• PDF

Iblis tak suka tapi ada ronde kedua!!

Penilaian Pengunjung: / 2
TerjelekTerbaik 
  • Senin, 01 Juni 2009 17:32
  • Ditulis oleh Tema Adiputra
  • Sudah dibaca: 4093 kali
    Waow… terakhir kali saya menulis sebuah puisi untuk keperluan pementasan panggung adalah untuk sebuah drama yang diperlombakan di Jakarta, sekitar 20 tahun lalu. Di dalam naskah drama itu saya sisipkan sebuah puisi yang dibaca oleh seorang pemeran drama. Yah… waktu yang tidak sebentar untuk “tidur”-nya sebuah talenta disebabkan saya lebih banyak “sensitif” dalam dunia media sampai sekarang tentu. Namun tiba-tiba saja pertengahan Desember 2007 saya merasakan kehambaran luar biasa dalam hati. Rasa gamang itu saya bawa dalam tidur dengan aneka pertanyaan, antara lain, apa yang harus saya lakukan dalam perayaan Natal tahun ini? (Tahun 2006 saya membuat naskah drama Natal, namun tidak terpentaskan karena saya sibuk mengerjakan yang lain. Teman-teman yang menerima copy naskah drama Natal itu pun tidak memberi kabar apakah mereka telah mementaskan drama Natal karya saya tersebut.)

      Dan, puji Tuhan, tiba-tiba saja pada pagi hari saat bangun, terlintas sebuah inspirasi, mengapa tidak saya buat saja sebuah puisi Natal? Nah…luar biasa gejolak di hati saya pagi itu. Saya pun berdoa pada-Nya untuk minta dukungan/tuntunan dan akhirnya saya membulatkan tekad. Dan saya pun tidak menunda-nunda lagi, langsung menghubungi seorang Ibu pimpinan sebuah Ministry yang akan mengadakan perayaan Natal. Saya tanyakan padanya apakah sudah ada acara baca puisi Natal? Wah… ternyata belum ada. Dia katakan, sangat tepat sekali bila saya bersedia membacakan puisi Natal pada acara tersebut. He… he… he… gayung bersambut! Maka saya masukilah masa-masa pergumulan di dalam proses kreatif menciptakan puisi rohani. Dan setelah tercipta, saya pun berlatih sendiri, menyutradarai sendiri, dan mengevaluasi sendiri…hm…hm…hm…sudah biasalah saya begitu! Tak usah heran.

      Yang perlu “diherankan” adalah, saya bersaing suara dengan seorang bapak pengangguran, di seberang kamar kost saya. Dia setiap hari berteriak-teriak (katanya tidak dia sadari teriakan itu, katanya lagi ada makhluk halus yang mengganggunya, ahhhhh…ono-ono wae!) pada waktu pagi-siang-sore-malam-dinihari. Dia stress/depresi. Bedanya kami adalah saya berteriak-teriak untuk melatih power vokal dan melatih penghayatan baca puisi he… he… he… he… he. Tempat kost ini hanya berpenghuni 4 orang padahal kamarnya buuuuanyak! Jadi untuk kali ini saya sangat beruntung tidak perlu pergi jauh-jauh ke tepi pantai untuk latihan vokal.

      Wah…tidak mudah mengembalikan stamina-performa setelah 20-an tahun tidak manggung main drama dan baca puisi! Apalagi saya terbiasa siaran di radio (manggung di udara) dengan suara setengah, tidak full keluar! Maka hanya karena kerinduan untuk dapat menjadi saluran berkat via puisi Natal tahun ini, semangat latihan saya luar biasa. Agar tidak malulah nanti di panggung.

      Ya! Jumat pagi itu (sorenya perayaan Natal) saya menerima sms balasan dari ketua panitia Natal bahwa dia belum tahu akan adanya rencana saya membaca puisi Natal. Alahhhhmakk!! Bagaimana, ini?! Kaget sekali saya…selidik punya selidik ternyata Ibu ketua Ministry terlupa memberitahukan ke panitia. Hm… hm… bersyukur akhirnya persoalan beres. Saya pun merenung, mengapa ya…pada Kamis malam tiba-tiba saja saya iseng kirim sms ke panitia untuk konfirmasi. Dan pada Jumat pagi terjadilah peristiwa di atas. Saya bayangkan betapa “heboh”-nya bila pada sore harinya saya yang sudah siap tempur datang ke tempat perayaan Natal tapi ternyata pembacaan puisi Natal tidak ada di susunan acara…wahhh.

