Ruang Kita, Kelas Kita, Pendidikan Kita….

Penilaian Pengunjung: / 0
TerjelekTerbaik 
Ruang! Kita bisa menjumpainya di manapun kita berada. Kita tinggal di dalamnya dan melaksanakan berbagai aktifitas di situ. Hidup memang dikelilingi oleh ruang. Maknanya ternyata bisa beraneka ragam pula. Mungkin kita tidak begitu menyadari bahwa kata ruang telah berkembang sebegitu luasnya dan dapat diceritakan dari begitu banyak segi. Beberapa tahun lalu jika kata ruang muncul, satu-satunya yang terbayang adalah sebentuk dan serangkaian bangunan fisik dengan batas-batas tertentu yang bisa diraba, disentuh, serta dilihat dengan jelas. Sekarang, ada yang namanya internet di mana kita bisa menjumpai ruang maya yang begitu luas dengan beraneka warna yang ada di dalamnya. Siapapun boleh menjelajahi tempat itu dengan sesuka hati. Bahkan ada yang menawarkan ruang paling privat dalam kehidupannya untuk dilihat dan didatangi oleh orang lain. Ruang maya tersebut nyata, ada alamatnya, bisa dilihat dan bisa dirasakan suasananya. Tetapi kita kadang tidak bisa menyentuhnya secara fisik. Batasnya ada, tapi kadang kita tidak bisa meraba teksturnya. Ada juga ruang yang betul-betul maya dan hanya berupa alamat dengan tampilan menyerupai ruang di dalam sebuah komputer. Tetapi sekali lagi itu nyata, walau hal itu maya dan kita tidak bisa menyentuh atau merabanya.

Perkembangan teknologi seperti ini merubah begitu banyak kebudayaan dan cara pandang manusia terhadap kehidupan. Orang jadi diajak atau dipaksa hidup di dalam apa yang namanya citra. Ruangpun jadi melebar dan meluas tanpa batas. Wilayahnya menjadi begitu beragam dan begitu penuh dengan warna. Tetapi ruang-ruang itu sebagian berbentuk citra. Sesuatu yang bisa dikatakan hanya sebuah simulasi. Pernahkah anda meminum minuman rasa ape? Iklan mengasosiasikan anda meminum apel. Apakah itu rasa apel? Apakah betul-betul dari apel? Belum tentu karena anda sedang meminum citra bernama rasa apel. Pernah melihat film? Kita diajak melihat dan meraskan berbagai ruang di dalam film tersebut. Bahkan ruang dari masa silam. Adakah itu nyata? Tidak dong, wong itu rekaan. Betul rekaan tetapi itu nyata karena kita bisa melihat dan merasakannya. Bahkan kita mungkin bisa meraba tempat-tempat itu di lokasi shooting.

Yap saya sedang berbicara tentang dunia yang sedang berubah dengan cukup drastis. Dunia yang bergelimang dengan bermacam citra di sana sini. Dunia yang menciptakan berbagai ruang baru dalam kehidupan ini. Dunia yang membuat orang bisa melanglang buana tanpa harus beranjak dari kursi. Dunia yang memungkinkan bumi menjadi sebuah desa kecil dan menimbulkan pertanyaan kecil yang dahsyat “Kamu di mana?” Sebuah pertanyaan yang menunjukkan identitas kita di dunia yang semakin mengglobal dan semakin terbentuk dalam begitu banyak ruang yang bisa kita jelajahi. Begitulah, sebenarnya kita hidup di dalam banyak ruang dengan mobilitas yang sangat tinggi sehingga sering kali pertanyaan kita adalah “Kamu di mana?”. Tetapi anehnya justru kita sering mempersempit gerak kita atau ruang kita dengan apa yang kita pikirkan saja. Nenek saya jelas hanya hidup dalam ruang yang terbatas. Dia hanya membagi ruang hidupnya dengan keluarga dan orang luar. Walau aturan didalamnya begitu rumit dan jangkauan wilayahnya begitu luas tetapi jelas dia sangat diskriminatif dan terbatas. Kalau bukan bagian dari keluarga atau bisa diperluas sebagai kenalan ya tidak akan begitu digubris. Pokoknya jauhlah dari fasilitas yang dapat dia berikan. Jadi kalau bukan keluarga atau kenalan atau orang dekat jangan harap mendapat uang saku kalau bertamu ke rumahnya. Hanya saja teman saya yang merasa global dan mengenal banyak wilayah juga menjadi sempit pikirannya karena terjejali begitu banyak citra sehingga dia terkurung dalam kebingungan menentukan jati diri. Bukankah dia sendiri mempersempit ruang geraknya dalam kebingungan?

