• PDF

Salah Mekanisme

Penilaian Pengunjung: / 0
TerjelekTerbaik 
  • Jumat, 17 April 2009 10:57
  • Ditulis oleh Agustina Wijayani
  • Sudah dibaca: 2183 kali

Anakku terjatuh di sekolah tadi pagi. Sebuah kecelakaan yang wajar terjadi kala anak-anak bermain. Namun tak urung membuatku giris juga melihat bekas jatuhnya. Sebelah sisi wajahnya tergores semen kasar di sekolah, hingga meninggalkan barut panjang yang sangat kentara. Bahkan memanjang sampai ke bibir bawahnya yang kebetulan sedang sariawan pula, hingga ia terus mendowerkan bibirnya selama berbicara untuk meyakinkan betapa sakitnya luka itu. 

Malamnya aku mengkhususkan waktu untuk hanya bersamanya. Aku membacakan cerita hanya untuknya. Aku memberi telingaku hanya untuk mendengar kisahnya. Aku memberi diriku hanya untuk memerhatikannya. Yah, biasa..."perlakuan khusus setelah ada kejadian buruk". Sebuah mekanisme yang mungkin tidak hanya menjadi pergumulan pribadiku: bila anakku mengalami suatu kejadian buruk maka aku akan berusaha menebusnya dengan perhatian khusus, supaya ia tak tenggelam dalam kesedihan dan segera kembali ceria.

Berefleksi pada mekanisme ini, aku merasa ada sesuatu yang rasanya kurang benar. Memang benar dan baik bila aku memerhatikan anakku setelah ia mengalami suatu peristiwa tak mengenakkan, untuk mengembalikan kegembiraannya. Namun sesungguhnya, bila itu sesuatu yang--aku sadar betul-- baik diberikan, mengapa aku harus menunggu sampai ia mengalami kecelakaan? Mengapa harus menunggu anakku mengalami kesedihan, baru aku memberi diri dan dengan susah payah mencoba mengembalikan senyumnya? Bukankah di waktu-waktu sebelumnya pun aku dapat memberinya yang terbaik? Di setiap "hari kemarin" yang kulalui sebagai "hari biasa" bersamanya? 

Lalu, bagaimana pula bila anak-anak itu tidak selalu bersamaku? Bagaimana jika mereka adalah murid-murid Sekolah Mingguku? Tidak setiap hari aku bisa menjumpai mereka. Bertemu hanya sekali dalam 7 hari. Hanya dalam dua jam yang singkat. Maka sesungguhnya setiap pertemuan yang terjadi adalah kesempatan yang sangat berharga untuk dilewatkan begitu saja. Bahwa setiap dua jam setiap minggu itu merupakan kairos, waktu yang takkan terulang dan takkan pernah kembali lagi? 

Sayang kesadaraan ini tidak selalu muncul. Sebagai guru Sekolah Minggu, jujur saja, kita kerap merasa bahwa kesempatan kita menjumpai mereka masih mudah terjadi lagi dan lagi. Bahwa masih akan selalu ada "minggu depan" untuk bertemu dengan mereka. Dan itu bisa membuat kita enggan, kurang antusias untuk memperjuangkann yang terbaik, dan melewatkan waktu berharga yang diberikan bagi kita. Bukankah mereka masih begitu muda, sehat, dan kuat? Dan bukankah kita para guru juga demikian? Padahal, siapa bilang itu benar? Siapa bilang kita akan selalu sehat dan selalu bisa melayani mereka? Siapa bilang pula anak-anak itu tak rentan oleh luka dan kecelakaan--berat atau ringan--yang mungkin bisa merenggut mereka sehingga tak lagi dapat berjumpa dengan kita? 

Lalu bila itu terjadi, maka kita tinggal bisa menyesal. Tapi itu berarti kita terlambat. Terlambat untuk melakukan sesuatu yang berarti bagi mereka. Terlambat menyampaikan apa yang seharusnya kita sampaikan. Maka mekanisme "perlakuan khusus setelah kejadian buruk" pun sia-sia adanya. Sesuatu yang sudah terlambat diberikan, tak ada lagi gunanya bagi si penerima. 

Yesus, ajariku untuk menghargakan setiap kesempatan pelayananku sebagai kesempatan untuk selalu memberi yang terbaik. Ajariku untuk selalu "siap bekerja" setiap kali aku datang untuk melayani. Ajariku untuk tidak menunda setiap kebaikan yang bisa kuberi bagi anak-anak yang kulayani. Ajariku untuk tidak melewatkan dengan sia-sia setiap menit yang kupunya, yang tidak akan akan pernah bisa kuulangi. Amin.

Tina

Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
artha  - menghargai waktu   |203.191.47.xxx |29-10-2009 14:58:31
Ajalah aku untuk menghitung hari-hari yang engkau berikan sehingga aku mempunyai
hati yang bijaksana, biarlah lewat kehidupan kita, kita makin dewasa dan
bertumbuh dengan Jesus, keep pray & go with Jesus
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."