• PDF

Ketika Aku Lelah

Penilaian Pengunjung: / 0
TerjelekTerbaik 
  • Jumat, 17 April 2009 10:59
  • Ditulis oleh Agustina Wijayani
  • Sudah dibaca: 2837 kali
Tahun baru sudah dimulai. Dan ternyata bertambah cepat ia melaju. Tahu-tahu, sudah beberapa minggu berlalu. Dan kegiatan pelayanan pun kembali padat seperti sebelumnya. Rutinitas kembali berjalan. Bahkan tanpa jeda yang melegakan. Yah, mana ada sih hari libur di pelayanan? Malah kalau ada hari libur pun, rasanya salah kalau tidak diisi. 

Wajar bila khalayak mengasumsikan hari Minggu sebagai hari beristirahat--seperti Tuhan beristirahat setelah mencipta ini-itu, begitu "dalih rohani"nya. Setelah seminggu berkutat dengan pekerjaan dan sibuknya hidup, maka Tuhan memberi kesempatan untuk "melemaskan otot", melepas segala ketegangan dan keletihan, menyegarkan kembali pikiran dan jiwa. Bisa dengan banyak cara; tidur lebih panjang dari hari biasa, bermalas-malasan dan melakukan hobi yang tak sempat dinikmati di "weekday", ngeluyur untuk cuci mata, dan macam-macam lagi, pokoknya menghabiskan waktu untuk diri sendiri deh, supaya Senin sudah bisa refresh untuk kembali bersibuk-ria dengan hidup masing-masing. 

Bagi seorang guru Sekolah Minggu, tampaknya hal seperti ini tak boleh terlintas. Bagaimana tidak? Lha wong setiap hari Minggu justru merupakan hari dinas, hari kerja yang tak boleh dilewatkan dengan alasan bangun kesiangan, atau mau berekreasi dengan keluarga? Tak cuma menyediakan diri di hari Minggu itu saja, tetapi juga dalam mempersiapkannya. Mungkin butuh sejam atau dua jam, tetapi bisa juga berjam-jam yang memerlukan usaha dan pengorbanan. Belum lagi kesiapan mental yang harus diupayakan menjelang hari pelayanan. Kesiapan mental untuk menghadapi anak-anak, menjalankan tugas, dan mempertanggungjawabkan hasil yang "tidak boleh main-main". Dan mempersiapkan mental ini kerap kali lebih menguras energi, lebih melelahkan. Maka tak heran bila seusai kebaktian Sekolah Minggu, seorang guru bisa merasa sangat capek, padahal jam kerjanya hanya berkisar dua kali enam puluh menit!

Dan kala keletihan itu mendera, serta hari-hari terasa begitu penuh dan membuat jenuh, maka keengganan bisa mampir di benak sang guru Sekolah Minggu. Lalu ia akan beretorika sendiri, "Kapan ya aku bisa punya waktu untuk diriku sendiri? Kapan ya aku bisa bersantai di hari Minggu dan melewatkannya untuk beristirahat? Kapan ya aku bisa melakukan keinginan pribadiku sendiri, dan menikmati kepuasan pribadi?"

Sejenak aku pun sempat menikmati retorika itu. Meski benakku melanjutkannya dengan sanggahan keras atas pertanyaan-pertanyaan yang mungkin seharusnya dikategorikan sebagai "yang tak pantas ditanyakan" itu, maka aku berusaha menjelajah mencari jalan untuk membebaskan diri dari situ. Aku mencoba kembali pada diriku dan komitmen yang telah aku perjuangkan sedemikian rupa selama ini. Apa sih daya tarik pertama yang membawaku pada pelayanan ini? Apa sih yang dulu menarikku begitu kuat untuk memberikan diriku--yang otomatis juga berarti memberikan segala pengorbanan termasuk hari istirahatku--untuk bekerja melayani Dia?

Ah, ya...kasih-Nya. Cinta-Nya yang begitu besar dan begitu hebat melimpahiku, bahkan membenamkanku. Betapa sesungguhnya aku ini "si bukan siapa-siapa" yang diangkat sedemikian rupa untuk menjadi teman sekantor Allah, pada divisi yang sungguh kucintai. Betapa sesungguhnya sangat banyak yang telah dilakukan-Nya untukku sehingga aku boleh menjadi anak yang dikasihi dan menikmati setiap hak istimewa sebagai anak! Betapa Dia selalu menyambutku setiap kali kudatang dengan kelemahan dan kerapuhan hatiku, dengan dekapan hangat yang sungguh melegakan. Betapa Dia sungguh menghargai hidupku dan ingin melakukan pekerjaan besar melaluiku!

Rupanya inilah yang harus selalu, dan tak boleh berhenti aku alami. Bahwa aku perlu selalu ada di tepian sungai-Nya, dan menikmati cinta-Nya yang tak habis-habis. Itulah kunci yang harus kupegang untuk tak pernah lelah bekerja bagi-Nya. Bahwa Dia selalu baik dan sangat baik bagiku, hingga segala yang kubuat bagi-Nya pun takkan pernah cukup untuk membalasnya. Bahwa aku adalah anak yang sangat dikasihi sehingga sudah semestinya aku menyenangkan-Nya, menyukakan hati-Nya. 

Yesus, tolonglah aku untuk senantiasa ingat bahwa aku sama sekali tak berjasa meski telah melayani-Mu, bahwa aku sesungguhnya mendapat kemurahan-Mu bila boleh bergabung dalam barisan pekerja-Mu. Tolonglah aku untuk membawa segala lelah pada-Mu saja, dan aku ingin menikmati pangkuan sayang-Mu.


Jogja, 24 Januari 2005

Tina

Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
artha  - dalam Tuhan jerih payahmu tidak sia2   |203.191.47.xxx |29-10-2009 14:50:39
Saluut, buat mbak, kiranya dalam pimpinan Roh Kudus selalu di kuatkan dan
disegarkan hari lepas hari karena dalam Tuhan jerih payahmu tidak sia2, GBU &
Fam
harty  - ketika aku lelah   |206.53.148.xxx |10-04-2012 06:59:27
Aku sangat diberkati stelah membacanya
Ijin sharenya ya mba
-̶̶•тнäñκ
ч☺ü•-
Jbu
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."