• PDF

Suka-suka saya memaknai Pengucapan Syukur!!

Penilaian Pengunjung: / 0
TerjelekTerbaik 
  • Senin, 01 Juni 2009 17:30
  • Ditulis oleh Tema Adiputra
  • Sudah dibaca: 2111 kali

      Bertahun-tahun telah saya dengar kisah tentang “cap Tikus”-minuman keras khas Minahasa. Ketika orang-orang bercerita perihal itu, rasa penasaran saya bergejolak dan ingin cepat-cepat tahu lebih dalam. Katanya sih, luar biasa pengaruh miras itu! Khususnya bagi orang-orang yang menikmati dan telah kecanduan padanya. He…he…he…untung saya tidak doyan itu! Karena saya masih “trauma” pada dampak minuman beralkohol. Beberapa tahun silam, saya menginap di rumah sahabat saya di Tanjung Priok. Seingat saya waktu itu malam peringatan hari besar kristiani. Saya begadang dengan keluarga teman saya itu. Sehingga paginya terlambat bangun. Dan ketika terbangun saya merasakan badan tidak enak, dan terasa masuk angin. Oleh seorang kenalan sahabat saya itu saya dipijat sekaligus di kup! Waktu itu saya belum sarapan! Usai menangani badan saya, saya dianjurkan minum anggur “pak Jenggot” sekadar penghangat badan. Saya minum satu seloki (seukuran tutup botolnya)! Dan beberapa menit kemudian saya diundang untuk sarapan pagi. Nah…saat berjalan dari kamar ke meja makan tamu, dan juga saat saya makan di meja makan itu, saya merasakan kepala pening sekali, mata meram-melek dan beberapa kali kepala saya terkulai hampir mengenai piring-piring, saya mabok! Teler! Karena saya tidak tahan lagi, saya percepat makan dan berjalan ke tempat tidur dengan tertatih-tatih dan hampir ambruk ke lantai. Tiba di kamar, saya ambruk ke kasur! Lalu tertidur berjam-jam sampai sore hari. Luaaaaarrr biasaaa, sebuah pengalaman pahit!

      Pertengahan Juli 2007 saya berkesempatan ikut pelayanan sebuah Ministry (dari Jakarta) di Minahasa, Sulut. Salah satu kegiatan Ministry itu adalah mengadakan KKR. Dan waktu itu kami mengunjungi daerah Kumelembuai, bertepatan dengan daerah itu mengadakan “Hari Pengucapan (Syukur)” yang telah mentradisi di Minahasa. Hari Pengucapan ini setara dengan “Thanksgiving Day”, demikian menurut beberapa pendapat teman saya. Nah, kami mengadakan KKR di gereja setempat. Ketika kami dari Amurang memasuki daerah itu jam 9 pagi terlihatlah persiapan di setiap rumah yang sibuk memasak berbagai makanan untuk para tamu nantinya. Siapa saja boleh memasuki setiap rumah, pasti dijamu dengan ramah. Itulah bentuk ucapan syukur mereka pada Tuhan. Saya berkomentar dalam hati, wah…ini mah berwisata kuliner, karena rasa masakan Minahasa yang sering saya lahap di Jakarta, sangat berbeda sekali dengan yang ada di daerah aslinya! Di daerah aslinya lebih sedaaaaappp, lebih alami, lebih segarrrrr ...hm…hm…hm…ck...ck...ck!

