Anak Bawang?

Penilaian Pengunjung: / 1
TerjelekTerbaik 
Sosok-sosok kecil. Dengan mata jernih nan inosen. Hidung belum begitu mancung dan mulut mungil. Jari-jari gempal menggemaskan di setiap tangan kecil yang diulurkan sang pengasuh untuk menjabat tanganku... Ah, betapa ringan dan tenteramnya hati ini setiap kali hendak memulai kelas, saat kusambut satu-satu muridku yang masih sangat belia...dengan wajah polos nan damai... Yah, inilah kelas dengan warga termuda. Beberapa bahkan mulai rutin beribadah sejak masih sangat kecil. Sejak mereka belum bisa ngomong. Belum punya gigi. Belum bisa duduk. Belum bisa berjalan.

Memang kami tak menentukan batasan usia minimal kapan anak-anak boleh dibawa ke Sekolah Minggu. Jadi ada saja orangtua yang membawa anaknya sejak masih sangat kecil--bahkan bayi usia empat bulan! Aku masih ingat bagaimana mereka hadir di kelas dalam gendongan sang ibu yang dengan penuh cinta membawa mereka ke rumah Tuhan. Mereka memasuki kelas dengan mata berkejap-kejap. Menerima jabat tangan sambutanku dengan sambil lalu, seolah-olah berkata,"Siapa kau? Kenapa tersenyum melihatku? Emang ada yang lucu? Eh, ngapain pula kau cowel pipiku? Emang enak?" (Hihh...aku selalu gemas melihat mereka hingga tak kuasa menahan hasrat usil untuk selalu menculik seorang dan menimangnya sayang...).

Lalu, sesudah sang ibu mendapat tempat duduk yang dirasa nyaman, mata si kecil mulai menjelajah ke seluruh ruangan. Mungkin pikirnya, "Rumah siapa ini? Siapa tuan rumahnya? Kok anaknya banyak sekali?" Lalu dengan pandang ingin tahu, anak-anak polos itu menonton kakak-kakak dan para gurunya berjingkrak serta melompat memuji Tuhan. "Ah, heboh juga mereka menghiburku. Lumayan juga sih..." begitu mungkin batinnya berkomentar. Dan, sesudah sorak sorai itu berhenti dan tiba saatnya mendengar firman, mereka berpikir, "Ah, akhirnya aku bisa tidur dengan tenang..."

Para bayi ini cenderung tak banyak bersuara, bahkan kadang asyik sendiri dengan apa yang mereka bawa--mainan atau makanan--sesekali sambil meneteskan air liur. Biasanya mereka tak mengganggu yang lain, karena selain belum bisa berjalan, setiap pengasuh tentu akan menjaga ketat setiap gerakan mereka. Kehadiran mereka kadang baru disadari ketika sesuatu mengganggu kenyamanan mereka, hingga tiba-tiba saja mereka berteriak dan menangis. Begitulah stereotip kelompok ini. 

Tentu tak mudah berkomunikasi, apalagi mengajar mereka dalam sebuah kelas Sekolah Minggu. Bila anak-anak yang kita ajar sudah bisa menyimak dan merespon apa yang kita sampaikan, tentu akan lebih mudah bukan? Tapi, bagaimana caranya menyampaikan pesan Tuhan pada bayi-bayi yang masih sangat belia seperti itu? Maka rasio dan logika pun berujar, "Yang benar saja! Bukankah mereka belum bisa menangkap apa-apa? Yah, biarkan saja bila orangtua membawa mereka ke kelas. Anggap saja sebagai latihan bersosialisasi, suatu hal positif juga kan? Kalau mereka belum bisa menyanyi, tak apalah. Bila mereka belum bisa berdoa, maklum sajalah. Jika mereka tak menangkap firman yang disampaikan, anggap wajar sajalah. Jadi? Yah, santai sajalah. Anggap saja mereka anggota pasif, anggota sekunder. Biarkan saja bila mereka hadir hanya sebagai "penonton"--yang belum keruan menikmati apa yang ditontonnya. Tak perlulah repot-repot memerhatikan mereka secara khusus. Gamblangnya, mereka sebenarnya adalah para anggota 'yang boleh diabaikan'". Tapi, eit...tunggu dulu! Ini bener gak, seh?

