Kayak apa sih, takut akan Tuhan?

Penilaian Pengunjung: / 2
TerjelekTerbaik 
     Ada satu periode dalam hidup saya mencari-cari jawaban pertanyaan di atas untuk “memuaskan hati” dan mengerti dengan dalam. Tidak mudah ternyata. Namun akhirnya mulai terbuka juga yakni pada suatu kesempatan saya mewawancarai bapak Jonathan Parapak (waktu itu dia sebagai petinggi di sebuah departemen pemerintah). Saya datang ke rumahnya di kawasan Menteng, malam hari. Banyak hal yang saya tanyakan, dan salah satu pertanyaan saya padanya adalah: apa yang Bapak takutkan dalam hidup ini?

      Maksud saya mengajukan pertanyaan tersebut kepadanya tentulah ingin mendapatkan jawaban yang “manusiawi” sebagaimana yang lumrah terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga dengan demikian para pendengar (wawancara itu untuk sebuah program acara radio) dapat merasakan dan mengetahui bahwa seorang Jonathan Parapak adalah juga seorang manusia biasa. Tapi apa nyana? Tak disangka dan tak terduga dengan rileksnya dia menjawab: saya takut melanggar Firman Tuhan, saya takut berbuat dosa, saya takut tidak menjadi berkat bagi orang lain…! Begitulah, saya terhenyak mendengar jawaban seperti itu. Dan hal tersebut telah merobek sebuah tabir ketidakmengertian saya pada sesuatu hal selama ini.

      Secara sederhana, dan secara alami, ketakutan muncul karena sebab yang jelas, maupun sebab yang kurang jelas, dan bahkan karena sebab yang tidak jelas dan tidak wajar (yakni, hanya sebuah imajinasi/ilusi/halusinasi belaka). Ya! Namun arah tulisan ini berinti di arena rohani, sehingga bila kita melakukan kesalahan/berbuat dosa, mestinya kita takut. Takut akan dampak dan akibat berbuat salah dan berbuat dosa tadi. Karena pastilah akan ada “hukuman’-nya, baik itu dari aparat penegak hukum maupun “aparat Sorgawi”. Jadi sebenarnya sangat wajar bila kita takut pada akibat dari melanggar “aturan main” hidup di dunia ini. Dan terlebih lagi sangat wajar bila kita takut untuk melanggar “aturan main” dari Tuhan perihal bagaimana kita hidup di dunia ini, untuk bersiap diri menuju hidup kekal di tempat-Nya nanti! Namun…he…he…he…jujur sajalah, ternyata tidak sedikit di antara kita yang justru takut pada aturan main dari dunia, ketimbang aturan main dari dari Sorga perihal bagaimana hidup di dunia ini.

      Seorang ibu yang giat dalam pelayanan, pimpinan sebuah Ministry, dia istri dari seorang yang punya jabatan tinggi di sebuah BUMN, setelah mengalami berbagai “hajaran” dari Tuhan, akhirnya dia bertobat dari hidup yang berfoya-foya dan sangat mengandalkan kekuatan/kepintaran diri sendiri. Dia berbalik arah 180 derajat (awas! Jangan 360 derajat, lho!). Lalu dengan sepenuh hati, sepenuh waktu, dia melayani Tuhan. Dan kalau dia sedang kotbah di mimbar, sungguh lantang/berapi-api, dan daya tahan fisiknya luar biasa padahal sekarang usianya sudah kepala 6, serta telah memiliki cucu pula, dan berstatus janda. Dalam berbagai kesaksian hidupnya, dia berkali-kali menyatakan, betapa dia sungguh bersyukur atas kasih anugerah Tuhan yang telah mengubah hidupnya. Dan dia sangat takut untuk jatuh kembali ke jurang hidup lamanya! Oleh sebab itu dia terus melakukan “tindakan” untuk dekat, melekat, dan menempel pada Firman Tuhan! Manakala dia sudah di dalam kamar untuk berdoa, maka jangan ditanya berapa lama waktu yang diperlukan, sebab Ibu ini akan keluar dari kamar bila sukacita, damai sejahtera dari-Nya telah dia peroleh hari itu! Ya, takut akan Tuhan telah mendidiknya seperti itu.   

