Lain Sekolah, Lain Rumah

Penilaian Pengunjung: / 0
TerjelekTerbaik 
SUATU PENYERAGAMAN

Saya teringat ketika pertama kali dulu masuk sekolah. Walaupun saya sudah beberapa kali ikut ke sekolah--Ibu kebetulan adalah Guru, tetapi saya tetap merasa takut dan tidak mau ditinggalkan oleh Ibu. Saya ingat kalau saya yang paling sering menangis ketika ditinggal oleh Ibu. Saya merasa dunia di sekolah adalah dunia yang sungguh lain dengan keadaan di rumah.

 

@@

Bukan saya saja yang merasakan hal tersebut. Berkali-kali selama bertahun-tahun saya selalu melihat ada saja anak-anak yang pergi ke sekolah dengan penuh rasa takut. Sejak di Taman Kanak-kanak, suasana menakutkan itu sepertinya telah menyebar ke dalam hati begitu banyak anak-anak. Mendengar anak menangis adalah hal biasa dalam suatu lingkungan sekolah yang baru. Sepertinya si anak tercerabut dari kehangatan keluarga di rumah.

@@

Lalu saya juga teringat bagaimana Ibu-ibu yang mengantarkan anak-anaknya selalu berusaha agar anak-anaknya mendapatkan yang terbaik. Saya pernah melihat seorang ibu tiba-tiba masuk ke kelas dan memaksa anak yang sudah duduk di muka untuk berpindah tempat, dan kemudian anaknya sendiri yang diminta duduk di situ. Alasannya agar anaknya mendapatkan perhatian dari si guru. Ada juga yang kemudian melobi guru agar anaknya mendapatkan tempat yang pas di sekolah tersebut. “Tolong Pak, nanti anak saya diperhatikan ya soalnya dia itu bla..bla..bla..” Tetapi seperti biasanya si anak justru terlihat malas-malasan dan seringkali malah tidak mau berpindah. Dalam situasi seperti itu ibu atau orang tualah yang kemudian berusaha menentukan bagaimana baiknya si anak tersebut. Segala lobi digunakan untuk menentukan bagaimana si anak nanti dalam belajar. Bahkan ketika saya masuk kuliah ada orang tua yang khusus datang ke dosen untuk menitipkan anaknya agar di perhatikan dan dijaga.

@@

Nah kejadiannya lain lagi di sekolah atau di kelas. Guru adalah raja kecil yang menentukan banyak hal. Tidak peduli bagaimana lobi si orang tua, kalau dia berkehendak lain maka, posisi si anak bisa jadi tidak seperti yang diinginkan orang tua tadi. Saya ingat betul, bagaimana dulu setelah orang tua di luar kelas semua dan anak-anak ada di dalam kelas, maka sang Guru yang kemudian menentukan tempat duduk. Biasanya berdasarkan tinggi tubuh. Tidak ada yang boleh protes dan ramai. Bahkan jika ada yang matanya sakit. Harus menurut kepada Guru tadi. Kemudian segala peraturan pun ditambahkan. Piket, seragam, bagaimana mengucapkan selamat pagi, hormat kepada bendera, dan berbagai peraturan yang tidak dikompromikan sama sekali. Semua terasa begitu memaksa dan harus. Tidak boleh protes. “Anak kecil kok diatur susah” begitu selalu alasannya. Tapi bisa terjadi juga suatu keadaan dimana orang tua yang benar-benar terpandang dalam masyarakat dimenangkan lobinya dan anaknya di kelas mendapatkan suatu perhatian yang lebih. Hanya saja intinya tetap, guru adalah penentunya.

@@

Pelajaran yang diberikan kemudian adalah suatu indoktrinasi—tentu saja waktu kecil saya tidak sadar. Semua anak sekolah angkatan saya pasti pernah belajar

Ini Budi
Ini Wati
Wati kakak Budi
Ini Iwan
Iwan adik Budi
Ini Ibu Budi
Ini Bapak Budi

Indoktrinasinya adalah, hilangnya peran kelurga besar, bahwa keluarga ideal adalah bapak ibu dan 2 atau 3 orang anak, bahwa semuanya berasal dari keluarga, tapi juga hilangnya identitas dengan tidak menyebutkan nama Bapak atau Ibu, tidak jelas juga pekerjaannya, tidak jelas pula agamanya, bapak selalu mendapat peran lebih, kakak harus dihomati karena dia tua, adik harus disayangi, dan Ibu berada sebagai pendukung yang seringkali tidak pernah mengambil keputusan. Seolah dalam keluarga seperti itu tidak ada konflik sama sekali. Konflik adalah suatu yang tidak baik. Semua serba ideal.

Hampir tidak boleh ada protes mengenai pengetahuan keluarga ini. Nuansa seperti menghormati orang karena prestasi atau kepribadiannya tidak hadir di sana. Juga berbagai kondisi lain dalam keluarga tidak dibahas sama sekali. Kekhasan suatu individu tidak ada sama sekali. Padahal sebagai suatu kenyataan harusnya hal-hal seperti itu dibahas agar tejadi pengertian bahwa kita tidak hidup dalam suatu yang seragam. Penyeragaman itulah yang tiba-tiba saya pikir menakutkan dan membuat banyak orang tidak bisa menerima berbagai perbedaan.

Indoktrinasinya dengan demikian adalah suatu penyeragaman pemikiran dan juga suatu otoriterianisme—eh benar ya gini tulisannya? Bayangkan, sejak kecil kita dijejali hal seperti itu. Di rumah orang tua otoriter—sampai-sampai tempat duduk nanti di sekolah, orang tua yang mengatur, di sekolah guru otoriter—semua ditentukan oleh guru dan tidak ada suatu cara melihat yang lain alias seragam. Jadi tidak heran kan kalau anak-anak diminta menggambar pasti hasilnya selalu ada dua gunung dan matahari. Seragam.

@@

Di sisi lain, sekolah dengan begitu mengajarkan sesuatu yang tidak nyata. Anak-anak diminta belajar sesuatu yang sangat jauh dari kehidupan sehari-hari yang beraneka ragam bentuknya dan dari kebudayaannya sendiri. Anak belajar sesuatu yang nantinya dirasakan asing. Karena ketika di sekolah, semua yang mengatur adalah mereka yang punya otoritas. Jadi jangan heran jika banyak anak-anak menangis dan merasa asing dengan sekolahnya.

Di samping itu anak-anak juga belajar bahwa mereka rupanya tidak berarti banyak dalam hidup ini. Semua yang mengatur adalah orang tua dan guru. Maka jiwa kemandirian dan kreativitasnya menjadi luntur sejak dini.

@@

Ide pembelajaran berbasis kompetensi dan juga berbasis kepada multikulturalisme nampaknya semakin perlu digali dan dikembangkan.

Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."