“Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.” (Kolose 3:23)

      Tema Adiputra, lahir di Sibolga (Tapanuli Tengah--Sumut) tanggal 20 November 1960. Ijazahnya dari SD, SMP, SMA sampai Perguruan Tinggi semuanya dari sekolah/kampus negeri di Jakarta. Tapi bekerja selalu di swasta. Ke-sarjana-annya diraih pada bulan Januari 1985 di fakultas  pendidikan bahasa dan seni. 

      Semasa kuliah sangat aktif berorganisasi. Termasuk mendirikan teater kampus dan memunculkan buletin kampus. Artikel sastra dan opininya serta cerpennya pada periode ini kerap dimuat di harian ibukota Jakarta. Pembacaan/penulisan puisi di kampus sangat digemarinya selain bermain drama.

      Kemampuannya meresensi puisi telah mengantarnya sebagai penyiar di Radio Pelita Kasih – Jakarta pada tanggal 1 April 1984. Drama "Ibu Guru Ninuk" yang ditulis dan disutradarainya telah meraih Juara I Lomba Drama SLTP se-DKI Jakarta pada tahun 1987. Kisah perjalanan pulang ke kampung halamannya telah di muat di majalah Intisari pada tahun 1991.

      Selama 10 tahun (1986-1996) dia sempat berprofesi rangkap sebagai penyiar dan sebagai guru SMP, SMA, Pembina OSIS, serta Dosen. Bersama dua orang rekan guru, dia berhasil menjadi peserta kuiz "Silih Berganti (asuhan Bob Tutupoli)" TVRI selama 3 kali berturut-turut pada tahun 1990.

      Berbagai sertifikat pelatihan Broadcasting telah dimilikinya sejak tahun 1985. Tulisan advertorialnya (tentang Radio Pelita Kasih) secara rutin pernah selama setahun dimuat di majalah rohani popular Bahana. Beberapa kali dia memberikan pelatihan/lokakarya/penulisan naskah radio dan kepenyiaran di lembaga Kristen-supplier program/gereja/stasiun radio. Bahkan telah pula dilatihnya anak-anak sekolah minggu/anak remaja/pemuda dalam hal kepenyiaran dan menyusun program acara radio.

      Dan untuk menambah wawasan Teologia, dia mengikuti berbagai pendidikan nonformal & formal (program S2 Teologia di STT Amanat Agung-Jakarta, tidak sampai tamat karena kesibukan ekstra).  Beberapa kali juga dia menjadi moderator dan presenter di seminar rohani, dan telah pula menjadi editor buku bacaan rohani edisi bahasa Indonesia, antara lain, “Fenomena Kharismatik” (DR. Peter Masters & Prof. John C. Whitcomb) 2001, “Pengakuan Iman Baptis 1689” (DR. Peter Masters) 2001, “Keep Me from Evil, Harm and Fear” (Robert W. Smith) 2004. Dia juga dipercaya untuk membuat Prospektus Tahun 2002 (Company Profile) Universitas Pelita Harapan-Lippo Karawaci, Tangerang-Banten.

      Saat ini dia sebagai Ketua II Yayasan Marta (yang bergerak di bidang pendidikan, yang didirikan bersama sahabat-sahabatnya di Jakarta). Di kepengurusan Persekutuan Pelayanan Radio Indonesia (PPRI) periode 2002 - 2005, dia duduk sebagai Ketua IV (Bidang Humas)-Pengurus Pusat. Dan sempat pula selama 3 bulan (kemudian mengundurkan diri) menjadi Sekretaris Umum APRI (Asosiasi Pelayanan Radio Indonesia) periode 2005 – 2008.

      Dan setelah mengecap 17 tahun bekerja di RADIO PELITA KASIH-Jakarta dengan penugasan & jabatan sebagai Announcer, Manajer Program Siaran, Manajer Divisi Usaha, Pemimpin Redaksi buletin "Media Pelita Kasih" dan Kepala Litbang (Penelitian & Pengembangan) maka, sejak pertengahan tahun 2001, dia menekuni profesi sebagai Konsultan Radio Siaran.

      Dari bulan Mei 2001 sampai dengan Mei 2003 secara resmi dia menjadi Konsultan Radio Siaran di radio (full gospel) SANGKAKALA-AM,Surabaya, yang pada saat itu (Mei 2001) stasion radio tersebut baru berusia 6 bulan. Dia juga sebagai Tim Pengarah Buletin “Suara Sangkakala” plus mengasuh/menulis di kolom Setetes Embun Sepercik Air. (Sekarang bernama majalah “Sangkakala”, dengan nama kolom Setetes Embun). Sekaligus juga dia membuat advertorial tentang radio Sangkakala di majalah rohani popular Narwastu. Selain itu dia pun bersiaran membawakan renungan malam di stasion radio itu dengan nama udara “Mika Pratama”.

