halaman rumah orang lain pun dipenuhi ratusan pengunjung yang menderita berbagai penyakit. Yang duduk dan berdiri antri penuh sesak. Di pojokan sebuah halaman saya lihat tumpukan kursi roda menggunung, ditinggalkan pemakainya yang sudah bisa berjalan! Para pengunjung itu sudah berada di halaman tersebut  sejak jam 6 pagi. Mereka hanya  menunggu saja Natalia keluar rumah dan “memilih” siapa yang dipanggilnya dan yang ditariknya ke dalam rumah untuk didoakan sehingga memperoleh pemulihan dan kesembuhan! Weleehhh…weleeehh…(saya berkata dalam hati), kalau Tuhan berkarya, siapa saja bisa dipakai-Nya sebagai alat-Nya! Hm…hm..dalam perjalanan pulang ke kota Manado, di dalam mobil saya membatin, semoga para pengunjung rumah Natalia itu bukan mencari Natalia tetapi mencari, dan mendapatkan Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya serta Jurupenyembuhnya!

      Nah…mari melanjut lagi! Siapa gerangan Baby? Waaoow…yang ini bukan bayi lagi. Beliau adalah seorang Oma berusia 64 tahun dengan nama Baby Manuhutu. Tuhan mengaruniakan talenta yang luar biasa padanya. Dia mantan Polwan ( S 1 ) di Jakarta. Semasa berdinas, salah satu “tugasnya” adalah sebagai penyanyi dalam grup band korps tersebut. Setelah minta pensiun dini dan mulai terjun dalam Ministry dia diberi  kemampuan untuk menciptakan lagu-lagu rohani secara spontan dari ayat-ayat Alkitab yang dibacanya. Di awal dia pensiun dini itu, suaminya dipanggil Tuhan. Dan di situlah terjadi perobahan hidupnya secara radikal yakni bergantung penuh pada Tuhan dalam mencari uang untuk hidup sehari-hari dan membesarkan anak-anaknya. Dia hancurkan “rasa gengsi”-nya saat berjualan kue bikinannya sendiri. Ya! Saya kisahkan ini karena beberapa hari setelah kami pulang dari pelayanan di Manado, ibu Baby mengadakan ibadah pengucapan syukur HUT-nya ke-64 di sebuah gedung pertemuan di Jakarta Selatan. Saya menghadiri undangan itu, dan turut pula melingkarinya dengan hamba-hamba Tuhan lainnya guna mendoakan ibu Baby yang bersimpuh di lantai mimbar.

      Ibu ini mengaku cepat jatuh belas kasihan. Di tempat kami menginap waktu pelayanan di Akelamo, ada seorang anak muda kurus yang tampilannya sedikit ”berantakan” dengan wajah yang tampak “kusut”. Ternyata anak muda itu adalah famili dari si pemilik penginapan. Malam terakhir KKR, ibu Baby berhasil mendorong si anak muda itu untuk datang ke gereja yang hanya 2 menit bila naik sepeda motor dari penginapan. Saya dipesankan agar bersama-sama anak muda itu berangkat ke gereja. Nah, pada saat jemputan tiba saya mencari-cari si anak muda ini, ternyata dia telah keluar rumah, katanya pergi dulu ke rumah temannya untuk pinjam pakaian. Yah…terpaksalah saya berangkat sendiri. Dan kembali menitip pesan pada si penjemput untuk kembali ke penginapan mengajak anak muda itu. Ehhhh…sampai berakhirnya KKR, ternyata dia tidak muncul-muncul. Maka melaporlah saya pada ibu Baby. Tetapi…apa yang terjadi keesokan pagi, sebelum kami berangkat ke pelabuhan? Saat saya kembali ke penginapan usai jogging, betapa terkejutnya saya, di teras rumah saya lihat ibu Baby dan si anak muda itu duduk di bangku, masing-masing memegang Alkitab, dan ibu Baby melayani anak muda itu! Puji Tuhan!! Momentum itu saya jepret di kamera saya!

      Nah…untuk apa sih saya berpanjang lebar men-saksi-kan semua ini dalam tulisan? Hm…ada yang menggelitik sukma saya! Untuk apa seorang yang bernama Nindy Ellesse mau bertobat dan berlelah-lelah memperbaiki kualitas kehidupan rohaninya, dan mau mencari makna hidup yang sebenarnya di dalam Tuhan Yesus? Tentu karena dia menyadari dirinya sendiri pun perlu di-kasihi. Perlu mendapatkan kasih dari Tuhan dan dari sesama. Juga untuk apa pula saya dan teman-teman sepelayanan dari Senh Li Ministry mau datang ke daerah terpencil dan ke rumah-rumah jemaat di Manado untuk berdoa bersama, kalau bukan ada kasih  Tuhan yang menggerakkan kami untuk meninggalkan Jakarta? Dan…untuk apa pula ibu Baby di saat hendak meninggalkan Akelamo masih menyempatkan diri untuk mempelajari Alkitab bersama anak muda di penginapan itu? Tentulah ada belas kasihan yang ditaruh Tuhan di hatinya.

      Ya! Hidup yang berarti dan bermakna sebenarnya tidak ruwet, tidak njlimet! Kasih Tuhan Yesus yang telah menyelamatkan kita dari kematian kekal hanya perlu kita syukuri di setiap detak jantung dan helaan nafas kehidupan kita setiap hari. Ucapan syukur kita itu tinggal kita aplikasikan dengan mengasihi-Nya sepenuh hati, menjalankan perintah-perintah-Nya, dan berbagi kasih terhadap sesama! Firman Tuhan telah berkata: “Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu, dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Kasihilah sesamamu manusia seperti engkau mengasihi dirimu sendiri. (Matius 22:37-40).

 

Jakarta, 26 Juni 2007

 

Tema Adiputra

Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."