• PDF

Sekolah dan Belajar

Penilaian Pengunjung: / 1
TerjelekTerbaik 
  • Senin, 01 Juni 2009 17:40
  • Ditulis oleh Wiji Suprayogi
  • Sudah dibaca: 1725 kali
Seorang teman bertanya kepada saya, “Yesus sekolah tidak ya?” Pertanyaan biasa sebenarnya. Tapi ternyata saat ditanyakan efeknya jadi tidak biasa karena teman saya itu sedang malas pergi ke sekolah dan merasa sekolah adalah tempat yang membosankan. Usut punya usut ternyata dia sedang mencari pembenaran kalau di Alkitab tidak dianjurkan sama sekali untuk sekolah. Tentu saja pikiran teman saya tadi salah besar karena beberapa tokoh dalam Alkitab mengenyam pendidikan yang intens di lingkungannya. Paulus mempunyai guru bernama Gamaliel, Timotius jadi murid Paulus, Musa mengenyam pendidikan ala orang Mesir, Yesus sendiri bisa membaca dengan lancar yang menandakan Dia mendapat pendidikan yang memadai. 

Permasalahanya ternyata pada kata sekolah itu sendiri. Teman saya berpikir sekolah adalah tempat dan rutinitas seperti yang sekarang dia alami. Harus ke gedung, berangkat teratur dan begitu banyak tata tertib yang ada di dalamnya. Padahal pada jamannya, berguru pada Yesus bisa saja disebut bersekolah. Sekolah saat ini memang seringkali hanya diartikan sebagai sebuah gedung dengan segala macam peraturan yang membelenggu. Sesempit itu dan sedangkal itu. Padahal sesungguhnya artinya bisa amat luas.

Kalau kita hanya berfikir sekolah sampai pada gedung dan peraturannya maka sungguh sangat sedikit yang akan kita raih. Apa sih yang dapat diberikan oleh sebuah gedung dan institusi dibandingkan dengan kehidupan yang begitu maha luas ini? Banyak dong! Jelas banyak tapi jika kita hanya membatasi sekolah pada taraf itu maka akan sedikit sekali yang kita dapat. Dan tidak akan dapat menampung berbagai permasalahn yang ada di dunia ini. Walaupun kita lulus dengan nilai cum laude paling tinggi sekalipun tapi kalau batasan sekolah hanya soal gedung dan instistusinya ya kita akan tergilas dengan berbagai macam masalah dalam kehidupan ini. Inilah yang mungkin membuat lulusan sekolahan dianggap tidak layak memasuki dunia kerja. 

Dalam keseharian, kita hanya sering diajar kalau belajar ya di sekolah. Ini rumit lagi. Ternyata kata belajar hanya dibatasi pada sekolah sebagai gedung. Makin sempit saja kan? Padahal belajar artinya begitu luas dan kompleks, kalau dibatasi sekolah ya nanti hanya mendapatkan apa yang ada di sekolah saja. Guru kita kan hanya tahu sedikit. Gimana coba? Sudah saatnya kita menempatkan kata sekolah dan belajar pada tempat yang semestinya. Sekolah bisa di mana saja kalau kita mau belajar. Bahkan pada seorang pengemis pun kita dapat bersekolah atau belajar. Sehingga hidup kita jadi hidup dan tidak bosan atau malas ke sekolah seperti teman saya tadi.

Kalau pengertian kita pada sekolah dan belajar begitu luasnya maka kita akan menemukan bahwa dalam kehidupan ini begitu banyak yang harus dipelajari untuk bekal di hari depan. Masalah mungkin akan timbul jika kita belajar yang buruk-buruk doang. Nah kalau Anda mengartikan kata belajar dengan pengertian yang luas, sebenarnya dari yang buruk itupun kita bisa belajar hal yang positif dan memanfatkan segi positif itu. Contohnya soal narkoba atau sex bebas. Jelas narkoba itu buruk kalau disalahgunakan. Ya jangan dicoba dengan cara yang salah dong. Kalau nyoba dengan cara yang salah bukan belajar namanya tapi tidak dapat mengolah pengetahuan. Sex juga gitu wong itu tu alamiah kok. Kalau belum saatnya ya jangan mencoba-coba dengan alasan belajar. Tapi jelas sex dan narkoba harus dipelajari manfatnya bagi manusia. 

Begitulah, nampaknya dalam alam pikiran kita sekolah adalah tempat di mana kita bertemu guru, dan mengerjakan PR dan tempat kita bermain dan lari dari kebosanan. Jelas interpretasi sekolah bermacam-macam. Tapi sudah saatnya kita memberi makna yang luas pada yang namanya sekolah. Coba bayangkan kehidupan ini. Anda sekolah tingggiiiiiii sekali dan harus becocok tanam jagung karena Anda hidup hanya dengan jagung dan Anda tidak bisa menanam jagung. Bukankah itu merepotkan? Hal ini terjadi karena kita hanya memaknai sekolah sebagai tempat di mana kita tersiksa sehingga kita tidak mendapatkan apapun selain kebosanan. Sudah saatnya kita memaknai sekolah sebagai belajar. Di mana kita memperoleh banyak hal dari apapun yang kita jumpai. Saya yakin para tokoh dalam Alkitab belajar dari banyak hal. Bayangkan saja si Petrus yang nelayan itu, dia tidak sekolah formal tetapi dapat menjadi pemberita yang terkenal. Atau Daud seorang gembala yang karena karismanya dapat menajdi raja yang besar dan dikagumi.

Tapi ada yang protes, “Saya bukan mereka dan kehidupan saya tidak seperti mereka”. Betul, masalahnya Anda tidak belajar. Justru dengan belajarlah kita dapat mengerti siapa diri kita dan memaknai hidup ini serta menempuh jalan hidup ini dengan lebih baik. Trus ada yang bilang “Saya sudah belajar dari manapun juga. Tapi saya tidak diberitahu maknanya oleh guru saya”. Nah ini juga kecenderungan kita belajar tapi tak memakai otak. Memangnya Anda mau diberi buah yang sudah dikunyah dulu oleh seorang teman? Jijik kan? Sudah saatnya kita mulai menggunakan otak dan menggunakan seluruh kemampuan untuk membuat sekolah yang dibatasi tembok itu menjadi menyenangkan dan kalau bisa justru membongkar temboknya supaya kita dapat memperoleh pengetahuan sebanyak mungkin.

Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."