• PDF

Kado-Kado Dari Anak Saya

Penilaian Pengunjung: / 9
TerjelekTerbaik 
  • Jumat, 11 September 2009 14:21
  • Ditulis oleh Agustina Wijayani
  • Sudah dibaca: 3350 kali

Suatu kali putra saya, kelas 2 SD, menghadiahi saya gelang. Gelang untaian monte buatan anak tetangga, yang ia beli dua ribu rupiah segelang. Tak biasa ia royal membelanjakan tabungannya, tapi sekali ini ia belikan saya tiga gelang sekaligus. Penasaran, saya tanya alasannya. Jawabnya, semata karena sayang. Jadi ia meminta saya selalu memakai tiga gelang itu. Saya pun memakai ketiganya di rumah. Tapi rasanya ”malu” memakai ”gelang anak-anak” keluar rumah. Walau begitu saya pakai juga sebuah. Bila orang bertanya, saya akan ceritakan kasih tulus anak saya di gelang itu!

Pada kali lain, sementara kami sekeluarga berbelanja di sebuah swalayan, anak perempuan saya—dua tahun lebih tua dari anak lelaki saya—tiba-tiba menghilang. Sesaat ketika kembali, ia menyodorkan kepada saya secarik kain halus berwarna merah muda, sebuah pembersih kacamata. Bingung dari mana ia mendapatkannya, saya menanyainya. Dengan tersenyum ia menjawab, ”Tenang, Mi, aku belikan itu buat Mami.” ”Kamu beli? Sungguh?” tanya saya memastikan. ”Iya, aku kan tahu Mami sudah nggak punya pembersih kacamata?” Saya tak menjawab apa-apa lagi kecuali mendaratkan sebuah kecupan untuknya, tanda saya merasakan sayang dan perhatiannya.

Dan masih banyak kali lain di mana saya mendapat ”sesuatu” dari anak-anak saya. Kerap mereka membelikan saya mainan anak-anak. Bukan apa-apa. Mereka mendapati sebuah mainan di sekolah, yang menyenangkan bagi mereka. Berdasarkan rasa senang itulah, mereka mengingat saya, lalu berpikir bahwa saya juga pasti akan menyukai mainan itu, sama seperti mereka. Ya, mereka hanya ingin membuat saya senang, meski mereka masih terbatas memahami apakah saya akan menyukai apa yang mereka senangi. Namun atas setiap kado yang mereka belikan, yang paling saya hargakan di dalamnya adalah kerinduan mereka menyukakan hati saya!

Dalam keseharian, umumnya di kalangan para orangtua, yang lebih kerap dibahas dalam pembicaraan adalah peran orangtua bagi anak-anaknya. Bagaimana orangtua menghidupi, mendandani, menyekolahkan, mengkursuskan, dan sebagainya. Maka orangtua menjadi pihak yang sangat penting, sangat berperan, sangat berjasa, dan tempat bergantungnya kesejahteraan anak-anak. Memang, siapa yang bisa menyangkal bahwa orangtua berjerih lelah setiap hari ”demi anak-anak”? Kepala jadi kaki, kaki jadi kepala; apa saja dikorbankan ”asal anak-anak bahagia”?

Sayang, itu baru separuh kebenaran. Separuhnya lagi, kerap tertutupi. Yakni bahwa anak-anak bukan sekadar objek, melainkan juga subjek. Subjek yang MEMBERI kebahagiaan bagi orangtua. Mengapa kita tidak kerap membicarakan hal ini? Apakah kita tak mau mengakuinya? Bahwa anak-anak MEMBERI kita banyak hal baik dan indah; kegembiraan, kedamaian, kebanggaan, sukacita? Bahkan sejak sebuah test pack—alat penguji kehamilan—menunjukkan tanda ”positif”, maka kebahagiaan sudah mulai tersebar! Lalu hari kelahiran. Ada orang yang segera menelepon atau meng-SMS seluruh nama di selulernya untuk menyebarkan berita ”teraktual” itu, walau jam baru menunjukkan pukul 2 pagi! Sesuatu yang termaklumi rupanya, sebab sukacita yang meluap menjadikannya orang yang sangat tak sabar! Dan terus demikian ketika hari bergulir. Anak menjadi sumber sukacita yang tiada henti.

