• PDF

Ketika Hidup Tidak Sempurna ...

Penilaian Pengunjung: / 45
TerjelekTerbaik 
  • Senin, 27 September 2010 16:13
  • Ditulis oleh Agustina Wijayani
  • Sudah dibaca: 6962 kali

Tiga bersaudara dan seorang sahabat mereka—semuanya wanita—sedang dalam perjalanan ke luar kota dengan mengendarai mobil. Dua kakak yang tertua sudah mahir mengemudikan mobil, dan merekalah yang menyetir bergantian di awal perjalanan. Sementara si bungsu baru saja mendapatkan SIM, dan sangat ingin merasakan nikmatnya mengemudi. Ketika sampai di daerah yang sepi, sang kakak mengizinkan adik bungsunya memegang setir. Saking semangat si adik mengemudi, ia terlena dan tak sungguh-sungguh waspada memperhatikan jalan. Di sebuah perempatan ia menerobos lampu merah. Sebuah truk trailer dari arah melintang tak dapat mengerem lagi, dan menabrak keras mobil mereka. Kakak kedua dari si bungsu, tewas seketika. Sementara yang lain terluka dan segera dilarikan ke rumah sakit.

Sang sahabat, yang paling baik keadaannya, menjadi pihak yang harus menelepon dan memberitahukan kejadian itu pada kedua orangtua tiga bersaudara tersebut. Tak mudah menyampaikan sebuah berita buruk—apalagi sangat buruk, seperti kematian seorang anak. Namun harus dilakukan. Akhirnya orangtua mereka mendengar semuanya, dan segera datang ke rumah sakit yang diberitahukan.

Sesudah menyampaikan berita itu, si sahabat mulai ketakutan. Ia tak berani membayangkan bakal seperti apa marahnya orangtua tersebut pada si bungsu, yang ”menyebabkan” kejadian itu, hingga kakaknya tak terselamatkan? Ya, ia berpikir demikian karena di keluarganya, selalu ada seseorang yang ”harus disalahkan” bila sebuah kesalahan terjadi. Tak peduli hal kecil atau besar. Bila ruang keluarga atau ruang belajar berantakan, maka selalu ada teriakan, ”Siapa yang melakukan ini?” Bila isi tong sampah berhamburan karena ada kucing masuk rumah, maka akan terdengar hardikan ibu pada si anak, ”Ini pasti gara-gara kamu!” Dan hardikan begitu kerap terdengar, ”Kamu yang salah!” ... ”Ini semua salahmu!”

Tanpa berani mendekat, sang sahabat tadi hanya memandangi dari jauh ketika orangtua sahabat-sahabatnya itu datang, agar hardikan yang bakal terdengar tak begitu tajam melukainya juga. Namun ternyata bayangannya itu keliru. Kejadian berikutnya tak seperti yang ia pikirkan. Orangtua yang sedang berduka itu menghambur memeluk kedua putrinya yang terluka. Mereka menangis dan menciumi bertubi-tubi kedua buah hatinya, dengan kerinduan dan sayang yang besar. Hardikan tak kunjung terdengar. Malah, yang berulangkali terucap dari mulut mereka adalah, ”Syukurlah, kalian masih hidup! Ayah-Ibu senang sekali kalian masih hidup!” Bahkan terutama ditujukan pada si bungsu.

Kepada si bungsu? Ya, benar! Sejak pertama mereka bertemu, tak ada sedikitpun kalimat menyalahkan muncul dari mulut mereka. Tak ada tudingan, tak ada tuntutan untuk membayar kesalahan. Hingga si bungsu bahkan tak sempat merasa takut ditolak, sebab orangtuanya malah mulai menggodanya hingga tersenyum ketika mengomentari kakinya yang digips tebal.

Keluarga ini sama sekali tak mempermasalahkan siapa berbuat apa. Ketika situasi porak poranda, mereka berusaha membereskan saja apa yang bisa, dan melanjutkan kehidupan. Ketika ditanya bagaimana mereka dapat bersikap demikian, jawab sang ayah adalah, ”Anak kedua kami sudah meninggal, kami memang sangat kehilangan. Namun tak ada apa pun yang dapat kami perbuat untuk menghidupkannya lagi. Sedangkan anak bungsu kami masih punya hidup yang panjang. Apakah yang akan terjadi dengannya bila kami menyalahkannya dan membuatnya merasa bersalah seumur hidup?” Dan benar, si bungsu telah sangat ditolong hingga ia dapat melanjutkan hidup dengan semangat yang tidak dipatahkan, dengan dukungan penuh yang masih terus diberikan kepadanya.