      Saya tentu saja “terkontaminasi” oleh atmosfir Hari Pengucapan (Syukur) itu. Bagus ya…misi yang dikandungnya. Serasa seperti melihat orang-orang/ masyarakat Indonesia yang tengah merayakan hari Lebaran/Natal/Tahun Baru. Famili-famili/relasi dari kota-kota maupun orang-orang sekitar datang ke daerah itu sehingga sore harinya ketika mereka pulang ke kota maka kembali “mentradisi” kemacetan lalu lintas! Nah, ketika kami mampir ke daerah yang bernama Tenga, maka di sinilah saya terperangah. Kami diajak ke sebuah rumah keluarga (pejabat) yang ada lapangan rumputnya dan telah dipasangi tenda serta panggung hiburan dengan band. Di tengah tenda telah tersedia meja prasmanan lengkap dengan makanan besar/kecil dan juga minuman. Kami dengan leluasa menyantap semua sajian itu. Salah seorang anggota rombongan kami, Danar (Indonesian Idol) bahkan sempat didaulat untuk bernyanyi, dan salah satu lagunya berirama dangdut membuat penonton turut bergoyang. Begitulah suasana keceriaan yang ada…namun saya heran, di dekat bangku saya duduk, ada seorang bapak dengan  penampilan “kumuh” dari tadi tertidur sembari duduk dengan kaki terlipat. Dia tidak terpengaruh dengan hingar bingarnya suasana. Juga tidak terpengaruh dengan para tetamu yang berpenampilan rapi dan necis! Saya diberitahu bahwa si bapak itu sedang menikmati mabuk-nya karena si cap Tikus! Duhhhh…! Dan saya juga jadi teringat tidak jauh dari lapangan rumput ini, dari dalam mobil tadi kami melihat sekumpulan anak-anak muda duduk di halaman sebuah rumah, dan di mejanya tampak beberapa botol si cap Tikus! Woalaaahhhh! Dan lebih seru lagi, ketika mau pulang ke Amurang, terjadi sedikit kemacetan di jalan raya dekat rumah yang kami kunjungi itu. Apa penyebabnya? Ternyata ada seorang bapak yang menaiki sepeda motor di tengah jalan, dia berteriak-teriak memarahi dan memaki-maki setiap pengendara motor maupun mobil yang melaluinya. Dia telah dikendalikan oleh si cap Tikus! Weleh…weleh…weleh…! Masih ada lagi nih! Setiba di ujung jalan raya daerah Tenga dan hendak belok kanan memasuki jalan bypass menuju Amurang, beberapa anak muda dengan jalan terhoyong-hoyong dan matanya merah, memaksa membuka jendela mobil dan meminta sesuatu. Lagi-lagi si cap Tikus telah membuatnya bertingkah sangar seperti itu…busyettt dehh…! Puji Tuhan, mobil kami tidak dia  minati untuk diganggu! (Tentu saja karena kami berdoa, sekalipun di dalam hati, maupun dengan berbisik sendiri). Hm…hm…hm…pemabuk-pemabuk itu telah dengan sesuka hatinya memaknai momen Pengucapan Syukur!

      Seteringat saya, ada dua kesaksian yang disiarkan ibu yang menyandang beberapa gelar bidang hukum ini, melekat erat di hati saya. Ya! Di acara rohani yang disiarkan sebuah stasiun radio di Jakarta, yang dapat didengar di seluruh Nusantara dan juga di seluruh dunia (dengan akses internet), saya sebagai pemandu acara itu memperhatikan ibu ini menyampaikan kesaksiannya di depan mikrofon. Dia bersaksi tentang “pelecehan ilmiah” yang dilakukan oleh seorang mahasiswinya yang adalah istri seorang jenderal. Bayangkan, pada saat ujian, si mahasiswi itu datang terlambat, lalu masuk ruangan, dan tidak berapa lama telah keluar ruangan sembari menyerahkan lembaran kertas ujian yang telah terisi jawabannya! Luar biasa…sementara mahasiswa lain sedang berjuang mencari jawaban dari soal-soal ujian. Sang ibu dosen tentu saja terheran-heran dan sangat tahu mengapa itu bisa terjadi. Biasalah……”permainan” kekuasaan! Tentu saja sang ibu dosen ini bereaksi di hari-hari selanjutnya, dan berusaha “meluruskan” cara-cara yang tidak sportif ini. Namun, ancaman demi ancaman datang silih berganti dari anak buah sang jenderal. Pistol pun sempat teracung, dan bahkan si ibu dosen ini dipanggil ke rumah mahasiswinya! Oaaalahh…di sana dia (didampingi suaminya yang adalah seorang pendeta) diceramahi dan diminta untuk tidak “ribut-ribut” tentang persoalan ini. Biarkan saja sang mahasiswi itu berkuliah dengan cara seperti itu! (Padahal para mahasiwa lain telah siap mendukung sang ibu dosen untuk berunjuk rasa!)  Ya! Sebagai seorang manusia biasa si ibu dosen ini tentulah ada juga rasa takutnya. Namun dia berkata---di bagian akhir kesaksiannya malam itu---“…saya melepaskan pengampunan kepada mereka, saya tidak meneruskan menggugat mereka, saya mengucap syukur pada Tuhan atas semua peristiwa ini, biarkanlah Tuhan beracara dalam persoalan ini di hari-hari mendatang, dengan begini saya justru merasakan kedamaian di hati…”        