Kita bisa menikmati kehadiran anak dengan bahagia, khususnya ketika hari-hari berjalan lancar dan menyenangkan. Namun sayang, saat hari menyodorkan kesibukan luar biasa, kelelahan yang menumpuk, juga beban pikiran yang mengganggu, maka kebahagiaan ini terancam hilang. Ketika kita pulang ke rumah dan bertemu anak-anak, maka kita tak lagi melihat mereka sebagai pribadi-pribadi yang menyenangkan. Sebaliknya menjadi pribadi-pribadi yang terlalu melelahkan untuk dilayani. Maka anak-anak tak lagi mendapatkan dan menikmati kehadiran kita yang terbaik. Anak tinggal mendapat ”ampas” energi kita. Sisa-sisa kekuatan kita. Itu pun kalau masih ada. Jika tangki emosi kita sudah benar-benar kering, anak-anak justru akan menjadi sasaran empuk dari kelelahan, kejenuhan, kejengkelan kita di tempat kerja. Kita merasa sudah bekerja keras buat mereka, jadi anak-anak tak boleh mengganggu kita.

Sungguh sesuatu yang salah. Yang harus segera disadari dan ”dikembalikan ke relnya”. Biarlah sebelum orangtua pulang ke rumah—sepulang kerja—ia sudah mempersiapkan diri untuk ”hadir” bagi anak-anak. Apalagi, Tuhan sungguh baik. Saat kita lelah sepulang kerja, sesungguhnya Tuhan tidak memberi kita ”tugas kedua” yang bakal benar-benar menghabiskan energi kita. Sebab dalam interaksi yang sehat dan menyenangkan dengan anak-anak, maka sesungguhnya Tuhan akan mengembalikan kekuatan kita yang hilang melalui keberadaan mereka. Melalui celoteh mereka. Tingkah langkah mereka. Senyum dan gelak tawa mereka. Kecupan dan peluk sayang mereka. Maukah kita merasakan lagi betapa Tuhan ”hadir” bagi kita melalui kehadiran anak-anak? Maukah kita meletakkan segala keberatan hati di ”depan pintu rumah”, agar begitu memasuki rumah, maka kita siap menyambut dan menikmati kedekatan dengan anak-anak?

Mari sadari dan syukuri lagi. Bahwa anak bukanlah beban yang merepotkan. Ia adalah berkat yang tiada tara. Anak bukanlah pengganggu istirahat kita. Ia adalah pribadi yang mampu memperbarui kesegaran pikiran kita. Anak bukanlah tukang ribut yang membuat suasana rumah gaduh. Ia adalah “musik” yang menyegarkan atmosfer di rumah kita—sehingga tak hanya TV atau tape recorder yang menghibur kita, melainkan komunikasi dua arah dengan anak-anak yang menghiburkan dan menguatkan. Meski tidak dengan harta benda, anak-anak selalu dapat memberi kita banyak kado indah—bahkan yang tak terbeli—dalam hidup ini!

Mari nikmati kehadiran anak-anak, sebagai representasi dari kehadiran Allah yang membawa damai, sejahtera, sukacita, serta kekuatan yang baru. Tuhan Yesus memberkati Anda dan keluarga!


Tina/260709

 

Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
grace  - kado-kado dari anak saya   |111.94.11.xxx |12-09-2009 00:30:39
waaahh kak tulisannya bagus sekaleee!! very inspiring!
markus hadinata   |114.59.242.xxx |13-09-2009 03:34:16
tulisannya sungguh bagus!! sangat memberi inspirasi dan perspektif yang
menyegarkan mengenai anak.
Marsha  - Kado-kado dari anak saya   |203.130.212.xxx |14-09-2009 18:25:24
Saya suka sekali tulisan ini, cukup bagus, dan sangat menyentuh! Keep up ur good
work, Mbak Tina! GBU...
Riris     |202.182.172.xxx |15-09-2009 16:19:58
keren, saya bisa menghayati apa yang anda tuliskan. Karena saya ibu dari 2
batita yang begitu lucu. Teriakan mereka menyambut kedatangan saya membuat semua
lelah letih saya sirna seketika.
fen fen   |202.53.254.xxx |16-09-2009 22:56:58
huaaaa.....bagusss bangett....
Grace Lidia Pinaria  - Kado dari Anak   |125.160.176.xxx |25-09-2009 17:53:58


That's wonderful...
Suka sekali dengan artikel ini.
Ditunggu
tulisannya yang lain 
GBU...
Grace Lidia Pinaria  - Kado dari anak   |125.160.176.xxx |25-09-2009 18:28:03


Wonderful....
Artikel yang bagus...
Semoga bisa jd bekal buat sy
dikemudian hari ini nih...
GBU... 
susan  - kado-kado dari anak saya   |203.128.250.xxx |08-11-2009 11:39:35
Tuhan, ijinkan lebih banyak orang tua membaca artikel ini...
karena masih
banyaaaaaaaaaak anak memerlukan kehadiran orangtuanya.
Tuhan memberkati Ibu
Tina ya....
Kiranya Hikmat Tuhan melimpah terus dalam hati, pikiran dan lewat
jari-jemari....untuk terus menuliskan HikmatNya bagi banyak orang.
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."