• PDF

Cinta Torey

Penilaian Pengunjung: / 0
TerjelekTerbaik 
  • Jumat, 17 April 2009 11:11
  • Ditulis oleh Agustina Wijayani
  • Sudah dibaca: 2002 kali
Aku baru saja selesai membaca buku "Sheila, Luka Hati Seorang Gadis Kecil". Buku itu bertutur tentang seorang anak di usia 6 tahun yang mengalami depresi berat karena dibesarkan dalam keluarga broken home. Orangtuanya menikah begitu muda, dan tak sanggup menata hidup sehingga kacaulah bahtera rumah tangga itu. Sang ibu meninggalkan Sheila saat usianya 4 tahun. Sementara sang ayah menjadi pemabuk dan tak memberi pengasuhan yang layak. Itu sebabnya kemarahan dan kekecewaan seakan hendak meledak dari dadanya. Meledak bukan hanya dengan tangisan atau teriakan, namun dengan tindakan destruktif yang mengerikan. Bahkan ia nyaris membakar sampai mati seorang anak laki-laki usia 3 tahun!

Lalu ia diserahkan kepada seorang guru wanita, bernama Torey. Wah, kebayang deh bakal berat menangani anak kayak Sheila. Padahal sebelum Sheila datang, sudah ada 8 anak bermasalah yang harus ditangani di kelas luar biasa yang dipimpin Torey. Seorang anak pernah dua kali mencoba bunuh diri, seorang anak buta, seorang lagi agresif, dua orang anak menderita autisme, seorang skizofrenia, seorang pernah mengalami penganiayaan fisik dan seksual, sedangkan yang terakhir menderita beragam fobia.

Yang membuatku sungguh terkesan adalah pilihan yang diambil Torey. Ia memutuskan untuk menerima Sheila dan berusaha mendidiknya menjadi lebih baik di kelas itu. Dengan bermodal kesabaran dan kasih yang mendalam, ia terlibat dengan hidup Sheila. Mendampinginya untuk bertumbuh secara wajar, serta secara bertahap melepaskan segala tabiat kasar dan buruk yang melekat kuat di dirinya. Membantunya untuk kembali memiliki hati yang lembut dan berkembang seperti layaknya gadis kecil lain.  

Setelah melalui banyak pergumulan berat saat menangani Sheila, perlahan-lahan Torey melihat buah kesabarannya. Sheila mengalami perubahan, sejak ia tahu Torey memerhatikan dan mencintainya. Bahwa Torey mau memberi diri baginya.  Bahwa Torey memahami kepedihannya dan membantunya untuk bangkit. Bahwa Torey mau melakukan segala hal demi Sheila menjadi layaknya gadis normal. Dan Sheila pun benar-benar berubah. Menakjubkan!

Aku jadi berpikir, wow, bisa nggak ya, sebagai guru Sekolah Minggu, aku memiliki hati seperti Torey? Yang melayani anak-anak dengan penuh cinta? Yang benar-benar mau memerhatikan "hidup" anak-anak itu, dan bukan sekadar daftar absensi kehadiran? Yang mau berurusan dengan hati anak-anak, dan bukan sekadar menjalankan tugas pelayanan sesuai jadwal yang diberikan? Yang sungguh-sungguh berkomitmen dengan pelayanan, dan tak sekadar ikut-ikutan teman dan setengah hati menjalani tanggung jawab?

Mungkin aku nggak akan pernah menemukan seorang Sheila di kelasku. Namun bukankah aku diberi tanggung jawab yang nyaris sama dengan Torey, yakni untuk menyentuh hidup anak-anak dengan cinta, agar mereka bertumbuh di dalam Tuhan?

Yesus yang penuh cinta, alirkanlah cinta-Mu--yang jauh, jauh lebih besar dari cinta Torey--dalam hidupku, agar dapat kuteruskan lagi bagi anak-anak yang Kaukirimkan ke kelasku. Jadikanlah aku guru yang sungguh bertanggung jawab dengan pelayananku, dan menjadi saluran cinta-Mu yang mengubahkan.

Jogja, 17 November 2003
Tina
Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."