“PK”—Persembahan Kasih

Penilaian Pengunjung: / 1
TerjelekTerbaik 
Saya pertama kali mendengar terminologi “persembahan kasih” itu sekitar 6 tahun lalu ketika di sebuah perusahaan jasa informasi yang 99% karyawannya adalah orang Kristen, akan menerima gaji/honor bulanan. Saat itu terdengar suara ramai-ramai para karyawan: “Wah…sebentar lagi kita menerima PK”! Saya belum paham waktu itu apa yang mereka maksud. Namun setelah mereka satu persatu memasuki ruang manajemen, lalu keluar ruangan dengan membawa sebuah amplop dan sedikit senyum, ha…ha…ha…barulah saya mengerti. Rupanya PK itu adalah gaji/honor bulanan mereka. Ya! Karena muncul rasa penasaran saya, saya coba bertanya, apakah ada di dalam amplop itu struk gaji? Ehhhh…ternyata tidak ada, lho!! Begitulah…yang terjadi, dan teman-teman saya itu memang dari awal sudah ditanamkan oleh pimpinannya bahwa mereka itu bekerja di ladang pelayanan, sekalipun sebenarnya tempat bekerjanya itu adalah perseroan terbatas!

      Apakah kata “kasih” dalam terminologi “persembahan kasih” telah mampu mengalahkan segala-galanya? He…he…he…pertanyaan ini menggelitik nurani saya! Saya membayangkan ada sebuah situasi begini. Terimalah amplop ini sebagai bukti engkau kukasihi! Dan kau harus menerima amplop (berisi uang ini) sebagai bukti engkau mengasihiku! Waoowww…begitu mungkin kira-kira konsep yang tertanam di hati kedua belah pihak, yang menerapkan sistem PK. Sehingga kalau suatu saat aku (pimpinan) terpaksa memberikan nominal persembahan kasih tidak seperti jumlah biasanya, bahkan berkurang, maka kau tidak usah memproteslah. Kau tetap setia sajalah, di ladang pelayanan ini. Kalau kau tidak merasa puas, mungkin ada baiknya kau pindah saja ke “ladang” lain! (Wah…gawat juga bila sampai ada dialog semacam ini. Namun…tidak tertutup kemungkinan Anda, pembaca, pernah mengalaminya!). 

      Berikut  kisah nyata yang saya alami. Setahun yang lalu seorang Ibu Pendeta sangat bersukacita melihat “hasil” kerja pelayanan saya malam itu bersama timnya. Sehingga ketika saya hendak keluar dari pintu ruangan tempat pelayanan itu, tiba-tiba saja dia mencegat saya dan menyerahkan amplop sambil berkata: “Ini ada sedikit berkat, persembahan kasih, mohon diterima.” Hm…hm…hm…dengan penuh pengucapan syukur saya terima itu. Dan saya tidak langsung membuka amplop itu. Barulah setiba di rumah saya buka amplop tadi dengan sebelumnya membaca tulisan di amplop itu: persembahan kasih untuk Ibu…(ternyata itu adalah amplop yang diberikan sebuah jemaat gereja karena Ibu Pendeta tersebut baru saja selesai berkotbah di situ). Hm…hm…hm…saya tidak pernah berpikir akan pernah menerima amplop dari Ibu Pendeta itu, karena memang sudah tugas saya dalam melakukan pelayanan bersama timnya. Dan pertemuan dengan Ibu Pendeta itu sudah terjadi beberapa kali, dan tidak pernah dia memberikan amplop, dan lebih-lebih saya pun tidak pernah meminta padanya! Sehingga ketika saya buka amplop itu setiba di rumah dan melihat isinya betapa kaget saya, ada Rp 400 ribu! Tentu saja saya terharu, dan berdoa saat itu juga agar Tuhan membalaskan berkat lipat-kali-ganda padanya!

      Menarik memang merenungkan hal di atas, saya pun tidak pernah memikirkan hal ini dalam-dalam sebelumnya. Hanya saja pernah suatu ketika saya berbincang dengan seorang sahabat muda (kini dia sudah jadi Pendeta) tentang persembahan kasih ini. Dia mengatakan, “Wah….payah deh ministry besar itu, masak hanya dikasi PK sekian untuk para singer-nya….padahal ministry itu mampu memasang iklan di koran nasional (sambil menyebut angka rupiah yang membuat saya kaget dan membatin: murah banget!).

      Ya! Kalau saya mencoba memahami posisi-diri seorang  pimpinan sebuah ministry/gereja, maka boleh jadi penerapan PK ini dilakukan untuk melihat dan merasakan sejauh mana pengorbanan dari para anggota/jemaatnya. Sejauh mana seseorang ditempa untuk tidak mendahulukan mencari uang tetapi mencari dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, sehingga semua itu akan ditambahkan kepadamu. Dan…juga  bisa saja, dengan memberi PK itu maka sebenarnyalah si pimpinan ministry/gereja itu sudah menunjukkan bahwa kerja para anggota/jemaatnya tidak digratiskan. Tetapi tetap ada “upah”-nya. Terlebih bila nun jauh di dalam hati si pemimpin itu ada niatan untuk mengkader seseorang menjadi penggantinya kelak! Maka ujian dasar yang harus dilewati adalah, menyelidiki motivasi kader itu untuk mencari uangkah, mencari jabatankah, atau……?