      Masih hari Jumat, siang harinya tiba-tiba saja saya merasakan badan saya lemas sekali… lho lho… kenapa ini? Padahal saya sedang bersiap pergi ke SMA Santa Ursula untuk rapat rutin dengan kru radio komunitas sekolah itu, yang sudah saya bina selama 5 tahun. Wahhh…serba salah saya! Akhirnya saya bulatkan tekad untuk keluar rumah. Sepulang dari sekolah itu saya menuju tempat kost keponakan saya untuk istirahat sejenak karena tempat itu hanya 15 menit dari tempat perayaan Natal. Tapi, duhhhh… saya tertahan hampir sejam dengan kondisi lemah dan lelah di sebuah warteg menunggu keponakan saya yang dosen itu pulang. Ya! Di warteg itu saya baru sadar bahwa sedari tadi saya banyak makan tahu goreng, makanan berminyak, yang sangat “haram” dimakan bila hendak siaran di radio/pentas drama/baca puisi! Tapi, terlanjur sudah.

      Jam setengah enam sore saya baru dapat berbaring di kasur kamar kost itu. Padalah jam 6 sore acara Natal dimulai. Saya dahulukan keponakan saya untuk mandi. Dan ternyata… dia baru keluar kamar mandi 30 menit kemudian! Busyeett!! Sehingga ketika giliran saya masuk, hanya makan waktu 5 menit saya sudah selesai, maklum mandi koboi! Kemudian… kami berangkat ke tempat perayaan Natal, setelah sebelumnya berdoa. Kami terlambat 45 menit, sehingga duduk di bangku paling belakang. Nah, sudah tenangkah saya?

      Ternyata tidak. Tiba-tiba saja saya merasakan bahwa suara saya mulai serak, dan terancam akan “hilang”. Pasalnya pemimpin pujian memiliki nada dasar yang bagi saya kerendahan maupun ketinggian! Suara saya terasa tercekik. Ada beberapa kali saya keluar ruangan menuju toilet membuang lendir akibat memakan makanan berminyak. Semakin saya membuang lendir semakin terasa suara saya akan hilang, apalagi ruangan itu lumayan dingin AC-nya! Meminum segelas air mineral pun tidak banyak membantu.  Ohhhh… Tuhan! Saya mulai panik! Dan di tengah kepanikan itu saya mulai berdoa dengan berbisik---memohon Tuhan menolong memulihkan suara saya---sembari dengan sepenuh hati mendengarkan dan menikmati isi kotbah Natal yang dibawakan Pendeta orang Belanda. Ketika sang Pendeta menyuruh jemaat untuk berteriak, saya pun ikut berteriak. Ketika dia suruh kami untuk memuji Tuhan dengan keras saya pun ikutan. Semangat dan “api” Roh yang dikobarkan sang Pendeta hinggap pada saya, saya sudah tidak peduli lagi, dalam doa-bisik saya, saya tolak dalam nama Tuhan Yesus semua gangguan suara di tenggorokan saya itu! Saya tidak mau dipermalukan nanti di panggung! Dan tiba-tiba saya terhenyak dan tersadar! Ada kalimat yang dilontarkan sang Pendeta: “Ketahuilah si Iblis tak suka bila anak-anak Tuhan bersaksi, dia tidak suka bila umat-Nya berdoa. Iblis tak suka umat Tuhan diberkati, dia akan selalu berusaha menjauhkan manusia dari Tuhan-Nya! Oleh sebab itu lawanlah si Iblis itu!  Dan manakala kamu “kalah” oleh berbagai persoalan hidup, kamu lelah dan jatuh, ayo… bangun, jangan pernah menyerah! Mungkin kamu kalah di ronde pertama, tapi ingatlah masih ada ronde berikutnya, ada ronde kedua! Kamu benar-benar dikatakan kalah bila tidak bangkit lagi setelah jatuh di ronde pertama. Dan Tuhan tidak senang bila kamu tidak bangkit! Ingatlah… bangkitlah… masih ada ronde kedua! Masih ada ronde kesembilan. Ronde keduapuluh. Ronde kelimapuluh!”

      Hm… hm… hm… barulah saya tahu sekarang. Rupanya ada “sesuatu” yang menghalangi saya sejak Jumat pagi hingga detik-detik pembacaan puisi Natal. Rupanya “sesuatu” itu berusaha membatalkan saya bersaksi dengan puisi Natal di malam hari itu! Karena puisi Natal ini sengaja saya buat untuk dibacakan menjelang acara candle light, tepatnya dibacakan setelah Pendeta menyampaikan kotbah (masih dalam rangkaian acara Ibadah bukan di acara perayaan). Ya! Puji syukur pada Tuhan, ketika saya telah memegang mikrofon di panggung, saat kata pertama keluar dari mulut saya, tiba-tiba saja segala sesuatunya telah kembali normal. Tidak ada lagi gangguan di tenggorokan saya! Bahkan ada “kejutan” yang Tuhan berikan untuk saya. Mulanya saya berencana membuat surprise dengan diam-diam meminta para pemain musik untuk turut meneriakkan kata “hosanna-glori halleluya… dst.”---di tengah-tengah pembacaan puisi. Tapi saya tidak sempat berkoordinasi dengan mereka. Namun apa yang terjadi?? Tanpa saya minta, tanpa saya komandoi, ternyata pada saat saya tiba di syair tersebut… eh… eh… eh… eh… tiba-tiba saja seluruh jemaat mengikuti saya meneriakkan kata-kata sukacita itu! Ohhhhh! Tuhan telah campur tangan dalam pementasan saya! Segala puji syukur dan segala kemuliaan hanya untuk-Mu!! Inilah kado Natal untuk saya karena berserah dan mengandalkan Tuhan!