Begitulah, akhirnya kitapun mempunyai ruang yang khusus bahkan beraneka ragam untuk Tuhan. KeberadaanNya dicitrakan dalam begitu banyak rupa dan akhirnya ruang. Kitapun pada ujung-ujungnya menciptakan ruang, ruang, dan ruang yang beraneka ragam untuk Tuhan dan iman kita. Maka sekarang orang perlu berfikir, gereja plus, iman plus, kkr plus, natal plus, dan bepergian ke tempat suci dengan fasilitas yang serba plus. Tidak lain karena dorongan begitu banyaknya citra maka kitapun bereaksi dengan memunculkan beragam citra untuk menunjukkan identitas iman kita. Adakah itu baik? Tentu saja baik karena akan timbul berbagai kreatifitas. Tetapi juga buruk ketika citra iman itu yang kita tangkap menjadi hanya sebatas trend dan pemuasan akan kebutuhan mengkonsumsi citra. Bukankah orang akan lebih wah jika mengendarai bmw? Dan akhirnya orang akan merasa lebih wah jika beribadah ke hotel atau ke tempat yang ber-ac. Akhirnya Tuhan kita menjadi Tuhan yang dibangun atas dasar angan-angan kita akan sebuah konsumsi terhadap citra. Semuanya hanya menjadi citra. Ke gerejapun hanya mengejar citra bahwa kita beriman. Tetapi apakah kita beriman dengan sungguh-sunguh?

Bukankah kita memang hidup dalam dunia yang terbangun dari begitu banyak ruang dengan berbagai macam citra yang menjadi dasar dan hiasannya? Ya kita memang hidup dalam dunia yang kompleks. Justru itulah tantangannya. Kita bisa tenggelam dan bingung oleh ruang-ruang dan citra-citra yang sudah terlanjur di bangun tetapi kita juga bisa belajar dan memilah mana yang bisa memperkaya hidup kita tanpa terombang-ambing dan tanpa kehilangan identitas kita. Informasi memang banyak dan melimpah tetapi yang namanya ruang kesadaran iman harus tetap di jaga. Caranya? Dengan tetap menjaga diri dan waspada dan terus-menerus gelisah untuk belajar dan mencari kebenaran yang sejati. Bukankah kita telah memperoleh kebenaran yang sejati di dalam Kristus? Betul. Tetapi lihatlah bayi, dia telah memperoleh hidup yang sejati; hanya saja pertanyaannya apakah kita akan seperti bayi terus selama hidup kita dan minum susu terus. Sepanjang usianya nanti si bayi akan terus mencari seperti apakah hidupnya tersebut. Orang yang percaya Kristus memang telah dikuduskan tetapi bukan berarti dia otomatis menjadi baik. Perlu proses belajar.

Lalu apa hubungannya ruang, kelas, dan pendidikan? Dunia sedang berubah itu yang ingin saya bicarakan ketika bercerita soal ruang. Perubahan menuntut penyesuaian dan penyesuaian menurut saya membutuhkan pendidikan. Jauh amat sih? Tidak juga karena kelas dan pendidikan juga sebuah ruang dan ruang menjadi hal penting dalam dunia yang sedang berubah ini. Tentu saja saya tidak akan memberitahukan pendidikan yang terbaik untuk dunia yang berubah ini. Saya bukan ahlinya. Hanya saja saya berusaha mengingatkan kalau kita memiliki juga ruang bernama kelas dan pendidikan yang sebenarnya sedang berubah juga dan perlu perhatian khusus. Untuk itulah saya menganggap dunia dengan beraneka macam ruang dan citra tadi merupakan sebuah kelas besar di mana kita bisa saling belajar dan berdialog. Di sini di ruang kita di dalam begitu banyak ruang saya berusaha belajar dan menciptakan ruang yang diharapkan dapat menyalakan terus api keinginan untuk menjadi waras dan tetap belajar. Belajar apa saja.

Pelajaran kita menurut hemat saya sebaiknya di mulai dari mempelajari hal-hal yang sepertinya remeh temeh dalam kehidupan kita tapi ternyata mengandung bermacam informasi mengenai iman kita maupun kebudayaan kita secara keseluruhan. Makanya saya menulis dalam kolom ini karena saya ingin mengajak siapa saja yang tertarik dengan kolom saya ini untuk memperhatikan hal-hal kecil yang kadang terlupakan tapi justru dari situ kita belajar hal-hal besar dalam kehidupan ini. Tentu saja saya tidak bermaksud merasa lebih tahu. Saya hanya sekedar berbagi dari kekurangan saya siapa tahu anda dapat belajar dari saya. Paling tidak belajar untuk tidak mencontoh saya jika saya ternyata keliru. Jadi mari kita mulai belajar dari hal-hal kecil dalam kehidupan kita. Selamatmencari makna dan selamat belajar. Tuhan memberkati.

Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."