      Bahkan bisa jadi sebuah konsep yang sangat dasar diterapkan di belakang PK ini, yakni si pemimpin menginginkan penundukan total sebagai seorang hamba kepada anggota/jemaatnya sehingga PK itu adalah bukti penghargaannya terhadap penundukan itu. Begitukah? He….he….he….he…! Namun saya mengakui di dalam hati yang terdalam, atmosfir kerja pelayanan, memang sangat penuh dengan nuansa–nuansa tertentu, yang terkadang sangat terselubung, dan tidak mudah ditebak, sehingga dapat menimbulkan salah-tafsir. 

      Namun yang “bahaya” dalam hal ini---dengan PK yang bukan diistilahkan sebagai gaji/honor ini---adalah dapat saja dia menyimpang ke kiri dan ke kanan. Artinya, si penerima PK dapat saja merasa telah disewenang-wenangi maupun dicurangi oleh si pemberi PK. Si pemimpin semakin penuh berkat tetapi si anggota koq ya….semakin miskin berkat he…he…he…he. Mau menuntut naik gaji atau naik PK nggak enak hati rasanya. Lha wong dulu tidak ada negosiasi PK, bagaimana mau memprotes? Maka kalau tidak memakai manajemen terbuka, kondisi menara gading  keuangan ministry maupun gereja tersebut semakin mapan, dan si penerima PK yang  hanya bisa pasrah ya…begitu–begitu terus deh nasibnya. Oleh sebab itu pertanyaan lanjutannya, di manakah tempat yang tepat untuk menerapkan sistem PK ini? Haramkah bila PK itu dikemas dengan sistem gaji/honor yang professional? Alergikah para pemimpin yang memberi PK kepada anggotanya/jemaatnya menyelipkan struk–rincian perhitungan di dalam amplop PK-nya? Welehhh…weleeehh…siapa ya…yang telah pernah punya keberanian melakukan ini?

      Oh ya….sebelum mengakhiri tulisan ini, simaklah sebuah pengalaman berikut, yang setelah beberapa hari kemudian  saya pun tersenyum-geli sendiri bila mengingatnya! Malam itu setelah melaksanakan tugas pelayanan rutin seminggu sekali di tempat tersebut, maka menjelang pulangnya semua rombongan, Ibu yang bertanggung jawab perihal keuangan ministry itu pun menghampiri saya sembari berkata: “Bung…ini (sambil dia tersenyum dan menyerahkan amplop)…maaf tidak seperti biasanya, lho.” Lalu saya pun menerima amplop itu dengan tidak berpikir panjang. Yah…saya tenang-tenang saja karena selama dua tahun bergabung membantu pelayanan mereka, secara rutin persoalan PK lancar-lancar saja. Nah, barulah setelah beberapa waktu kemudian saya “ngeh” perihal kata-kata “tidak seperti biasanya, lho”. Ternyata isi amplop itu telah terpotong sebesar 40%. Jujur saja, saya sempat kaget dan bertanya-tanya? Ada apa, ya? Koq dipotong “jatah” rutin saya? Dan mengapa ya…si Ibu tadi tidak berterus terang pada saya perihal alasan pemotongan itu? He…he…he…dan segudang pertanyaan analisis lainnya berkecamuk di benak saya. Sungguh menarik ternyata karena…karena…ada sedikit rasa sebel di hati saya ha..ha…ha…ha.      

      Jadi, sekarang bagaimana, ya? Menurut hemat saya, PK memang harus “dipersembahkan/diberikan” secara kasih! Kasih yang dimaksud haruslah penuh dengan ketulusan dan kejujuran. Kejujuran berarti perlu dilingkupi dengan nilai yang layak dan sewajarnya/sepantasnya. Nilai yang layak tentu saja tidak statis, dia dapat dinamis bergerak mengikuti perkembangan nilai kebutuhan ekonomi seseorang. Karena, semakin kita banyak memberi berkat dalam kasih Tuhan, bukankah tidak akan pernah berkurang sumur berkat kita, bahkan sampai melimpah-ruah air berkatnya!

      Ahhhh……kalau si pemberi PK dan si penerima PK sama-sama memegang pesan yang ada di dalam Galatia 5:22-23 maka boleh jadi cara pandang terhadap PK selama ini akan lebih bermakna, lebih terbuka, dan membawa damai sejahtera di hati kedua belah pihak! (“Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.)

 

Jakarta, 1 Oktober 2007

 

Tema  Adiputra

Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."