      Dorongan kerinduan untuk membagikan berkat dalam bentuk pementasan baca puisi Natal tersebut luar biasa berkobar di hati saya! Hari berikutnya (masih pertengahan bulan Desember) saya kirim sms ke beberapa sahabat saya para pendeta di gerejanya. Dan ternyata ada 2 gereja yang bersukacita dengan tawaran tersebut dan setuju pembacaan itu dilakukan sebelum acara candle light. Maka jadilah saya manggung lagi. Puji Tuhan! Ada sukacita di hati saya. Ada sesuatu rasa plong yang keluar dari hati saya yang terdalam. Saya merasakan telah memenuhi keinginan-Nya. Apa itu? Ini dia, simaklah paragraf di bawah ini.

        "Sebab hal Kerajaan Sorga sama seperti seorang yang mau bepergian ke luar negeri, yang memanggil hamba-hambanya dan mempercayakan hartanya kepada mereka. Yang seorang diberikannya lima talenta, yang seorang lagi dua dan yang seorang lain lagi satu, masing-masing menurut kesanggupannya, lalu ia berangkat. Segera pergilah hamba yang menerima lima talenta itu. Ia menjalankan uang itu lalu beroleh laba lima talenta. Hamba yang menerima dua talenta itu pun berbuat demikian juga dan berlaba dua talenta. Tetapi hamba yang menerima satu talenta itu pergi dan menggali lobang di dalam tanah lalu menyembunyikan uang tuannya.

      Lama sesudah itu pulanglah tuan hamba-hamba itu lalu mengadakan perhitungan dengan mereka. Hamba yang menerima lima talenta itu datang dan ia membawa laba lima talenta, katanya: Tuan, lima talenta tuan percayakan kepadaku; lihat, aku telah beroleh laba lima talenta. Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu. Lalu datanglah hamba yang menerima dua talenta itu, katanya: Tuan, dua talenta tuan percayakan kepadaku; lihat, aku telah beroleh laba dua talenta. Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia, engkau telah setia memikul tanggung jawab dalam perkara yang kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.

      Kini datanglah juga hamba yang menerima satu talenta itu dan berkata: Tuan, aku tahu bahwa tuan adalah manusia yang kejam yang menuai di tempat di mana tuan tidak menabur dan yang memungut dari tempat di mana tuan tidak menanam. Karena itu aku takut dan pergi menyembunyikan talenta tuan itu di dalam tanah: Ini, terimalah kepunyaan tuan! Maka jawab tuannya itu: Hai kamu, hamba yang jahat dan malas, jadi kamu sudah tahu, bahwa aku menuai di tempat di mana aku tidak menabur dan memungut dari tempat di mana aku tidak menanam? Karena itu sudahlah seharusnya uangku itu kauberikan kepada orang yang menjalankan uang, supaya sekembaliku aku menerimanya serta dengan bunganya. Sebab itu ambillah talenta itu dari padanya dan berikanlah kepada orang yang mempunyai sepuluh talenta itu. Karena setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan. Tetapi siapa yang tidak mempunyai, apa pun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya. Dan campakkanlah hamba yang tidak berguna itu ke dalam kegelapan yang paling gelap. Di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi." (Matius 25:14-30) 

      Ya! Yang pasti saya tidak mau “talenta” seni saya tidur berlama-lama dan akhirnya terkubur di dalam tanah. Ditambah pula dengan dicampakkan ke dalam kegelapan yang paling gelap yang terdapat ratap dan kertak gigi. (Kalau memerankan orang yang meratap dan ada kertak giginya dalam sebuah drama panggung sih, saya mau! He… he… he…). Benarlah, “talenta” kita harus dikembangkan, disuburkan, dan menjadi berkat bagi sesama sehingga menyenangkan hati-Nya! Bagaimana dengan Anda?

 

Jakarta, 13 Januari 2008

 

   Tema Adiputra

Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Anonymous   |110.137.30.xxx |14-11-2009 18:58:05
kereeeeeeeennnnnn
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."