      Dan sejak bulan Juni 2003 – Mei 2004 secara resmi dia menjadi Konsultan Radio Siaran di stasion radio rohani MAESTRO FM – Bandung (saat itu radio tersebut sudah berusia 34 tahun). Termasuk menjadi Tim Pengarah bulletin “Media Kita” yang terbit bulanan milik radio Maestro tersebut, serta juga mengasuh dan menulis di kolom Mata Hati. Serta menulis advertorial stasion radio itu di koran Suara Pembaruan, dan beberapa media cetak kristiani. Dia pun bersiaran membawakan acara renungan malam di stasion radio tersebut.

      Dia juga menjadi Guru / Instruktur mata pelajaran Broadcasting di SMA Santa Ursula, Jakarta pada tahun 2003-2004. Dan sejak awal tahun 2004 dia pun menjadi Konsultan Radio Siaran/Pembina pada stasion radio komunitas pelajar SANUR FM (milik SMA Santa Ursula, Jakarta).

      Pada bulan Agustus – Desember 2004 dia juga menjadi Konsultan Radio Siaran di radio HEARTLINE FM-100,6 MHz di Lippo Karawaci, Tangerang-Banten.

      Dan untuk pertama kali, pada bulan September 2004 tenaga & pikirannya sebagai Konsultan Radio Siaran diminta untuk membenahi dan memberi pembekalan di RADIO  ELGIBBOR-FM, Manado-Sulawesi Utara.

      Dia juga menjadi Konsultan Radio Siaran & Trainer di Radio SUARA GRATIA  FM, Cirebon, dari bulan Juni – Desember 2005.

      Dia banyak berkomunikasi dengan pimpinan & crew stasion radio yang ada di daerah-daerah, bahkan sengaja menyediakan waktu untuk datang berkunjung, berdiskusi dan membagi pengalamannya di sana.

      Secara khusus melalui Yayasan Marta yang dipimpinnya, dia mengembangkan Kelompok Studi Radio Siaran Tetra (Kelstudi-Tetra) yang bermarkas di Jakarta namun siap melayani insan radio—dalam hal survey & penelitian--di seluruh daerah di Indonesia. Juga secara khusus dia diminta pimpinan Yayasan Gloria di Jogya untuk menulis di website yayasan itu, dalam kolom Percikan Suara Tema Adiputra sejak tahun 2002.

      Di tengah kesibukannya, masih sempat dia mengikuti kuis Siapa Berani di TV Indosiar pada pertengahan November 2003 dengan meraih Terbaik ke-2 di kelompoknya, alumni SMA Negeri 4 Jakarta.

      Saat-saat dia berada di Jakarta sekembalinya dari luar kota, beberapa tahun terakhir ini, dia secara sukarela membantu gerejanya untuk memandu acara “PALAM (pemahaman Alkitab malam)”, dan acara dari Yayasan Duta Kasih Peduli Indonesia “KASIH & MUJIZAT-NYA” serta acara “ENGKAU BERHARGA DI MATA-KU dari Sehn Li Ministry----di Radio Pelita Kasih.  

      Dan, setelah melalui proses pergumulan panjang, dia dan rekan-rekan sepelayanannya mewujudkan kehadiran sebuah lembaga pelayanan “Tetra Ministry”  pada awal Januari 2005, dan dia sebagai  Pimpinan-nya. Yang salah satu kegiatannya (di tahun 2006) adalah menerbitkan Jurnal Sendi-Rapi.

      Motto hidupnya adalah: "Memberikan yang terbaik untuk Tuhan dan sesama". (berdasarkan Kolose 3:23)

      Hobbinya, membaca buku, jalan-jalan, berorganisasi, berbincang-bincang dan menikmati dunia seni. Salah satu makanan kegemarannya: indomie rebus campur daun sawi hijau campur telur ayam kampung (yang tidak terkena flu burung, lho).

Minuman kesukaannya: air putih.

Dapat dihubungi melalui email: Alamat e-mail ini diproteksi dari spabot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya

                                    

Jakarta, 1 Juni 2006

 

Segala karya, hormat dan pujian hanya untuk-Nya!!

  • PDF
  • Cetak

Selalukah Natal Penuh Kesukacitaan?