      Dan yang berikut ini belum lama terjadi. Saya bersahabat dengan seorang bapak, dia seorang Profesor yang telah banyak makan asam garam kehidupan ini. Pada sebuah titik kehidupannya dia pun bertobat dan menjadi hamba Tuhan sampai sekarang.  Suatu pagi dia saya ajak untuk hadir dalam sebuah pertemuan sharing hamba-hamba Tuhan dan aktifis-aktifis gereja/ministry maupun tokoh-tokoh kristiani. Bapak ini selalu mengajak istrinya---seorang pendoa yang sangat diberkati Tuhan. Kami pun tiba di tempat pertemuan rutin tersebut. Yang hadir di situ adalah orang-orang yang rindu terjadinya tranformasi di negeri ini, dan secara khusus pada waktu itu sedang dibahas transformasi di Ibukota Jakarta. Maka terjadilah dialog yang sangat membuka wawasan dan memberi kekuatan iman untuk bekerja di ladang “transformasi” itu. Sang pendeta yang Profesor itu, sekalipun baru pertama kali hadir, juga turut berbicara dengan semangat! Namun saya memperhatikan, istrinya hanya diam saja, cuma sesekali saja meng-aminkan pernyataan-pernyataan dari para perespon. Sampai pada akhirnya selesailah acara tersebut. Dan sebagaimana biasa hadirin pun bersalam-salaman dan berbicara/berdiskusi secara nonformal. Saya perhatikan (sembari saya juga berdiskusi dengan beberapa orang) pak Profesor dan istrinya pun berbincang-bincang dengan orang-orang tertentu. Dan sempat saya lihat istri Profesor itu berbincang agak lama dengan istri pimpinan Pelayanan Transformasi  tersebut. Terlihat serius mereka! Nah, ketika kami sudah berada dalam mobil pulang ke rumah, tiba-tiba saja istri Profesor itu mengatakan, “Tadi, saat penyembahan dan doa, saya melihat (baca: mendapat penglihatan rohani) “sesuatu” mengelilingi istrinya pimpinan Pelayanan Transformasi itu, lalu saya ceritakan padanya perihal penglihatan saya itu, karena saya takut akan Tuhan bila tidak menyampaikan penglihatan itu kepadanya. Itulah sebabnya saya tadi terlihat berbicara serius dengannya!” Ya, saya hanya mengaminkan saja apa yang diceritakan istri Profesor itu. Dia telah memiliki pemahaman yang kuat bagaimana mengaplikasikan “takut akan Tuhan” dalam hidupnya. Dia tidak takut menghampiri seseorang bila memang Tuhan memberi penglihatan rohani menyangkut seseorang tadi. Dia akan menceritakannya!

      Tapi apa yang saya alami berikut ini, sampai sekarang masih menjadi perenungan yang dalam dan saya bawa-bawa dalam doa. Seorang Ibu muda, saudara jauh saya, pada suatu kesempatan sharing, tiba-tiba mengungkapkan bahwa dia sudah lebih dari setahun memiliki PIL dan rutin bertemu serta rutin melakukan romantisme. Semua itu tanpa sepengetahuan suaminya. Kaget sekali saya! Koq, tiba-tiba dia terbuka seperti itu! Lalu saya tanya apa alasannya melakukan itu. Terungkap bahwa PIL-nya itu dulu (sekian tahun lalu) telah sangat berjasa menolongnya. Dan karena sang PIL itu sekarang berstatus duda, maka sang Ibu muda ini tidak mampu menolak “permintaan tolong” sang duda, yang berakibat munculnya relasi back street tersebut. Duhhhh…! Karena waktu perbincangan dengan saya itu suasananya netral, dan saya tidak menyangka akan keluar informasi itu, maka saya tidak memberi respons apa-apa! Ada sedikit shock di dalam diri saya. Namun beberapa hari kemudian, saya gelisah dan tidak tenang di hati. Ada rasa bersalah atas sikap dan respons saya terhadap kasus berat yang dihadapi saudara jauh saya itu. Lalu saya berdoa, dan tiba-tiba muncul rasa takut saya pada Tuhan. Saya takut dimarahi-Nya bila tidak memberi nasehat kepada si Ibu muda itu! Maka segera saya ambil keputusan penting, dan langsung memberi nasehat dan teguran kasih padanya agar secepat mungkin memutuskan relasi back street tersebut. Selanjutnya apa yang terjadi? Ternyata dia merespon dengan memberi argumentasi, bahwa yang dia lakukan itu baik adanya! Woalaaahhhh!!! Ya, ampun Tuhan!!!  Akhirnya sampai sekarang, saya hanya mampu mendoakannya saja! Saya percaya kekuatan doa, seperti halnya kesaksian saya tentang doa pada tulisan-tulisan saya sebelum ini.