Sebuah cermin bagi kita. Keluarga ini memiliki sebuah prinsip berharga yang kerap kita lewatkan: bahwa kadang-kadang menyalahkan itu tidak penting, bahkan tidak ada gunanya sama sekali. Khususnya terhadap anak-anak kita sendiri. Apalagi di usia mereka yang masih kecil (usia 0 hingga praremaja), di mana mereka menghabiskan waktu paling banyak dengan kita. Terhadap mereka, kita bisa menjadi pribadi yang paling menuntut dan paling banyak menyakiti. Sebab acap kali kita terlalu terpaku untuk mencapai kondisi yang sempurna. Rumah yang bersih, tertib, teratur, tanpa masalah, tanpa kesalahan, tanpa keributan. Walau sejujurnya, kita pun tak selalu bisa sesempurna itu menjalaninya.

Ketika anak-anak membuat sesuatu menjadi berantakan—yang sebenarnya masih dalam batas wajar bila kita mengingat ia masih anak-anak—terlalu mudah rasanya omelan dan hardikan keluar dari mulut kita.  Padahal itulah investasi kita. Apa yang kita ucapkan dan sikapkan baginya, menjadi investasi kita dalam hidupnya. Ketika gerak dan hidupnya dibatasi oleh begitu banyaknya aturan yang melebihi kemampuannya, ia pun bertumbuh dalam ketakutan dan kekuatiran untuk berbuat salah.

Di pihak lain, kita pun ”membiasakan diri” untuk berpola sikap demikian. Kita jadi terbiasa menghardik dan tak lagi merasa bersalah ketika melakukannya. Maka, kita tak melatih diri untuk bisa melihat secara objektif ketika sebuah ”ketidakberesan” terjadi. Bila untuk hal ”kecil” saja kita bisa marah-marah, lalu bagaimana mungkin kita dapat mengendalikan diri bila menghadapi masalah sebesar yang dihadapi keluarga yang diceritakan di awal tadi?

Anak-anak yang hidup dengan kekuatiran berbuat salah pun akan menuai sikap mental yang negatif. Ia bisa menjadi sangat ketakutan akan kesalahan hingga ia tak berani melakukan atau mencoba hal-hal baru. ”Daripada aku melakukannya dan tidak bisa sempurna melakukannya hingga aku dimarahi, mending aku tidak usah melakukannya,” begitu pikirnya.

Atau, jika tidak, ia justru akan sangat berani mencoba segala sesuatu, sebab ia sudah ”kebal” terhadap sikap menyalahkan yang sering ditunjukkan orangtuanya. Saking beraninya, ia bahkan tak takut lagi menyerempet hal-hal yang memang membahayakan dirinya dan seharusnya ia hindari. Sebab pikirnya, ”Ah, mau dimarahi sekeras apa pun, tak apalah. Aku sudah biasa mendengarnya. Yang penting, aku bisa menikmati hidupku.”

Tak satu pun dari dua pilihan itu ingin kita alami, bukan? Maka, tak pernah ada kata terlambat bila hari ini kita mau mengubah cara kita berkata-kata dan bersikap. Khususnya ketika menghadapi kesalahan yang dibuat anak-anak. Biarlah anak-anak dan kita sama-sama melatih diri untuk hidup secara wajar. Bahwa kesalahan dan ketidaksempurnaan adalah bagian yang mesti kita terima dalam hidup. Tanpa perlu ada pihak yang disalahkan. Sebab menyalahkan tak pernah ada gunanya.

Justru dalam hidup yang penuh ketidaksempurnaan ini, kita perlu mengembangkan pola hidup yang saling menerima kembali setelah sebuah kesalahan dilakukan. Pola hidup saling mengampuni setiap kali. Sebab itulah yang akan membangun hidup anak-anak kita. Bahwa ketika mereka meyakini selalu ada kasih dan penerimaan dalam keluarganya, maka ia menghargai dirinya sendiri dan mendorongnya untuk bertumbuh maksimal, sesuai dengan tujuan Allah menciptakannya!

Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Janter Purba  - Bagus   |219.83.53.xxx |29-09-2010 01:58:33
Terima kasih buat artikelnya,Bagus
Semoga saya bisa mendidik putri saya yang
masih berumur 2,5 tahun untuk menjadi manusia yang mengasihi dan menerima orang
lain apa adanya...
Desy Panjaitan   |90.23.154.xxx |01-10-2010 21:22:53
Hal hal yang hampir setiap orangtua melakukannya tanpa disadari. Terima kasih
untuk renungannya! Orangtua yang selalu menerima anaknya apa adanya dan tak
bosan bosan memaafkan, memberikan image yang benar pada anak tentang Bapa di
Sorga. Sulit rasanya untuk seorang anak membayangkan sosok Tuhan yang penuh
kasih apabila ia mendapat perilaku yang tidak adil dari orang tuanya.
Irma Febrie  - Makasih artikelnya   |119.235.210.xxx |07-10-2010 19:59:25
Hal-hal yang sering kita abaikan sbg ortu yg mudah marah thd hal-hal sepele.
mengajarkan saya utk tetap arif dlm mendidik anak.
tari eka dewi   |202.70.54.xxx |08-10-2010 16:43:11
[/color][color=fuchsia]
Sebuah nasihat yang sugguh luar biasa.
Sebuah anugerah bagi
kita disaat kita diijinkan Tuhan untuk mendapatkan dan mendidik serta
mengajar anak-anak kita untuk menjadi pribadi yang selalu takut akan
TUHAN.
Kita percaya kita akan mampu ketika kita sunggug2 MENGANDALKAN
TUHAN.
JESUS bless u all.
Anonymous   |114.123.128.xxx |13-10-2010 14:17:34
Renungan yg berbobot..trimakasih..
meys   |125.161.67.xxx |13-10-2010 15:21:28
Terima kasih buat artikelnya sungguh sangat memberkati saya, saya mendapat
pelajaran yg berharga utk bisa mengajar dan mendidik anak saya 1,4 thn menjadi
anak yang manis dan menyenangkan hati orang tua terlebih hati Tuhan.Amin
Jen  - Good Artikel   |125.167.137.xxx |19-10-2010 02:35:17
Artikel yang meng-inspirasi....
Memberi cara pandang yang baik dalam mengatasi
problem dengan anak2..
joe  - Hati-hati jika mengemudi   |118.97.57.xxx |20-10-2010 16:49:56
Cerita yang bagus,
memberi suatu pelajaran bagi kita bahwa sebaiknya untuk
orang yang baru belajar mengemudi haruslah hati-hati apalagi dia seorang anak
kecil...
pratika m.lena  - precious lesson   |206.53.152.xxx |28-10-2010 16:30:06
Bagus bgt&sgt tersentuh krn sikap orang tua yg arogan&ekstrim,memang sgt2
bpngaruh pd pkembangan mental sang anak,..krn tlalu sering mndngar ortu marah
mbuat si anak mkin tdk pduli dng yg lain hgga mbawa si anak ke dalam lembah
kgelapan tak ada orang yg tau hanya dirinya,klo sdh bgini sapa yg akan dsalahkan
kmbali?
christine  - keren banget ceritanya   |202.129.187.xxx |18-11-2010 17:13:25

suatu renungan yang bagus dan setiap orang pasti harus hati_hati
melakukan sesuatu sebelum terjadi sesuatu yang fatal

dan semua harus diserahkan
kepad TUHAN
wijarnako   |111.95.147.xxx |18-11-2010 19:19:07
benar. tapi kalau si bungsu berhati-hati, kakaknya tidak perlu mati.
friska  - saluut   |180.241.250.xxx |28-11-2010 20:32:32
Tidak mudah untuk tdk menyalahkan org lain di saat situasi sulit, diperlukan
kebesaran hati untuk melakukannya.
Thanks buat artikelnya..Gb
sutrisno   |114.79.63.xxx |18-12-2010 13:40:19
is oke, tapi sebaiknya tetep diingat, yang salah tetep dikasih tau bahwa ia
salah, dan dari perbuatannya yang salah bisa dijelaskan juga resiko2 yang bisa
diperoleh. Tulisan yg bagus
paulinaginting  - ketika hidup tidak sempurna   |111.95.131.xxx |23-04-2012 23:31:07
sungguh suatu inspirasi yg sangat bagus untuk ortu dlm mendidik anak-anaknya.
walaupun yg salah tetap harus dinasehati akan kesalahannya tp bukan dengan
hardikan atau marah-marah
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."