Tak Mau Kehilangan

Penilaian Pengunjung: / 0
TerjelekTerbaik 
Pertama kali aku terjun di Sekolah Minggu, aku melayani di kota kelahiranku, gereja tempat aku dibina sejak kecil. Begitu asyiknya aku terikat di sana, sehingga aku enggan melepasnya meski sudah kuliah di luar kota. Aku memilih tetap mempertahankannya, dan baru melepasnya setelah menikah dan pindah domisili ke luar kota.

Setelah menikah, rasanya aku ingin "cuti" pelayanan. Setelah sekian tahun melayani dengan berbagai kesibukan ala anak muda yang  maunya merangkap berbagai pelayanan sekaligus, rasanya sudah tiba saatnya aku menikmati "liburan". Tak perlu lagi aku sibuk di gereja dari pagi hingga sore pada hari Minggu, karena berbagai kegiatan mengalir tiada henti. Kini aku bisa menikmati kebaktian sebagai penonton, dan setelah itu pulang untuk menikmati hari Minggu dengan santai. Ah, betapa nikmatnya hidup!

Namun, nikmatnya hidup seperti itu ternyata tak bertahan lama. Minggu demi minggu yang aku lewati di gereja menyisakan kegelisahan di hati. Mulanya sama sekali tak teraba olehku apa yang sesungguhnya terjadi. Lama kelamaan aku sadar: Aku dihinggapi rasa kehilangan yang begitu besar terhadap pelayanan. Mulanya aku pikir itu aneh. Semua pendapatku dulu terbalik seketika. Dulu aku berpikir pelayanan-lah yang butuh diriku. Tuhan-lah yang butuh aku untuk melakukan pekerjaan-Nya. Lah, kok sekarang justru aku yang butuh pelayanan?

Otakku memutar ulang peristiwa-peristiwa yang telah berlalu. Dulu, saat aku aktif melayani pekerjaan Tuhan, aku merasakan begitu banyak sukacita mengalir di hari-hariku. Aku merasakan kedekatan hubungan dengan Allah yang menggandeng tanganku penuh kasih, berjalan melalui naik turunnya kehidupan. Aku merasakan betapa indahnya menjadi rekan sekerja Allah. Aku merasakan betapa bangganya hati ini saat dipercaya menjadi duta yang melayani gereja-Nya.

Namun saat aku mau "libur", saat aku tidak mau ambil bagian, ternyata Tuhan juga tidak memaksaku. Jadi, ternyata tidak ada kesempatan bagiku untuk berangkuh diri dengan merasa sok penting di pelayanan, karena nyatanya aku kini pun bukan siapa-siapa. Bila aku tak mau, toh Dia begitu berkuasa dan berdaulat untuk memakai orang lain, siapa saja, yang bersedia menjadi alat-Nya.

Suatu hari Minggu, ada dorongan besar di diriku untuk "mengintip" kebaktian anak-anak  di gereja. Hatiku bergejolak sedemikian rupa melihat anak-anak menyanyi penuh semangat dan sukacita. Sementara aku terkesima dari balik jendela, aku mendengar Allah bersuara cukup keras di dalam hati, "Ayo, layani anak-anak lagi!" Aku sempat terkejut mendengarnya. Ya, Tuhan telah memanggil dan memperlengkapiku untuk melayani anak-anak, tapi mengapa sekarang aku melarikan diri dan hendak mengubur talentaku? Itulah yang terus membuatku gelisah dan akhirnya menggiringku untuk kembali berkomitmen menyerahkan diri bagi pelayanan ini.

Wow, ada perubahan besar terjadi padaku sesudah pengalaman ini. Dulu aku tak pernah merasa pelayanan ini adalah kesempatan istimewa. Kesempatan pelayanan yang terbuka luas tak kuanggap sebegitu berharga sehingga aku tak pernah merasa takut kehilangan. Bahkan sempat berpikir nakal seperti, "Kapan ya aku bisa libur?" Kini aku tahu pelayananku bukan sekadar rutinitas yang boleh lewat begitu saja dari minggu ke minggu. Tuhan telah memutuskan untuk memilihku menjadi mitra kerja-Nya. Bila aku dapat melayani saat ini aku tahu itu bukan karena aku mampu, tapi semua karena anugerah-Nya.

Dulu aku juga sering merasa bosan dan capek melayani. Lalu usil berpikir hendak berhenti saja ambil bagian dalam pelayanan. Namun sekarang, bila aku merasa bosan atau capek, aku selalu ingat lagi pengalaman ini dan segera timbul semangat baru. Tidak, aku tak mau mengulangnya lagi. Panggilan Tuhan bagiku untuk pelayanan ini begitu kuat, dan aku tahu berat bagiku untuk melepasnya.

Yesus, terima kasih telah memercayakan pelayanan ini kepadaku. Aku tahu ini karunia istimewa dari-Mu, aku tak mau kehilangan lagi. Ajar aku untuk menghargai panggilan-Mu dan tak akan pernah lari lagi.

Jogja, 10 Oktober 2003

Tina
Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."