      Hm…hm…siapa sih di antara kita yang tidak pernah berbuat dosa dan tidak pernah melakukan kesalahan? Saya yakin para pembaca tidak berani mengangkat tangan untuk mengatakan: sayalah orangnya! Dalam kehidupan sehari-hari kita, tekanan hidup, rayuan Iblis, kekosongan jiwa, salah memahami Firman Tuhan, teladan negatif dari orang tua kita, pergaulan yang buruk, kebiasaan buruk dan jahat, dan sebagainya adalah pemicu yang menyebabkan kita jatuh dalam lembah dosa dan area kesalahan. Dengan jujur saya katakan saya pun pernah “jatuh”. Namun karena kasih anugerah Tuhan sajalah saya bisa bangkit kembali! Ya! Dapat dibayangkan betapa menderitanya hidup bila kita sudah berada di seberang tanah damai sejahtera-Nya. Yang ada adalah ketakutan, kegelisahan, tidak minat lagi pada hal-hal yang beraroma rohani, hidup terasa hampa, dan bahkan bisa jadi ingin mati (bunuh diri) saja deh! Wah…wah…! Kini saya semakin “mengerti” mengapa ada orang-orang yang mengambil jalan pintas untuk menyelesaikan berbagai problema hidupnya denga tindakan/berbuat bodoh. Yakni benar-benar menuntaskan setuntas-tuntasnya persoalan itu dengan cara terjun dari gedung tinggi, gantung diri, membakar diri, dan lain-lain. Mereka telah kalah dalam kehidupan ini! Mereka takut hidup namun berani mati!

      Syukurlah, Tuhan itu baik, ya? DIA mendengar jerit tangis dan hancurnya hati seseorang yang telah menyadari dosa-dosanya. Yang telah berurai air mata dalam doa-doanya untuk berjanji tidak akan berbuat dosa lagi. Dan bertobat sungguh-sungguh! Bahkan memiliki kerinduan hati untuk melayani-Nya lebih sungguh lagi, lebih dalam lagi, lebih dekat lagi dan melekat pada Firman-Nya. Memang benarlah, jangan sekali-sekali meremehkan “takut akan Tuhan”!

      Raja Daud, kita tahulah bagaimana jalan hidupnya. Di balik kecemerlangan “karier”-nya, ternyata dia pernah “jatuh” ke lembah dosa dan perbuatan jahat yang keji. Kita tahu bagaimana dia ditempelak oleh Nabi Natan. Dan kita pun sangat tahu bagaimana Daud sangat menyesali perbuatannya itu. Dia minta pengampunan pada Tuhan. Dalam pergumulan yang panjang dan tetes air mata yang tak terukur lagi, dia memohon (saking takutnya pada Tuhan!) ini pada Tuhan: “Sembunyikanlah wajah-Mu terhadap dosaku, hapuskanlah segala kesalahanku! Jadikanlah hatiku tahir, ya Allah, dan perbaharuilah batinku dengan roh yang teguh! Janganlah membuang aku dari hadapan-Mu, dan janganlah mengambil roh-Mu yang kudus dari padaku! Bangkitkanlah kembali padaku kegirangan karena selamat yang dari pada-Mu, dan lengkapilah aku dengan roh yang rela! Maka aku akan mengajarkan jalan-Mu kepada orang-orang yang melakukan pelanggaran, supaya orang-orang berdosa berbalik kepada-Mu.” (Mazmur 51:11-15)

 

Jakarta , 2 November 2007

 

Tema  Adiputra

Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."