Suatu kali, seorang ibu muda cantik berpotongan shaggy cepak mendatangiku. Baru beberapa minggu ini ia muncul di kelasku, mendampingi putranya yang masih tergolong "bayi". Lalu dengan wajah berulas senyum ia bertanya padaku, "Tante, lagu yang suka Tante bawakan setiap kali habis kebaktian itu gimana sih? Yang 'tanganku ada dua itu lo'... Saya mau belajar, soalnya anak saya selalu mau nyanyi lagu itu menjelang tidur." Spontan, aku dan seorang teman di sisiku menyanyikannya pelan, spesial untuknya. Mendengarnya menyimak dengan serius, kuulangi lagi lagu pendek itu beberapa kali. Ia pun mengangguk-angguk, semoga itu tanda ia mengerti dan sudah hafal. Lalu ia berujar lagi, "Anak saya memang masih kecil, delapan setengah bulan, tetapi ia selalu tanggap terhadap lagu Sekolah Minggu. Ia selalu bersemangat bila ada di kelas ini. Bahkan sekarang setiap kali ia menangis atau marah, saya tinggal menyanyikan lagu-lagu yang diajarkan di sini, maka ia akan segera tenang dan kembali ceria. Terima kasih ya Tante...". Aku agak kaget mendengarnya, maka tanggapan yang keluar dari mulutku pun sangat standar,"Sama-sama...". 

Mungkin ini hanya gambaran sekilas, namun ah, cukup menyadarkanku bahwa ternyata kehadiran mereka di kelas tak pernah sia-sia, karena mereka juga merupakan sasaran berkat Allah! Bahkan meski mereka tampak pasif, tampak belum mengerti, Allah tetap berkuasa untuk berkarya dalam diri mereka. Yah, aku menanggapinya sebagai salah satu bentuk kedaulatan Allah. Bagi para guru, sepertinya sungguh sulit membuat mereka memahami materi yang disampaikan. Namun mengapa kita lupa bahwa Allah yang akan melakukannya? Allah mampu mengetuk hati dan hadir di hidup mereka, dengan bahasa paling sederhana yang mungkin mereka pahami. 

Wow, aku pun belajar untuk lebih menghargai kehadiran mereka. Jiwa setiap bayi itu pun patut kami layani dengan sungguh, karena Allah memperhitungkan kehadiran mereka. Mereka tidak pernah sia-sia datang ke kebaktian. Mereka bukan "anak bawang". Mereka anggota penuh kelas kami, yang berhak mendapat perlakuan dan perhatian sama dengan anggota yang lain. Mereka berhak menerima setiap sapaan, bimbingan yang sabar untuk belajar memuji Tuhan, serta dukungan untuk memahami pesan firman Allah.

Yesus, ajariku untuk lebih menghargai anggota-anggota termuda di kelasku. Ajariku untuk tetap sama seriusnya membimbing mereka seperti anak-anak yang lebih besar. Aku yakin Engkau akan selalu melakukan bagian-Mu, karena itu aku pun akan melakukan bagianku untuk menabur dengan sungguh-sungguh.

Tina
Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
artha  - anak2 milik pusaka Tuhan   |203.191.47.xxx |29-10-2009 14:11:45
Thanks Mbak Tina, Tulisan sangat menggugah, Oleh karena itu jangan menganggap
remeh anak2, karena kepolosannya dan ketergantungannya sangat tinggi kepada
ortu, dan kita org dewasa harus belajar bagaimana ketergantungan anak pada Bapa,
sama halnya kita mestinya selalu berharap dan bergantung hanya Kepada-Nya sang
Bapa Pemelihara Hidup kita, Amin.
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."