• PDF

Warna yang Tak Kupilih

Penilaian Pengunjung: / 0
TerjelekTerbaik 
  • Jumat, 17 April 2009 10:45
  • Ditulis oleh Agustina Wijayani
  • Sudah dibaca: 3520 kali
Halaman rumah sakit yang cukup lengang menyambutku dengan dingin. Waktu kecil, aku sering merasa "menyukai" rumah sakit, karena jika orang-orang dewasa menanyai kalau besar aku mau jadi apa, maka selalu kusahut dengan jawaban, "Mau jadi dokter." Namun setelah dewasa ternyata Tuhan tak memimpinku untuk menjadi seorang dokter. Malah saat ini aku datang ke rumah sakit sebagai pasien yang siap menjalani prosedur medis yang tak menyenangkan; operasi. 

Sungguh tak nyaman membayangkan ada logam tajam yang mesti mengiris perutku, gunting berkilat yang memotong-motong beberapa bagian organ demi membuang "penyakit" yang menginap tanpa izin di situ. Aku sempat bergidik ketika dokter meresume diagnosanya, dan menyimpulkan bahwa ada segumpal massa tak berguna yang tumbuh di tubuhku dan mesti segera diambil agar tak lebih membahayakan diriku. Dan tak banyak waktu untuk berdalih dan menghindar, karena penundaan hanya berarti penurunan kondisiku. 

Ah, siapa sangka aku akan mengalami penyakit seperti yang kupunya saat itu. Seumur-umur, aku menginap di rumah sakit baru dua kali. Bukan karena sakit sebenarnya. Dua kali melahirkan. Selebihnya, tak pernah ada sakit keras yang kuderita. Paling-paling sakit biasa yang bisa diatasi dengan obat yang dijual bebas. Yah, kalau mau berbangga sih, dalam silsilah keluargaku, tak ada yang punya rekam medis yang buruk. Apalagi parah. Jadi sama sekali tak ada ekspektasi...eh...kekhawatiran untuk mengalami penyakit yang begitu buruk sampai mesti dioperasi. 

Yah, begitulah aku. Kupikir jalan hidupku akan selalu baik-baik saja. Lancar, tak banyak kelokan, atau malah tikungan tajam yang mengejutkan. Kukira aku tak usah mengalami hal-hal yang tak kuinginkan. Atau yang menyedihkan, menyakitkan, melumpuhkan hidup. Aku tak menyukainya. Sangat-sangat tak menyukainya, sehingga jika boleh, hal-hal seperti itu disingkirkan sejauh-jauhnya dari diriku! Aku hanya menginginkan yang baik-baik saja datang padaku. Hal dan peristiwa yang manis dan menyenangkan hati. Yang menggoreskan kenangan indah. Yang membuatku tersenyum, bahkan terbahak-bahak. Jangan sekali-kali yang buatku menangis--apalagi tak hanya di mata, tapi juga di hati!

Namun ternyata aku tak dapat memilih sebebas itu. Aku tak bisa "memesan" menu yang kuinginkan saja. Hidup tak hanya berisi kemudahan dan keindahan, tetapi menjadi kaya dengan berbagai warna yang dimilikinya. Dan bila warna gelap datang di hariku, aku tak berkuasa menolaknya. Aku hanya dapat memilih cara bagaimana aku menyambutnya. Meski tak adil tampaknya, karena aku baru berujar begini saat duka datang, dan diam saja kala gelak sukacita penuhi hatiku. 

Namun bila sesuatu yang "tak kita pilih" itu sudah datang sebagai sesuatu yang tak terelakkan, bagaimana kita mesti memperlakukannya? Bagaimana bila sebuah penyakit telah divonis hadir di tubuh kita, bagaimana bila pernikahan kita tak seindah kisah cinta dalam dongeng, bagaimana bila buah hati kita mengalami cacat permanen yang sama sekali tak diinginkan? Apakah kita harus menjalani hari dengan selalu marah dan panas hati, hingga hanya sungut-sungut, omelan, dan keluhan tiada henti terucap? Atau dapatkah kita menunduk untuk berpasrah pada kebesaran Allah, sehingga kita mengerti bagaimana harus sabar menerima dan menelateni hal-hal yang tak diinginkan tersebut? 

Hidup memang terkadang tampak "salah". Sebagian karena kesalahan kita dalam mengambil keputusan, tetapi ada banyak kejadian juga terjadi tanpa dapat kita kendalikan. Tak mudah untuk menerimanya. Butuh kerendahan hati kita untuk tersungkur di kaki Tuhan demi memperoleh kebesaran hati. Demi mendapatkan ketenangan jiwa untuk selalu melihat bahwa melampaui hal-hal itu, hidup mesti terus berlangsung. Dan kita masih dapat menikmati hal-hal indah yang Allah sediakan untuk kita nikmati. Ya, atas segala hal yang kita alami, Tuhan tak pernah salah. Dia sangat mengenal hidup kita, dan setiap peristiwa yang datang pada kita tak pernah luput dari perhatian-Nya. Dan Dia juga sangat mengenal siapa kita. Dia tahu benar kekuatan kita. Dan takkan pernah memberi cobaan yang melebihinya. 

Yesus, ajariku untuk selalu melihat keagungan-Mu dalam setiap peristiwa di hidupku. Ajariku untuk selalu melekat pada-Mu dalam setiap kejadian yang kadang terasa berat di jiwaku. Ajariku untuk selalu mencari kekuatan dari-Mu dalam setiap realita yang menjadi milikku, dan melihat pelangi-Mu masih akan membusur di sana. 

Yesus, aku mencintai-Mu...

Tina

Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."