Penilaian Pengunjung: / 2
TerjelekTerbaik 
  • Senin, 01 Juni 2009 16:26
  • Ditulis oleh Tema Adiputra
Siapa yang mau merasakan perayaan Natal tanpa kesukacitaan? Pasti tidak ada. Sebab alangkah ruginya bila suasana yang "gegap gempita" dan suasana yang "sunyi damai-syahdu" itu terganggu oleh ketidak-sukacitaan! Bukankah sejak kecil kita telah merekam bahwa suasana Natal itu adalah suasana yang sangat berbeda dengan hari-hari lainnya. Ada kado Natal, ada baju baru, ada acara kumpul bersama keluarga besar, dan bahkan tidak ketinggalan ada juga lho….mudik Natal yang membikin repot instansi Departemen Perhubungan di negeri ini. Natal telah identik dengan kesukacitaan karena Juruselamat telah datang untuk menyelamatkan umat manusia dari belenggu dosa! 

Selanjutnya: Selalukah Natal Penuh Kesukacitaan?

  • PDF
  • Cetak

Pilih Kasih?

Penilaian Pengunjung: / 1
TerjelekTerbaik 
  • Senin, 01 Juni 2009 16:26
  • Ditulis oleh Tema Adiputra
Ketika menikmati siaran permintaan lagu itu, saya mendengar si penyiar begitu akrab saat menyapa pendengar yang berpartisipasi. Memang begitulah seharusnya kalau tidak mau kehilangan pendengar. Sebab untuk apa bersiaran bila tidak ada pendengar? Ketika suatu saat saya mendapat kesempatan diwawancarai di sebuah stasion radio, yang mengangkat profil saya dan sedikit menyinggung profesi dan pelayanan saya di radio siaran rohani selama ini, saya pun sungguh menikmatinya. Pemandu acara itu pun menikmatinya pula.Ya! Begitulah seharusnya, saling menikmati agar acara itu jadi manis dan enak, sehingga pendengar pun turut pula menikmatinya.Maka itu berarti pendengar tidak akan lari ke gelombang yang lain.

Selanjutnya: Pilih Kasih?

  • PDF
  • Cetak

24 JAM

  • Senin, 01 Juni 2009 16:25
  • Ditulis oleh Tema Adiputra
Mengapa judul tulisan kali ini singkat saja? Saya sengaja, karena di balik ke-singkat-an itu ada hal yang panjang-lebar! Hidup seharian kita dilingkari 24 jam. Dari jumlah jam yang ada masih ada orang yang berharap kalau bisa sehari itu 25 jam saja. Masih kurang waktu nih…untuk urusan bisnis! Tapi tidak sedikit juga yang merasakan 24 jam itu rasanya lama sekali.Terserah Anda saja, memihak yang mana. Yang pasti ucapan "24 jam" baru-baru ini terngiang-ngiang di telinga dan hati saya. Saya membayangkan kalau kita terus-terusan berbincang selama 24 jam woalahhh…apa yang terjadi ya? Kapan tidurnya? Apa tidak gempor tuh (ungkapan Betawi) badan dan pita suara? Dan lagi pula kalau kita ribat-ribut di teras rumah selama 24 jam apa para tetangga tidak terganggu istirahatnya? 

Selanjutnya: 24 JAM

  • PDF
  • Cetak

Euforia

  • Senin, 01 Juni 2009 16:25
  • Ditulis oleh Tema Adiputra
Rasa bangga adalah sebuah perasaan yang tak pernah jauh dari jiwa seorang penyiar. Terlebih bila sebelumnya dia adalah penggemar fanatik sebuah stasion radio dan sangat aktif berpartisipasi serta berkeinginan kuat untuk dapat pula menjadi penyiar. Tidak sedikit penyiar asal mulanya adalah dari kalangan fanatik seperti itu. 

Mengapa timbul rasa bangga?

Selanjutnya: Euforia

  • PDF
  • Cetak

Rahasia Nan Tak Terpikirkan

  • Senin, 01 Juni 2009 16:24
  • Ditulis oleh Tema Adiputra
Saat itu saya tengah berada di rumah seorang relasi. Suami istri itu saya kenal karena memang salah seorang pendengar "fanatik" dari stasion radio yang ada di kotanya. Aktifitas kerohanian mereka sangat tinggi. Sekalipun usaha bisnisnya berjalan, baginya yang nomor satu adalah pelayanan! Nah ... saat saya berurusan bisnis dengannya, sempat terjadi dialog yang membahas tentang siapa penyiar favoritnya di stasion radio itu. Mereka menyebut dua nama. Dan saya tidak heran. Karena memang kenyataannya dua nama penyiar itu sejauh ini memang pantas difavoritkan sesuai dengan selera pendengar tentunya. 

Selanjutnya: Rahasia Nan Tak Terpikirkan

Selanjutnya...

Halaman 17 dari 18