• PDF

Saatnya menepi

Penilaian Pengunjung: / 7
TerjelekTerbaik 
  • Jumat, 17 April 2009 10:33
  • Ditulis oleh Agustina Wijayani
  • Sudah dibaca: 4854 kali

Sahabat,
kadang hidup terasa berat
sebab kita mesti beranjak dewasa
untuk sanggup menahan
beban lebih besar

kadang hidup terasa melelahkan
sebab kita punya tanggung jawab
untuk menghasilkan hidup
yang berkualitas

kadang hidup terasa tak adil
sebab kita mesti selalu berjuang
untuk mencapai yang terbaik
dalam hidup yang cuma sekali

jadi bila hidup terasa menekan
jangan tergesa merasa lemah
sebab dari situ kita justru semakin tahu
ada hal yang terbaik dalam hidup
yang masih patut dikejar dan diperjuangkan

bahwa ternyata hidup memang
tak selalu mulus dan mudah
bahwa keindahannya justru
akan semakin terasa manakala
tawa dan tangis bergiliran datang
kekuatan dan kelelahan bergantian

bahwa tiba saatnya kita
menepi ke dermaga istimewa
yang selalu terbuka
menyambut setiap pelayar yang lelah
untuk memperbarui lagi kekuatan
hingga perjalanan menjadi mudah
dan mata hati kembali jernih melihat
bahwa mentari masih begitu cerah menyinar

seperti anak kecil
kita selalu bisa berlari ke pelukan
Bapa yang penuh kasih
menangis puas di sana
hingga habis lelah hati
dan terganti oleh damai
di belai sayang-Nya

tina, 20 juli ‘06

Aku melayangkan mataku ke gunung-gunung;
Dari manakah akan datang pertolonganku?
Pertolonganku ialah dari Tuhan, yang menciptakan langit dan bumi…

Tina

Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
adehenka   |Registered |28-07-2009 20:45:46
aku suka nulis puisi rohani. Gimana caranya bisa dimuat di gloria ?
Yusuf Arimate Runtuwene  - Bravo     |118.96.56.xxx |29-07-2009 08:21:26
Buat tina terimakasih renungan-nya.Ini adalah reprensetatif para orang2x
tersesak yg tidak dapat menterjemahkan bahasa yg ada di pikiran nya. apa yg
sedang terjadi....
Virgoladies   |125.167.112.xxx |01-08-2009 16:23:15
Thanks ya mbak...Puisinya sesuai betul dengan Pergumulan yang aku hadapi
sekarang.Kadang aku merasa tertekan dengan beban yang begitu berat...begitu
dapat masalah dunia serasa runtuh..tapi kadang memang kita manusia lupa bahwa
Tuhan punya rencana yang indah di balik semuanya....Amin
ECha   |125.163.248.xxx |12-08-2009 23:08:38
a nice reflection...
may God continues to use your life, your talents,
your writings...
for His glory...

Happy Birthday
pf 10 Aug 2009
Leonard  - Kita tak perna sendiri   |112.199.196.xxx |19-08-2009 20:28:15
Syaloom,Saudara-Ku yang dikasihi Tuhan.Seperti rusa merindukan sungai,demikian
pula Kita umat-Nya selalu merindukan Kasih-Nya.Apalah arti ombak dan badai di
lautan samudera bila Tuhan Nahkoda-Kita.Dibawah naungan sayap-Nya hati Kita akan
"DAMAI".GBU
BIE  - derita??   |58.26.136.xxx |05-09-2009 22:30:19
saat kita menghadapi pergumulan hidup sehingga membuat kita kecewa, hancur hati,
sedih, igtlah pengorbanan Yesus di kayu salib. Saat Dia melalui kematian-Nya,
hati-Nya juga hancur, kecewa,menderita yang sangat tidak mampu diucapkan dengan
kata-kata kerana hanya Yesus yang mengalami semua itu. Namun, itulah bukti
kasih-Nya. Dia lakukan semua itu untuk kita semua..Terpujilah Engkau
Bapa..syukur bagi-Mu..
Well'Patt  - DIA BAIK BAGI KITA   |210.79.217.xxx |22-01-2010 14:26:51
Apapun badai cobaan yang kita hadapi dalam hidup ini baik adanya karena Yesus
ijinkan itu terjadi dalam hidup kita, membuat kita semakin dekat dengan Dia,
membuat kita semakin kuat di dalam Dia bahkan di balik badai cobaan ada
rencanaNya yang indah bagi kita.... kita tidak pernah sendiri menghadapi badai
cobaan yang tidak akan melebihi kekuatan kita,,, karena Dia senantiasa menjadi
Penolong yang Sejati, Bapa yang Baik bagi anak-anakNya supaya namaNya
dipermuliakan. Itulah kebaikan Tuhan bagi kita....Amien
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."