• PDF

Satu Pelukan Saja

Penilaian Pengunjung: / 3
TerjelekTerbaik 
  • Jumat, 17 April 2009 10:50
  • Ditulis oleh Agustina Wijayani
  • Sudah dibaca: 4268 kali
Hampir semua orang memahami benar betapa mutlaknya kematian, saat ia datang. Bila sang maut datang, maka ia tak mau menunggu apa pun lagi. Negosiator paling ulung sekalipun takkan dapat menawar ajakannya. Sekali berangkat, ya harus sekarang juga. Tak peduli apakah orang itu sebentar lagi mau menikah, mau wisuda, mau dipromosikan, mau mendapat cucu pertama, dan seribu alasan lain. Sekarang ya sekarang!

Dari situ, tak heran jika saat seseorang kehilangan orang terdekat, maka terjadi keterkejutan dan penyesalan. Terkejut karena kematian itu seolah-olah datang saat ia tak siap. Menyesal karena tak ada lagi yang dapat diperbuat, bahkan hal terkecil sekalipun, bagi sang terkasih yang meninggal dunia. Seorang suami yang baru saja kehilangan belahan jiwanya dengan terbata-bata berujar,”Baru saja saya memalingkan kepala, tiba-tiba ia sudah pergi untuk selamanya. Andai saya bisa mengatakan kepadanya dua belas kata lagi saja … dan mendekapnya sekali lagi ….”

Dua belas kata saja. Andai sang kekasih masih dapat mendengar dua belas kata cintanya dan menjadi berbahagia di saat terakhir, tentu sang suami akan merasa sangat lega. Begitu pikirnya. Andai sang kekasih masih dapat merasakan cinta yang besar lewat dekapan hangatnya, tentu sang suami akan rela karena yakin si istri pergi dalam belai sayang. Begitu keinginannya. Namun, siapa sih yang dapat menawar maut?

Jujur saja, tanpa disadari kita kerap berasumsi,”Ah, aku tak mungkin mati hari ini. Aku sedang sangat fit dan bersemangat. Besok saja kutunjukkan perhatian pada ibuku. Hari ini aku sangat sibuk.” Atau kita berpikir,”Ah, istriku tak mungkin mati hari ini. Aku masih marah dan malas bicara dengannya. Nanti atau besok sajalah aku mencoba bicara dan menyelesaikan masalah.”

Masih ada waktu. Masih ada esok. Masih ada minggu depan. Rasanya sah saja bila kita menunda melakukan sesuatu. Menunda melakukan kebaikan atau memberi perhatian, menunda mengucapkan kata-kata terindah yang menguatkan, menunda berbagi isi hati, atau bahkan menunda pengampunan! Pada siapa pun. Suami, istri, anak-anak, sahabat, orangtua, tetangga, teman pelayanan, kolega di pekerjaan—siapa pun! Tak seorang pun tahu siapa yang akan kehabisan waktu lebih dulu. Bisa mereka, atau malah kita sendiri!

Tulisan ini hanya sebuah reminder, sebuah pengingat. Mari lakukan yang terbaik hari ini; dalam diri kita, juga bagi orang-orang di lingkaran hidup kita. 

Selagi kita masih bisa. Siapa tahu kita tak punya banyak waktu lagi. Lagipula ini membuat hidup kita lebih efektif, karena kita berhenti menyia-nyiakan waktu, demi selalu melakukan yang terbaik! Kita tentu tak ingin berkata,”Aku masih sangat ingin ia merasakan pelukan sayangku … satu kali saja … mengapa sudah tak bisa?”

GOD BLESS!!

Tina



Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
nancy   |118.97.34.xxx |10-08-2009 19:39:52

Renungan nya bagus, makasih ya, sangat beraryi sekali, membuat saya sadar
akan pentingnya saling menyayangi, menghargai sesama kita tanpa di
batasi oleh apapun terlebih oleh waktu... GBU
Mama Jlove  - Untuk suamiku tercinta   |Registered |26-08-2011 04:05:16
Seringkali aku jengkel dgn sikap suamiku, tapi di dlm lubuk hatiku aku sgt
mencintainya....lewat renungan ini aku sadar, seharusnya di tengah kekurangan
suamiku aku hrsnya tdk hrs marah, tp mendukungnya dan bdoa utk dia mau
brubah...memeluk dan mberikan senyum yg terindah utknya...I love u Bpk
Jlove...trims utk renungannya
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."