Lowongan Tak Menarik?

Penilaian Pengunjung: / 0
TerjelekTerbaik 
Di kantorku sedang ada lowongan kerja untuk satu posisi. Cuma satu orang yang dibutuhkan. Namun responnya? Wow! Aku harus berdecak sambil geleng-geleng kepala. Setiap hari berdatangan surat lamaran yang menyatakan berminat mengisi posisi yang ditawarkan. Dengan sederet "rayuan" dan daftar prestasi yang dijajarkan hampir sehalaman penuh demi mempromosikan diri sebagai yang terbaik, para pelamar berharap-harap cemas pihak personalia "jatuh hati" dan tergerak untuk memanggil untuk tahap seleksi berikutnya.

Hari demi hari sampai akhirnya batas pendaftaran ditutup, surat lamaran yang masuk sudah segunung. Padahal hanya satu yang bakal dipilih. Hanya satu yang bakal diangkat untuk menduduki posisi yang ditawarkan. Namun selama masa penantian, jantung puluhan orang berdegup tak keruan menanti panggilan. Puluhan orang memupuk harapan. Puluhan orang berdoa memohon lamarannya diterima.

Melihat antusiasme yang luar biasa itu, aku juga ingin memasang sebuah iklan lowongan. Dengan harapan orang-orang dengan bersemangat juga mengajukan lamaran. Yakni untuk posisi: Guru Sekolah Minggu. Beberapa waktu lalu aku mengajukan permintaan SDM ini kepada koordinator Sekolah Minggu di gerejaku. Iklan ini pun diumumkan ke seluruh jemaat. Dengan pesan sponsor yang kuat, imbauan yang sangat ditekankan.

Namun, hasilnya ternyata tak secemerlang yang kulihat di kantor. Tak satu pun lamaran kami terima. Tak ada antusiasme menyambut iklan ini. Ah, tepat seperti dugaanku.  Benar-benar terbukti fenomena umum yang menyatakan bahwa di mana-mana sulit mencari guru Sekolah Minggu, terutama yang mau benar-benar kerja keras dan menyerahkan diri bagi pelayanan anak. Jangankan mengirim lamaran, sudah didekati dan dibagi visi pun, orang-orang belum tentu mau terima.

Mungkin ada yang beralasan dan berpikir, "Ah, aku kan orang sibuk, tidak punya waktu." "Bukankah guru-guru yang ada sudah cukup?" "Bukankah pekerja gereja bisa dikerahkan menjadi guru?" Atau ada yang berpikir negatif seperti, "Ah, masa bodohlah dengan anak-anak. Toh mereka bukan anakku!" "Ah, sudah capek-capek mengajar, aku nggak dapat apa-apa." "Ah, aku pasti akan repot sekali bila menjadi guru Sekolah Minggu!" Atau ada yang berdalih pesimis dengan berkata, "Ah, apa aku bisa mengajar?" "Siapa sih yang mengharap aku mengajar Sekolah Minggu?"

Berpikir demikian, aku jadi menanyai diriku sendiri. Aku lontarkan pertanyaan-pertanyaan bayangan itu kepada diriku sendiri. Aku mencoba berdialog dengan hatiku secara jujur, dan perlahan menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Ya, aku memutuskan untuk mau "repot-repot" mengajar karena ada jiwa-jiwa murni yang butuh mengenal dan menerima Juruselamat. Aku mau mengajar karena di tangan anak-anak itu ada masa depan gereja, yang mungkin takkan pernah kulihat. Aku mau mengajar karena Tuhan telah memanggilku dan mengharapkan aku untuk bekerja bagi-Nya. Bahkan sekalipun aku punya kelemahan dan kekurangan, aku percaya Dia menyertai dan memperlengkapi diriku sebagai alat-Nya.

Sekalipun tidak pernah ada piagam penghargaan, apalagi salary yang aku terima, aku mau mengajar karena aku tahu lebih berharga bagiku untuk berinvestasi di surga. Sekalipun aku melayani anak-anak orang lain, aku tahu Allah memintaku mendampingi mereka supaya bertumbuh secara rohani, dan menjadi generasi pemenang. Dan sekalipun merepotkan dan melelahkan, aku tetap mau mengajar karena aku selalu butuh menyatakan syukurku kepada Allah atas kasih-Nya yang tiada henti.

Yesus, kadang kala aku merasa butuh lebih banyak rekan untuk bekerja dalam pelayanan ini. Jadi aku minta kepada-Mu, tolong kirimkan lebih banyak pekerja-Mu. Mungkin pelayanan ini tak bisa menyajikan hasil yang dapat cepat dilihat. Namun bantulah kami untuk menangkap kerinduan hati-Mu, bahwa dengan menjadi guru Sekolah Minggu berarti kami ikut serta dalam pembangunan pondasi rohani gereja-Mu.

Jogja, 10 November 2003

Tina
Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."