      Setelah sekian lama tidak jumpa di udara, baru-baru ini sang ibu dosen  bersama suaminya (pendeta) kembali datang untuk  bersiaran. Dan seperti yang telah saya duga, kembali ada kesaksian baru dari ibu itu. Dia berkisah : “…mobil yang kami tumpangi saat mau turun dari jalan tol di daerah Cempaka Putih, Jakarta, terjebak macet. Tiba-tiba dari arah belakang datang bus luar kota menabrak mobil kami, dan hal ini menyebabkan tabrakan beruntun! Hanya karena kasih perlindungan dari Tuhan saja maka kami tidak mengalami apa-apa! Namun jadilah  semua ini menjadi urusan polisi. Di hadapan beberapa pemilik mobil yang rusak akibat tabrakan beruntun, dan juga di hadapan polisi yang mengurus persoalan ini, terjadilah “ketidak-adilan”. Hanya mobil ibu dosen ini yang tidak mendapat ganti rugi. Sang ibu berucap : “…saya melepaskan pengampunan kepada mereka dan mengucapkan beberapa kata kesaksian, lalu beranjak pergi, dan kemudian bersama suami mencari dana untuk biaya perbaikan mobil di hari berikutnya. Saya tidak sakit hati, saya tidak marah.” (Sebulan kemudian, sang polisi menemui ibu dosen dan suaminya. Dia tidak tenang hatinya karena mendengar pengampunan yang dilepaskan ibu dosen ini. Akhirnya dengan upaya sang polisi ini, maka pihak perusahaan bus memberikan ganti rugi juga sebesar Rp 10 juta---sebuah jumlah yang sangat besar dibandingkan yang diperoleh para pemilik mobil yang terdahulu korban tabrakan beruntun. Sekalipun jumlah itu belumlah cukup untuk perbaikan mobil yang rusak berat, namun sang ibu dosen mengucap syukur atas campur tangan Tuhan dalam persoalan ini).            

      Ahhhh…rasanya hal di atas hanyalah sebuah cerita-nyata ringan, ya? Terserahlah! Pertanyaan saya sederhana saja koq. Bagaimana kita selama ini memaknai pengucapan syukur kita pada Tuhan? Dengan berdoa setiap hari, dengan memberi sedekah kepada pengemis, mentraktir makan teman-teman, memotong gaji untuk persepuluhan, membagikan hasil kebun untuk tetangga, meminjamkan uang atau memberi dengan tulus, rutin mengadakan kebaktian di rumah, aktif dalam pelayanan, dan sebagainya deh, atau malah aktif melepaskan pengampunan---sembari memuji Tuhan dengan hati yang selalu mengucap syukur---kepada pihak yang nyata-nyata merugikan kita?

      Marilah kita renungkan ucapan pemazmur berikut ini: (Mazmur 9:2-5) “Aku mau bersyukur kepada TUHAN dengan segenap hatiku, aku mau menceritakan segala perbuatan-Mu yang ajaib; aku mau bersukacita dan bersukaria karena Engkau, bermazmur bagi nama-Mu, ya Mahatinggi, sebab musuhku mundur, tersandung jatuh dan binasa di hadapan-Mu. Sebab Engkau membela perkaraku dan hakku, sebagai Hakim yang adil Engkau duduk di atas takhta”.

Jakarta , 7 Agustus 2007

 

    Tema  Adiputra
Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."